Storge

Storge
Trauma


__ADS_3

~ Hai Ibu, hai Ayah...


apa kabar kalian di sana?? ~ Ghina.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Seorang wanita berperawakan kecil sedang berdiri di depan makam kedua orang tuanya. sendirian, Ghina tersenyum menatap sepasang pusara di hadapannya.


Kakinya melangkah maju dengan sekeranjang bunga-bunga harum nan cantik. Tak lupa bunga anyelir putih kesukaan sang Ibunda.


Senyum kecil nampak terulas di bibir tipisnya,"Selamat pagi Ibu, selamat pagi Ayah. Apa kabar kalian di sana??," ucapnya sambil menaburkan kelopak-kelopak bunga di atas pusara.


Banyak hal yang dia curahkan di sana. Berbicara panjang lebar seolah kedua orang tuanya ada di depan mata. Tentang dukanya setelah mereka tiada, tentang kerinduan yang dia pendam dalam diam.


Di usapnya air mata yang tlah mengalir membasahi kedua pipi, sungguh tak tertahan kerinduan yang dia bendung belakangan ini.


"Kau ke sini sendiri? aku ini kau anggap apa?," tanpa di sangka, Joen telah hadir di belakang sang istri.


Ghina sontak langsung menoleh ke belakang,"Maaf, aku hanya tidak ingin merepotkan dirimu."


"Lain kali jangan berangkat sendiri, aku punya tanggung jawab penuh atas diri kamu, sayang," dengan lembut dia membelai rambut Ghina. Tangannya berhenti pada pipi sang istri dan menghapus anakan air mata di sana.


"Jangan sedih, ada aku yang akan selalu bersamamu," pandangan sayunya menenangkan tangis Ghina. Entah kenapa, kedua mata itu mampu memberikan rasa tenang dan damai baginya.


Cukup lama mereka berada di makam.


Mencabuti rumput yang mulai tumbuh di sekitar makam kedua orang tua Ghina. Menabur bunga dan mendoakan mereka.


Saat tangannya menangkup meng'amini setiap doa yang terbesit di dalam hatinya, Joen terbayang wajah bibi Mae.


"Tenanglah di sana, saya akan selalu menjaga Ghina," gumamnya.


Selepas dari makam mereka mampir ke rumah Ghina. Suasana pekarangan rumah tak berbeda jauh dengan terakhir kali Ghina berada di sana.


Tiba-tiba perasaan kehilangan itu hadir kembali. Ghina seakan flashback pada masa kejadian naas itu. Bibirnya kelu, dan jantungnya mulai berdetak abnormal.


Ketika masuk ke rumah hatinya kembali kesakitan, kakinya lemas, dia perpegangan erat pada pagar tangga dengan tubuh yang membeku. Bayangan kebahagiaan mereka dulu, terlihat jelas di hadapan Ghina.


Perlahan tubuhnya bergetar, sama seperti saat Jung dan Joen menjemputnya. Pertahanannya pun goyang, dia jatuh ke anak tangga, terisak dengan tatapannya kosong.


"Sayang...!! Yang!!," Joen mengguncang tubuh Ghina. Namun, Ghina tak bergeming. Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.


"Hick!! hick !! bawa aku pulang Joen, aku mohon!!" suaranya parau, tangisnya pecah.


Joen panik"Kita pulang!!! iya, kita pulang!!."


Namun Ghina tak mampu bangkit. Rasa trauma itu membuat nya sangat tidak berdaya, hingga teronggok begitu saja.


Melihat ketidak berdayaan wanita yang dia cintai, Joen langsung menggendongnya hingga ke dalam mobil.

__ADS_1


Genggaman tangan Ghina sangat erat, dia seakan mengunci lengan Joen.


"Aku akan mengunci rumahnya dulu, kau tunggu di sini sebentar, ya," ujarnya meminta izin, agar Ghina melepaskan sejenak genggaman tangannya.


Tak berapa lama mereka meninggalkan lokasi. Di sepanjang perjalanan Ghina masih terisak dalam tangis.


"Kita ke dokter saja ya."


Ghina menggelengkan kepalanya"Pulang saja Joen, aku takut."


"Kau mandi keringat, sayang. Aku takut kau kenapa-kenapa, kita ke dokter saja ya."


Ghina tetap menolak"Tidak! aku hanya ingin pulang!."


Joen yang tidak bisa menolak keinginan Ghina, akhirnya mempercepat laju kendaraanya.


Sesampainya di kediaman Charllote, Joen menggendong Ghina langsung ke kamar mereka. Lumayan jauh dia menggendong istrinya, namun dengan tubuh kecil ghina, itu bukan apa-apa bagi Joen.


Nyonya Sook kaget mendapati kondisi Ghina yang terkulai lemas di tempat tidur, juga wajahnya yang terlihat pucat.


"Ghina," tegur Nyonya Sook. Berkali-kali dia menyebut nama sang menantu yang tengah hanyut dalam duka.


"Hahhh!!," akhirnya dia tersadar, Ghina kelihatan sangat ketakutan. Kedua matanya berlarian menyapu setiap sudut ruangan.


Nyonya sook langsung memanggil dokter keluarga.


Dengan nafas berlomba, Ghina terus mencengkeram kemeja Joen yang kini tlah berada di sampingnya.


Terdengar suara Andrea di luar kamar, menghampiri Ghina dan melihat keadaan Ghina yang sangat kacau. Jemarinya hendak mengusap kepala sang sahabat, namun hal itu membuat Ghina kembali terkejut dan menarik diri dalam-dalam. Tatapan penuh tanya, Andrea lontarkan kepada Joen.


"Maaf Ndre, dia seperti ini setelah berkunjung ke kediamannya yang dulu. Tolong jangan tersinggung ya," Jelas Joen.


"Tidak mengapa, Joen," balasnya menatap Ghina haru.


Dokter akhirnya datang dan langsung memeriksa Ghina dengan teliti.


"Nona ini mengalami trauma yang sangat berat, nyonya. Kejadian menyakitkan itu menghantam jiwanya."


Penjelasan dokter membuat Joen menyesal. Seharusnya dia melarang Ghina mengunjungi kediamannya.


"Untuk sementara ini, jauhkan nona dari hal-hal yang mengingatkan akan peristiwa tragis itu."


"Dia sangat perlu beristirahat. Pikiran tenang, dan berusahalah membuatnya selalu tertawa," jelas Dokter lagi.


"Kasihan sekali Ghina, tak terbayang jika Joen dan Jung tidak menjemputnya hari itu," tandas Nyonya Sook lirih.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


Andrea berpindah ke kamar Jung, nampak orang kesayangannya itu masih terbuai dalam tidur.

__ADS_1


Dia mengambil duduk di samping tempat tidur Jung. Bergerak pelan agar tak menimbulkan suara.


"Aduhhh, makin tua makin cakep saja orang ini," sang hati mulai bergejolak.


Gadis itu nyaris lepas kendali. Sekuat hati menahan rasa sukanya kepada Jung.


"Akh! aku benar-benar ingin merangsek ke dalam pelukannyaaa!!," untung saja sang hati kedap suara, jika bergema Jung pasti sudah bangun mendengar celotehan dalam hati Andrea yang ribut sendiri.


Demi menahan gejolak hati, Andrea memilih duduk di sebuah kursi di depan jendela. Angin di kediaman Charllote memang yang terbaik. Sentuhan lembut sang angin, seakan membelai wajah Andrea hingga mengundang rasa mengantuk pada dirinya.


Sembari menopangkan kedua tangannya dengan dag, dan besandar ke depan jendela, di tambah aroma kamar Jung yang nyaman, Andrea pun menyerah pada rasa mengantuknya. Perlahan kedua matanya terpejam dan tak berapa lama, napasnya pun terdengar teratur dalam tidurnya.


...🐧🐧🐧🐧...


Keadaan Ghina mulai tenang, namun dia masih menggenggam kemeja Joen yang kini tlah nampak kumal. Genggaman eratnya menyisakan bekas pada kemeja Joen.


Pelan-pelan Joen menggenggam jemari Ghina."Kau mau minum??," pertanyaannya di jawab Ghina dengan anggukan.


Namun, ketika Joen hendak beranjak tubuhnya tertahan. Ghina membenamkan wajah ke dalam pelukan Joen.


"Bibi An.."


Pelayan bergegas mendatangi Joen.


"Tolong ambilkan air minum," pintanya. Joen paham Ghina sedang tidak ingin di tinggalkan.


"Segera Tuan," Bibi An segera berbalik dan turun ke dapur mengambil air minum.


Jemari Joen mengetik pesan singkat dan mengirimkannya pada Tuan Charllote. Hari ini jadwal dirinya untuk ikut ke kantor, namun terpaksa Joen mengambil libur. Tuan Charllote pun sudah mengetahui keadaan Ghina.


Joen juga meminta ijin pada Dosennya hari ini, jadwal kuliahnya sore ini nampaknya tidak dapat di hadirinya.


...❣❣❣❣...


Jung, terbangun dari tidur pulasnya. Rasa terkejut bercampur senang ketika mendapati Andrea tertidur di depan jendela.


Pelan-pelan dia mengambil sebuah kursi dan duduk di samping Andrea, memandang wajah Andrea lebih dekat. Garis wajah yang cantik dan menggoda.


"Kau sungguh cantik, hanya sedikit alay," bisikan Jung membangunkan Andrea.


"Akh!!," pekiknya memegangi leher yang sakit. Posisi tidur seperti itu memang sangat tidak nyaman.


"Itulah, kau memilih tidur di depan jendela, alih-alih tidur di ranjangku," Jung memijat pundak Andrea, membuat bulu kuduknya merinding.


Gadis itu berontak melepaskan diri,"Aku ti...tidak meng...apa. Aku hanya ingin menjenguk mu sebentar," ujarnya tergagap.


"Terimakasih, kau masih perduli padaku. Sekali lagi, maafkan aku," tatap Jung. Pria itu berusaha beradu pandang dengan gadis di hadapannya, namun Andrea enggan membalas.


"Sudahlah, itu udah berlalu. Aku lihat kau baik- baik saja seakarang, kalau begitu aku pergi menjumpai Ghina dulu," dalam suasana kikuk dia kabur ke kamar sebelah.

__ADS_1


~~β™‘β™‘happy reading. jangan lupa like dan share ya πŸ€—


__ADS_2