Storge

Storge
Rahasia Joen.


__ADS_3

Berbaring di kasur yang empuk sembari memainkan ponsel, irama Ghina menggesek lantai kamar mandi membuat sudut bibir Joen terangkat naik. Jung memperhatikan sikap Joen yang menyebalkan itu sembari geleng-geleng kepala.


"Ckckckc, cinta jenis apa sih yang nemplok di hati kamu?. Udah larut malam begini tega-teganya bikin si cebol kerja keras di kamar mandi, hanya demi keegoisan kamu buat lebih lama bersamanya hari ini."


Joen melepaskan ponselnya ke sembarang arah"Ngomong apa sih hyung? ngigo ya? balik kamar aja deh, ganggu pemandangan aja."


Ingin rasanya Jung menjitak kening si adik durjana, sayangnya bocah itu lebih gesit menghindar sebelum jemari Jung sampai di kening nya.


"Dih main fisik," decih Joen berlari ke sudut ranjang.


"Ugh! lepasin dong Ghina nya, kasihan tau. Dia udah cape kerja di pesta mamah, kamu pake nambah-nambahin tugas dia segala."


"Tugas itu ada bayaran lebih kok bang, lagian napa jadi abang yang repot? si cebol aja kaga protes," ujarnya mengambil duduk pada meja belajar.


Jung berkacak pinggang menatap Joen"Begini ya Joen, aku tau ngerjain Ghina tuh sangat menyenangkan, tapi kudu ingat waktu dong. Besok dia harus sekolah, kalo jam segini belum istirahat gimana dia di sekolah besok?."


"Lagian, begini amat cara kamu ngungkapin perasaan cinta?," lanjutnya berjalan mengintip Ghina yang sibuk sendiri di kamar mandi.


Saat Jung mengatakan kata cinta, wajah pria tinggi di depannya itu menjadi bersemu.


"Cinta dari mana? jangan ngarang deh bang, ntar di dengar nenek lampir, Joen bakal di bully seumur hidup."


Usai berucap, kedua bola mata Joen membulat bak bola ping-pong. Nenek lampir telah hadir di muara pintu, tentu dengan seringai tawa mengolok-olok nya.


"Plak!," Joen menepuk keningnya. Kemunculan Nari bagai serangan negeri api pada negeri aman damai Ang.


Melipat kedua tangan di dada, sembari menyandarkan punggungnya di muara pintu"Hohohoho, jadi, oppa demen sama neng Ghina? jadi, selama ini julid sama Ghina biar lebih deket sama dia?."


Joen menatap horop pada Jung. Gegara mulut lemes si abang, rahasia yang telah lama tersimpan kini mencuat ke permukaan. Dan si cebong sawah mengetahui hal itu, Joen nggak yakin rahasia itu akan tetap menjadi rahasia jika telah sampai kepada Nari.


"Telingamu perlu di rukiah, udah eror itu. Orang ngomong apa dia dengernya apa," jurus ngeles ala abang bajay di mulai. Demi kedamaian hidupnya di kediaman ini, Joen harus bisa mengibuli titisan nenek lampir ini.


"Di gurah!," ralat Jung pada kata-kata Joen. Sebagai dosen sastra, mendengar kata yang salah keluar dari mulut Joen sangat mengusik telinganya. Rasanya nggak sreg jika di diamkan saja.


"Hahahah," Nari tergelak.


"Ngomong aja belum bener, sok-sok an mau ngeles. Memangnya telinga Nari kerasukan jin koplak, pake di rukiah segala," ledek Nari. Bener-bener deh, wajahnya tuh imut-imut gitu, tapi sifatnya sangat-sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Minggat nggak!," Joen kehabisan modal untuk membalas hinaan Nari.


"Lah, ngusir," ledek Nari lagi.


"Ghinaaaaaa," teriak gadis berambut hitam sebahu itu.


Ghina yang sedang gosok-gosok manja di kamar mandi meninggalkan kegiatannya sejenak"Apa non?."


Kepala gadis itu menyembul dari balik pintu kamar mandi, Jung tersenyum kepadanya. Sementara Joen menelan saliva yang membuat tenggorokan nya tercekat.


Dan Nari....gadis itu tersenyum penuh arti kepada Joen.


"Mau jadi mantu mamah nggak??," tanya Nari tanpa perduli tatapan tajam dari sepasang mata Joen.


"Hufpphh," Ghina membuang napas kasar, membuat poni rata ala-ala boneka horor dari jepang itu terkibas.


"Tolong ya, para tuan dan nona, kalo lagi gelud jangan bawa-bawa saya. Otak saya sudah cukup sumpek dengan masalah hidup, please jangan di tambahi dengan tawaran nggak masuk akal begitu."


"Becandanya kira-kira dong non," ujar Ghina lagi.


Jung tertawa hingga bahunya bergetar.


"Lho, bukan bercanda. Ini kenyataan," celoteh Nari lagi. Biasanya, Joen akan langsung menyambarnya saat bersikap kurang ajar seperti itu. Tapi, kali ini sendi-sendi dalam tubuh Joen seperti kehilangan kekuatan untuk bergetar. Sejak tadi, Joen masih duduk di meja belajar saja.


Ghina menatap mereka bergantian, Joen dengan perawakan tinggi tegap dan tampan rupawan. Jung juga, memiliki tubuh yang tinggi tegap dan juga tampan rupawan. Sementara Nari, meski tidak tinggi menjulang seperti dua saudaranya itu, gadis itu sangat-sangat cantik, juga menggemaskan jika di pandang. Dan dirinya sendiri.....cebol dengan wajah pas-pasan. Menanggapi pertanyaan Nari tadi, sungguh membuat hatinya tergelitik.


"Non, jangan mengigau. Lihat deh, dengan wajah pas-pasan begini mana pantas saya jadi menantu nyonya Sook. Lagian, kalo saya nikah sama salah satu dari mereka, yang ada saya akan cepat tua non, kaya non Nari nggak tau aja gimana cerewet dan merepotkan nya mereka ini," ujarnya tanpa takut menyinggung perasaan mereka semua. Kesehariannya di kediaman ini selalu di penuhi dengan kejahilan para tuan muda. Juga Nari, meski berada di kubu yang sama, tak jarang si nona muda ini memanfaatkan otaknya untuk mengerjakan PR.


"Sebentar," sela Jung.


"Jadi, kamu nggak mau jadi menantu mama?."


"Ya enggak lah, meski cebol begini saya sangat ingin berumur panjang," ujarnya melenggang kembali ke kamar mandi.


"Anda di tolak," bisik Nari pada Joen.


"Sialan!, congormu ember banget," umpat Joen setengah berbisik.

__ADS_1


"Jadi, maksudmu, kamu akan cepat mati jika menikah dengan salah satu di antara kami?," Jung mengekor langkah Ghina ke kamar mandi.


"Udah jelas kan tuan, sudah deh tuan keluar. Becandanya buang-buang waktu, saya lagi kerja ini," gadis itu mendorong tubuh Jung agar segera keluar dari area kerjanya. Sedikit lagi pekerjaan ini akan selesai, dan Ghina sudah sangat merindukan ranjang empuknya.


"Ghin...., Ghina dengar dulu," sanggah Jung.


"Ck! apalagi tuaaannn," erang Ghina telah sampai pada batas kesabaran.


"Joen beneran naksir kamu!," ujar Jung akhirnya.


"Kamu yakin nggak mau jadi menantu mamah?."


Alih-alih perduli dengan celotehan Jung, Ghina segera menyelesaikan pekerjaannya. Tangan gadis itu bekerja dengan sangat cepat, hingga dalam waktu beberapa saat saja dirinya telah selesai pada tugas terakhirnya.


"Ghina, aku serius," ujar Jung merasa terabaikan.


Ghina segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri Joen"Bayaran!!," ujarnya menengadahkan tangan di hadapan Joen.


Dalam keadaan seperti itu, begitu dekat dengan gadis itu membuat Joen yang galak menjadi kikuk. Tergagap tangannya meraih dompet di saku celana.


"Nih," ujarnya menyerahkan uang 200 ribu.


"Kaga ada kembalian tuan," ujar Ghina.


"Bawa aja, masa sama calon bini minta kembalian," ledek Nari.


Biji mata Joen nyaris meloncat keluar. Sementara Ghina masih bersikap biasa-biasa saja.


"Nggak ada kembalian, sumpah," ulang Ghina.


"Bawa aja."


Seorang Joen yang kerap memperhitungkan uang jika berurusan dengan Ghina, berubah menjadi royal dengan nominal uang 50 ribunya. Ghina memandangnya dengan tatapan sangsi.


"Jangan cerewet, buruan keluar dari sini," sentak Joen.


Memberengut, Ghina akhirnya meninggalkan kamar tuan muda songong itu. Sempat melihat seringai tawa di wajah Jung saat dirinya melangkah pergi, juga tawa meledek dari Nari sang nona muda. Ghina nggak habis pikir, segitu ngototnya Jung meyakinkan dirinya bahwa Joen menyukainya. Becandanya bikin jantung berdebar tau!!!!.

__ADS_1


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2