
Sudah seminggu sejak kepergian Mr. Ko dan Bibi Mae. Ghina masih mengunci diri rapat-rapat di dalam rumah dan menutup diri dari dunia luar. Para tetangga yang hendak mengucapkan bela sungkawa pun di tolaknya mentah-mentah.
Berkali kali Jung datang mengetuk pintu dan memanggil-manggilnya, namun Ghina tak berniat sedikit pun menengok keluar apalagi membukakan pintu rumah nya. Bahkan Tuan Charllote pun tanpa segan mengunjungi kediaman Ghina, berharap gadis malang itu akan membukakan pintu untuknya, namun sayang, usaha Tuan Charllote pun tak membuahkan hasil.
Rena sang sahabat pun sempat berkunjung ke kediaman Ghina, kabar meninggalnya kedua orang tua Ghina sudah menyebar ke seantero sekolah. Sekeras apapun Rena memanggil dan mengetuk pintu, Ghina masih bertahan menutup diri dari dunia luar.
"Ghina!," kali ini Adam yang datang.
Apalagi Adam, gadis itu semakin tak berniat membuka pintu untuk pria itu.
"Ghin...ayolah," ketuk Adam lebih keras.
"Hey!, jangan memaksa kalau dia nggak mau bukain pintu," hardikkan seseorang mengejutkan Adam.
Joen berdiri tegap di belakang Adam, dengan tampang dinginnya menatap pria itu lekat-lekat.
"Kamu siapa?," tanya Adam nampak terusik dengan kehadiran Joen.
"Aku yang harusnya bertanya!," sentak Joen.
"Aku pacarnya Ghina," jawab Adam lagi. Kedua matanya menatap sengit kepada Joen, yang jelas lebih tinggi dan lebih tegap dari padanya.
"Aku calon suaminya!," Joen nggak kalah sengit menatap Adam.
"Jangan mimpi!, aku baru beberapa hari cuekin Ghina, tapi bukan berarti dia bisa seenak nya main nikah sama kamu!."
"Eh bocah!, modal apa kamu mau terus macarin Ghina? kamu udah mapan? udah kerja?," sentak Joen lagi.
"Aku bisa kerja kok, kalo udah lulus sekolah."
"Hahaha kelamaan, keburu jamuran Ghina nungguin kamu. Udah deh ya mendingan kamu mundur aja," saran Joen memaksa Adam menjauhi Ghina, tentu dengan wajah songong nya.
Jujur di lubuk hati yang paling dalam Ghina tak spesial lagi bagi Adam, bubungannya dengan Ghina sebatas perasaan sesaat saja. Dan dia nggak benar benar mencintai Ghina, begitu pula dengan Ghina.
Dari dalam sana, Ghina mengirimkan pesan kepada Adam"Kita putus saja, sudah tidak ada kecocokan di antara kita. Biarkan aku sendiri, aku mohon."
Pria itu langsung terbakar emosi, pesan dari Ghina membuat nya sangat gusar"Cih!! pungut deh tuh gadis yatim piatu,! cibiran Adam menyulut emosi seorang Joen. Dia mencengkeram kerah baju Adam dan hendak melayangkan tinjunya wajah pada pas-pasan Adam.
Demi Tuhan! asetnya sedang di pertaruhkan saat ini, dan Adam tidak sudi jika harus babak belur demi Ghina"Oke!!," teriaknya"Aku mundur!," Adam angkat tangan dan menyerah.
Joen menurunkan tubuh Adam yang di henyakan ke pintu rumah Ghina" Segini doang perasaan kamu sama Ghina? nggak salah aku meminta kamu menyerah," tukas Joen dengan bibir bergetar.
Adam meninggalkan Joen dengan tatapan kesal, dirinya semakin nggak berminat pada gadis yatim piatu itu. .
"Ya! kedatanganku ke sini memang ingin mengakhiri hubungan kita," balas Adam pada pesan yang di kirim Ghina.
Kedua mata Sembab Ghina hanya menatap sendu pesan dari Adam, akhirnya dia benar- benar menjadi sendirian.
"Ghina!," panggil Joen lagi. Tuan muda itu nggak menyerah begitu saja. Tapi sama seperti Joen, Ghina juga tak menyerah dengan niat menyendirinya.
...🐧🐧🐧...
"Gimana dong Pah, dia masih betah mengurung diri di tempat itu," sangat cemas, Nyonya Sook berkeluh kesah kepada Tuan Charlotte.
"Dia pasti sangat tergoncang, tapi Papah juga nggak tau harus berbuat apa, Tuan Charllote terus memikirkan cara agar Ghina keluar dari kesedihannya.
"Kasihan banget Mah, dia udah nggak punya siapa-siapa lagi," ujar Nari pula.
"Dia masih punya paman nak, tapi keluarga pamannya merasa keberatan jika harus mengajak Ghina untuk hidup bersama."
"Aduh Pah, Ghina pasti semakin sedih. Nari kepikiran bagaiman dia bisa bertahan selama seminggu ini di dalam rumahnya, apa stok makanan di sana memadai?." Nyonya Sook semakin gelisah mendengar perkataan Nari.
"Ini nggak bisa di biarin, hari ini Mamah akan ke sana. Mamah harus bicara langsung dengannya," ujarnya bertekad kuat.
"Joen ikut!," Tuan Muda kedua tiba tiba muncul.
"Kalau Ghina nggak punya siapa-siapa lagi, Joen siap menerima Ghina," ujarnya lagi.
Tuan Charllote dan Nyonya Sook kebingungan"Maksud kamu apa Joen."
__ADS_1
"Nah! bener banget tu bang Joen. Abang harus segera mengambil tindakan," ternyata kali ini Nari berpikiran sama dengan sang abang.
"Joen, apa maksud perkataanmu," Tuan Charllote mulai curiga, Jangan-jangan Joen.....
"Joen akan menikahi Ghina!."
WHATT!!!!
Nyonya Sook terkejut"Heyyy kamu tidak bisa sembarangan bicara Joen, keadaan Ghina sekarang bukan untuk main main!."
"Jangan bercanda kamu," Tuan Charllote mengeraskan suaranya.
"Beneran Pah, Joen akan menemani Ghina melanjutkan hidupnya, Joen akan menikahi Ghina," Joen benar benar bertekat kuat, tanpa ragu dirinya mengungkapkan segala isi hati terhadap Ghina.
Suara mereka membuat Jung keluar dari kamarnya dan melirik ke lantai bawah"Heh kutu kupret, pikir betul-betul sebelum bertindak!," ujarnya berseru.
"Nak, Ghina memang sedang berduka. Tapi, Mamah rasa kau nggak harus bertindak sejauh ini," ucap Nyonya Sook. Dia tidak tahu akan perasaan putranya terhadap Ghina selama ini, dirinya tak ingin niat baik Joen tak di dasari dengan cinta, kasihan Ghinanya kelak.
Joen menatap kedua orangnya, dengan yakin dia berucap"Joen serius Mah...Pah...!!."
Tuan Charllote berpikir keras, kemudian"Memangnya Ghina mau sama kamu? ."
Joen sempat cemberut mendengar perkataan itu, Tuan Charlotte seperti meremehkan pesonanya.
"Mereka sudah naksir-naksiran dari kemaren kemaren Pah," sahut Nari.
"Mereka emang sama-sama suka tuh, 100 persen cinta," timpal nya lagi. Hem, adakalanya mulut ember Nari di perlukan, seperti saat ini. Dan jauh di salam lubuh hati, Joen berterimakasih atas bantuan saudara perempuan nya ini.
Nyonya Sook memijat mijat keningnya yang mendadak nyot-nyot an, apa-apaan ini! anak-anak mendadak main cinta-cinta tanpa sepengetahuan dirinya.
Tuan Charllote tenggelam dalam pikirannya, mengingat Ghina gadis yang baik, gadis yang sopan. Tapi haruskah dia merelakan Joen menikahi Ghina? tapi jika mengingat Ghina yang sudah sebatang kara, jika bukan mereka siapa lagi yang akan mengasuhnya ??.
"Pah, kepala Mamah mumet," keluh Nyonya Sook. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja makan.
"Coba kamu bujuk Ghina ke sini, apa kamu bisa?," seperti sebuah tantangan, dia menatap tajam putra keduanya.
"Joen akan berusaha Pah, pasti ada cara...".
"Ah elah! kok sama Jung sih Pah?? dia udah gede, kok masih di temenin sih."
"Jangan bawel, apa mau Papah panggil Andrea kemari?."
"Ampun Pah, please jangan panggil mbak kuyang itu ya," ancaman itu sukses membuat Jung melemah, hingga pergilah Jung untuk menemani Joen ke kediaman Ghina.
"Kamu yakin Joen?, ini perkara menikah lho," Jung ingin memastikan bahwa Joen nggak main-main dengan ucapannya. Hati kecilnya nggak akan rela jika Ghina harus di permainkan sang adik saja.
"Iya, aku akan menikahinya bang," tegas Joen.
"Pikirkan cara agar dia mau keluar dari rumah itu dulu Joen."
"Aku bisa mendobrak pintunya, mudah bukan?," sahutnya begitu santai.
"Itu pelanggaran, pe'ak!," sentak Jung menatap tajam pada Joen.
"Tapi ini sudah seminggu bang, gimana kalo di dalam sana dianya kenapa-kenapa?," ujarnya langsung memotong kata kata Jung.
"Hupppffhh, iya juga sih ya," memikirkan hal itu membuat Jung menghela napas berat.
...🦆🦆🦆...
Ghina menyadarkan diri, memandangi dirinya di depan cermin. Nampak kurus, wajahnya terlihat begitu kusam. Nampak matanya terlihat cekung, jelas saja sebab berhari-hari dia menangis. Sekejap menyadarkan diri dan sekejap kemudian menangis lagi.
"Kriuuukkkk!," perutnya mulai bernyanyi, ya! dia kelaparan, tapi nggak punya selera untuk makan. Begitu lemas, kakinya menuruni tangga, dan terbayang kembali saat mereka bertiga bercanda ketika sedang sarapan. Terbayang senyum dan tawa mereka di rumah kecil itu, Hick...hick," Ghina kembali menangis, kedua kakinya lemas dan terduduk di anak tangga.
"Ghinaa!," sara Joen memanggil.
"Aku harus bangkit! duniaku tak boleh runtuh!!," tiba-tiba hati kecil di dalam sana menjerit. Menuntunnya untuk menyudahi tindakan tak berguna meratapi nasib itu.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Ghina bergegas berlari ke arah pintu. Sungguh dirinya sudah nggak sanggup menahan semua ini sendirian.
__ADS_1
Di luar sana, Jung terkejut mendengar langkah berlari dari dalam rumah Ghina"Joen, suara itu...," ujarnya pada Joen.
"BRAKK !!," Ghina akhirnya membuka pintu. Nampak, gadis itu benar-benar terpuruk dan hancur. Kedua matanya nampak berlinang air mata. Sepasang bola mata cantik itu juga terlihat sangat lelah.
Joen maju menghampiri Ghina"Tenang Ghina, tenang," mengusap lembut pundak gadis kecil itu, mencoba menenangkan nya.
"Kamu nggak sendirian," tambahnya lagi.
"Kami semua menunggumu pulang ke kediaman kami," ujar Jung pula.
"Dunia saya telah hancur Tuan," pekik Ghina kembali menangis. Dengan segera Joen meraup gadis itu ke dalam pelukannya.
Jung memandang ke dalam, nampak ruangan di dalam terasa sangat dingin. Kakinya melangkah masuk dan nampak lah sedikit piring bekas Ghina makan.
"Gadis malang ini pasti sangat kesepian, dia pasti sangat kesakitan," batin Jung.
Joen menyapu air mata Ghina"Tenang Ghina. Aku akan menemanimu melewati semua ini," ucap Joen lagi dengan suara lembut.
"Iya, Ghina, ada kami. Kamu nggak harus merasakan sakit itu sendirian Ghina," Jung menambahkan, sembari menatap teduh pada sosok yang kerap di buatnya kesal itu.
"kami semua perduli sama kamu."
Perlahan tangisan Ghina mulai reda namun tatapannya masih kosong .
"Ghina, kamu ikut ke rumah kami saja, kau akan semakin menderita di sini," ajak Joen mengusap sisa air mata di kedua pipi Ghina.
"Saya hanya akan merepotkan kalian Tuan. Jika mati itu begitu mudah, mungkin saya akan memilih kematian itu saja..."
"Husss,.Kamu jangan ngomong sembarangan," tukas Jung mengapa tegas pada Ghina.
"Tapi saya terlalu sayang dengan diri ini Tuan," ternyata ucapan Ghina belum selesai.
"Ayah dan Ibu pun pasti sangat sedih jika saya mengambil jalan kematian itu."
"Sudah, kamu Ikut kami saja ya," pinta Joen dan di anggukin Ghina. Segera, Joen pun membawa Ghina naik ke lantai atas.
"Kemasi barang-barangmu, Kami akan menunggu di sini," Tambah Jung di ambang tangga.
Namun Ghina seakan tak berdaya. Kakinya begitu lemas meski sekedar menopangnya berdiri tegap.
"Sini aku bantu," Joen membimbingnya naik ke kamar dan membantunya berkemas.
Yang terlintas si pikiran Ghina hanyalah bagaimana berbedanya Joen memperlakukan dia, Joen yang dia kenal sangat jahil. Hari ini sikapnya sangat bertolak belakang.
"Tuan Joen, apa anda terpaksa menjemput saya?," tanya nya pelan.
"Enggak, aku sudah berkali-kali ke sini untuk menjemputmu. Tapi kamu nggak pernah membukakan pintu untuk ku."
"Kemarin aku juga ke sini lagi, dan bertemu pacarmu yang jelek itu," cekotehnya dengan nada kesal.
"Mantan Tuan, kami sudah putus lewat pesan singkat," jelas Ghina sembari menyunggingkan senyum pahit.
"Udah lah, cakepan aku jauh kok, mukamu jangan sedih begitu dong," sentak Joen membuang muka.
Ucapan Joen cukup mengejutkan Ghina"Apa hubungannya wajah Adam sama cakepnya Tuan Joen?," tanya hati kecil Ghina.
"Aku juga berkali kali ke sini..." Jung mencoba menghilangkan Adam dari pembicaraan mereka. Dia tau Joen nggak menyukai seseorang bernama Adam Itu, sudah jelas dari nada bicara Joen.
"Maafkan saya, saya merasa benar-benar terpuruk..." nampak kesedihan yang mendalam dari raut wajah Ghina
"Grap," Joen kembali memeluknya"Jangan sedih lagi, aku akan bersamamu, aku nggak akan meninggakanmu."
Ghina terkejut"Tu....Tuan Joen!."
"Ya! aku akan terus bersamamu, dirinya semakin memeluk Ghina dengan erat.
"PLETOKK!!," Jung mendaratkan begom mentah tepat di atas kepala Joen"Belum resmi, di peluk sekali main sosor lagi."
"Nggak pake bogem mentah juga kali bang! kalau aku geger otak gimana?? ayo deh Ghina kita segera pergi dari tempat ini," menarik lengan Ghina, dan mereka segera meninggalkan kediaman Ghina yang sangat dingin san sepi itu.
__ADS_1
Biarlah luka itu tertinggal di sana, biarlah kesedihan itu tertinggal di sana. Cukup lama Ghina memandangi halaman rumahnya, sampai akhirnya dia memutuskan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumahnya"Ayah, ibu, Ghina pergi dulu ya.." ujarnya lirih.
~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan Komen ya teman ^,^ .