Storge

Storge
Maskot lucu


__ADS_3

Siang itu,matahari menampakan diri seterik- teriknya. Jung menyandarkan dirinya di sofa ruang tamu, keringat bercucuran begitu deras dari sudut sudut wajahnya.


"Huppffhhh, gerang banget!," nampak menggemaskan, pria itu mengibaskan telinga maksot di depan wajahnya.


"Pinjem!," entah dari mana, Nari tiba-tiba muncul dan langsung mengambil kepala maskot dari dekapan Jung. Perhatiannya sudah tertuju pada kostum maskot itu sedari Jung memasuki ruang keluarga .Sekarang kan lagi musim ikon maskot beruang yang unyu-unyu dan lucu begitu. Kebetulan dosen edan ini membawa benda keramat itu ke kediaman mereka, seketika jiwa-jiwa perampoknya muncul dan berniat membawa kabur kostum itu dari hadapan Jung.


Namun, niat tinggal lah niat. Oppa satu ini sangat jeli, nampaknya Nari harus mengurungkan niatnya.


"Mau nyolong ya? hobi barunya ngepet ya? sekarang nenek lampir udah berubah jadi babi ngepet ya?," Jung menegur Nari yang mengendap-ngendap.


"Mulutnya kaga ada filter nih, orang mau nyobain doang," kilah Nari terhuyung-huyung memasang kepala maskot di kepalanya"Ah elah!!!Kegedean," keluhnya.


Jung langsung merampas kembali kepala maskot menggemaskan itu dari tangan Nari"Tau diri dong, kamu kan kecil mini binti bonsai, satu spesies sama Ghina si cebol. Sudahlah, jangan maksa pengen nyobain kostum ini."


Nari cemberut, dia cantik lho, tapi abang-abang nya selalu memberikan gelar yang tidak cantik padanya. Bukan Nari namanya jika langsung menyerah. Gadis itu mendekati Jung dengan tatapan nakal"Oppa, oppa pake ya, foto bareng kita."


"Nggak! aku capek, baru juga istirahat sebentar Nar, masa di suruh pake ginian lagi," keluh Jung menolak permintaan Nari. Dia mengeluh saat di minta kembali memakai benda itu, padahal benda itu dia sendiri yang membawa kemari, bukan?.


"Nggak asik ih, bang Jung kan yang bawa, masa nggak mau pake bentaran doang, ayolah bang!," Gadis itu merengek seperti anak kecil yang gagal mendapat es krim, dan memang dasarnya Nari pemaksa, pantang menyerah dia terus merengek sambil memasangkan kepala maskot itu kepada Jung lagi.


Lelah dan letih membuat Jung hanya bisa pasrah menerima kelakuan si bontot. Sumpah, Jung capek banget kalo harus adu jotos dengan adik ceweknya. Mumpung Nari lagi kalem, Jung akhirnya mengalah.


"Buat ambil foto doang kan?? awas ya kalo lama!," cicitnya di bawah kendali Nari. Gimana nggak pasrah, meski kecil tenaga Nari lumayan kuat lho.


"Bawel deh, btw dapat dari mana kostum ini bang??," tanya Nari tak perduli dengan perkataan si abang.


"Dari......"


"Waahhhh kiyowok!!," tanpa menghiraukan keluhan Jung, Nari tenggelam dalam kekagumannya pada kostum maskot itu.


Berpeluh basah"Bibi!, tolong minta air dingin dong," jerit jung kehausan.


Pelayan tergesa-gesa mengambilkan air dingin untuk tuan muda Jung.


"Kenapa bi, ada apaan ?," tanya bi Mae menjumpai sang pelayang yang tergesa-gesa.


"Tuan muda Jung kepanasan," jawabnya dengan cepat mengambil air dingin dari dalam kulkas, berlari kecil pelayan itu segera kembali ke ruang keluarga, untuk memberikan pertolongan pada tuannya yang sedang di siksa si nona muda.


"Lho, Ac nya mati?," tanya bibi Mae dalam benaknya. Koki satu ini nggak tahu menahu dengan keadaan di ruang keluarga. Alih-alih membuang waktu memikirkan hal itu dia terus saja sibuk dengan aktivitas nya di dapur.

__ADS_1


Joen yang mendengar kegaduhan mereka menjadi penasaran , Dia mengikuti pelayan ke depan dan nampaklah jung yang kewalahan mengikuti pose-pose selfi seperti arahan Nari.


"Udah ya Nar, abang capek, rasanya udah nggak sanggup lagi," merosot ke lantai, Jung sungguh-sungguh sangat kelelahan.


" BRUK!!!," satu lagi penghuni kediaman Charlotte yang tak kalah nakalnya dari Nari sang nona muda.


"Wahhhh...imut sekali!," Ghina datang dan langsung memeluk maskot beruang di hadapannya.


Jemari kecil gadis cebol itu memencet hidung sang maskot beruang seperti bel pintu.


"Empuk ya," seru Nari ikut memeluk Jung yang sedang berada di balik kostum.


"Huum," sahut Gina, ngomong-ngomong siapa di dalem Non??," tanyanya kepada Nari.


Kembali dengan kejahilan Nari, dengan santai dia menjawab"Joen Oppa."


Wajah ceria Ghina mendadak tegang, dengan segera dia melepas pelukan dari maskot itu.


"Ih, kok nggak bilang!," protes nya pada Nari.


"Dih, kamu sendiri yang datang langsung meluk, atau jangan-jangan kamu modus ya??? memang pengen meluk bang Joen kan," tuduh Nari tertawa penuh arti kepada Ghina.


"Kaga!! kalo tau tuan Joen di dalem, ogah banget main peluk-pelukan," sentak Ghina menekuk wajah. Aduhai, hatinya mendadak ramai seperti sedang dangdutan, senang dan gugup membuatnya salah tingkah.


"Ck!! terserah deh mau percaya atau enggak. Saya permisi ke dapur," ujarnya berusaha kabur dari tempat itu.


Nari terkekeh, sementara Jung sengaja diam di balik kostum maskot. Seperti biasa, kalau urusan ngerjain orang, para saudara ini langsung kompak tanpa pengarahan.


Beneran deh, Gina malu banget. Rasanya pengen minggat ke pluto aja sekalian. Langkah gadis itu langsung menuju dapur, ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan Joen yang katanya sedang berada dalam kostum maskot.


"Eh!!," Ghina nyari menabrak Joen yang sedari tadi menonton tanpa suara di bawah tangga.


"Kok di sini?? lalu yang di dalam kostum itu siapa," tanyanya spontan.


"Dosen edan," jawab Joen sembari memasukan kedua tangan ke saku celana, sok-sok bergaya santai gitu.


Ghina lantas meringis, gila ya,! mentalnya harus selalu kuat jika berada di kediaman ini. Tak bisa kembali berkata-kata, Ghina berniat segera pergi dari hadapan Joen.


"Tunggu!!," Joen menahan langkah Ghina dengan kata-kata,"Lain kali, jangan sembarangan peluk orang," sambung Joen dengan nada santai tapi tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Maaf," spontan Ghina meminta maaf.


"Eh, napa saya jadi minta maaf," ujarnya lagi.


"Entahlah," Joen mengendikan bahu, pria itu tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ghina.


Eh!! eh!! kok senyum!! senyum Joen mendebarkan hati Ghina, dia merasakan kehangatan di wajahnya. Ah!! apakah Ghina sedang merona malu??


"Ghina tolongiiinnn," Jung berteriak pada Ghina, ternyata siksaan Nari belum selesai terhadapnya.


"Maaf Tuan Jung, saya harus bantuin ibu di dapur," serunya meninggalkan mereka ke area dapur.


"Cebol!! bukannya nolongin, malah minggat. Udah dong Nar foto-foto fotonya, badan abang pegal-pegal semua," bersusah payah Jung pun melepas kostum maskotnya, tersengal-sengal seperti habis lomba lari antar negara.


"Ckckckc, bentaran doang. Lemah banget sih bang, kaya gitu aja minta tolong sama Ghina," cerocos Nari meledek abang tertua.


"Ngapain pake kostum begituan!," Joen mendekat dan menatap jung dari atas sampai bawah, kali ini dia menyilangkan kedua tangan di dada.


"Lagi ngetrenhh pake kostum beginianhhh!!, tadi....ada acara cosplay..Hosh!! Hosh !!," jelas Jung ngos ngosan.


"Bweekkkk! mau-maunya," cibir Joen.


"Woi, aku pake beginian di teriakin cewek-cewek. Mereka histeris terkagum-kagum dengan benda lucu seperti ini," dengan sombongnya Jung pamer ketenaran di hadapan Joen,"Apalagi yang make aku yang tampan rupawan," tangannya di letakan di bawah dagu, bergaya dengan tingkah menyebalkan.


Bukannya iri, Joen justru merasa geli dengan tingkah kekanak-kanakan abangnya.


"Di bilangin malah ngeledek, kamu lihat kan barusan aku di peluk Ghina," pamernya lagi.


"Nih, si nenek lampir aja sampe klepek-klepek, iya kan," Jung mencari pembenaran kepada Nari.


"Hem....iya sih, nih, selca Nari sama Oppa pake kostum itu banyak mendapat like. Mereka juga pada bilang lucu, gemes, kiyowokkkkk," ujarnya menunjukan foto yang baru saja dia posting di akun media sosial.


"Au ah! nggak guna," ketus Joen berlalu. Sumpah, hatinya dongkol banget,"Apa lucunya?? pake di peluk-peluk segala," gerutu sang hati.


"Heh, mau kemana?? kamu nggak mau nyobain kostum ini??," seru Jung yang di tinggalkan Joen.


"Gila tu sendiri aja, nggak udah berjamaah," sahut Joen sinis.


Jlebbb!!, ada yang perih tapi tak berdarah di hati Jung  😣.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2