
Tak terasa waktu terus bergulir. Kepergian Andrea menyisakan kerinduan yang mendalam di hati Jung. Namun, demi kesembuhan sang gadis pujaan hati, curang nya rindu tak cukup membuat Jung mengibarkan bendera putih.
Beruntung kelahiran putra pertama Joen dan Ghina menjadi penghibur bagi Jung. Setiap hari menghabiskan waktu bersama Mashal Bae Charlotte sang keponakan, menjadi pengusir kegundahan yang bersarang di dalam hati.
Siang itu Jung sedang menggedong Bae di halaman kediaman Charlotte. Tanpa sepengetahuannya, ponsel yang dia tinggalkan di kamar terus berdering hampir puluhan kali. Bahkan mungkin ratusan kali, daya yang awalnya 70% sampai tersisa hanya 40%.
Ghina yang kala itu baru selesai mandi mendengar jelas lantunan lagu BTOB Missing you yang menjadi ring tone panggilan telpon milik Jung"Bang Jung, ponselnya berteriak terus!," serunya dari balkon, sedang si empu tak jua menyahut.
Ghina masuk ke dalam dan mengetuk pintu kamar Jung, tiba-tiba Ghina sedikit khawatir. Bukankah Jung sedari tadi sedang menggendong Bae, kemana perginya mereka?.
Sementara ponsel Jung masih saja berdering membuat Ghina tergelitik untuk memerima panggilan itu. Tertera nama sang penelepon di layar gawai "Sayang Andrea," Ghina terbelalak, dengan cepat dia menerima panggilan"Andrea???!!."
"Nari??, Ghina??," ujar suara di ujung sana.
"Ini aku, Ghina. Bagaimana kabarmu?," Ghina sangat bersemangat. Sebab sudah sangat lama dia tak mendengar suara Andrea. Sejak kepergiannya ini adalah kali pertamanya mendengar lagi suara gadis yang memiliki paras cantik itu.
"Aku semakin membaik. Bagaimana dengan Jung? kenapa dia kejam sekali. Bahkan sekalipun dia tak pernah menghubungi diriku!," Ghina dapat mendengar dengan jelas suara Andrea, gadis itu pasti sangatlah bersedih.
"Kau tak tahu, dia hampir gila di sini Dre. Dia menahan diri agar tak membuatmu mengingatnya. Dokter mengatakan akan lebih baik jika kau mengingat dirinya dan hubungan kalian secara alami, tanpa adanya paksaan," penjelasan Ghina semakin membuat rasa rindu menggerogoti relung kalbu.
"Aku sungguh ingin segera pulih, Ghina," ucapnya di iringi suara bergetar.
"Semua perlu usaha Andrea, kau harus bersabar. Lantas, apakah kali ini kau mengingatnya dengan sendirinya? hingga kau menelpon dirinya?
Andrea pun mulai bercerita panjang lebar. Sejak sebulan yang lalu dia masih merangkai serpihan ingatan, namun tanpa harus di paksa untuk ingat. Berkali-kali dia pingsan dan berkali kali pula dia bangun kembali. Tekadnya sangat kuat untuk pulih kembali.
Dokter Wenhan yang mendampinginya di sana menyarankan agar Andrea memasang foto Jung bersama nya di wallpaper ponsel, sebagai pemancing rasa penasarannya.
"Aku harus berjuang sedikit lagi Ghin, tolong jaga Jung sebentar lagi untuk ku," ucap Andrea penuh harap di penghujung kisahnya.
"Pasti Dre, kami akan selalu menjaga bang Jung dengan baik. Semangatnya untuk sembuh juga sangat kuat. Berkali-kali aku menyaksikan dia terjatuh melangkah namun semangatnya tak pernah lemah," Ghina juga menceritakan keadaan Jung pada Andrea.
Setelah lama berbincang Andrea dan Ghina pun mengakhiri pembicaraan. Andrea melarang Ghina memberitahu Jung. Biarkan dia terkejut sendiri jika melihat aktivitas panggilan masuk di ponselnya. Andrea berniat memberikan kejutan untuk kekasih yang sudah sangat di rindukannya itu.
..........
Andrea menikmati angin sore di beranda atas kediaman grandma.
"Apa dia udah tidur ya??"gumamnya..
menunggu dan menanti Andrea mulai bosan berkali kali memeriksa ponselnya. Gadis itu mengusap layar ponsel berniat menghubungi Jung lagi. Sejauh ini Jung belum menyadari dirinya pernah menelpon namun Ghina yang menerima.
"Jam setengah 6 sore," Andrea menghitung hitung"Di sana sudah jam Setengah 11 malam."
"Huppffhh!! mungkin saja dia sudah tidur. Tapi aku sangat merindukannya," dia terus bergumam sendiri.
Sementara Andrea sedang menunggu dengan resah, dan menduga Jung sudah tidur, ternyata dugaan itu salah. Dosen tampan itu masih mengerjakan tugasnya, sekaligus menyiapkan materi pembelajarannya besok di kampus.
Pria ini memang jarang memeriksa ponsel sekarang, menyibukan diri dapat mengurangi kerinduannya kepada Andrea.
__ADS_1
Malam semakin merangkak naik, tak terasa sudah memasuki tengah malam"Blup!!," ponselnya memberi tanda batrai melemah.
Jung baru teringat dengan ponselnya yang telah sekarat itu. Senyumnya tersungging tipis melihat senyum Andrea di layar ponselnya. Tak bosan-bosan memandangi foto itu.
"Bagaimana kabar mu, sayang?," gumam Jung.
Tepat di saat itu sebuah panggilan masuk, dengan nama Andrea tertera di layar ponsel. Sepasang netra pria itu membulat, gegas Jung menekan tombol hijau namun"Blup Blup," ponselnya telah kehabisan daya.
"****!!," sentra Jung frustasi.
Mengambil langkah seribu untuk mengisi daya ponsel, namun ponsel itu sedang tak bisa di ajak bekerja sama, dia tak langsung menyala.
Hatinya ketar-ketir, kenapa ponsel itu harus mati di saat seperti ini!!!. Dan di tengah malam itu terdengar suara tangisan Bae, terdengar pula suara Joen dan Ghina yang terbangun karena tangisan Bae.
"Tok tok tok !!"
Ghina membuka pintu kamar.
"Pinjamkan aku ponsel kalian!," wajah datar dengan rambut berantakan, Jung mengusak rambutnya mendapati sang ponsel mati di tengah pamggilan Andrea.
"Abang, ku kira mau ngemong Bae," ujar Ghina berbalik mengambil ponselnya di nakas.
"Ash!! kau tidak lihat Bae sedang menangis, kau datang menambah kerepotan kami!," Joen mencibir pada Jung. Namun abangnya tak menghiraukan ucapan Joen.
"Nomoer Andrea ada kan?," tanya Jung masih dengan nada datar.
"Iya, ada. Makanya kalau punya ponsel setidaknya cek daya nya. Pasti sekarang sudah mati kan ponselnya," cerocos Ghina"Tadi sore baterai ponsel abang hanya 40%."
"Ghina tadi berbicara panjang dengan Andrea, waktu abang tidak ada di kamar. Ponselnya berteriak terus, Ghina jadi gemes. Ternyata Andrea yang menelpon," dengan santai Ghina menceritakan obrolannya bersama Andrea tadi sore.
"Wahhh!! parah istri mu Joen, dia tak memberi tahukan panggilan Andrea padaku." Sementara Joen hanya mengendikan bahu, dia terlalu sibuk menenangkan Bae yang masih menangis.
"Besok pagi aku kembaliakan ponselnya," tukas Jung memutar arah. Namun....
"Ehh!! kenapa kembali lagi??," Ghina hampir mengenai kepala Jung ketika hendak menutup pintu. Rupanya Jung menciumi Bae dulu sebelum kembali ke kamarnya.
"Arghh!! anakku makin menangis Edaaannn!!," pekik Joen menjauhkan Jung dari jagoannya.
"Hilih!! dasar kau saja tak becus ngemong bayi," seru Jung melesat pergi.
...💖💖💖💖...
"Apa dia sudah tak lagi menungguku??," Andrea menekan kembali nomor ponsel Jung, namun tak ada respon. Wajah gadis itu terlihat sendu, rasa takut kehilangan Jung tiba-tiba mengusik kalbu.
Hampir 2 jam Andrea mondar-mandir di balkon, udara malam mulai menggigit tulang dan dia pun beranjak masuk ke dalam kamar.
"Andrea, )enapa kau nampak sedih??," bibi Monica mendapati wajah cemberut Andrea ketika mengantarkan obat untuknya.
"Im ok tante, hanya sedang menunggu kabar dari seseorang," sahutnya sambil merebahkan diri di sofa berwana putih.
__ADS_1
"Apakah lelaki bernama Jung itu??," pertanyaan tante Monica membuat pipi nya bersemu.
"Kau sedang rindu ternyata," goda tantenya lagi.
"Trrtt!!!Trtttt!!" panggilan dari Ghina.
"Andrea permisi tante, mau terima telepon," Andrea kembali ke beranda meninggalkan tante Monica yang masih menggodanya.
"Jangan terlalu lama di sana, nanti kau masuk angin Dre!!," seru Monica sembari meninggalkan kamar Andrea. Dan Andrea menanggapi dengan isyarat tangan.
Dag Dig Dug, hati Andrea berdebar tak beraturan"Ghi___"
"Sayang!!''Jung langsung memanggilnya ketika panggilan di terima. Senyum manis merekah dari wajah cantiknya. Suara ini yang Andrea rindukan..
"Andrea....," panggil Jung kembali. Sebab Andrea tak merespon panggilan pertamanya.
"Ya..!"kali ini dia menyahut pelan. Ada rasa yang tak dapat di ungkapkan di hati mereka saat ini. Bulir-bulir bening perlahan muncul di sudut mata indah Andrea"Aku rindu.."bisiknya menahan tangis.
"Aku bahkan sangat rindu, sayang. Betapa rindu mempermainkan kita selama ini, aku sungguh hampir gila setiap hari merindukan dirimu," ucapnya lirih. Di seberang telepon Andrea memegang dada, mendengar suara pria ini saja membuat hatinya di penuhi bunga-bunga indah dengan berbagai warna.
"Kau sudah pulih sayang??," tanyanya ingin lebih memastikan.
"Heem," sahut Andrea"Tapi aku masih harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi."
"Cepatlah pulang, rindu ini membuat hatiku berkarat, sayang."
Terdengar tawa kecil Andrea"Memangnya hatimu terbuat dari besi??," jika saja Jung dapat melihat rona wajah Andrea saat ini, dia akan sangat gemas pastinya. Wajahnya sudah berwarna merah muda dan menjalar hingga ke daun telinga. Rasa malu dan rindu memeluk hatinya saat ini.
"Hatiku hanya terbuat dari segumpal darah, namun perjuangan cintaku padamu lah yang membuatnya kuat bertahan seperti besi. Rindu ini sangat menyiksa sayang,"
"Katakan pada hatimu yang kuat itu, bertahanlah sebentar lagi. Mungkin setahun, atau dua tahun lagi aku akan kembali," gurau Andrea pada Jung.
"Saat kau datang hatiku sudah di penuhi lumut, sayang," ucap Jung"Apa kau tahu, aku cemburu sekali dengan Dokter Wenhan," tambahnya.
"Lho, cemburu dengan Dokter Wenhan?? dia hanya dokter pendamping aku sayang."
"Ya, aku tahu. Aku hanya cemburu karena dia di sana bersamamu, dia bisa leluasa melihatmu dan mendengar suaramu. Sedangkan aku di sini..." pria ini menggantung kalimat.
Sontak Andrea terkekeh mendengar ucapan kelasihnya itu, jadi ini yang di bilang Jung cemburu"Aku juga kangen kamu sayang, tapi meskipun kita tak seperti pasangan lain yang bebas bertemu, lewat doa aku bisa memelukmu kapan saja."
"Andrea oh Andrea, kau sudah pandai berkata-kata. Jika begini kau menyebar racun di hatiku."
Kening Andrea di buat berkerut"Racun? hei Tuan muda, bukankah kita sedang bicara rindu? kenapa kau membahas racun?."
"Kau memang menyebar racun, racun kerinduan. Melalui nadi cinta aku positif terdeteksi kerinduan atas nama kamu sayang, kau kejam sekali bukan? racun yang kau berikan padaku membuat ku sulit bernapas. Hanya dengan memejamkan mata aku sudah terusik dengan wajah cantikmu."
oh ya Tuhan, serangan rayuan pak dosen membuat Andrea tersipu malu. Terdengar syahdu bagi Andrea, namun jika hal ini terdengar oleh Nari dan Joen...ckckck dua saudara itu pasti akan muntah.
"Akh!! Tuan muda, bisakah kau menculik diriku," sekarang giliran Jung yang terkekeh dengan ucapan Andrea.
__ADS_1
To be continued...
~~**♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^ .