Storge

Storge
Menangislah


__ADS_3

Jung meminta pertolongan kepada para mahasiswa yang masih ada di kampus sast itu, untuk mencari Andrea. Dia sangat yakin, gadisnya masih berada di tepat itu, namun entah sedang berada di mana dia sekarang. Wajah putihnya merah padam, menahan amarah. Dia juga yakin hal buruk pasti sedang singgah pada sang kekasih hati.


Sekuat tenaga, di sela-sela langkah mencari Andrea, Jung berteriak memanggil nama sang kekasih"Andrea!!!!."


"Andreeaaaa!!!..."


Di tempat Andrea terkunci, gadis itu mendengar suara yang begitu jauh, memanggil namanya. Segera gadis itu naik ke atas kloset, membalas berteriak"Tolonggggg!!!!."


"Aku terkunci di dalam toilet!!," teriaknya lagi.


Setelah kembali mendapatkan tenaga, Andrea menendang pintu toilet, meski kaki yang cidera itu terasa sakit, Andrea tak kan mudah menyerah"Tolonggg!," jeritnya lagi.


Beruntung, seorang mahasiswa yang di kerahkan Jung untuk mencari keberadaan dirinya, mendengar teriakan Andrea. Dia lantas mencari asal suara teriakan gadis itu, hingga keberadaan di temukan.


"Andrea!! kau kah itu?," ujarnya memukul keras pintu toilet.


Seperti menemukan cahaya terang, di tengah kegelapan. Andrea berseru"Ya! ini aku. Siapa pun kau, aku mohon tolong aku," tangis nya pun pecah, suaranya bergetar.


Mahasiswa itu berusaha membuka pintu itu, dia pun mengguncang knal pintu dengan paksa, sayangnya hal itu tak membuat sang pintu terbuka.


"Aku akan mencari pertolongan, kau bersabarlah," tukasnya segera berlari ke muara pintu.


"Pak Jung!! Andrea di sini!," ujarnya berteriak. Jung yang berada di ujung lorong bagian barat segera menoleh ke arah pria itu, yang berada di lantai atas bagian ujung, toilet yang jarang di gunakan.


Kaki panjang pria itu membawanya sampai pada tempat itu dengan begitu cepat. Dan hal pertama yang dia dengar adalah jeritan tangis sang kekasih"Minggir," emosinya semakin memuncak, dalam sekali tendangan gagang pintu itu berhasil di rusak, namun entah mengapa pintu sialan itu masih tak bisa di buka . Merusak fasilitas kampus? akh!! masa bodoh dengan hal itu.


"Jung!! tolong aku!!," suara lirih Andrea, membuat hati seorang Jung porak poranda. Rasa geram membuatnya meninju pintu itu dengan membabi buta. Hingga..."Brak!!."


Gadis itu terlihat menekuk tubuhnya di sudut toilet. Melihat sang kekasih telah berhasil membuka pintu sialan itu, Andrea segera berlari ke pelukan Jung.


"Hick! hick! kenapa kau lama sekali! aku sangat ketakutan," isaknya.


"Temukan siapa pelakunya, aku akan membayar mahal jasa kalian, jika berhasil menemukan siapa pelaku kejahatan ini," geramnya, terdengar begitu menakutkan. Seorang Jung yang ramah, selalu tersenyum dan humoris, terlihat begitu menakutkan kali ini.


"Ini pasti ulah mahasiswa sini pak.."

__ADS_1


"Lihat saja, aku akan mengeluarkannya dari kampus ini," suaranya tertahan. Jung berani bersumpah, sampai ke lubang semut pun, pelaku itu harus dia temukan.


"Temukan secepatnya!!"


"Iya pak...!!"jawab ketiga mahasiswa. Mereka sangat terkejut dengan hal yang menimpa Andrea. Kejahatan ini adalah yang pertama kali, dalam sejarah para mahasiswa di kampus ternama ini. Dan naas nya, nona muda dari keluarga William yang menjadi korbannya"Gila! pelakunya pasti orang yang tidak waras! dia berani mengusik Tuan putri," ucap salah seorang dari mereka.


"Betul, kali ini dia menjadi incaran Pak Jung, dan dia akan semakin tersiksa jika Tuan William turun tangan. Aku tidak yakin tujuh keturunaannya akan baik-baik saja," tutur temannya.


"Apa kau lihat, wajah Pak Jung sangat garang. Apa yang akan terjadi jika dia mengajar dengan wajah seperti itu? apa para wanita masih akan terus terpesona??."


"Tentu saja mereka akan tetap terpesona, dia terlahir dengan kadar ketampanan 99%, mau bagaimana pun tetap saja tampan."


Dua dari rekannya spontan mengangguk, membenarkan ucapan temannya.


"Ya sudah, kita selidiki masalah ini secara rahasia," ujar salah satu dari mereka pula.


Di area parkir...


Jung menggendong Andrea di punggung lebarnya. Darah yang menetes di tangannya tak terasa sedikitpun, dia justru sangat mengkhawatirkan kaki Andrea yang juga berdarah.


"Tidak perduli dia wanita, atau pria, aku akan membuat perhitungan dengannya," gumamnya geram"Ini kejahatan kriminal, aku akan membawanya ke ranah hukum," lanjutnya.


"Andrea," Jung menggoyangkan pundak.


"Ng!?," Andrea menahan tangis. Dia membenamkan wajahnya di pundak Jung.


"Menangislah, pundak ku cukup lebar untuk menampung air matamu."


"Huwaaaaa!!!😭😭😭...hick hick..." sekuat hati dia meneriakan tangisannya. Suara tangisannya memecah kesunyian di halaman parkir kampus.


Selama beberapa menit terus menangis, terus terisak hingga kedua matanya nampak sangat merah. Dan setelah tangisan itu mereda"Sudah menangisnya?," tanya Jung.


Tanpa menunggu jawaban dari Andrea, Jung kembali berucap"Pelakunya pasti akan di temukan! kau tenang saja."


"Jangan di hakimi!," ucap Andrea lirih.

__ADS_1


Jung menurunkan dan memapahnya masuk ke mobil"Maaf sayang, aku tidak akan diam saja,"


kali ini Jung sangat tegas, dia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Andrea.


"Siapa pun itu, aku tidak akan melepaskannya," ujarnya dengan sorot mata yang tajam.


Selain menerima keputusan Jung apalagi yang bisa di lakukan Andrea. Gadis itu hanya bisa menenangkan diri, sebelum akhirnya kembali ke kediamannya. Dan matahari sudah semakin redup ketika mobil Jung melaju meninggalkan kampus.


Di belahan bumi yang lain.


"Apa dia sudah di temukan??," seorang gadis terlihat gelisah di kamarnya, menggigit ujung kukunya demi mengusir rasa takut.


"Aku tidak salah! aku tidak salah melakukan hal ini!!," ucapnya berbicara sendiri.


"Aku melakukan semua ini demi pak Jung. Dosen itu tidak boleh di miliki siapa pun!! tidak boleh!."


Di kediaman William, Andrea sudah tertidur pulas. Tubuhnya tertekuk pada karpet di depan televisi. Perlahan Jung memindahkan gadis ke tempat tidur. Membelai kepala gadis malang itu, Jung menyelimuti tubuh Andrea dan meninggalkan ciuman hangat di keningnya.


Tuan Wiliam nampak sibuk dengan ponselnya ketika Jung menuruni tangga menuju ruang tamu"Selidiki dengan teliti. Bawa pelakunya ke hadapanku, secepatnya??," pria itu mematikan panggilan telepon dan duduk berhadapan dengan calon menantunya itu"Andrea bagaimana? apa dia sudah tenang,Jung?."


"Ya, dia sudah tertidur om. Maafkan kelalaian saya dalam menjaganya, om," menundukan pandangan, dia sangat menyesali kejadian naas hari ini.


"Ini di luar kendali kita Jung, jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting Andrea sudah selamat."


''Sekali lagi maafkan saya, om!!" Jung berdiri dan segera membungkukan badannya memohon maaf.


"Tidak nak, hal ini akan kita selesaikan. Berhentilah meminta maaf."


Jung tau, hati Tuan Wiliam sangat hancur karena kejadian hari ini. Selama ini Andrea tak pernah terluka sedikit pun. Mendapati Andrea pulang dalam keadaan yang sangat kacau, hati orang tua mana yang tidak sedih.


"Saya yakin kamu sudah menjaga Andrea dengan sebaik-baiknya. Sebaiknya kamu istirahat dulu, tanganmu juga terluka, bukan?."


Tuan Wiliam memperhatikan luka di tangan Jung. Darahnya terus menetes ketika mereka baru tiba di rumah, dan tanpa menghiraukan luka itu, Jung dengan gagah menggendong Andrea ala bridal sampai ke kamar.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗🤗


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2