Storge

Storge
Bisikan hati


__ADS_3

...***aku menangis untuk waktu yang cukup lama.....


...karena kau tak bisa mengetahui isi hatiku......


...padahal aku berdiri di sini...tepat di hadapanmu......


...tapi mengapa kau tak bisa melihatku*???...


...❣❣❣❣...


Akhirnya, Jung merasakan betapa putus asanya Andrea selama ini mengejar cintanya. Belum sebulan Andrea menjauhi darinya namun rasa sakit sangat terasa pada relung hati. Rasa itu begitu menyesakan dada, bahkan seakan menghantam pada seluruh tubuhnya.


"Beginikah rasanya menyimpan sendiri perasaan di hati? dan bertahun-tahun lamanya Andrea bertahan hidup seperti ini," lirih pria itu.


Terulang kembali bayangan dirinya yang mengacuhkan Andrea, ketika dia memanggilnya, ketika dia meminta perhatiannya, bahkan ketika gadis itu sekedar tersenyum padanya. Mengingat hal itu, sungguh membuat penyesalan itu semakin menyesakkan dada.


Hari ini Jung kembali mengisi jam perkuliahan Dia tahu betul bahwa Andrea akan hadir di ruangan itu. Dan benar saja, gadis yang sedang memporak porandakan harinya hadir di sana, mengikuti pelajarannya. Meski sang hari begitu bergejolak, Jung tetap erusaha bersikap tenang, sampai jam mengajarnya selesai.


Ketika para mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan itu, dia langsung menahan Andrea dan mengajaknya bicara.


"Aku belum sarapan, dan aku sangat lapar sekali," Andrea berusaha melarikan diri.


Tanpa berbasa-basi, Jung langsung berkata pada intinya"Kau mengabaikanku Andrea, dan ini sangat menyakitkan bagiku," dengan tatapan sayu Jung mempertahankan Andrea untuk tetap bersamanya. Rasa rindu tiba-tiba memuncak di relung kalbu, ingin rasanya merengkuh tubuh gadis yang sedang membuang muka darinya ini.


"Ayolah Jung, aku hanya sedang mencoba untuk tahu diri. Kau selalu merasa terancam saat bersamaku, yang ku lakukan ini hanya demi rasa amanmu," ketus gadis itu masih enggan beradu pandang dengan Jung.


"Andrea..., maafkan aku."


"Stop Jung, aku sudah memaafkanmu sejak lama."


"Tapi kau menjaga jarak denganku," sentak Jung, membuat Andrea menatapnya ragu-ragu.


"Setidaknya, jangan selalu menghindariku, Andrea," ucap pria itu menatap dalam pada manik cantik, gadis yang tanpa sadar selalu di rindukannya.


"Sikapmu membuat dadaku sesak, rasanya sulit untuk bernapas. Sungguh, aku merasa sedang berada di ambang kehancuran Andrea."


Senyum sinis terukir di wajah cantik Andrea"Jangan berlebihan, ini hanya kisah biasa, bukan kisah romansa yang penuh air mata," Kakinya melangkah mundur dari hadapan Jung, dan bergegas hendak keluar dari ruangan tersebut.


"Andrea," lirih Jung penuh pengharapan"Apa aku harus berlutut, agar kau tidak lagi menjauh dariku?."


Andrea menghentikan langkah nya, berbalik menghadap pria yang masih saja menguasai hatinya. Di pandanginya lelaki yang masih sangat ingin di milikinya itu, namun apalah daya, mungkin cinta itu memang tidak ada untuknya, baginya sikap Jung hanya karena sebuah penyesalan saja.


"Aku sudah mencoba meraih mu Jung, tapi kau selalu menjauh dariku seperti angin. Perasaan cinta itu hanya aku yang punya, juga rindu itu di dalam dada, hanya aku yang tersiksa karenanya. Baru ku sadari berapa bodohnya diriku, terlena sendiri dalam cinta sepihak ini. Bertahun-tahun aku menunggumu menatapku dengan cinta....," Andrea menarik napas, seolah sebelum kembali mengeluarkan segala sesak di dalam dada"Satu kali saja Jung, bahkan satu kali pun kau tak pernah menatapku dengan cinta," suara gadis itu bergetar, kedua matanya berkaca-kaca. Namun Andrea bertekat tidak akan menangis di hadapan Jung lagi.


"Aku mohon jangan mengulurkan tali padaku yang sudah melangkah mundur, tali itu bisa mencekik leher ku Jung. Aku bisa mati dan aku tidak ingin mati dalam kesepian. Karena aku tahu, meski aku mati pun kau tidak akan pernah menatap ku!," usai berkata, Andrea berbalik dan meninggalkan Jung. Air matanya mengalir dalam sepi. Hatinya terkoyak mengucap kan semua kata-kata pahit itu kepada pria yang teramat di sayanginya.


"Harus kuat! kau harus kuat harus kuat," bisikan hati mengiringi langkahnya pergi dari hadapan Jung


Dan pria itu, terpana cukup lama. Jung terdiam membisu. Mulutnya tidak bisa berkata kata meski hati nya menjerit memanggil Andrea.


Tiba-tiba tubuhnya bagai terhempas ke bumi. Perasaan apa ini, kenapa sakit sekali!!


Seketika dadanya semakinterasa sesak. Diri sampai berjongkok menahan sesak di dada itu. Dan tanpa di duga, tubuh tinggi tegap itu limbung, hingga akhirnya roboh ke bumi.


Seketika mahasiswa berdatangan menghampiri nya, dan berteriak memancing kesadarannya.


"Pak Jung!! anda kenapa pak?? pak Jung!!."

__ADS_1


"Panggil 119!! cepat!!!," seru salah seorang dari mereka yang terus memancing kendaran dosen mereka.


Andrea baru saja menikmati makan siangnya di kantin, baru satu suapan saja. Acara makan itu lantas terhenti saat dirinya mendapati banyak dari teman-temannya berlarian. .


"Hey!! kalin mau kemana? kenapa berlarian?," menghentikan seseorang yang ikut panik hendak menyusul mahasiswa yang lain.


"Pak Jung, dia di larikan ke rumah sakit.Katanya tiba-tiba pingsan di atas podiumnya."


Ya Tuhan!! bukankah baru saja mereka bertemu?? gegas Andrea berlari, dan menabrak siapapun di hadapannya. Secepat yang dia mampu berlari menyusul Jung, namun sayang dia hanya sempat melihat Jung telah di naikan ke dalam ambulans dari kejauhan.


...❣❣❣❣...


"Kring !!...Kring !!!."


Pelayan tergopoh-gopoh menerima panggilan. Stelah mendengar kabar darurat itu dia langsung menghampiri Nyonya Sook.


"Nyonya!! Tuan Jung di larikan ke rumah sakit."


"PRANG!!."


Vas bunga di tangan Nyonya Sook terhempas ke lantai. Hari itu dia sedang mengurus bunga bunga kesayangannya di taman.


Tubuh wanita itu terkulai lemas, tidak berdaya


"Nyonya!!," jerit Bibi An langsung menyongsong tubuh sang majikan di atas lantai. Bersama pelayan yang lain dia membawa tubuh sang majikan ke kamarnya.


"Cepat hubungi Tuan Charlotte!," tukas bibi An pada rekannya.


Tak perlu waktu lama, Tuan Charllote sudah berada di rumah sakit. Andrea tiba lebih dulu kemudian disusul oleh Joen. Gadis itu nampak terpukul sekali, genang air mata terus mengalir membanjiri kedua pipinya.


"Entahlah pa, Joen dengar dari teman-teman, dia pingsan usai mengisi mata kuliah."


Mendengar ucapan Joen, Andrea menyadari bahwa Jung pingsan usai berbicara dengannya. Perasaan bersalah semakin menjalari sang hati, memancing rasa penyesalan karena telah mengabaikannya.


"Andrea, apa kau tahu kenapa Jung begini?," kali ini Tuan Charlotte bertanya padanya. Namun Andrea tak kuasa untuk berbicara, dirinya hanya mampu menggelengkan kepala, terkulai lesu.


Cukup lama dokter menangani Jung di ruang ICU, membuat hati mereka yang menungguinya semakin cemas dan gelisah.


Di kediaman Charllote .


Bibi An cemas menunggu kabar dari majikannya. Dia mendapat tugas menemani Nyonya Sook dan mengurusi segala keperluannya. Beruntungnya, Nyonya Sook tak di larikan ke rumah sakit juga, cukup di tangani dokter keluarga saja yang selalu siap siaga.


Setelah menunggu lama akhirnya dokter keluar. Dia langsung menjelaskan keadaan Jung pada Tuan Charllote"Tekanan darahnya rendah sekali Tuan. Nampaknya, Tuan Jung akhir-akhir ini sering kelelahan," ujar dokter yang memang mengenal baik keluarga Charllote.


"Apa yang membuatnya lelah? ku pikir dia hanya bermain-main saja akhir-akhir ini," ujarnya bergumam.


"Sepertinya abang kurang tidur pa. Joen perhatikan, makannya juga berkurang, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat sekali," Joen mengingat-ingat prilaku Jung belakang ini, yang kerap terlihat melamun saat sendirian.


"Magg nya kambuh, menyebabkan lambungnya terasa terbakar," ujar dokter lagi.


"Tapi dia akan segera membaik Tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuknya."


Tuan Charllote lega, setidaknya itu bukan penyakit berbahaya.


Jung segera di pindahkan ke kamar inap


Wajahnya terlihat sangat pucat. Andrea langsung saja menemani Jung, menempel kembali pada Jung tanpa perduli ada orang lain bersama mereka.

__ADS_1


"Tidak perlu sangat khawatir, dia akan baik-baik saja," ucap Joen yang berada di belakang Andrea, sementara gadis itu tak jua membangun jarak antara dirinya dan Jung.


Andrea tak bergeming, diam saja memandangi wajah pucat di hadapannya.


"Andrea, Jung akan baik-baik saja," kali ini Tuan Charlotte yang berucap.


"Iya om, Andrea mendengar semua penjelasan dokter."


"Om, bolehkah Andrea saja yang menjaganya?," ujarnya lagi.


"Jangan Ndre! aku saja yang menjaganya," Joen menyahut. Bagaimana bisa dirinya membiarkan Andrea menjaga Jung, sementara mereka semua tahu betapa Jung selalu bersikap tidak baik terhadapnya.


Gadis itu menggeleng menanggapi perkataan Joen.


"Om akan menyuruh para pelayan menjaganya malam ini...."


"Aku mohon om," sambar Andrea, kedua mata gadis itu berkaca-kaca. Sungguh, sikapnya membuat Joen dan Tuan Charlotte kesal kepada Jung, telah mengabaikan dan menyia-nyiakan kasih sayang gadis sebaik Andrea.


"Om, Andrea mohon," Andrea kembali memohon sembari mengatupkan kedua tangannya pada Joen dan Tuan Charllote.


"Jung pingsan selepas berbicara padaku, Joen," terlihat raut kesedihan. Juga kedua mata berkaca-kaca itu telah memerah, hampir menumpahkan sungai kecil di kedua pipinya.


Mengingat keadaan Jung yang tak begitu parah, akhirnya Tuan Charllote mempersilahkan Andrea menemaninya.


"Malam ini saja ya, om tidak nyaman jika terus merepotkanmu."


"Iya om, terimakasih sudah mengizinkanku menjaganya," Andrea pun mengangguk lega.


Setelah memastikan keadaan Jung, Tuan Charllote dan Joen pamit pada Jung. Tuan Charlote juga menugaskan Mr. So untuk menemani mereka malam itu.


Jung sadarkan diri namun dia masih lemah untuk berbicara banyak. Ujung matanya hanya dapat mengikuti gerak-gerik Tuan Charllote dan Joen yang perlahan meninggalkannya bersama Andrea.


Gadis itu masih duduk di sampingnya, namun tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Cukup lama mereka membisu, sampai sebait kata terucap jua dari mulut Jung.


"Maaf!" suara Jung memecah kesunyian.


"Diam!!," sahut Andrea, sedari tadi dia menahan kesedihan. Jika dia terus bicara air matanya akan tumpah dan itu sangat tidak dia inginkan, apalagi menangis di hadapan Jung.


"Lebih baik kau tidur!!," suaranya bergetar dan tangannya menahan tubuh Jung yang berusaha untuk bangkit dari pembaringan.


Jung tertawa, suasana itu terasa sangat berbeda. biasanya dia akan langsung mendapat serangan dari Andrea.


"Setidaknya dia masih mau bicara kepadaku," bisik hati Jung saat itu.


Perlahan kedua mata pria itu terpejam, terhanyut dalam tidurnya. Tubuhnya benar- benar lelah. Belakangan, dia menjalani hari-hari yang sangat sulit karena cinta, juga beban pikiran karena cinta.


Beberapa saat, setelah memastikan pria itu benar-benar tertidur pulas''Aku benci dengan diriku sendiri, di saat seperti ini aku langsung berlari padamu Jung. Mungkin jika saat itu kau memelukku, mungkin jika saat itu kau memeluk bahuku dengan hangat, aku takkan mencoba meninggalkanmu. Dan aku takkan membuatmu jatuh sakit seperti ini" bisik Andrea di hadapan Jung.


Perlahan dia menggenggam jemari Jung, dan meletakan lengannya di samping ranjang pesakitan Jung. dia menopang kepalanya dengan lengan itu dan juga terhanyut dalam tidurnya.


Setelah beberapa waktu, Jung membuka kedua matanya dan menatap sendu ke arah Andrea"Aku baru menyadari kekosongan hatiku, ketika kau beranjak pergi, Andrea."


Bisikan Jung mengiringi malam sepi yang mereka lalui berduda .


~~♡♡Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2