
...***Butuh tiga detik untuk mengatakan aku cinta kamu. Tiga jam untuk menjelaskannya dan seumur hidup untuk membuktikannya***...
"Kau sudah sampai di rumah?," Jung mengirim pesan pada seseorang.
Tidak berapa lama dia mendapat balasan.
"Iya."
Itu adalah pesan balasan dari Andrea, begitu singkat, padat dan jelas. Jung yang haus akan interaksi mereka, di buat gemas oleh prilaku Andrea.
Sikap dingin itu membuatnya semakin penasaran, dan selalu merindukan gadis cantik itu.
Dan sekarang, barulah dia mengerti bagaimana rasanya mencintai. Bagaimana rasanya bahagia, meskipun hanya menatap orang yang di cintainya. Dan baru Jung sadari bahwa selama ini dia telah jatuh cinta kepada Andrea, dirinya hanya menolak kebenaran itu karena sikap berlebihan Andrea saat mengungkapkan cintanya.
Di kediaman Charlotte.
Malam semakin larut, Joen mematikan laptop dan mengakhiri pekerjaannya.
Jam sudah menunjukan pukul 23:15. Pria itu melirik kepada Ghina yang masih terjaga. Meski tidak berkata-kata, Joen dapat melihat bahwa sang istri sedang tidak baik-baik saja.
Joen menghampiri Ghina, melekatkan keningnya kepada kening sang istri "Hmmm kau tidak demam."
"Aku memang tidak demam, kau saja yang terlalu khawatir," berbalik dan memeluk Joen.
"Ku begitu gelisah, aku yakin pasti ada beban yang sedang kau pikirkan," celetuk Joen.
"Huh!! sok tau."
"Kau terus membolak balik badan seperti ikan yang sedang di goreng, jika bukan gelisah, apa lagi?."
"Aku....hanya menunggu kau selesai bekerja. Aku ingin tidur dalam pelukanmu," ucap Ghina dengan wajah merona.
Astaga! sikap manis dan manja Ghina, membuat Joen tersenyum malu. Istri yang biasanya lugas, malam ini berubah begitu manja.
"Baiklah, aku akan memeluk istri kesayanganku!!" bergegas, Joen meraup Ghina ke dalam pelukan.
...***...
Andrea kembali hanya memandangi Jung dalam sebuah foto. Itu pun hanya sebuah foto yang tersimpan di dalam ponselnya. Meski sempat luluh dan memelai rambut pria itu, Andrea masih takut menyimpan harapan kembali pada pria itu.
Demi kebaikan Jung, juga dirinya, dia menyadari selama ini kelakuannya sangat kekanak- kanakan. Dan dia baru menyadari sikap kekanak-kanakan itulah yang membuat Jung merasa risih jika bersamanya.
"Hujan mulai menyelimuti ruang rindu dan berusaha masuk ke dalam mimpi."
Andrea mendapi Jung baru saja memperbaharui status pada aplikasi gelembung hijau.
Ingin rasanya menyapa, namun sang jemari begitu berat untuk mengetik pesan kepada pria pujaan.
"Masih online, kau belum tidur???," Jung lebih dahulu mengirimkan pesan singkat kepada Andrea, sebuah hal yang jarang terjadi.
Gadis itu tersenyum, gelora cinta terus menggeliat hatinya.
"Ya, sebentar lagi aku akan segera tidur," balas Andrea.
Di seberang sana, Jung nampak bersedih, dari pesan itu sepertinya Andrea sedang tidak ingin di ganggu"Mimpi indah," ujarnya akhirnya, mencoba tahu diri bahwa sang wanita sudah ingin beristirahat.
"Ya, kau juga."
Dan Jung, punya kebiasaan yang aneh, baik suka atau pun duka dia akan bergulingan di tempat tidur. Dan kali ini dia berguling sambil tersenyum senang, akhirnya sang gadis membalas pesannya.
...Hei!! bukan hanya Jung, Andrea pun sedang gembira. Dia terus tersenyum bahkan tertawa, hingga menampilkan barisan gigi putihnya....
...*** ...
Pagi yang cerah di kediaman William.
Andrea sudah berpakaian rapi ketika pelayan memanggilnya untuk sarapan.
__ADS_1
"Nona kuliah pagi, ya?," tanya sang pelayan pribadinya.
"Tidak, aku hanya ingin berkunjung ke kediaman Charlotte, menjenguk Jung," ujarnya sembari keluar dari kamar. Andrea, dia cantik seperti biasanya. Mengenakan gaun berwarna putih, rambutnya di gerai indah, sungguh anggun.
Sepertinya, Andrea dalam suasana hati yang berbunga-bunga. Nampak matanya berbinar- binar ketika sedang berbicara dengan Tuan William sambil menikmati sarapan.
Meskipun tak lagi mempunyai seorang ibu, Andrea tumbuh dengan kasih sayang yang berlimpah. Tian William memenuhi segala kebutuhan Andrea tanpa kekurangan suatu apapun. Juga tidak lupa dia selalu meliburkan diri 2 hari dalam seminggu, agar memiliki waktu luang bersama sang putri.
"Ingat, kau harus tahu diri ketika berada di kediaman orang, jangan merepotkan," pesan Tuan William.
"Siap, papah!" ujarnya memberi hormat.
"Apa kau sangat menyukai Jung?, dia sudah tua," goda papahnya.
"Masa bodo!" sahutnya santai.
"Kau siap mendapat suami tua bangka?."
"Blush!!" pipi Andrea memerah, gadis itu tersipu malu.
"Putriku, wajahmu merah sekali," Tuan William memegangi wajah putri kesayangannya.
Sementara anak gadisnya hanya tersenyum kepadanya, menahan malu.
...***...
Usai berpakaian sekolah, Ghina segera merapikan tempat tidur, menyiapkan tas kerja suaminya dan beberapa dokumen yang akan di bawa Joen ke kantor.
"Sayang, pulang sekolah aku akan menjemputmu," dia merangkul istri kesayangannya, begitu mudah sebab Ghina hanya sebatas dadanya.
"Baiklah, dan setelah kita ketaman hiburan, atau ke festival street food..." matanya bermain naik dan turun, begitulah kira-kira tampang Ghina saat sedang berpikir.
"Kucing, jika sedang mengejar makanan, matanya seperti matamu, sayang," Joen menyentil ujung hidung wanita tersayang.
Ghina mengerti akan ledekan sang suami"Oh ya? kucing juga bisa mengigit, sayang," sahut Ghina hendak menggigit jari nakal Joen.
"Hei!! kalau mau menggigit, kau hanya boleh menggigit di sinu??," Joen menunjuk lehernya sendiri.
Beberapa saat kemudian...
Andrea akhirnya tiba di kediaman Charlotte.
Nyonya Sook nampak duduk menatap layar televisi, usai sarapan bersama para penghuni kediaman Charlotte.
"Selamat pagi!," sapa Andrea.
Sontak iya menoleh kepada Andrea yang masih berdiri di depan pintu.
"Masuk sayang, jangan sungkan begitu!!."
"Terimakasih tante," dia pun membawa diri untuk masuk menghampiri Nyonya Sook.
"Ghinanya mana tante?."
"Tentu saja sekolah," sebuah senyuman penuh arti, membuat Andrea salah tingkah.
"Hanya ada Jung di atas, kau naiklah," owh! sungguh pengertian sekali calon ibu mertua ini.
"Sudahlah, cepat kau naik ke atas," sikap malu-malu Andrea sangat tidak biasa baginya, dia kembali menyuruh Andrea untuk menjumpai sang putra pertama.
"Ehehe," gadis itu tertawa canggung, namun berjalan jua menuju tangga.
Sesampainya di lantai atas, pelan-pelan Andrea memutar gagang pintu dan menginti ke dalam.
Lho? mana penghuni kamar ini? Andrea melenggang masuk ke kamar dan meletakan tasnya di sofa. Saat itu Andrea menarik napas dalam-dalam"Wahh, aroma kamar Jung enak sekali"gumam nya merentangkan kedua tangan di depan jendela.
"krek!!" tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Jung keluar dari dalam sana dengan bertelanjang dada.
__ADS_1
"Whaatt!!," Andrea panik dan lekas berbalik, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Jung nampak sedikit terkejut, namun masih bisa berlagak santai.
"Kapan kau datang??," ujarnya berjalan ke ruang pakaian. Sengaja melarikan diri agar Andea tak canggung melihatnya bertelanjang dada.
"Baru saja," jawabnya pelan.
Jung cepat-cepat berpakaian. Pria itu mengenakan celana panjang hitam dan kaos oblong hitam.
"Apa kau akan melayat?," spontan Andrea berucap.
"Oh! ya sudah aku ganti baju dulu," dia membuka baju di depan Andrea, tanpa ragu menampakan roti sobek di perutnya.
"Oh Lord! ada orang lain di sini!," Andrea memejamkan kedua matanya, namun otot perut jung terlanjur terekam pada ingatannya.
"Kau bilang pakaian ini seperti orang ingin melayat, tidak ada salahnya jika aku langsung berganti pakaian, bukan," sahut Jung begitu santai.
"Terserah kau saja," sahut Andrea pasrah, dan Jung pun mengurungkan niat berganti pakaian.
"Kapan mulai ke mampus lagi," dia menanti kehadiran Jung kembali di kampus. Kuliah terasa membosankan tanpa kehadiran pria itu.
"Kau merindukanku?," goda Jung.
"Tidak!."
"Benarkah??" Jung mendekat.
Aish!, pakaian berwarna hitam itu membuat Jung semakin bersinar, sangat kontras dengan kulit pucat yang di milikinya.
"Jawabbb!," Jung mengagetkan memecahkan lamunan gadis itu.
"Tidak! kau terlalu percaya diri!!," dia terus saja mengelak, melangkah mundur manjauhi sang pria. Aroma parfume yang baru di semprotkan Jung di tubuhnya, sungguh mengusik ketenangan hati.
Melihat andrea melangkah menjauh, tidak memudarkan semangat Jung untuk terus melangkah maju.
"Kau...kau mau apa? kita...duduk di kursi saja...sambil mengobrol," ujar Andrea terbata.
"Aku hanya ingin maju, memangnya tidak boleh?."
Andrea menunjuk wajah Jung begitu dekat"Jung Charlotte!! kau genit sekali!!."
"Oke! oke! aku akan mundur," tukas nya tersenyum sembari menghentikan langkahnya.
"Begitu lebih baik," tanpa curiga Andrea melangkah maju hendak duduk di sofa.
Namun Jung mendadak maju lagi hingga mereka hampir bertabrakan, Jung menatap Andrea begitu dalam. Sementara kedua mata Andrea berkedip-kedip, gugup.
"Andrea, kamu cantik sekali!," sialan! ocehan spontan Jung berhasil memporak-porandakan hati sang wanita.
"Ju.... Jung! hentikan!," pekiknya dengan suara tertahan.
"Tidak bisa, kau terlalu cantik," ujarnya lagi.
"Gombal! kau sudah pandai merayu sekarang!._
Jung menangkap lengan andrea yang berniat pergi"Andrea, aku menyukaimu, bahkan rasa suka ku lebih dalam dari rasa suka mu padaku dulu."
Seketika, gadis itu kehabisan kata-kata.
"Andrea, apa kau masih mau bersamaku??bahkan menua bersamaku??," pertanyaan Jung seperti sedang melamar anak gadis orang, hati Andrea rasanya akan meledak.
"Andrea," gadis itu hanya bisa diam. Jung menjadi bingung, apakah pernyataan cintanya ini salah?
...**Beginilah cinta, bisa membuatmu menangis dan tertawa....
...Namun jangan sampai kau di kendalikan oleh cinta,...
__ADS_1
...Semua akan lebih baik jika engkau yang bisa mengendalikan cinta...**...
~~♡♡♡ happy reading.jangan lupa like dan komen ya.^^