
Awan mendung menyelimuti langit di kediaman William.
"Yaaah, hujan. Bagaimana mau nonton bioskop nya," seru hati Andrea.
Wanita itu segera menekan nomor ponsel Jung. Dan terdengar nada tunggu di ujung telepon.
"Aku sudah otw honey," sahut Jung di telepon.
"Honey? aku kan bukan beruang," Andrea langsung protes ketika Jung memanggilnya dengan sebutan honey.
"Baiklah, sayang saja ya?," Jung mengganti panggilan sayang itu.
Tersipu malu"Hehehe, nontonnya jadi? kan sedang hujah."
"Nanti saja kita bicarakan, aku sudah di depan rumahmu."
Andrea melihat ke halaman depan, nampak mobil Jung memasuki pekarangan rumahnya.
Andrea bergegas turun untuk menyambut kedatangan pujaan hatinya. Kemeja Jung sedikit basah ketika keluar dari dalam mobil, menghampiri Andrea.
Padahal bisa saja dia memarkir mobilnya tepat di depan rumah Andrea. Dia tak akan kebasahan jika berhenti di sana. Namun Jung sudah terlanjur mencicipi sedikit air hujan yang memaksa mereka membatalkan rencana kencannya.
Andrea mengambilkan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Jung yang basah. Dan bukan Jung namanya jika tidak gemar menggoda kekasihnya itu.
"Kau tidak berniat mengeringkan rambutku? aku kebasahan karena ingin bertemu denganmu," ujarnya manja, tatapan mata pria itu sukses meluluhkan hati Andrea.
Sementara pelayan pribadi Andrea selalu saja terpana melihat ketampanan Jung.
"Ya ampun bibi, ini bukan kali pertama saya melihat Tuan muda Jung, tapi sungguh dia sangat tampan!!."
"Betul sekali, aku heran kenapa ada manusia setampan dirinya, seperti malaikat saja," bibi yang lebih tua pun memandang kagum pada Jung, hingga bicara terlalu berlebihan.
"Bibi, tolong buatkan teh hangat untuk Jung ya," pinta Andrea kepada pelayan.
"Siap non!," pelayan langsung melangkah ke dapur melaksanakan tugasnya.
"Teh nya tolong di antar ke kamar ku saja ya bi," pintanya sembari mengajak Jung naik ke kamarnya.
"Iya non Andrea," para pelayan menatap Jung penuh kekaguman. Apalagi Jung sempat melempar senyum kepada para pelayan, hati mereka semakin menjerit histeris di dalam sana.
Sesampainya di lantai atas, Jung menatap ke seluruh penjuru kamar wanitanya.
"Apa yang kau perhatikan?," Andrea mengibas kan tangannya di depan wajah Jung. Secepat kilat, Jung menangkap jemarinya dan menggenggamnya erat.
"Jadi ini kamar kamu?."
"Iya," Andrea mengiring Jung untuk duduk di sofa. Dia membantu Jung mengeringkan rambutnya dari belakang sofa dan perlahan Jung menariknya ke hadapan hingga kini mereka bertatap muka.
"Lain kali jangan kehujanan lagi ya," Andrea mulai ingin mengomeli Jung, dengan suara lembut. Aish! ingin mengomel apa sedang menggoda??
"Hanya kehujanan sedikit, kau sudah ingin mengomel."
"Aku hanya mengingatkan, bukan mengomel. Kau sudah besar, tidak pantas lagi jika di omeli," Andrea terus berbicara sambil merapikan kembali rambut Jung.
"Yaaah, rambutnya sudah tidak bisa di atur," ujarnya sebab rambut Jung sudah kehilangan pomade karena hujan.
"Ya sudah, begini saja," Jung menggeleng- gelengkan kepalanya. Dan ow!! kenapa rambut yang nampak berantakan itu membuatnya semakin tampan?? apalagi saat dia menyisirnya ke samping dengan tangan.
"Pyuffuh, begini saja sudah membuat hatiku gonjang-ganjing," Andrea bergumam.
__ADS_1
"Ng??,'' lirik Jung.
"Bukan apa-apa," tukas sang gadis.
Nampak bingung, Andrea sibuk mencari baju yang mungkin bisa Jung pakai saat ini"Aku tidak punya baju ganti untukmu, bagaimana ini?."
"Tidak perlu sibuk begitu, nanti akan kering sendiri. Sudahlah! sini duduk, jangan mondar-mandir seperti setrikaan begitu," sontak, Jung menarik tubuh Andrea, hingga oleng dan jatuh ke pangkuannya.
"Anu...kau..kau mau main game?" Andrea tergagap mencoba melarikan diri. Ini sangat berbahaya jika dia terus menempel di dekat Jung. Parfumenya menyebar lembut di kamar Andrea, pertahanannya harus kuat hari ini, apalagi di luas sana sedang hujan. Iman oh iman!! bertahanlah!.
Mereka mulai mengisi waktu dengan bermain game, kemudian lanjut bermain kartu. Sementara sang hujan masih setia menghalangi rencana kencan di luar mereka.
Lelah bermain kartu, Jung merebahkan dirinya pada karpet berbulu, di depan tv Andrea" Aku bosan, sayang. Kamu punya film apa??."
"Running man??"tawar Andrea.
Jung menggelengkan kepala.
"Bagaimana dengan film horor?."
"Nanti saat hantunya muncul, kau pasti akan langsung memeluk ku! modus!," Jung bicara begitu santai sambil membetulkan letak bantal.
Heh!! santai sekali pria ini bicara. Dia tidak tahu bagaimana beratnya Andrea menahan keinginan untuk menjamahnya. Andrea menahan diri untuk tak terlalu dekat dengannya.
Andrea memilih duduk manis di atas sofa, menekan tombol remot turun dan naik"film aksi mau tidak??."
Suasana hening, tiada jawaban dari Jung.
"Jung Oppa?," tangannya menggapai pucuk kepala Jung"Oh lord! dia ketiduran."
Andrea pun segera turun dari sofa dan mendekati Jung...
"Tuhan, terbuat dari apa manusia di hadapanku ini," dia berkata-kata di dalam hati.
Duhai hati, bisakah kau diam!! kau terlalu berisik di dalam sana.
Saat sang hati tengah berbunga-bunga, tiba-tiba"DUARRR!," hujan yang deras di iringi dengan petir yang menyambar.
"Mamaaaaa!!!," Andrea berteriak, menutup kedua telinganya dengan tubuhnya bergetar.
"Ndreee!!," Jung rerkaget dan langsung memeluk Andrea yang meringkuk di balik sofa.
"Bukan apa-apa!! itu hanya petir!!," tepukan lembut di pundak Andrea.
Alih-alih ketakutan, Andrea mengangkat wajah dan tertawa"Aku terkejut."
Jung mengira Andrea akan menangis ketakutan, ternyata hanya terkejut.
Membuang napas"Huh! aku terkejut sekali!!," gumamnya memegangi dada.
"ku kira kau akan menangis, dan berteriak sekencang-kencangnya."
"Tuan Jung, aku cewek tangguh, suara petir itu hanya membuatku sedikit menjerit," gadis cantik itu mengukur rasa takutnya dengan jari kelingking.
Saat itu posisi mereka sedang berhadapan, sangat dekat. Bahkan Andrea tak menyadari bahwa dia sekarang berada dalam pangkuan Jung.
karena kaget dan langsung mengoceh dia sedikit lengah dengan pertahanannya. Jung langsung menekan hidung Andrea"Menjerit sedikit??kau sampai membangun kan ku."
"Maaf, aku kan terkejut," kali ini Andrea tak punya kesempatan untuk menjauh, kedua lengan Jung sudah mengunci tubuhnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, kau harus mendapatkan hukuman!!," semakin mendekat.
Otak Andrea berpikir keras, dia harus memonopoli hukuman yang akan Jung berikan.
Pelan namun pasti Jung mengincar bibir merah Andrea yang terlihat manis untuk di cicipi.
Kini tatapan mata mereka semakin dalam, lengan Andrea memegangi pundak Jung saat pria itu semakin mendekat dan.....
Tertawa lebar, Andrea menempelkan biskuit di bibirnya.
"Eisshhh!!!," Jung yang gagal mencicipi bibir ranum Andrea menutup wajah.
Sementara Andrea melarikan diri"Tidak semudah itu," ujarnya semakin menjauh.
Jung mengulum senyum, menggigit bibir bawahnya"Kau kejam sekali."
...***...
Hujan masih setia menyelimuti bumi hingga jam menunjukan pukul 17:00.
Nari memandangi hujan dari balik jendela kamar. Mengukir namanya di kaca yang ber embun karena hujan.
Kemarin siang dia bertegur sapa dengan kaka kelas, ada sebuah kejadian tak terduga yang membuat mereka memperkenalkan diri masing- masing.
Kala itu, Nari membawa baki berisi makan siangnya di kantin. Gadis itu masih berdiri menatap kiri dan kanan"Arin, kenapa kau lama sekali."
Berjalan ke arah meja dengan kepala masih celingukan mencari sosok Arin.
PRANGG!!...
Baki makanan menumpahi seragam sekolahnya, dengan kaki yang tersiram sup panas"Kyaaa!!," jerit Nari kesakitan.
Seseorang langsung menggendongnya ke ruang kesehatan, berkali-kali dia meminta maaf kepada Nari di sepanjang perjalanan menuju UKS. Dan ketika Nari menatap wajah orang yang menggendongnya, pria itu adalah kakak kelas idola. Oh, sungguh ia tak percaya dengan garis nasibnya hari itu, sangat mujur.
Sesampainyan di ruang kesehatan dokter sekolah langsung menangani kaki Nari yang terkena sup panas. Beruntung tidak menyebabkan luka bakar, dia hanya perlu di kasih obat luar.
Kakak kelas masih menunggunya, wajahnya nampak gelisah"Kau bodoh Alex, kau membuat nona muda itu terluka!!," gerutu sang hati.
Pria itu langsung menghampiri Nari yang sudah keluar dari ruang kesehatan"Aku benar-benar menyesali ke teledoranku. Tolong maaf kan aku!!," berulang kali dia memohon maaf kepada Nari.
"Aku tidak terluka parah, hanya perlu obat luar saja," tukas Nari.
"Benarkah? syukurlah kalau begitu," ujarnya nampak merasa lega.
"Aku Alex Abraham, jika nanti ada keluhan karena inside ini, aku akan bertanggung jawab terhadapmu," dia mengulurkan tangan kepada Nari.
"Naria Charlotte," Nari menyambut uluran tangan Alex"Kata dokter ini bukan luka parah, hanya insiden kecil," wajahnya bersinar-sinar sembari tersenyum manis kepada Alex.
"Aku sudah tahu siapa kau, jauh sebelum inside ini," bisik hati Alex.
Seorang putri dari keluarga Charlotte. Keluarga blesteran korea inggris, siapa yang tidak kenal. Seluruh sekolah jelas mengenal Nari dengan baik. Meskipun dari keluarga konglomerat, sikap dan prilakunya yang sopan membuat dia mendapat penilaian yang bagus di mata siapapun.
Selain rendah hati dan tidak sombong,
dia pun tak keberatan berteman dengan Arin yang notabennya hanyalah anak penjual roti. Ketika pertama masuk sekolah keluarga Arin hanya memiliki satu kedai roti. Bagi Nari, Arin adalah sahabat yang baik dan selalu mengerti akan dirinya. Jadi, status sosial bukanlah hambatan bagi mereka untuk berteman.
Sekarang berkat kegigihan kedua orang tua Arin, mereka sekarang perlahan menikmati manisnya kesuksesan.
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
__ADS_1