
"Udah kan pesanan baru ku? buruan ya!," bagai di kejar komplotan tentara belanda ,Ghina langsung menagih pesanan roti krim yang di ordernya beberapa waktu lalu.
"Hayaaaaaa," lenguh Fay terdengar malas.
Wajah tegang Ghina membuat emosinya mereda, bukannya menyeramkan, gadis ini terlihat lucu saat gelisah.
"Udah, buruan kabur ntar upahnya di pangkas Jung, atau Joen, atau Nari, ah!! pokoknya semua anak-anaknya Om Charlotte deh."
Sebagai sesama orang kaya, keluarga Fay dan keluarga Charlotte tentu saling mengenal. Kerap berjumpa di beberapa pertemuan, membuat dua keluarga itu akhirnya menjadi rekan bisnis.
"Hem...," bukannya segera pergi, Ghina sedikit ragu hendak mengutarakan isi hati nya kepada Fay.
"Apaan? ada yang kurang?," tanya pria itu.
"Anu... roti yang pertama, boleh di angetin nggak?."
Fay memandang Ghina lekat-lekat, wajah gadis itu semakin gelisah di buat Fay"Please!!! demi kesejahteraan dompet ku."
Hedeh! Fay menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebenarnya dia masih banyak pekerjaan. Tapi jika harus menolak permintaan Ghina, kayaknya Fay nggak akan tega deh.
"Bilang sama bos sana," ujar Fay menunjuk Papa Arin di sudut konter roti.
"Kamu aja deh, nggak enak nih."
"Kamu kan deket sama pak bos, bilang aja sendiri," ujar Fay menyibukan diri mengemasi meja bekas pelanggan.
Bukan Ghina jika kehabisan ide. Meski dekat dengan bos pemilik kedai ini, Ghina masih punya urat malu untuk meminta ini dan itu secara gamblang. Melihat Fay yang masih sibuk dengan bebersih meja, Ghina tersenyum langsung menyambar kain lap di tangan Fay.
"Biar aku yang kerjain, kamu angetin rotinya ya."
"Yakin? ntar aku di mintain bayaran. Otak kamu kan isinya cuma cuan, cuan, dan cuan."
Ghina lekas menggeleng"Nggak! yang ini gratis."
Cih! Fay tertawa pada Ghina"Dasar ya! kamu tuh lincahnya gak ketulungan. Pinter banget nyari kesempatan dalam kesempitan," menyabet bungkusan roti yang pertama, Fay akhirnya mengabulkan keinginan Ghina. Dan gadis itu, dengan gembira menggantikan pekerjaan Fay untuk sementara.
__ADS_1
Dalam waktu singkat, apa yang di inginkan Ghina terlaksana jua. Sedikit berbasa-basi, Ghina lekas kembali meluncur menuju universitas Charlotte, tentu dengan motor butut kesayangannya.
Di perjalanan, Ghina mendapati seorang paman tua yang menjual bubur kacang ijo, salah satu makanan kesukaannya. Tanpa pikir panjang, Ghina langsung membeli bubur hangat itu.
"Adil kan, dua roti untuk dua Tuan muda, dan satu bubur kacang ijo untuk ku," gumamnya kembali memacu sang motor butut.
Alih-alih sedang berada di taman, seperti yang di katakan Joen saat dia menanyakan keberadaan sang Tuan muda, nyatanya Joen sedang bermain basket bersama teman-temannya.
Hem...bolehkah mereka di katakan teman-teman Joen? sejauh ini Ghina tak pernah mendapati si Tuan muda sekedar berbincang dengan para pemuda itu.
"Cebol!," teriak Joen di seberang lapangan saat si kecil Ghina tengah tenggelam dalam lamunan.
Berwajah masam, Ghina berlari kecil mendatangi pria menyebalkan itu"Saya punya nama ya Tuan! stop deh manggil aku cebol."
Melihat wajah cemberut Ghina, Joen sungguh sangat terhibur"Hahaha, aku kan memanggilmu dengan sebutan itu bukan tanpa alasan," sambil menatap Ghina turun naik.
Tatapan itu membuat emosi Ghina melonjak naik, jika saja bukan di tempat ramai, di jamin jemarinya sudah mendarat dengah indah menghantam batok kepala sang Tuan muda.
"Mana rotinya! masih hangat kan?," pinta Joen seolah dirinya tak membuat Ghina merajuk.
Ghina memberikan bungkusan roti itu kepada Joen"Tuh! buruan di makan. Ntar keburu dingin beneran."
Jika saja kedua telinga Ghina dapat mengeluarkan asap seperti cerobong kereta api, pasti luapan emosi nya sudah membakar seluruh isi kampus ini. Wajahnya mulai memerah, dengan suara gigi yang berkeretak.
"Saya sudah berusaha Tuan, setidaknya hargai usaha saya. Lagipula, jarak tempuh kampus dan kedai Arin cukup jauh. Please jangan bikin saya emosi dong."
Joen memanyunkan bibirnya, kemudian menatap Ghina dengan tatapan menyebalkan"Nggak mau bayar, ah!," roti itu di letakan begitu saja di kursi penonton. Tempatnya dan Ghina saat ini.
Ya Tuhan!!! kedua bola mata Ghina membulat bak bola ping-pong, dia sudah lapar, dan pria ini mempermainkannya di saat-saat seperti ini.
Menyabet roti itu, kemudian duduk dengan menghempaskan tubuh di kursi penonton, Ghina memakan roti pesanan Joen dengan gigitan besar. Perbuatan itu membuat Joen terperangah, berani sekali anak koki ini. Joen berharap Ghina akan membujuknya untuk menerima roti yang sudah dingin itu, dan dengan begitu Joen akan semakin menjahili dirinya.
"Yak!! kau memakan rotiku!," teriak Joen.
Ekor mata Ghina melirik sekilas kepada Joen, meraih ponselnya kemudian berbicara"Tuan Jung, cepat ambil roti pesanan Tuan di lapangan basket. Rotinya sudah dingin Tuan, kalo nggak mau saya akan memakannya dengan senang hati."
__ADS_1
"Hei!!!," pekik Jung di ujung telepon.
"Cepat ambil, saya capek, butuh istirahat," seru Ghina, kemudian memutus panggilan sepihak.
Hoel! dada Jung di buat naik turun setelah menerima panggilan dari Ghina"Dasar babu kurang ajar!," gerutunya segera menuju lapangan basket.
"Rakus, kau menghabiskan roti ku dalam 3 gigitan."
"Bodo amat," sahut Ghina membuang pandangan.
Joen melirik bungkusan lain di samping Ghina. Secepat kilat, Joen mengambil bungkusan itu dan..."Hahaha, kenapa nggak bilang beli bubur kacang ijo!! nggak dapat roti, kacang ijo pun jadi."
"Tuan! aku membelinya untukku sendiri," gadis itu di buat berjinjit demi meraih kacang ijo dalam gelas plastik yang di junjung tinggi Joen.
Seperti kelinci kecil, meloncat-loncat dengan raut wajah gelisah. Joen sangat senang membuat Ghina resah dan gelisah.
"Lihat deh, karena inilah aku memanggilmu cebol. Kecil mini binti bonsay, ngambil kacang ijo ini aja nggak bisa," ledek Joen berjalan maju mundur menggoda Ghina yang kewalahan merebut gelas berisi kacang ijo itu.
Tidak lagi di kursi penonton, Ghina terus mengejar Joen hingga ke tepi lapangan"Joen!!," teriaknya gusar.
"Bwekkkk! cebol," ledek Joen lagi.
Saat itu, Jung telah sampai di sana"Heh bocil, mana rotiku!," teriaknya dari kejauhan. Kehadiran dua Tuan muda itu membuat mereka yang ada di lapangan basket berbisik-bisik, tentang Ghina yang selalu terlihat akrab dengan mereka. Meski bukan hal baru lagi, hal itu terkadang membuat Ghina risih.
"Bugh!," seorang pria yang sedang bermain basket menyenggol Ghina saat menggiring bola. Membuat Ghina terhuyung sebab menoleh pada Jung yang terlihat gusar kepadanya.
"Ya Tuhan!! apa aku akan jatuh??" pekik sang hati di dalam sana.
Bukan hanya sang hati, mereka yang juga berada di sana terkejut akan hal itu. Keadaan sempat menegang, kemudian di iringin lenguhan napas lega, sebab Joen berhasil menahan tubuh Ghina yang nyaris menyentuh lantai.
"Srak!!," dua bola mata Jung membulat. Joen memang berhasil menyelamatkan Ghina, tapi cengkeramannya pada kerah baju Ghina membuat seragam gadis itu robek.
Mematung, Joen tak bisa berkata-kata menyaksikan kejadian itu.
Melihat sobekan seragamnya di dalam genggaman Joen"Yak! Joen Charlotte!!!," teriakan si kecil Ghina terdengar menggema hingga ke luar gedung....
__ADS_1
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗