
Menata sang hati agar terlihat baik-baik saja, Ghina akhirnya kembali bersekolah. Seperti biasa, paginya di awali dengan menyapa pak satpam, kemudian masuk ke kelas dan berbincang bersama Rena. Nggak ada bahasan tentang kedua orang tuanya, nggak usah di kasih tau, mereka semua sudah lebih dahulu menjaga perasaan Ghina agar tak kembali merasakan kesedihan.
Ah! perencanaan pernikahan dirinya dan Joen, bahkan kepada Rena pun, Ghina nggak berniat membagi kabar berita itu. Biarlah, semua akan terungkap jika saatnya telah tiba.
Dan Adam, pria itu berubah 180 derajat, kaya nggak kenal gitu sama Ghina. Bodo amat sih! justru bagus! Ghina jadi lebih aman dari tindakan nggak senonoh nya.
Nggak ada lagi Ghina yang pulang dan pergi menggunaka motor butut, sekarang dirinya selalu di antara dan di jemput mobil keluarga Charllote. Pak satpam di buat bertanya-tanya, tapi Ghina hanya tersenyum menanggapinya.
Jika teman-teman yang lain nggak ambil pusing dengan kehidupan baru Ghina, lain hal nya dengan Metha, murid baru yang terlihat hedon namun nyatanya hanya di antar dan di jemput motor matic keluaran lama.
Dan, gadis bernama Metha yang terlihat pendiam itu menjadi gelisah, saat melihat Nari di dalam mobil yang mengantarkan Ghina ke sekolah hari ini. Gadis itu bersembunyi, sampai mobil itu hilang membawa Nari, barulah dia mendekati Ghina dan bertanya.
"Kamu, siapanya Nari?," pertanyaan pertama, juga percakapan pertama di antara mereka.
Sempat ragu, tapi akhirnya Ghina mengatakan bahwa dirinya dan Nari adalah keluarga. Bener kan! beberapa hari ke depan dirinya akan menjadi nyonya Joen, kakak iparnya Nari. Mengingat hal itu, membuat Ghina tersipu malu. Ah! andai Nari bisa tau isi dalam pikiran Ghina saat ini, pasti gadis ajaib itu akan mengamuk sejadi-jadinya. Dirinya dan Ghina memang seumuran, tapi Ghina lebih tua satu bulan dari dirinya, di panggil adik.... big no!! Nari nggak mau di panggil adik. Kalau kakak sih, bisa Nari pertimbangan.
"Kamu kenal Nari?," giliran Ghina yang bertanya.
Hemmm, Metha nampak diam. Dirinya menggeleng pelan, tapi hal itu justru membuat Ghina penasaran. Kembali bertanya tentang hubungan Nari dan Metha, gadis itu tetap ngotot mengatakan dirinya nggak kenal Nari, lha!! terus yang barusan nanyain Nari siapa? Ghina di buat puyeng menghadapi Metha.
Sudahlah, Ghina akan bertanya langsung kepada Nari saja, rasa penasarannya pasti terjawab, secara Nari kan paling doyan ngegibah. Untuk sementara, Ghina tak akan ambil pusing, tugasnya hanya sekolah dan menjalani sisa-sisa waktu terakhirnya di sekolah itu.
Hari menjelang sore....
Sepulang dari kampus Joen mendapari gadis itu duduk merenung di kursi taman. Tatap nya memandang hamparan bunga bunga cantik kesayangan Nyonya Sook. Semilir angin membelai wajah dan mengayunkan helaian rambut panjangnya.
Ghina terhanyut dalam bayangan hari-hari yang sering iya habiskan dengan sang Ibu di taman itu. Ingin rasanya menangis, namun air matanya seakan tlah habis.
"Jangan melamun!," tegur Joen sambil duduk berdekatan dengannya.
"Akh! sudah pulang kuliah?," tukasnya nggak memandang Joen sekalinpun.
"Iya, hemmm kok ngomong nggak liatin aku, sebentar lagi kita akan menikah, Ghina. Kamu bakal jadi wanita ku satu-satu nya," Joen berucap. Sejujurnya, sang Jantung di dalam sana sedang dangdut. Dia kan biasanya nyusahin Ghina, bikin Ghina kesel, sekarang pas mau nikah, Joen harus bersikap baik dong kepada calon bininya itu.
"Ah elah, ngomongin nikah, boleh bahas yang lain aja nggak? saya malu," ujar Ghina jujur. Gadis itu tertawa canggung, seperti keadaan mereka yang sedang terperangkap dalam suasana canggung itu.
Bukan hanya Ghina, Joen juga malu. Tapi mau gimana lagi, orang mereka emang akan menikah kan"Emang kenapa sih? kamu terpaksa ya setuju nikah sama aku? aku tulus lho sama kamu," entah, dapat keberanian dari mana, kali ini Joen lebih banyak bicara tentang cinta kepada Ghina.
"Tulus tuh yang nyanyi asam dan garam kan, Tuan," kelakar Gina, mencoba mengusir canggung di antara mereka.
"Hati-hati di jalan, Ghina," ujar Joen.
"Emang saya mau kemana? orang nggak mau kemana-mana kok," ujarnya lagi.
"Kamu oon nya kebangetan deh, judul lagu Tulus tuh hati-hati di jalan. Bukan asam dan garam."
Ghina tertawa"Kirain, mau ngusir saya, Tuan," ujarnya"Tapi, kok kita jadi bahas si Tulus sih."
"Tau deh, kamu kan yang duluan belokin kata-kata aku, orang lagi ngomongin cinta, malah di belokin ke Tulus" ketusnya.
Ghina berhenti tertawa"Saya kan emang selalu oon di mata Tuan, makanya pikir-pikir dulu deh kalo mau nikahin saya. Sayang kuliah nya."
"kamu yang lebih aku sayang, bukan kuliah nya," hardik Joen. Dirinya cukup terhenyak dengan ucapan Ghina.
"Nggak usah mikirin kuliah aku, pada akhirnya aku akan bekerja di kantor Papah kok," Joen mengalihkan pandangan nya ke samping. Kini, dia dapat menimati wajah teduh Ghina, cantik meski selalu di katakannya bawel dan cerewet.
"Oh, ya sudah. Yang penting saya sudah memberi kesempatan kepada Tuan untuk mengambil langkah mundur."
Usai berucap, Ghina hanyut dalam kesendirian lagi, meski telah ada Joen di sampingnya. Selepas bercakap sedikit dengan Joen, tatapan nya kembali kosong lurus ke depan.
"Mendung nih, ayo masuk ke dalam," ajak Joen pada Ghina.
"Tuan duluan saja, saya masih mau di sini, sebentar lagi," sahut nya dengan senyum terpaksa.
" Ya sudah, aku masuk ya," usapan lembut jamari Joen terasa hangat di kepala Ghina, sebuah tindakan yang masih terasa aneh bagi Ghina. Jemari itu menata poni yang menutupi kening Ghina"Jangan sampai kamu kehujanan, nanti sakit."
"I__Iya Tuan," Gina tergagap dan menarik diri dari Joen.
Joen mengerti dengan kecanggungan mereka. Dia pun masuk ke kediamannya dan bergegas menuju kamar. Meletakan ransel nya dan menyabet handuk, Joen segera membersih kan diri ke kamar mandi.
__ADS_1
Tatapan kosong itu masih menguasai Ghina, bahkan tanpa di sadari tetesan hujan mulai turun kebumi. Dalam lamun, gadis itu nggak merasakan tubuhnya telah di basahi air hujan.
Jung berlarian menghampiri nya dengan membawa payung, dan dalam hening dia memayungi Ghina dari belakang. Lambat laun Ghina pun tersabar bahwa kini dia sudah basah kehujanan.
"Tuan Jung, maaf anda kebasahan," ujarnya setelah menyadari kehadiran Jung.
" Buruan masuk sana!," sentaknya tak suka"Nih bawa payungnya sekalian," ujar Jung tegas. Tanpa ekspresi Ghina menurut dan berlalu dari hadapan Jung.
"Ck! si cebol ini, semoga Joen mampu mengembalikan keceriaan kamu Ghin," desis nya.
"Lho, Kok basah. Aku sudah bilang jangan sampai kehujanan kan!," Joen yang baru selesai mandi dan berniat menyusul, mendapati gadis nya sedang berjalan di lorong menuju dapur.
Lagi, Ghina tertawa canggung"Kehujanan Tuan."
"Ngeyel sih," Joen menariknya dan melepaskan payung di tangannya. Di bawanya Ghina masuk ke dalam dan menaiki anak tangga. Tertatih Ghina menyamakan langkah kaki Joen yang kini membawa nya masuk ke kamar.
"Udah di bilangin hari nya bakal hujan. Ngotot banget pengen diem di taman aja, sampai kehujanan pula. Ayolah Ghina, bagi keluh kesah kamu sama aku. Aku calon suami kamu, ingat itu,"Joen mengeringkan rambut Ghina dengan handuk sambil mengoceh dan mengomel" Duduk!."
Ghina hanya bisa menurut ketika Joen menyuruhnya duduk.
"Tuan," dia menatap Joen yang berada di atas kepalanya.
"Hmmmm."
"Tuan nggak menyesal?."
"Menyesal kenapa?."
"Beberapa hari kedepan, Tuan akan melepas masa lajang lho, harusnya Tuan menikah dengan orang yang tuan cintai."
Joen menghentikan aktivitas nya dan duduk di hadapan Ghina"Harus dengan bahasa apa sih aku bilang cinta sama kamu??? apa jangan-jangan amu meragukan keputusanku?,"Joen berbicara sambil memegang kedua pipi Ghina .
Ghina menatap kedua mata Joen, wajah mereka sangat dekat membuat Ghina tersipu malu.
"Aku nggak akan pernah menyesali keputusanku menikah denganmu!," tegas Joen lagi.
Ghina masih terdiam.
"Kamu nggak tau, hatiku sakit melihat kamu masih terpuruk seperti ini."
"Tuan Joen," Ghina mencoba melepaskan tangan Joen dari pipinya.
Namun Joen tetap memegang wajahnya dengan erat"Aku mohon Ghina, kamu harus yakin sama aku. Aku mencintai mu sedari kita masih kecil," tambah Joen lagi. Lelaki bermata coklat itu nampak sangat sedih.
Ghina akhirnya tersentuh, ingin rasanya dia mengusap wajah pria itu tapi dia takut"Ba__baik Tuan, saya akan menjaga diri," Ghina tergagap.
Merasa lega, Joen memeluknya dan mengunci tubuh wanitanya erat-erat. Tentu saja, Ghina yang kecil tenggelam dalam dekapan tubuh tinggi tegao Joen.
"Dug!!, dug !!," memegangi dadanya, Ghina mencoba menenangkan sang jantung di dalam sana.
Namun"Dug!!, dug!!!, dug!," jantungnya justru semakin berdebar.
"Tuan, saya permisi," gadis itu mencoba lari dari Joen.
"Nggak!," seru Joen tak bergeming.
Meronta"Tuan," Ghina mencoba pergi, pintu kamarnya Joen terbuka lebar, kalau ada orang lain yang melihat mereka, bagaimana?
"Diam, 5 menit lagi," pintanya tetap menahan Ghina dalam pelukanya.
"Saya susah bernapas, Tuan," pekik Ghina akhirnya.
Tak menggubris ucapan Ghina"Kamu mau tau berapa lama aku menahan perasaan padamu?," sambil melonggarkan pelukannya.
Ghina diam mendengarkan.
"Waktu kamu tersesat di taman labirin, sebenarnya aku yang duluan menemukanmu."
"Ng?," Ghina memberanikan diri menatap wajah Joen, lekat-lekat"Oh Tuhan! jangan bangunkan aku dari mimpi ini," bisik hati nya.
__ADS_1
"Tapi aku nggak berani menghampirimu, jadi aku hanya bisa menjaga mu dalam diam saja. Hingga tiba-tiba Jung datang menyelamatkan mu.."
"Sejak saat itu, aku hanya berani menatapmu dan bersikap nakal kepadamu, untuk menutupi perasaan ku."
"Maaf Ghin," ujarnya lagi.
perlahan dia melepas dekapannya.
Akhirnya Ghina bisa bernapas lega, setidaknya dia tak mendengar detak jantung Ghina yang seakan ingin meledak .
"Jadi, Tuan sebenarnya nggak benci sama saya?," dia bertanya sembari mundur dari hadapan Joen.
"Iya," jawab Joen menariknya maju lagi"Jangan kabur!."
Di kampus...
Lagi-lagi"kya!!! dosen ganteng makan di kantin."
Berita tersebar melalui pesan singkat di kalangan mahasiswi. Mereka berbondong bondong menuju kantin hendak memanjakan pandangan mereka.
Adalah Andrea, mahasiswi tahun ke dua. Dengan santai duduk berhadapan dengan Jung Charllote.
"Mau nikah ya?," tanya nya membuka pembicaraan.
"Iya, jangan lupa datang ya," Jung tersenyum manis sambil tebar pesona ke cewek-cewek yang menatap penuh cinta padanya.
"Kapan acaranya?," Andrea bertanya lagi.
"Dalam minggu ini," jawab Jung"Eh! ngomong-ngomong kamu tau dari mana?."
Andrea menatapnya hangat sambil berucap"Papah yang kasih kabar ."
"Wahh...pak dosen mau menikah!," terdengarlah pertanyaan dari kerumunan yang sedang menonton ketampanan Jung.
"Sama siapa pak!," seseorang ikut bertanya.
Andrea menatap ke arah suara itu"Joen yang mau nikah, bukan dia!."
"Masih kuliah nyah," sanggah Rido, salah satu mahasiswa.
"Lah kampus bapak nya, suka-suka dia lah," sahut Andrea cuek.
"Sama siapa?," mulai kepo dong para netizen abal-abal.
"Tanya mbak google deh," jawab Andrea asal.
"Inget yah, Joen yang mau nikah. Bukan Jung," tambah nya mengingatkan.
"Lagian, apa kalian lupa kalau dosen kalian ini tertariknya sama pretty boy," terbitlah senyum nakal di wajah Andrea. Membuat Jung menarik napas dalam kepasrahan.
Mendengar itu Jung melemaskan diri"Hai Niko, hari ini kamu manis sekali," ujarnya mengomentari penampilan seorang Niko.
Niko mendadak merinding, ya kali si dosen ngincer dirinya!"Terimakasih pak," tanpa menunggu lama, Niko langsung kabur mambawa baki makanannya menjauhi Jung.
"Aduh pakk...gosip itu nggak bener kannn?," seseorang bertanya lagi.
"Ya....gimana ya??," bukannya menjawab, Jung justru memperkeruh gosip itu.
"Nah, udah dengar sendiri kan, sekadang kalian bubar sana, yang punya pacar rupawan harap di jaga baek-baek ya. ini bulannya dosen pujaan kita mencari mangsa lho," Andrea semakin menambahkan bumbu pada gosip yang sedang menimpa Jung.
"Haha," Jung hanya tertawa"kejam kamu Andrea."
"Bweekk, bodo amat!," tanpa rasa takut andrea mengolok-olok Jung.
Andrea adalah anak Tuan Wiliam, sahabat karib Tuan Charllote. sewaktu kecil Andrea pernah mengungkapkan perasaan nya pada Jung, tapi pria itu menolaknya.
"Kamu masih terlalu kecil untukku," jawabnya saat itu. Mengingat selisih umur mereka yang cukup jauh, 8 tahun .
Sejak saat itu Andrea menebar gosip bahwa Jung itu Gay. Jung tau apa yang di lakukan Andrea tapi dia cuek saja. Baginya kelakuan Andrea itu menjadi bukti bahwa dia benar-benar menyukai dirinya.
__ADS_1
~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^ .