Storge

Storge
Kelinci Tuan Joen.


__ADS_3

...***Imut lucu walau tak terlalu tinggi.....


...Pipi chubby dan senyum gigi kelinci.....


...Itulah bentuk cinta yang ada pada dirimu***...


...❣️❣️❣️❣️...


Joen memandangi Ghina yang sedang sibuk sendiri. Menghadapi beberapa botol kutek berwarna-warni, mencocokan warna kutek dengan kuku di jari kecilnya.


"Apa warna nude??," seolah bicara pada seseorang di depan cermin..


"Tidak!! tidak!!," lagi, Ghina bicara sendiri dan kali ini sembari menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana dengan warna pink??," wanita itu kembali mengangkat jemari di depan cermin.


Ternyata dia menolak warna itu "Ah! tidak cocok juga!."


"Apa lagi ini?? kenapa dia bicara sendiri?," tanya hati Joen.


"Ck!! ya sudahlah! tidak usah saja," desisnya mengurungkan niat.


"Astaga!! kenapa wanita ini?? dia bicara dan resah sendiri," batin Joen lagi, menahan tawa agat tidak tertawa renyah.


Ghina berpindah membuka lemari bajunya"Hmmm, mana yang cocok denganku?."


"Mau kemana dia? apa acara perpisahan akan segera di gelar? tapi kenapa dia tidak membicarakan hal itu kepadaku!."


Ternyata, resah dan sibuk sendiri itu membuat frustasi"Aish!! kapan aku akan tumbuh tinggi!!," pekik Ghina akhirnya.


"Oh tubuh! apakah kau tidak ingin menjadi besar? sedikit tinggi misalnyaa," ia terus bicara sendiri sambil memandangi tubuhnya di depan cermin.


Joen sudah tidak tahan lagi,"Ehem!!!."


Sontak Ghina menoleh ke arah suara, Joen.


"Kau kenapa? batuk??demam??," cerocos wanita itu memegangi kening Joen juga memegangi kedua pipi Joen.


"Aku tidak apa-apa!!," sahut Joen.


"Begitukah! baguslah!," nampak cuek, dia kembali mematut diri di depan kaca.


"Joen, apa aku masih bisa tinggi?."


Oh, jadi ini perihal tinggi badan. Joen akhirnya paham dengan tindakan aneh sang istri"Usiamu sudah lewat untuk tumbuh tinggi, Ghina sayang," sahut Joen meletakan laptop dan menghampiri Ghina di depan cermin.


"Jangan dekat-dekat!!," Ghina meloncat sejauh mungkin, membangun jarak dari Joen..


Kening pria itu di buat berkerut, wanita ini kenapa aneh sekali. Dia bahkan tidak ingin di dekati!. Dan Joen, yang sangat usil ini tidak sudi menuruti perkataan Ghina"Kemari!!," titahnya memanggil Ghina dengan ujung jemari.


"Aku akan mendekat, tapi jangan di depan cermin," pinta Ghina mencoba negosiasi.

__ADS_1


"Kau ini kenapa? sensitif sekali perihal tinggi badan!."


Seolah tidak mendengar dengan ocehan Joen, Ghina mendekat dengan menjinjitkan kakinya.


Hupfh!! Joen menjadi gemas dengan pergerakan lamban ini. Pria itu menyambar dan mengangkat Ghina dengan kedua lengannya. Kemudian, menghadapkan wajah Ghina padanya dan memangkunya duduk di tepi tempat tidur.


"Katakan! ada apa denganmu?!."


Ghina mengalungkan lengannya di leher Joen, dan berbisik"Aku pendek sekali ya?."


Seketika Joen meletakan wajahnya di bahu Ghina, menahan tawa"Inikah alasanmu mengoceh sendiri dari tadi? kau memikirkan alasan mengapa kau bertubuh pendek?."


"Bukan hanya pendek!," lirih Ghina. Dia menatap jemari-jemsri kecil nan lentik miliknya"Aku mau punya kuku yang berwarna cantik. Aku juga mau bertubuh tinggi, agar terlihat bagus saat memakai gaun," Ghina bicara sambil mengibaskan rambut panjangnya.


"Ah, juga rambut ini. Bagaimana jika ku potong sedikit pendek saja? agar terlihat lebih modis."


"Kau sudah cantik. Tidak perlu terlalu berdandan, sayang,"Joen merapikan poni yang hampir menutupi kedua mata istri tercinta.


"Tidak perlu memotong rambut, kau cukup memendekkan poni ini," ujar Joen lagi.


"Benarkah aku cukup cantik? lantas, bagaimana dengan wanita-wanita yang ada di kantor? bukankah mereka yang lebih cantik?,"ujar Ghina pelan. Sekarang giliran dia yang menyembunyikan wajahnya di pundak Joen.


Rupanya, Ghina merasa tidak aman. Ada rasa tersaingi dalam dirinya, mungkin karena bertemu Mrs.Lisa kemarin.


"Tentu saja, di kantor memang banyak rekan wanita. Relasi bisnis juga banyak yang wanita," melihat gelagat Ghina, Joen sungguh gemar mengerjainya.


"Mereka pasti berpenampilan menarik."


"Jelas saja, mereka kan wanita karir," Joen sangat menikmati kecemburuan istri kecilnya.


Tak ingin lagi banyak berbincang perihal wanita-wanita menarik di kantor, Ghina meminta izin untuk menemui Nari. Joen mempersilahkan, dia yakin sang istri pasti sudah tidak sabar ingin mencurahkan segala keresahan di dalam dada, kepada si nenek lampir.


Di kamar, Nari sedang berbalas pesan via aplikasi gelembung hijau ketika Ghina memasuki kamarnya.


"Nar, aku numpang duduk ya," ujar Ghina,


mengambil kursi kosong dan duduk menghadap jendela.


Nari meletakan gawai dan menatap Ghina. Terlihat jelas sedang ada kegundahan pada hari iparnya ini.


"Nar, apa Joen pernah memiliki kekasih, sebelum menikah denganku?."


Nari menyerngitkan alisnya, ketempelan setan apa Ghina? mendadak menanyakan hal seperti itu.. Lagipula, Ghina dan Joen tumbuh bersama, sangat mustahil jika Ghina tidak tahu tentang perjalanan cinta seorang Joen, pria sedingin kulkas 4 pintu, wanita yang mendekat pasti segera di tendang.


Nari meletakan punggung tangannya di kening Ghina"Kau tidak demam, katakan! ada apa denganmu?!."


Alih-alih bercerita, Ghina menekuk wajah.


Nari tak tahan melihat Ghina yang nampak galau tanpa alasan yang jelas.


"Kemarin aku bertemu rekan kerja Joen. Apa kau tahu? dia sangat cantik!! terus bla bla bla," Ghina menceritakan segalanya pada Nari.

__ADS_1


Usai mendengarkan kisah panjang kali lebar Ghina"Haya~~~ kau memang kakak iparku. Tapi kenyataan bahwa kita seumuran itu tidak bisa di pungkiri. Kau insecure kan!!."


"Tidak!," sanggah Ghina.


"Tidak salah lagi!!," sambar Nari. Membuar Ghina kembali menekuk wajah.


"Ah sudahlah, teruslah kau bersedih tentang hal tidak berfaedah itu," sahut Nari lagi.


Gadis itu beranjak dari samping Ghina, dan"Bang Joeennnn, bininya ganggu niihhh," seperti boasa, rumah itu akan terasa sepi jika tapa teriakan Nari.


"Nari!! jangan kau adukan kepada Joen!!," mengguncang lengan Nari, wajah Ghina terlihat sangat lucu.


Tertawa nakal"Bang Joeeennn..bininya gangguu!!."


Joen akhirnya muncul dari balik pintu"Maaf, kelinciku lepas," seringai Joen sembari menarik lengan Ghina.


"Ayo sayang, si kecil lucu, kita kembali ke kandang," tukasnya kepada Ghina.


Sesampainya di kamar"Ghina sayang, aku tidak akan mudah tergoda cewek lain," kali ini, dia mencubit hidung Ghina.


"Jangan cemberut!," tak berhenti di situ saja. Joen mengacak acak rambut Ghina hingga membuatnya berantakan"Bahkan jika kau kribo seperti ini pun aku tetap cintanya sama kamu saja."


"Gombal!," hardik Ghina menepis tangan nakal Joen.


"Aku tidak gombal, semua yang ku Katakan ini benar."


"Aish! sudah Joen! aku malu!," rengek sang istri sembari mengguncang lengan suaminya.


Ghina ini, terkadang di galak, terkadang dia menciut, emsoi nya bagai pelana kuda, kadang turun kadang naik. Joen sungguh senang hari ini, melihat gelagat aneh Ghina yang terlihat gelisah dan cemburu menyadari banyak wanita cantik di sekelilingnya.


"Istriku, sejujurnya aku selalu memikirkan mu saat di kampus, juga saat di kantor," mengungkap betapa rindunya dia terhadap Ghina ketika bekerja.


"Aku takut kau di ganggu pria nakal saat di sekolah, aku takut kau bosan di rumah."


"Aku takut kau kesepian, apa kau sudah makan siang apa belum? apa yang sedang kau kerjakan," Joen berceloteh panjang lebar dan merangkul istri tecintanya yang kecil mungil. Ghina merasakan wajahnya mulai panas, dia tersipu malu.


"Kuku mu tidak perlu di cat, begini juga sudah bagus," memegang lembut jemari mini Ghina.


"Rambutnyamunl juga tidak perlu di potong banyak gaya, cukup lurus begin saja sudah sangat cantik. Masalah tinggi badan, aku malah tidak berharap kau lebih tinggi."


"Ng??," Ghina menganggkat wajahnya.


"Kau yang kecil begini sangat nyaman untuk di peluk," lagi-lagi Joen mengincar hidung Ghina. Mencubitnya perlahan.


"Terus, apa kau sadar bahwa senyum gigi kelinci ini, sungguh sangat cantik, juga selalu membuatku rindu," oh ayolah Joen, kau sukses membuat wajah Ghina hampir terbakar.


"Benarkah?," cicit Ghina, menatap ubin lantai. Di saat seperti ini seharusnya mereka saling bertatapan, tapi Ghina terlalu malu untuk mengangkat wajah.


Joen terkekeh, hingga tubuhnya bergetar"Sumpah! kau wanita tercantik yang selalu aku rindukan. Seperti yang sudah ku katakan, kau kribo pun aku tetap cinta."


Ash! Ghina mencubit lengan Joen"Tuan Joen!! kau tetap saja usil," serunya bersiap menerkam Joen.

__ADS_1


To be continued....


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2