Storge

Storge
Kebaikan gadis baik


__ADS_3

Hampir sepekan Andrea menginap di kediaman Charllote, tak sedikitpun dia berniat untuk pulang ke kediaman nya.


Tuan William mulai merasa nggak enak hati dengan Charllote. Melihat anaknya yang begitu menyukai Tuan muda pertama dari keluarga itu, sang ayah pun berinisiatif membicarakan perihal anak-anak mereka.


Suatu sore di sebuah restoran keluarga wiliam , Charllote datang dengan membawa Jung bersamanya.


Setelah saling memberi salam, Wiliam mulai angkat bicara"Sebenarnya aku perlu berpikir beberapa hari sebelum memutuskan untuk mengundangmu ke sini Charllote," ujarnya sambil meisyaratkan kepada pelayan agar mengisi cangkir mereka dengan teh almond, kesukaan sahabarnya itu.


"Nampaknya ini menyangkut perihal yang sangat berat," Charllote melempar senyuman.


"Hemmm, sebelumnya maafkan aku yang nggak bisa mengontrol Andrea," lanjutnya sambil melirik kepada Jung


Jung, pria itu mulai merasakan aura-aura mengancam jiwanya disini.


Setelah mendengar obrolan ayahnya dan Tuan William, benar saja! maksud pertemuan mereka sore ini mengarah kepada dirinya dan Andrea, si ulat bulu yang membuatnya gatal.


"Pantas saja, om Wiliam meminta papa mengajaku bersamanya," gumam batinnya membuang pandangan. Jung baru menyadari bahwa dirinya telah jatuh ke dalam perangkap ayahnya sendiri, katanya ingin makan berdua dengnnya, ternyata ada udah di balik bakwan!!.


Hampir tak terdengar"Menikahi bocan itu??," gerutunya mengingat Andrea.


"Aku sih nggak keberatan, tap...," sang Papah melirik ke arah Jung


"Aku mengerti, Jung pasti merasa nggak nyaman dengan Andrea. Dia terlalu berterus terang dalam mengungkapkan perasaan nya..."


"Sebentar, apa Jung nggak terlalu tua untuk Andrea, om William?," ujarnya bertanya. Ini masalah hidupnya, nggak bisa seenaknya main nikah saja! apalagi dengan wanita bar-bar seperti Andrea.


Charllote menyenggol kaki Jung, merasa sikap putra tidaklah sopan. Tapi benar suara hati Jung, ini adalah hidupnya. Tentang pernikahan, bukan pacaran doang.


"Aku juga memikirkan hal itu Jung. Usia kalian terpaut lumayan Jauh."


"Apalagi kamu adalah dosen senior, sedangkan Andrea hanya mahasiswa di kampus kalian," terlihat, Wiliam memahami betul situasi mereka.


Tapi kegilaan cinta putrinya terhadap pria di hadapannya ini, membuat William menelan malu, dan menawarkan pernikahan alih-alih dari pihak pria yang lebih dahulu.


Nggak bisa di pungkiri, sosok Jung memang sangat menarik. Selain dosen, dirinya juga berwajah tampan dengan tubuh tinggi tegap. Mata yang indah, juga rambut yang sehat terawat. Gimana nggak cakep, perawatan wajahnya saja bisa mengalahkan perawatan wanita jadi-jadian seperti Nari, jelas saja dia terlihat tampan sekali. Belum lagi aroma tubuhnya, beh!! wanginya begitu semerbak saat melewati lorong kampus, membuat para cewek kelepek-kelepek kayak ikan kehabisan air.


Berbeda dengan Joen dingin dan irit bicara, karakternya jauh dari kata ramah, tapi ketampanan nya patut di acungi jempol, sama seperti Jung. Mereka sama sama tinggi tegap, dan kehadiran Joen di kampus juga sering membuat para wanita histeris . Namun semenjak kabar pernikahannya, jumblah fans Joen perlahan menurun.


Meski begitu kehadiran Ghina dalam Hidupnya sudah cukup membuat hati nya hangat kok.


Setelah berdiskusi cukup lama, Charllote meminta kepada Jung agar sedikit membuka hati pada Andrea.


Terlepas dari prilaku bar-barnya terhadap Jung , Andrea adalah gadis yang baik. Dia sangat ramah dan mudah bergaul. Dia juga sangat dekat dengan seluruh penghuni di kediaman Keluarga Charllote.

__ADS_1


Akhirnya pertemuan itu pun berakhir.


Jung berpikir keras, tentang apa yang harus dia lakukan pada Andrea. Sedari kecil Andrea sudah mengejar-ngejar nya, tapi nggak sedikit pun dia melirik kembali pada Andrea. Justru hati kecilnya sempat terisi oleh Ghina, yang sekarang telah menjadi adik iparnya.


"Papah ada benar nya, aandainya saja ular bulu itu cewek yang normal, sedikit normal saja. Minimal kalem deh, mungkin aku akan mempertimbangkannya," pikiknya saat itu.


"Aduh! gara-gara si ulat bulu, aku jadi mikirin bini orang, nggak boleh Jung! sadar, diri! Ghina adik ipar kamu," rundung nya pada diri sendiri.


Charllote tertawa geli jika mengingat bagaimana usaha Andrea mengejar putranya.


Waktu kecil dia selalu menyisihkan uang jajan, untuk melamar Jung di kemudian hari.


"Anaknya cantik ," ujar Charllote bergumam.


"Cantik tapi somplak, kecantikannya itu seketika luntur saat di bertindak gila sama Jung Pah," Jung menggaruk-garuk leher, membayangkan betapa agresif nya Andrea.


"Dia tuh kayak kucing betina yang kelaparan. Dan Jung, ibarat paha ayam."


"Hahaha, kalo paha ayam Papah juga ngiler kali Jung. Sudahlah! nggak ada salahnya mencoba memahaminya. Setidaknya kamu harus mencoba berpacaran dulu dengannya, kan?," tepuk Charllote pada pundak lebar Jung.


"Jangan sia-siakan penantian panjangnya selama ini.!!," dukungan sang papah malah membuat Jung lemas nggak berdaya.


"Cebong sawah, ulat kepompong yang udah naik pangkat jadi ulat bulu. Masa cewek itu jadi calon bini sih!," Jung menggeleng membayangkan diri nya bersanding di pelaminan bersama si kucing betina. Ah! hatinya jadi resah memikirkan hal itu.


BBN, gelar itu seketika menghinggap dan melekat pada Ghina. Kehadiran gadis itu kembali ke sekolah selalu saja mengundang resah di dada.


"Hei bocah! jadi kau putus dengan Adam biar jadi bini orang kaya? muka mu wara-wiri di Tv tuh, sudah berhari-hari pula! untung saja kamu cantik, coba kalo jelek! bikin eneg tau!."


Lagi-lagi, ledekan itu Ghina dapatkan. Bukan hanya itu, Rena sang sahabat mulai menjaga jarak dengannya. Gadis itu di tinggalkan, di hina dan di cemooh. Hilang sudah simpati kerena kehilangan kedua orang tua, berganti dengan cibiran.


"Seharusnya dia nggak boleh sekolah lagi! masa udah menikah masih lanjut sekolah," desas desus kembali terdengar.


"Tau tuh, udah nikah bukannya diam di rumah, ngurusin suami, ngelayanin suamiiiii," para gadis dari kelas sebelah tertawa riuh, dengan isi kepala yang kotor memikirkan aktivitas Ghina bersama suaminya.


Rena, gadis itu masih mendiamkan Ghina, meski telinganya mendengar dengan jelas ocehan mereka, dirinya tak lagi membela.


Sakit itu kembali terasa, kehilangan orang-orang terkasih memang sangat menyakitkan. Tiada lagi Ghina yang periang, berganti Ghina yang selalu menuduk saat berjalan melewati lorong sekolah. Pak satpam merasa iba kepadanya, namun apa hendak di kata, dirinya pun nggak bisa membantu.


Ah! sudahlah! hidup nggak melulu harus di sukai, Ghina berusaha bangkit, toh sekarang dia punysa Joen, dan keluarganya yang sangat menyayangi diriya"Sebentar lagi Ghina, kau akan selesai bersekolah di sini," gumam hatinya sambil menuju ke depan pagar sekolah, menunggu Mr Zak menjemputnya.


"Mau kue nggak?," sebuah kue cucur di sodorkan pak satpam kepada Ghina.


"Mau dong," ujarnya langsung menyambar kue itu.

__ADS_1


Saat Ghina menikmati kue pemberiannya, pak satpam memperhatikan"Maaf ya neng? bapak nggak bisa membantu neng Ghina melawan mulut jahat para siswa."


Ghina menggoyangkan kakinya yang sedikit tergantung, dia sedang duduk di bangku tinggi milik pak satpam"Nggak apa-apa kok pak, lagian mau di lawan bagaiman? orang saya emang beneran udah nikah kok," sahutnya santai.


Sudut bibir pak satpam terangkat naik, dia sempat lupa bahwa gadis di depannya ini adalah si kecil bermental baja"Lagian, suami eneng cakep banget. Orang kaya pula! rugi ya neng kalo harus bersedih karena mulut jahat orang iri kayak mereka," ujung matanya melirik segerombolan siswi yang menatap Ghina dari kelas atas.


Ghina tertawa lebar"Nah! itu pak satpam tau!."


Mereka berdua tertawa bersama, dan si satpam yang menyadari kue milik Ghina telah habis, menawarkan kembali kue berwarna hijau, kali ini kue putu ayu yang dia sodorkan.


"Wah!! kue enak ini! kenapa baru di keluarkan sekarang," seru Ghina langsung menyabet kue itu.


"Hahaha, biar kue cucurnya ada yang ngabisin," tukas pak satpam. Dan Ghina tertawa dengan melirik nakal pada pak satpam.


Saat itu, saat mereka berdua bercanda, Joen datang dan langsung keluar menghampiri Ghina.


"Ayo pulang," ujarnya datar.


"Bentar, kue nya dikit lagi habis."


"Lanjut makan di mobil aja," ajak Joen menarik lengan sang istri.


Terseok-seok Ghina mengikuti langkah Joen, sambil pamit diri pada pak satpam"Makasih kue nya pak! besok Ghina bawain kue juga."


Pria tua itu mengangguk dan melambaikan tangan kepada Ghina. Melihat gadis itu masuk ke dalam mobil hitam yang terlihat sangat mahal.


Dan saat Joen masuk ke dalam mobil, pria itu membuka jendela mobil dan"Pak satpam."


Segera pak satpam menghampiri Joen"Iya Tuan."


"Minta nomor rekening anda."


"Untuk apa Tuan," tanya si satpam sedikit bingung.


"Saya hanya ingin memberikan sedikit uang, sebagai ucapan terimakasih karena menjadi satu-satunya teman istri saya."


"Aduh!! nggak usah Tuan. Justru karena kami teman, jadi Tuan nggak perlu memberikan uang kepada saya," pria tua itu menolak niat Joen memberinya uang.


"Hanya sedikit uang pak, cepat berikan nomor rekening anda," ujar Joen menyerahkan memo dan bolpoin.


Nampak ragu, pak satpam menerima benda itu tapi nggak menuliskan nomor rekeningnya di sana. Dia justru menulis sebuah pesan untuk Joen dan Ghina.


Terlihat dia melipat memo itu"Terimakasih Tuan. Neng Ghina gadis yang baik, dia sering meminjami saya uang kalo kepepet belum gajihan. Terakhir, dia meminjamkan uang kepada saya untuk biaya melahirkan istri saya. Tolong, jaga dia baik-baik ya Tuan, dan semoga kalian selalu berbahagia selamannya," tersenyum simpul, pak satpam memeriksa memo itu kepada Joen. Ghina tersenyum senang mendengar ucapan pak satpam, sementara Joen mengangguk hormat pada pria tua itu sambil menerima memo dan meletakan di atas dashboard.

__ADS_1


~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ya teman ^,^


__ADS_2