
Ghina menjalani keseharian sebagai seorang siswa SMA, dengan status sebagai wanita yang telah bersuami. Ketika seorang wanita kecil telah bersuami, pandangan orang pasti mengarah pada suatu aktivitas malam yang banyak menguras keringat, pergelutan penyatuan tubuh. Sungguh, Ghina sangat lelah dengan pandangan masyarakat, tentang statusnya yang terlanjur menjadi rahasia umum.
Setelah bertahan cukup lama dalam posisi itu, akhirnya wanita bertubuh kecil itu dapat bernapas lega, masa-masa SMA itu telah berakhir. Bergabung bersama siswa yang lain untuk merayakan waktu terakhir di SMA, sayangnya Ghina tak berniat melakukan itu. Di temani Nyonya Sook, pagi-pagi sekali Ghina telah mengurus segala hal.
Di lorong sekolah dia berpapasan dengan Rena, dan gadis itu tak berniat menyapanya. Akh! di saat terakhir pun Rena tak jua memaafkan Gina. Selain sikap menyebalkan teman-teman satu seolahnya, sikap Rena juga berdampak besar yang menghantam pikiran Ghina.
Sehari...
Dua hari...
Beberapa hari setelah acara kelulusan itu Ghina seperti taman bunga nan gersang. Tak ada warna indah yang membuat seri di wajahnya, semua terasa menyedihkan. Dan di saat Nyonya Sook menawarkan untuk berkuliah di universitas Charllote, gadis itu menolak mentah-mentah. Sudah cukup derita menjadi bahan omongan semasa SMA, dia tidak sanggup jika kembali menjadi bahan gunjingan orang di masa kuliah nya. Apalagi, siapa yang tidak mengenal Joen? dirinya merasa terbanting dengan pesona sang suami, alih-alih mendapatkan ucapan selamat, Ghina yakin akan banyak menerima ungkapan kebencian karena status sebagai istri Joen.
"Kau akan di hampir dedemit, jika terus melamun di tempat ini," Jung menegur sang adik ipar. Sudah beberapa waktu dia berdiam di sekitaran Ghina, dan wanita itu tak kunjung menyadari kehadiran dirinya.
Menatap Jung sekilas, Ghina menunduk memainkan kakinya di atas rerumputan. Saung di tepian taman Nyonya Sook, memang tempat yang sejuk entah itu siang apalagi malam. Kerap menenangkan diri jika sang hati tengah di landa keresahan, itu memang salah satu tempat favorit Ghina di kediaman ini.
"Katanya mau kuliah, ayo daftar di kampus papah."
Ghina menggeleng pelan, semangat nya telah runtuh. Memiliki otak nan cemerlang dengan niat yang telah habis, sungguh sebuah keadaan yang sangat sulit.
"Kenapa?."
__ADS_1
"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya lelah sekolah," jawaban Ghina, membuat Jung tercengang. Jawaban model apa ini? dia lantas mendorong pelan pundak wanita bertubuh kecil itu.
"Ada apa denganmu?? mana Ghina yang lugas."
"Udah mati, menyusul ayah sama ibu."
Oh! Jung sangat tidak suka dengan keadaan ini. Pria itu beralih dari sisi Ghina, mengejar pandangannya yang selalu menuduk menatap rumput di bawah saja"Apa kau kerasukan? kau bukan Ghina, si boncel berjiwa baja."
Ghina mendorong tubuh Jung yang jongkok fi depannya, hingga membuat Jung terjungkal ke atas rumput.
"Hei! kau aneh Ghina," hardiknya berusaha bangkit.
Di tempat lain, tepatnya di kampus. Joen mendapatkan laporan dari Jung perihal sikap sang istri. Bukan hanya Jung yang memperhatikan wanita itu akhir-akhir ini, dirinya pun begitu. Bagaimana bisa dirinya acuh di saat melihat sang kekasih hati kehilangan semangat. Apalagi ini tentang semangat untuk menata kehidupan di masa depan, Joen tidak bisa diam saja.
"Aku sudah berkali-kali membujuknya untuk kuliah, dan berkali-kali jua dia menolak."
"Kau suaminya, kau bisa memaksanya."
"Apa kau akan melakukan sebuah paksaan, terhadap Andrea kelak? saat kau resmi menjadi suami nya?," pertanyaan Joen bagai boomerang bagi Jung. Atas nama cinta tentu saja dia tidak akan tega memaksa Andrea, untuk menjalani kehidupan seperti apa yang dirinya inginkan.
Memainkan ujung kemeja, Jung memutar otak untuk mencari jalan keluar menghadapi Ghina, yang telah patah semangat. Baru mereka sadari, keceriaan yang di tunjukan Ghina selama ini, hanya kamuflase semata. Di balik tawa yang selalu tergelak, ada hati yang telah lama retak, dan akhirnya patah setelah masa sekolahnya berakhir.
__ADS_1
"Cewek kecil, yang sudah tidak suci."
"Cewek matre, dia rela mengorbankan masa mudanya demi menjadi menantu orang kaya."
"Ghina manis, godain aku dong."
"Suit suit!! bini orang mau lewat."
"Ghina! bagaimana rasanya malam pertama?."
Kicauan manusia di sekolah, terus menari dalam pikiran Ghina. Itulah sebabnya, dia tidak pernah lagi menghabiskan banyak waktu di luar rumah, dia bahkan sudah tidak punya tujuan, hendak bermain bersama siapa? teman-teman sekolahnya tidak ada lagi yang mau berteman dengannya.
"Hei istri orang, sebentar lagi kau akan lulus, sekarang kau sudah boleh mengandung!!."
Akh!! hati Ghina sakit. Teriakan pacar baru Adam, sungguh menorehkan luka pada relung hatinya. Berkelahi di kandang macan, hanya akan membuatmu menjadi makanan bagi mereka, dan selama ini Ghina bertahan dalam keadaan itu. Menekan emosi nya dalam-dalam agar tak terlibat pertikaian dengan para pembulinya.
Sempat, terbesit dalam pikiran Ghina untuk mengadukan tidakan mereka kepada sang suami, atau sang mertua. Namun, predikat tukang mengadu akan melekat pada dirinya! dan bertambahlah bahan ejekan mereka terhadap Ghina.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1