Storge

Storge
Langkah mundur Andrea


__ADS_3

Di kediaman wiliam.


Andrea memandangi sebuah kotak kayu. Kotak itu memiliki kunci dan Andrea tengah sibuk mencari kunci dari kotak itu.


Lelah sudah mencari, namun usahanya tak jua membuahkan hasil, entah hilang kemana kunci kotak itu"Imah, ambilkan palu."


"Untuk apa nona?."


"Membuka kotak ini," ujarnya menunjuk kotak kayu itu. Kotak tua yang menyimpan begitu banyak harapan cintanya.


"Bukankah itu tabungan nona sedari kecil, nona bilang akan melamar Tuan Jung dengan uang di dalam sana, saat nona sudah dewasa."


"Hem, apakah sekarang nona sudah akan melamar Tuan Jung??," ujarnya lagi menatap Andrea begitu antusias.


Andrea menggelengkan kepala"Tidak, uangnya akan di sumbangkan saja," ujarnya. Di pandanginya kotak penuh harapan nya itu, dengan kesedihan.


Gadis cantik itu terlihat menarik napas, kemudian menghembuskannya perlahan"Hufpph! Imah, ternyata bertepuk sebelah tangan tidak akan menimbulkan suara, aku terlambat menyadari hal itu," terdengar lirih, kesedihan pada hati kecilnya dapat di rasakan oleh Imah.


"Nona kenapa? apakah saat di kediaman Charllote mereka bersikap jahat?."


"Tentu tidak, kau tahu betul, mereka semua orang-orang baik


Sang pelayan merasa ada yang tidak benar disin, majikan yang selalu ceria ini berubah murung usai menjumpai cintanya. Sungguh menyisakan banyak tanya di dalam benak, namun Imah memilih untuk tidak banyak bertanya"Mungkin nanti, saat semuanya sudah terkendali, nona pasti akan berbagi cerita," bisik sang hari.


...***...


Seperti ritual wajib, juga telah menjadi sebuah kebiasaan, kedatangan Jung ke kampus di sambut riuh oleh mahasiswi yang terpesona dengan ketampannya .


Kantin pun seketika ramai ketika dosen muda itu mampir mencari keberadaan Andrea, wanita yang memporak-porandakan hatinya sejak kemarin.


"Kemana ulat bulu itu!," gumamnya. Maniknya memandang ke seluruh penjuru kampus, sayangnya sang gadis tak jua nampak batang hidungnya. Kemana perginya gadis itu??


Hingga waktu pelajaran di mulai pun, Andrea tidak menampakan diri di kampus. Di atas podium, Jung melakukan aktivitas mengajar dengan pikiran melanglang buana, tentu kepada Andrea.


Setelah melalui pemikiran yang panjang, akhirnya dia pun memutuskan pergi ke kediaman wiliam. Mencoba menemui Andrea di sana.

__ADS_1


"Maaf Tuan, nona Andrea baru saja berangkat," terang seorang pelayan bernama Udin kepada pria itu.


"Kira-kira kemana ya," ujarnya lanjut bertanya.


"Katanya mau ke panti asuhan, Tuan ."


Nampak berpikir sejenak, Andrea pergi ke panti asuhan!. Mungkinkah dia pergi ke panti asuhan yang biasa di kunjungi keluarga mereka?


Tak ingin membuang waktu, Jung pun pamit diri dan segera menyusul Andrea.


...❣❣❣❣...


Suasana di panti asuhan kala itu sangat ramai. Nampaknya jumblah anak-anak yatim semakin bertambah di panti asuhan tersebut.


Jung berjalan di sekitar panti asuhan dan sekejap saja pandangannya menangkap bayangan Imah, salah satu pelayan pribadi Andrea. Nampak di samping nya Andrea sedang berbicara dengan salah satu pengurus dan menyerahkan sebuah amplop.


Usai menyerahkan amplop tersebut, gadis itu melanjutkan langkahnya, melihat-lihat keadaan anak-anak yatim piatu yang sedang bermain bersama dan tertawa bersama. Mereka terlihat ceria, bercanda bersama.


"Imah, mereka polos sekali ya, padahal mereka sudah tidak punya orang tua," ujar Andrea kepada Imah.


"Iya non, dan nona sudah melalukan hal terbaik, untuk mereka."


Setelah menjalankan trik tarik ulur seperti apa yang di sarankan Ghina, Andrea semakin menyadari betapa bodoh dirinya, juga betapa pemaksanya dirinya. Mengingat hal itu, rasa malu yang lama terkubur di dalam hati perlahan mencuat, dan menyisakan rasa malu yang teramat dalam.


"Nona, katakan, nona kenapa? sikap nona sangat berubah sejak kembali dari kediaman Charllote," menahan rasa ingin tahu itu sangatlah sulit, Imah akhirnya kembali melontarkan tanya kepada sang majikan.


Mengajak Imah untuk duduk bersama di bangku taman, rasa lelah di dalam hati membuat fisiknya juga ikut lelah.


"Aku...memilih untuk mundur, Imah," ucapnya menghela napas, berbesar hati melepaskan cinta di dalam dada.


"Mundur? maksud nona mundur mengejar Tuan Jung??," tukas Imah terkejut. Siapa yang tidak tahu dengan cinta Andrea kepada Jung, seluruh penghuni kediaman Charllote maupun kediaman William sudah sangat tahu, bahkan sudah sangat akrab dengan kisah cinta sepihak itu. Dan kini, hari ini Andrea berkata akan berhenti mengenar Jung?? bagaimana Imah tidak sangat terkejut akan hal itu.


"Nona yakin??," ujarnya mencoba lebih memastikan.


Andrea tersenyum tipis" Yakin, aku sangat yakin, Imah."

__ADS_1


Jung yang sedari mengikuti mereka berdua, mendengar semua percakapan mereka dan segera menghampirinya"Andrea," ujarnya menatap gadis itu, dengan tatapan nan teduh. Ah! keyakinan di hati Andrea untuk memutar haluan darinya menjadi goyah. Mengapa tatapannya begitu teduh dan hangat?.


Sekuat tenaga menahan diri"Oppa, apa yang kau lakukan di sini?."


"Aku mencarimu."


Andrea menelan saliva, napasnya menderu ingin segera melabuhkan diri kedalam pelukan Jung. Tapi....tahan Andrea, kau sudah dewasa dan mulailah bersikap elegan"Mencariku? kenapa?," menyelipkan helai rambutnya ke daun telinga, sikap itu membuat Jung gemas, Andrea yang bar-bar menjadi manis di matanya.


Memasukan kedua tangan ke dalam saku, mencoba menenangkan diri dan bersikap keren di hadapan Andrea"Ya...hanya mencarimu saja."


Alih-alih mengomentari ucapan Jung, Andrea menatap pria itu dengan alis beradu naik.


"Maksudku, aku hanya ingin bertemu denganmu," pria itu salah tingkah. Apalagi bukan hanya Andrea yang ada di sini, tapi juga Imah. Dirinya mendadak malu untuk leluasa berbicara bersama gadis itu.


Mengangguk kecil"Oh, begitu. Dan sekarang kau sudah menemuiku."


Jung di buat terpana, dengan ucapan itu. Sepertinya bendera perbatasan telah di angkat naik dan di tampakkan gadis itu kepadanya, secara terang-terangan.


"Hemmm," menggigit tepian bibir, bimbang"Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu, hanya ingin meminta maaf kepadamu."


"Maaf? apa kau telah berbuat salah? seingatku kau tidak berbuat hal buruk kepadaku."


"Mengenai kau yang menginap di kediamanku, sedangkan aku justru menginap di tempat lain......," sedikit lama, kata-kata Jung tergantung.


"Kau sengaja menjauhiku," ucap sang gadis"Dan aku cukup tahu diri akan hal itu. Jika kau tidak menyukaiku, aku tidak bisa memaksa, bukan?," Kalimat itu menghantam hati yang sedang ketar-ketir, menciptakan keresahan di dalam jiwa sang pria.


"Maaf, Andrea...."


"Aku sudah memaafkanmu," sambar Andrea.


"Dengan mengabaikan ku?."


"Tidak," ujar Andrea lagi.


"Sudah ku katakan, aku cukup tahu diri sekarang. Untuk apa terus mengejar jika kau tidak bisa membalas cintaku. Untuk apa terus mendekati mu jika kehadiranku hanya mengganggu mu?."

__ADS_1


Oh lord!! Jung di buat kebingungan kali ini. Ucapan Andrea, sikap Andrea...dan juga keyakinannya yang akan menyerah mengejar cintanya"Akh!! apakah aku sudah tidak menarik lagi baginya??," pekik hati Jung di dalam sana.


~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komem ya teman ^,^ .


__ADS_2