
"Selamat pagi sayangku!," Ghina memeluk Joen, pria yanh masih terlelap dalam tidurnya. Pagi di awali dengan nyanyian merdu rintik hujan, udara yang dingin, hingga menusuk ketulang.
"Joen sayang, hari sudah pagi. Bangunlah, bukankah kau bilang pagi ini ada rapat penting?," tangan kecil itu menjelajahi wajah tampan sang suami, pria dingin yang ternyata menyimpan cinta dan kehangatan hanya untuknya.
"Tidak, rapat itu tidak jadi," suara serak Joen, terdengar dari balik selimut. Dengan malas pria itu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dengan sempurna.
Namun, karena sang istri kecil telah berusaha membangunkan dirinya, Joen merasa tidak enak hati. Sebab dirinya memang berpesan untuk di bangunkan pagi-pagi sekali.
Mendekat kepada Ghina, kemudian menarik wanitanya masuk ke dalam selimut bersama"Sayang, berikan aku waktu lima menit. Lima menit saja izinkan aku kembali tidur, sembari memeluk mu."
Menyisir surai lebat sang Tuan muda"Baiklah, hanya lima menit saja, ya. Aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus membantu menyiapkan sarapan di bawah."
"No!!," ucap Joen, manja.
"Joen! aku akan membiarkan kau memelukku selama lima menit. Dan jika kau tidak ada jadwal ke kantor aku akan membiarkan kau tidur hingga siang nanti, tapi setelah lima menit itu aku harus segera turun ke bawah."
"Kasiah mama jika harus menyiapkan sarapan sendirian," imbuh Ghina, pasrah di peluk dengan sangat erat oleh Joen.
"Apa kau lupa? ada banyak pelayan di rumah ini. Mama bisa meminta mereka menemaninya menyiapkan sarapan!."
"Dan apa kau juga lupa, bahwa mama hanya ingin menata sarapan dengan tangannya sendiri? di temani diriku?," sahut Ghina menatap jam di dinding, waktu lima menit itu sudah mulai berkurang.
Joen mengunci Ghina dalam pelukan, dia sangat tidak rela jika harus di tinggalkan di kamar, sementara Ghina turun membantu sang mama"Ayolah sayang," merengek bak anak kecil"Hari ini saja!, aku sangat ingin berlama-lama memeluk dirimu!," sejujurnya, Joen merasa sedikit tidak enak badan. Dan ketika mencium aroma tubuh sang istri, Semangat nya seolah bertambah.
"Kau, manja sekali!. sudahlah! hari ini kau berangkat ke kantor, atau tidak?," ya, Ghina akhirnya berhasil melepaskan diri. Joen ini! gemar sekali mengulur waktu untuk lebih lama bersama.
Mengambil duduk, dengan rambut berantakan"Hoaaamm," menutup mulutnya dengan punggung tangan"Meski tidak harus ikut rapat, aku tetap harus ke kantor."
"Lekaslah bersiap, waktu terus berjalan Tuan suami!," ajak Ghina agar sang suami segera bangkit dari tempat tidur"Meski itu perusahaan papa, kau harus mematuhi aturan, jangan terlambat masuk ke kantornya."
Terseok-seok, Joen begitu paruh dengan ucapan Ghina"Tapi, nanti siang kita makan bersama-sama ya!."
"Iya," sahut nya singkat.
"Aku akan menjemputmu ke toko bunga," Joen kini berada di muara pintu kamar mandi.
Sementara Ghina sedang merapikan penampilan di depan cerminan"Iya, suamiku!."
"hm..."ghina mengangguk.
"Akh! sayang! semakin hari kau semakin menggemaskan. Aku ingin memelukmu lagi!!," seru Joen urung untuk masuk ke kamar mandi.
Di kamar sebelah, Jung sedang mempersiapkan materi pelajaran yang akan dia gunakan untuk mengajar di kampus nanti. Ada bias keceriaan di wajahnya, sebab hari ini gadis manisnya mulai masuk kuliah lagi. Meskipun Calista belum di temukan, Andrea bersikeras untuk kembali ke kampus. Dia tak bisa terus bersembunyi di dalam sangkar emasnya.
Memulai sapaan mesra melalui panggilan video"Selamat pagi sayang."
"Pagi sayang," sahut Andrea.
"Bagaimana persiapan hendak aktif ke kampus lagi?."
"Biasa saja," sahut Andrea lagi.
"Biasa saja? apa kau ingin memulai hari dengan istimewa?."
__ADS_1
Mendengar ucapan Jung, Andrea yang sedang menikmati secangki susu hangat mendekati layar ponselnya"Mau, bagaimana caranya sayang."
"Aku akan menjemputmu," tawa pria itu membuat Andrea ikut tertawa.
"Tidak perlu sayang, ku lihat kau sudah siap untuk berangkat, sedangkan aku baru keluar dari peraduan. ini," Andrea mengangkat gelas susu"Aku baru hendak memulai sapaan."
"Hanya secangki susu?."
Andrea menarik piring roti di belakang ponselnya"Tentu tidak sayang, aku perlu energi yang banyak untuk kembali ke kampus."
Jung mengacungkan dua jempol kepada Andrea"Bagus! kau memang gadis ku yang hebat. Usai sarapan lekaslah mandi, jika kau cepat bersiap mungkin aku masih bisa menjemput mu."
"Heemmmm," tapi aku masih ingin kembali ke dalam selimut, sayang," gadis itu tersenyum kecil.
"Andrea~~~," meski jadwal kuliahnya siang, tidak seharusnya kau bermalas-malasan di tempat tidur."
Andrea meletakan gelas, mengambil ponsel dan lebih fokus menatap Jung"Kenapa? apa kau tidak suka gadis yang kerap bangun kesiangan?."
Menaikan kedua alisnya"Yahhh bukan itu permasalahannya."
Andrea menyerngitkan kening, melihat Jung melepaskan bolpoin, juga lebih fokus menatapnya"Masalahnya adalah kau berlama-lama di tempat tidur, tapi tidak mengajak ku."
Tawa gadis itu terbit, menambah kecantikan pada dirinya"Oho, apa kau sedang menggoda ku?, kau sedang memancing jiwa liar ku?."
"Memancing? aku tidak sedang memancing ikan, sayang," dan Jung tertawa nakal, menyugar rambutnya ke belakang. Ck! jika seperti ini Jung semakin menarik, andai saja kediaman mereka berdekatan, Andrea bisa berlari sekarang juga untuk menghampiri nya.
"Bagiamana dengan memancing ini," Andrea menurunkan bahu bajunya, hingga nampaknya bagian bahunya yang putih mulus.
Tanpa sadar, Jung menelan saliva"Eheiiii, kau jangan memancingku sayang!," seru Jung menutup wajah, namun dengan jemari yang saling terbuka.
..........
Sementara itu di meja makan..
"Nona Nari yang cantik, tolong ambilkan abang selai kacang itu."
Nari tak peduli, telinganya seolah tuli dan matanya buta. Tidak menoleh sedikitpun kepada Joen.
"Adikku yang manis, ayolah. Tolong berikan selai itu kepadaku," sembari menahan tawa, Joen masih berusaha membujuk Nari. Seharusnya Joen yang marah, sebab kepalanya mendapat serangan dari sendok Nari ketika di kedai, tapi rasa kesal Nari memutar keadaan. Dirinya sangat malu di ledek oleh Joen di hadapan si kembar Alex dan Aron.
"Nariaaa~~~," panggil Joen berirama.
"Ash!! nih! makan saja selai ini sampai habis!!," gerutu nya dengan sangat terpaksa menuruti keinginan Joen. Gadis itu menyerahka jar selai dengan mulut maju, memberengut.
Nyonya Sook berkomentar"Ada apa lagi ini? kalian berulah lagi?."
"Bang Joen tuh yang bikin ulah, mah!! dia menghina Nari di depan teman-teman, dia bilang Nari galak, jorok!! Nari kan malu!!."
"Kau kan memang galak," Jung, dosen yang baru hadir ini menimpali tanpa tahu asal muasal pengaduan Nari kepada sang mama.
"Diam kau dosen edan!!," hardik Nari, mengacungkan garpu ke arah Jung.
"Nah!!," kali ini Joen yang berseru"Seperti itulah caranya mengacung sendok kepada Joen kemarin, mah!!" dan kini giliran Joen yang mengadukan tingkah ganas si bontot.
__ADS_1
Joen menunjukkan kepala yang kemarin di geplak Nari, menggunakan sendok"Nih, coba mama pegang, benjol nya masih ada, mah."
Usai sempat melotot kepada Joen, setelah itu kepada Jung, kini Nyonya Sook melotot kepada Nari"Kau menyerang dengan kekerasan?."
"Tapi abang menyerang Nari dengan lidah, mah!! itu lebih tajam dari pedang!," suaranya mulai bergetar. Raut wajahnya pun mulai mendung, hampir menitikan air mata.
"Kau juga Joen! kenapa mengolok-olok nya di depan teman-temannya?.",
Seolah tak berdosa, Joen menggeleng"Joen hanya mengatakan dia galak. Itu saja."
"Bohong! abang bukan cuman bilang Nari galak, dia mengatakan Nari gadis jorok."
Ocehan Nari, tak di hiraukan oleh Joen. Pria itu dengan santai berbagi telur dengan toping keju bersama Jung.
Namun..."Bwek!!.."ada rasa aneh di lidahnya usai mencicipi hidangan tersebut.
Nari yang gusar terdiam, sebab wajah Joen seketika berubah. Apa Joen keracunan?? semarah apa pun Nari, dia tidak rela jika Joen mati begitu saja"Bang, kau kenapa..?.
Alih-alih menjawab, Joen berlari ke kamar kecil, dan memuntahkan makanan dari mulutnya.
Ghian gegas mengejar Joen, juga Nyonya Sook. Tuan Charlotte yang baru saja hendak menuju ruang makan di buat bertanya-tanya"Kenapa? ada apa ini?."
"Aghh!! telor nya amis sekali!!," lirih Joen mulai lemas.
"Kau setiap hari memakannya, kenapa baru sekarang kau mengeluarkan bau amisnya? lagi pula, ku pikir tidak ada bau amis dari telur keju itu," Ghina dengan pelan mengusap punggung Joen, mengurusinya jika akan muntah lagi.
"Telurnya baik-baik saja. Rasanya sama seperti biasa," ujar Jung, saat beradu tatap dengan Nyonya Sook..
Tanpa banyak bicara, Tuan Charlotte memegang kening Joen"Sepertinya kau demam. Kening mu hangat, lebih baik kau istirahat saja, tidak perlu ke kantor."
"Baiklah pa," ujarnya segera kembali ke kamar, di temani Ghina.
"Kalau bang Joen sakit, lantas Nari ke sekolah sama siapa?," mengingat mobil yang biasa mengantarkan dirinya sekolah sedang berada di bengkel.
"Mau ku antar?," tawaran Jung membuat Nari hampir tersenyum lebar, senyum itu seketika pudar sebelum merekah sempurna sebab ucapan Jung"Akh, aku hanya basa-basi. Tidak jadi."
"Bang Jung!!!!," pekik Nari kesal.
Jung tertawa, dosen muda ini merasa puas mengerjai Nari sepagi ini. Tatapan tajam Tuan Charlotte membuat Jung bungkam. Kemudian berdehem"Ehem, oke deh. Karena aku abang yang baik, hari ini aku yang akan mengantarkan mu ke sekolah."
"Tidak perlu! Nari masih bisa berangkat ke sekolah meski tidak di antar dengan dosen edan seperti mu."
Nyonya Sook mengusap wajah, usai berargumen dengan Joen, Nari kini melanjutkan adu mulutnya dengan Jung.
Mengambil semua barang nya di meja maka"Oh iya lupa, nene sihir kan bisa berangkat naik sapu terbang, hahahha!," gelak tawa Jung mengiringi langkah cepatnya keluar.
"Papa," lirih Nari dengan wajah sedih pada sang papa.
"Kau pun sama, suka berbuat usil pada abang-abang mu."
"Mama," gadis itu beralih pada sang mama, berharap mendapatkan pembelaan.
"Yah.... kalian sama saja. Mama tidak bisa berkomentar banyak."
__ADS_1
To be continued...
selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗