Storge

Storge
Semua sayang Andrea


__ADS_3

Suasana kediaman William nampak sangat sepi. Bahkan beberapa pelayan dapur mulai bingung dengan pekerjaan mereka. Sejak kejadian naas yang menimpa Andrea, pelayan bgaian dapur hampir tak pernah menyiapkan makanan.


Suasana rumah pun layaknya tak bertuan. Tuan William hanya pulang beberapa kali ke kediamannya, itu hanya singgah sebentar. Selama dua pekan ini dia selalu menemani malam-malam Andrea di rumah sakit.


Pagi ini mobil Tuan Wiliam memasuki area pekarangan kediamannya. Seorang penjaga rumah bersiap menyambutnya di muara pintu"Selamat pagi Tuan,"


ujarnya mambukakan pintu mobil.


"Selamat pagi pak Joni," senyum hangat terukir di wajahnya yang nampak lelah. William berjalan memasuki rumah dan duduk di meja makan.


"Tuan, apakah yang anda perlukan?," tanya bibi Ida, selaku koki di rumah itu.


"Air putih saja, bi."


"Makannya Tuan?."


"Tidak perlu, nanti saja," jawabnya lagi.


Dengan wajah kecewa, bibi Ida kembali ke dapur dan tak berapa lama datang kembali dengan nampan berisi air putih dalam teko kaca beserta gelas nya"Silahkan Tuan."


Ketika Tuan Wiliam sudah menenggak minumnya barulah bibi Ida bicara"Bagaimana keadaan Nona Andrea, Tuan?."


Sembari meletakan gelas di atas nampan, Tuan Wiliam melempar senyum kepada bibi Ida"Hari ini dia akan pulang."


Seketika wajah wanita tua itu tersenyum lebar"Ah, syukurlah Tuan. Kami sangat bingung di sini, kami pelayan dapur tapi tidak banyak yang kami kerjakan."


"Heheh," Tuan Wiliam tertawa," Dan pagi ini kalian akan sangat kerepotan. Masaklah berbagai menu makanan kesukaan Andrea, setelah itu buatkan 1.000 kotak makan siang untuk anak-anak di panti asuhan. Jangan lupa siapkan bingkisan untuk mereka juga."


"Siap laksanakan Tuan!," seru bibi Ida bersama dua pelayan wanita lainnya.


"Pak Joni dan pak Abdul siapkan bingkisannya ya, nanti kalian akan di bantu Davin," menunjuk sekertaris pribadinya untuk mengurus masalah ini.


"Baik Tuan, saya akan segera kembali ke sini setelah mengantar anda ke rumah sakit."

__ADS_1


"Nggak perlu Vin, kau langsung aja, saya akan menjemput Andrea sendiri."


"Baik Tuan," sahut Davin.


Dengan patuh para pekerja melaksanakan perintah Tuhan Wiliam.


Di dapur kediaman Andrea.


"Akhirnya Nona kita kembali," seru Atun sambil memeriksa bahan makanan.


"Akh! Nona muda ku yang malang, aku sangat ingin tahu bagaimana keadaannya," seorang pelayan terdengar lirih.


"Sudah, jangan bersedih. Dia akan kembali hari ini berarti dia sudah sehat kembali," bibi Ida menenangkan anaknya Imah.


Selain Hana sebagai pelayan pribadi Andrea, Imah juga di percaya menjadi pelayan pribadinya.


"Lantas, bagaimana ya dengan Tuhan Jung?."


karena perkataanya itu bibi Ida di tatap tajam oleh Atun dan Imah"Ibu, majikan kita itu Nona Andrea, kenapa ibu justru khawatir dengan Tuan Jung," tatapan tajam Imah seakan menusuk ke jantung sang ibu.


"Wuuu, alasan bu ida saja! sebenarnya saya juga mengkhawatirkan Tuan Jung. Aduh Tuan muda itu apakah sudah sehat juga??," Atun pun ikut memikirkan keadaan Jung.


"Ehem..!! duhai para emak-emak milenia. Stop memikirkan si Tuan muda! dia juga punya banyak pelayan yang setia merawatnya jika memang masih belum sehat. Sekarang kita fokus sama majikan kita saja. Oke?," Imah menggandeng kedua tangan emak-emak fans sejati Jung.


"Hehe, iya Mah..., iya!," sahut bi Ida.


"Lihat, bahannya kurang. Siapa yang belanja ke pasar??


"Kamu!," tunjuk bi Ida, namun di jawab Imah dengan gelengan kepala.


"Ibu kan tau Imah tidak mengerti soal berbelanja."


"Saya tidak keberatan," Atun tunjuk tangan.

__ADS_1


"Tapi sama mas Tono," ujarnya lagi malu-malu.


"Oho! aku mencium rencana busuk di sini. Kalian pasti mau curi-curi waktu untuk berkencan, kan???!," ternyata bibi Ida sudah paham betul dengan gelagat Atun yang hendak menyelam sambil minum air. Semenjak pacaran sama Tono si tukang kebun, maunya berduaan terus.


"Tidak bi Ida, tentu saja kami hanya akan berbelanja. Sama Imah juga, kan?," ucapnya berkilah.


"Udiiinnnn!!," panggil bi Ida. Wajah Atun yang semula ceria seketika tertekuk cemberut.


Hadirlah seorang pria seumuran bi Ida menghadap mereka, dia juga pelayan di kediaman William.


"Temani Atun ke pasar," titahnya"Imah tidak perlu ikut."


Tono mengangkat tangan di dahi"Siap bi Idaaaaa..!!"


Jadilah Atun dan Udin yang pergi kepasar berbekal surat cinta dan uang untuk berbelanja.


"Panjang amat sekali cintanya Tun," ujar Udin membuka daftar belanjaan dari bi Ida.


"Jangan mengeluh, aku sudah berbaik hati mau ke pasar sama kamu. Seharusnya aku sama Tono," keluhnya sambil melangkah kesal menuju mobil.


"Ckckckckc, sudah bau tanah, kelakuan masih seperti biji cabe," gumam Udin sambil geleng-geleng kepala.


...........


Di ruangan dokter Wenhan.


Matanya menatap lurus ke layar laptop. Dia yang biasanya terlihat ceria nampak sedih kali ini, sorot matanya menggambarkan kerinduan yang mendalam.


"Maafkan aku, dulu aku tak bisa menyelamatkanmu, setidaknya sekarang aku akan berusaha menyelamatkan gadis yang mirip dengan mu".


Seorang wanita cantik bersurai panjang, tertawa manis menatapnya dari dalam laptop. Dialah Alesha, mendiang istri dokter Wenhan yang meninggal dua tahun lalu karena kanker otak.


To be continued...

__ADS_1


~~♡♡happy reading. Jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2