Storge

Storge
Tumbal unyu-unyu


__ADS_3

Rasa penasaran masih hinggap di hati Ghina. Mendapati Jung yang melintasi area taman belakang membuat Ghina kembali menjumpai pria itu.


Tuan muda, pinjem dong," masih tentang maskot beruang, benda itu masih menjadi primadona di kediaman ini. Jika Nari telah pergi melepaskan Jung, masih ada Ghina yang begitu ingin mencoba memakai kostum lucu itu.


Jung melarang"Berat Ghin...,"


"Nyoba bentar doang...," ujar Ghina, gadis ini merasa belum puas jika belum mencoba benda lucu itu, meski di katakan berat, mencoba dulu tidak ada salahnya kan.


"Ya elah, nggak Nari nggak kamu, kenapa sih cewek-cewek pada ngebet pengen nyobain kostum ini?."


"Hehehe, habisnya lucu Tuan, boleh ya Ghina pinjem bentar," ujarnya menghiba. Mata cantiknya memandang Jung seperti anak kucing.


"Maksa banget sih! ya sudah, aku tunggu di gazebo. Kamu ambilin minum lagi ya, tenggorokan ku kering banget, kaya di padang pasir nih," ujarnya langsung melenggang menuju tepi taman.


Ghina sontak tersenyum"Yes!! boleh nyoba kostumnya!," ujarnya bersuka ria. Dengan riang gadis itu kembali ke dapur, membawakan minuman dingin yang di minta Tuan muda pertama. Ah, meski tidak di minta, kali ini Ghina membawa beberapa iris semangka, juga cemilan lain untuk Tuannya, hitung-hitung bayaran udah di bolehin nyoba kostumnya.


Semilir angin perlahan menghapus jejak keringat di wajah Jung, pria itu mulai merasa nyaman menikmati kesejukan di tempat itu.


Dari arah pintu dapur, Ghina tersenyum lebar sambil membawa baki. Kelihatan banget kalau dia sedang berbahagia.


"Nyengir teros, kaya kuda," seloroh Jung langsung mencomot sepotong semangka.


"Hehehe, Ghina udah bawain minuman nih, plus buah semangka sama cemilan. Sekarang Ghina udah boleh pinjem itu nggak??," jari telunjuknya mengarah pada kostum maskot.


"Plas plus, plas plus, semangka sama cemilan kan memang punya aku, napa kamu jadi bangga bawain makanan ini ke sini?," Jung mulai memantik api pertikaian.


Demi kepala maskot, Ghina memaksa tersenyum kepada Jung"Iya deh, Ghina tau banget kok semua ini punya Tuan, tapi kan Ghina bawainnya tanpa di minta. Gratis pula," tak lupa gadis itu menyinggung perihal bayaran ekstra jika para Tuan dan Nona muda meminta bantuan pada dirinya.


"Eish!! dasar matre. Lagian mamah kok bisa sih ngajarin kamu buat pasang harga kalo kami kasih perintah? kan kamu udah di gajih kerja di sini?," seolah tak terima, masih menjadi tanda tanya di benak Jung mengapa Nyonya Sook menerapkan peraturan harus membayar jika mereka menyuruh Ghina.


"Kikikiki," Ghina tertawa jahat"Kan Ghina orang susah Tuan, Nyonya Sook kan baik hati, ramah, lembut, mana tega beliau membiarkan anak-anaknya menyiksa saya. Demi menyeimbangkan keuntungan dan kerugian, di buatlah peraturan seperti itu. Coba bayangin kalo Nyonya nggak bikin peraturan pasang tarif begitu Tuan dan Nona ngebabuin saya?? alamat mati muda dong Ghina, Tuan," gadis kecil itu berceloteh panjang lebar, Jung tertawa geli meresapi setiap kata yang dia ucapkan.


"Hahaha, kok mati muda?," ujar Jung bertanya, sebuah tanya yang sudah di ketahui jawabannya.

__ADS_1


Mencomot sepotong semangka dan juga menikmatinya"Sadar diri dong Tuan, kaya nggak pernah nyiksa Ghina aja. Kemaren siapa yang ngasih perintah ke Ghina buat jajanin seblak? Tuan mintanya pedas ekstra, giliran kaga abis malah Ghina yang di paksa ngabisin. Auto berlinang kan air mata Ghina, segala ingus muncrat kemana-mana. Untung lambung saya terbuat dari baja, kalo kaga? apa kaga mati saya Tuan??."


"Buakakaka," Jung kembali tertawa, Ingat kejadian itu membuat perutnya terasa geli. Gadis itu sampai susah bicara beberapa hari gegara di paksa ngabisin seblak ekstra pedas itu.


"Idih, bahagia banget Tuan, kaya nggak ada kasihan-kasihannya gitu sama saya," tukas Ghina mengambil kepala maskot. Jung masih saja tertawa, cewek cebol ini nggak ada jaim-jaim nya di hadapan dia.


Usai memasang kepala maskot di kepalanya, Ghina menahan berat benda itu dengan susah payah"Awh, berat ya Tuan."


"Udah di bilangin, punya kuping kok nggak di pake," Jung melepas benda itu dari kepala Ghina.


"Yaaahhh, kok langsung di ambil!! Ghina belum sempat foto."


"Heh, kamu kan bilangnya cuman pinjem, nggak bilang mau foto juga. Kalo mau foto-foto kamunya harus bayar."


Kening gadis itu di buat berkerut"Kok bayar sih??."


"Simbiosis mutualisme, kamu aja kalo aku suruh minta di bayar, masa kamu pinjem barang aku nggak mau bayar," ada senyuman nakal terbit di wajah Jung, dan bukan Jung namanya jika tidak menyebalkan.


"His! nggak malu Tuan minta uang sama rakyat jelata kaya saya?," sindir Ghina.


Ghina tertawa senang, masa bodo di bilang temenan sama mak lampir. Yang penting dia bisa foto-foto dulu sama boneka maskot lucu itu. dan...bukan hanya meminjam benda itu dari Jung, Ghina juga tanpa segan meminta Jung untuk mengambil foto dirinya dengan benda itu.


"Babu kurang ajar!," umpat Jung, namun pria itu masih bersedia mengambil beberapa foto si cebol Ghina dengan maskot beruangnya.


Tengah akur bersama Jung di gazebo bambu, Ghina di buat terkejut dengan kehadiran Joen di sana.


"Ngapain kamu di sini? beliin cendol gih."


Hari sudah siang, bahkan menjelang sore. Kang cendol langganan pasti sudah tutup di jam segini.


"Duhai Tuan Joen, kang cendol udah tutup kalo jam segini," ujar Ghina.


"Tau nih, minta yang lain aja deh," Jung ikut menimpali.

__ADS_1


"Nggak, aku maunya cendol," sengaja, Joen sengaja membuat Ghina kerepotan lagi.


"Heh, kamu beneran lagi ngidam?? apa jangan-jangan kalian sudah main-main di belakang kami??," Jung menatap Ghina dan Joen bergantian. Oh lord! sikap itu membuat Ghina gemas ingin menjitak kening Tuan muda pertama.


"Main-main gimana? otakmu perlu di cuci bang, mikirnya yang jorok terus."


"Otakmu yang perlu di cuci, biar mikirnya warasan dikit. Di bilangin kang cendolnya udah tutup, maksa banget pengen minum cendol. Kalo kaya gitu kan nggak ada bedanya sama orang lagi ngidam," tutur Jung melempar kulit semangka ke arah Joen. Spontan Joen meloncat menghindari lemparan saudaranya itu, wajah pria itu terlihat kesal.


"Ck! cari penyakit ni orang," Joen merampas kepala maskot dari dekapan Ghina.


"Mau di apain Tuan!," pekik Ghina menahan benda bulat itu.


"Jangan bawel, kamu juga ikut, sini!," Joen meminta Ghina untuk ikut bersamanya.


"Woi mau di bawa kemana kepala maskot ku??."


"Kasih tumbal ke nenek lampir, biar dunia jadi aman damai sentosa," sahut Joen.


Jung segera berlari mengejar Joen"Sialan!! itu barang mahal woi."


Joen lantas berlari menjauhi Jung, sebelum itu"Eh, kamu tunggu depan mobil aku ya. Abis ini kamu harus ikut aku."


"Tapi......," kata-kata Ghina tercekat.


"Aku bayar 5x lipat!!!," teriak Joen mulai menghilang masuk ke kediamannya.


"Joen sialaaannn!!," Jung lari menyusul Joen demi menyelamatkan kepala maskot dari akusisi Nari.



...*Nari Charlotte*...


To be continued...

__ADS_1


Jangan lupa like fav dan komennya ya 🤭🤭🤭


__ADS_2