
...*Larilah jika dia tak cinta,...
...Namun, jika dia berbalik mengejarmu,...
...Maka dia patut untuk di pertahankan?*...
...❣️ ❣️...
Trik tarik ulur yang di bisikan Ghina, benar-benar sedang di terapkan oleh Andrea. Sejak memantapkan diri untuk bersikap acuh terhadap Jung, bahkan nama sang pria pujaan pun tak lagi terdengar dari mulutnya.
Sementara Jung, pria itu sedang memikul rasa bersalah di atas pundak lebarnya. Kemarahan sang ibunda tercinta, membuatnya segera kembali ke kediaman mereka, juga dengan niat untuk mulai membuka hati kepada Andrea.
Namun, sayang sungguh sayang. Gadis itu tak jua turun ke ruang tamu saat dirinya datang. Gadis itu juga tak menerobos masuk ke kamarnya seperti hari-hari sebelumnya. Hingga keesokan harinya, saat waktu sarapan tiba, barulah Andrea menampakkan diri di hadapan Jung.
"Selamat pagi, wah kau cantik sekali, seperti biasanya," ujar Nyonya Sook menatap Andrea dengan mata berbinar-binar.
Gadis itu tersenyum manis"Selamat pagi tante, semuanya," ujarnya menyapa semua orang. Kemudian mengambil duduk di dekat Nyonya Sook saat wanita paruh baya itu menepuk kursi tersebut"Tante, jangan terlalu memujiku, nanti aku jadi besar kepala.
"Kau memang cantik sayang, tante tidak sembarangan memuji," ujung mata sang Mamah melirik kepada Jung, yang tengah menatap lekat-lekat wajah Andrea. Sementara yang di tatap, terlihat acuh pada pria itu.
Ghina, datang beriringan bersama Joen, dari lantai atas"Pagi....," seru Ghina pada semua orang, dengan kedua mata saling tatap bersama Andrea. Si cantik Andrea tersenyum, entah apa arti dari lirik-lirikan kedua wanita itu, membuat Jung yang merasa di abaikan sedikit khawatir.
Jika Jung sedang gundah karena Andrea yang berubah sikap, ada seorang Nari yang tersenyum simpul menatap sang kakak tertuanya. Ternyata, ini bukan sekedar konspirasi dua wanita saja, tapi tiga wanita. Untuk menguji perasaan Andrea, juga menyadarkan Jung apakah memang tidak ada cinta untuk Andrea.
Usai sarapan, masing-masing dari mereka melanjutkan aktivitas, Ghina dan Nari berangkat ke sekolah, Joen berangkat ke kampus, dan Tuan Charllote berangkat ke kantor. Tinggallah Nyonya Sook, Andrea dan Jung di meja makan.
"Anu...."
"Tante, Andrea sudah selesai makan. Boleh undur diri untuk mengemasi barang-barangku? hari ini aku ingin kembali ke kediamanku," suara gadis itu memutus ucapan Jung. Menyisakan sesak di dada pria itu setelah mendengar isi dari perkataan Andrea.
__ADS_1
"Lho, kau sudah mau pulang?," bergantian, Nyonya Sook menatap Andrea, dan Jung. Memberi kode kepada Jung untuk segera angkat bicara.
Tersenyum tipis, Andrea kemudian berucap"Aku sudah sangat merindukan Papah, tante," ujarnya.
Mengganguk pelan, Nyonya Sook kehabisan cara untuk menahan gadis itu agar tetap bersama mereka. Dia pun berucap kepada Jung"Cepat antarkan Andrea kembali ke kediaman William," tukasnya.
Tidak ada penolakan seperti biasanya, kali ini Jung bersikap patuh atas perintah sang Mamah. Namun...
"Tidak perlu, aku sudah meminta supir menjemput ku."
Oh Tuhan, ada apa dengan gadis bernama Andrea ini?! Jung di buat ketar-ketir saat itu juga.
Merasakan sikap yang tidak seperti biasanya, dari seorang Andrea, Nyonya Sook melirik tajam kepada Jung. Wanita itu jelas melimpahkan segala kesalahan kepada sang putra, pria lamban dalam urusan percintaan.
Seperginya Andrea kembali ke kamar tamu, untuk mengemasi barang-barangnya"Lamban! kau sudah terbiasa di puja, hingga kau begitu congkak tidak ingin menyapanya lebih dahulu."
"Mamah," cicit Jung bagai anak kecil.
Dalam waktu 3 menit, Jung sudah berhadapan dengan Andrea. Duduk di tepian ranjang, gadis itu sedang melipat sedikit pakaiannya yang berserakan.
"Aku antar pulang, boleh?."
"Tidak perlu," sahutnya singkat. Jung kembali menatap Andrea lekat-lekat, sikap gadis di hadapannya ini seperti bukan Andrea, ah! ini benar-benar bukan Andrea.
"Kau mengacuhkan ku, aku kembali demi dirimu," entah mendapat ilham dari mana, begitu leluasa Jung berkata seperti itu.
Sejujurnya, sang hati di dalam sana luar biasa gembiranya. Andai saja ucapan pria ini dapat Andrea rekam, dia akan memutarnya seharian penuh.
"Mengacuhkan mu? tidak Jung. Aku hanya sangat rindu dengan Papah, aku ingin segera pulang saja."
__ADS_1
Katakanlah, Jung sedang menawarkan dirinya kepada buaya betina, namun sayangnya sang. buaya betina sudah merasa sangat kenyang. Alhasil, Jung pun di abaikan, oleh Andrea.
"Kau tidak rindu kepadaku?," ujarnya pada Andrea.
"Apa kau tahu rindu itu selalu curang, dia selalu saja bertambah meski telah berjumpa. Aku tak ingin terus hidup di dalam curangnya rindu, Jung. Aku lelah."
Sakit! hati pria itu terasa tercubit. Patahkah semangat Jung?? tentu tidak!. Seperti Andrea yang dulu selalu menempel kepadanya, tidak mengapa jika kali ini giliran Jung yang terus menempel kepadanya. Mengikuti sang gadis hingga ke pintu gerbang, namun ternyata jemputan yang di nantikan Andrea tak kunjung datang.
Ketika hati sedang memanas, alih-alih menunggu lebih lama, Andrea menyeret kopernya menuju halte bus yang tidak jauh dari kediaman Jung.
"Andrea, jangan katakan kau akan naik bus untuk pulang ke rumahmu," serunya mengejar langkah cepat sang gadis.
"Lantas, apakah dengan berdiam diri di tepi jalan aku akan sampai ke rumah? aku tidak punya teman kucing robot seperti Doraemon, Tuan Jung."
Begitu keras kepalanya Andrea, Jung gegas kembali menemui Mr,Zak yang sedang berjaga di depan gerbang"Mr, berikan kunci mobil kepadaku, cepat!," ujarnya berseru.
Pria besar berseragam hitam itu menyerahkan kunci mobil yang selalu di pegangnya. Sudah hafal betul dengan mobil pegangan Mr.Zak, Jung langsung melesat menyusul Andrea dengan mobil tersebut.
"Ayo, aku akan mengantarmu."
"Tuan Jung, aku masih punya kaki, aku bisa pulang sendiri."
Menjongkokan diri tepat di hadapan Andrea, yang sedang duduk di bangku halte"Andrea, aku mohon izinkan aku mengantarkan mu pulang," entah kerasukan setan apa, Jung meraih jemari gadis itu, juga menatapnya dengan penuh harap.
Ah! andai saja hal ini dia lakukan sedari dahulu, mereka pasti akan menjadi pasangan kekasih paling bahagia di dunia halu ini, sebab Andrea akan selalu memberikan dan melakukan hal terbaik untuk Jung.
"Bus nya sudah datang, aku bisa pulang sendiri," saat itu, bus yang di nanti telah tiba. Meski terasa berat, Andrea menguatkan diri untuk menepis sentuhan tangan Jung. Sembari menahan air mata, Andrea membawa diri menaiki bus tersebut, dan menghilang dari hadapan Jung.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗