
Nari merebahkan diri di tempat tidur. Kelakuan si kembali sungguh banyak menguras energinya hari ini. Dari pagi sampai siang, Alex terus menempeli Nari kemana-mana. Hanya saat jam pelajaran pria itu meninggalkan Naria.
Setelah jam istirahat tiba, bak ninja Hatori yang datang dan pergi dalam sekejap mata, dia langsung hadir kembali di sisi Nari. Menunggu gadis itu depan kelas dan mengekor langkahnya ke kantin. Rekan mainnya tak di huraukan saat mengajaknya untuk bergabung di lapangan, bermain bola basket yang sangat dia gemari itu. Sepertinya, Nari lebih menarik ketimbang bermain benda bulat berwarna oren itu.
"Lex, kau terus menempel seperti benalu," oh, Arin pun jengah dan tidak bisa memakhlumi tingkah laku Alex lagi. Anak lelaki itu hanya tersenyum, saat mendengar dengan jelas apa yang Arin katakan.
"Ini pasti penyakit cinta, kemarin-kemarin dia terdeteksi sebagai lelaki dingin, namun karena cinta dia berubah menjadi pecicilan, dan itu hanya di depan Nari," Febby juga ikut mengomentari prilaku Alex.
"Nari mau susu?."
"Atau mau sanwich??"
hari ini Alex benar-benar tak peduli dengan makhluk lain di sekitarnya. Mungkin moto hidupnya hari ini adalah Nona Naria, satu dan untuk selamanya."
Dengan cuek dia merebut kursi yang di duduki Febby di samping Nari, tentu untuk dia duduki.
"Tidak Lex, aku bisa sendiri," namun jawaban Nari tak membuat Alex berbalik arah, dia tetap berada di sampingnya.
"Ya sudah, aku akan berada di sini menemanimu," seraya menopang dagu, dia menatap Nari hangat.
Agghh!! sikap pria ini membuat hati Nari lelah. Perasaan manis yang sempat muncul perlahan memudar, berganti dengan perasaan jengah"Kau seperti bukan Alex. Bisakah kau bersikap biasa saja? aku sungguh tidak terbiasa dengan sikap mu yang satu ini."
"Aku hanya ingin kau jadi kekasihku, dan aku melakukan hal ini karena aku menyukai dirimu."
"Uhuk!! uhuk!," Febby tersedak.
Sementara Arin, gadis itu terlihat biasa-biasa saja. Hal ini sudah terlintas dalam benaknya, sebab Alex yang dingin itu telah hilang, berganti dengan Alex yang membosankan. Karisma lelaki ini seolah meluncur sempurna ke dasar bumi, ckckck sungguh tidak menarik lagi.
"Buk!buk!!," Arin menepuk punggung Febby"Kau harus membiasakan diri dengan pemandangan ini," ujarnya pada Febby.
"Ekhem!," Febby mengatur nafas,"Wahhhh, kau hebat Nari, bisa membuat Alex menjadi budaj cinta seperti ini," dia geleng-gelengkan kepala dengan acungan jempol kepada Nari.
Tapi Nari tidak ada rasa berdebar sama sekali karena perlakuan Alex. Dia justru cenderung takut jika tiba-tiba Alex datang dan mulai menempel kepadanya. Seperti saat ini, akh!! jujur saja....ini memuakkan!.
"Aku tidak ada niat untuk berpacaran, ku pikir akan lebih nyaman jika kita berteman saja. Seperti aku dan Aron," begitulah jawab Nari. Dan jawaban ini sudah berkali-kali Naria ucapkan kepada Alex.
Aron?? yah! saudara kembar Alex itu tak kalah gencarnya dalam mengejar cinta Nari.
Setelah jam sekolah usai Nari dapat bernafas lega, sebab akhirnya Alex menghilang dari hadapannya. Dia harus latihan basket bersama anggota club basket sekolah.
Seraya menarik napas lega, keluar dari kelas dan berjalan menghampiri mobil yang sudah menunggunya"Siang MR.Jae," ucap Nari pada pak supir.
"Heheheh," Mr.Jae tertawa canggung.
Gelagat ini terasa tidak nyaman bagi Nari, rasanya ada suatu hal buruk yang sedang terjadi. Gadis itu menatap Mr.Jae dengan alis terangkat naik, namun hanya sebelah saja.
__ADS_1
Sreett...., Nari menggeser pintu mobil. Dan terlihatlah sosok yang katanya akan latihan basket. Tapi..., seragam mereka berbeda. Oh!! ini Aron, bukan Alex.
Sontak jantung Nari di buat berdebar kencang, entah karena grogi bertemu Aron atau karena hal lain.
Pantas saja Mr.Jae tersenyum begitu, rupanya ada seorang lelaki yang sedang mendekati Nona mudanya, dan nampaknya Aron yang pandai mengambil hati ini berhasil membujuk Mr.Jae untuk menerimanya naik ke mobil itu.
"Hai, apa kau rindu padaku?," ucap Aron, sembari menarik lengan Nari, agar segera masuk ke dalam mobil. Hem... sebenarnya ini mobil siapa? tingkah Aron seperti ini mobil yang akan menjemputnya saja.
Menarik napas, mencoba meredakan detak jantung abnormal di dalam sana"Kita baru berjumpa kemarin, rindu yang seperti apa yang kau maksud, Aron."
"Yah..., rindu yang ituuuu" senyuman Aron rasanya lebih hangat ketimbang senyuman milik Alex, padahal wajah mereka sama saja.
Dan, Nari tersipu malu karena ucapan ambigu itu. Dua bersaudara ini gencar sekali menyerang pertahanan hati Nari. Setiap hari mencari-cari keberadaan Nari agar dapat menerobos masuk kedalam hati. Sayangnya, meski ada sedikit gelenyar aneh, Nari tak begitu luluh dan akhirnya takluk dalam pelukan Aron.
Kemarin, aron datang ke toko bunga dengan alasan membeli bunga. Duduk lumayan lama di kursi santai depan toko sambil nungguin Nari datang. Nyonya Sook sampai tak enak hati, melihat ada seorang anak lelaki yang mendekati anak gadisnya, sedangkan gadis nakal itu seolah tak peduli.
"Kau ini, jangan menggantung perasaan orang! tidak baik. Jika kau suka, katakan suka. Jika tidak, kau harus mengatakan kebenaran itu secara perlahan padanya," nasehat Nyonya Sook.
"Mama, aku sudah memberikan penolakan padanya, juga pada saudara kembarnya."
"Oho, jadi kau di sukai dua pria? dan mereka saudara kembar?," sedikit terkejut, Nyonya Sook tidak menyangka anak gadisnya bisa mengaduk hati lawan jenisnya.
Nari pun menceritakan si kembar yang mengejar cintanya, dan gelak tawa wanita paruh baya itu sungguh tak tertahankan"Hahahhaa, jadi kau benar-benar nenek sihir seperti yang di katakan Joen dan Jung. Dengan mantra apa kau membuat dua pria itu bertekuk lutut di hadapanmu?."
Nyonya Sook hanya tertawa, perasaannya bergejolak menyadari bahwa anak gadisnya sudah tumbuh semakin besar. Sudah ada cinta yang menyapa, akh! semoga hatinya tak akan pernah terluka karena cinta.
"Lantas, kau mau kemana? kenapa ada di dalam mobilku? apa kau akan ikut bersamaku pulang kerumah?," rentetan pertanyaan itu terlontar dari mulut Nari, menatap lekat wajah tirus Aron.
"Ah, tidak. Aku belum siap untuk bertemu dengan calon mertua," tukasnya sembari melirik pada Mr.Jae. Dan Mr.Jae hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan dua anak muda ini.
Nari memutar bola mata jengah. Ternyata sikap terlalu percaya diri itu juga di miliki oleh Aron.
"Nanti sore aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
"Tidak janji, ada PR yang harus di kumpulan besok."
"Apa kau ingin ku bantu mengerjakannya?."
Nari menggelengkan kepala"Tidak perlu, Aron."
Dia sudah sangat lelah menghadapi Alex sepanjang hari di sekolah. Dia juag sudah tak punya tenaga untuk menghadapi Aron yang lebih aktif dari pada Alex.
"Bagaimana dengan lusa?," pantang menyerah, Aron masih meminta waktu untuk bersama dengan Nari pada hari selanjutnya.
"Baiklah," dan akhirnya, Nari pun nyetujui janji temu itu, saat ini dia hanya ingin segera pulang.
__ADS_1
"Cantik, terimakasih atas waktunya. Jangan lupa lusa ya," ujar Aron sambil keluar dari mobil.
"Hemm," angguk Nari malas, kemudian melambaikan tangan kepadanya.
Akhirnya Nari bernafas lega.
Selagi Aron berjalan ke arah mobil yang menunggunya, para siswa berbisik-bisik menatapnya. Ini kali pertama Aron menyambangi sekolahan Alex, dan tak banyak yang tau jika Alex itu punya sodara kembar.
"Kak Alex, seragamnya....," tegur seorang anak lelaki menggantung.
"Kak Alex tidak latihan?, Tadi di tunggu sama anak-anak lain."
Tersenyum"Aku bukan Alex," sahut Aron.
"kamu temannya?," kini Aron balik bertanya.
Meski masih bingung, anak lelaki itu mengangguk.
"Aku titip salam pada Alex, tolong sampaikan ya," lagi-lagi Aron melempar senyum dan melambaikan tangan kepadanya, sembari masuk ke dalam mobil.
Kabar kedatangan Aron sampai ke telinga Alex.
"Sialan! dia sampai bertandang ke sekolah ini! dia pasti menemui Nari," gumamnya.
"Kak Alex kembar?."
"Iya," sahutnya sambil men-dribble bola basket.
"Wah, mirip sekali. Aku pikir itu benar-benar kak Alex," anak itu mulai menceritakan apa yang dia lihat.
"Aku juga baru tau, kenapa tidak cerita kalau kak Alex itu kembar."
"Buat apa ku ceritakan! itu bukan hal penting!."
"Lagian, dia ke sini pasti hanya ingin menemui Nari," lanjutnya dengan wajah masam.
"Seperti seperti itu, ku lihat dia keluar dari mobil Nari tadi. Dan Nari melambaikan tangan saat dia keluar dari mobilnya."
Akh! Alex semakin kesal. Dia melempar jauh bola basket dengan kasar.
"Sudahlah!! aku lelah. Kalian lanjutkan latihan, aku ingin istirahat, kepalaku pusing!," dengan egois dia meninggalkan anggota nya di lapangan.
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
__ADS_1