
Jung segera melepas blazer yang dia kenakan. Menyampirkannya di bahu kecil Ghina hingga tertutuplah punggungnya yang semula terekspos.
"Haish! bercandamu kelewatan, Joen!," sentaknya.
Ghina berontak, dirinya merasakan gelenyar aneh saat Jung mendekapnya usai menggantungkan blazer itu di tubuhnya.
"Nggak sengaja, onta!," desis Joen kesal. Karena teriakan Jung, membuat dirinya di tatap aneh oleh mahasiswa yang ada di situ. Yah, berbeda dengan Jung yang di kenal ramah, lembut, baik hati dan tidak sombong, Joen di kenal irit bicara dan dingin.
Begitulah, meski bersaudara tapi watak mereka berbeda. Jika Jung banyak kenalan, karena ramah, berbeda dengan Joen yang terlihat hampir tak punya teman, di kampus itu. Hari ini, jika bukan karena ajakan Mark, si pria berkacamata yang menyenggol Ghina, Joen pasti masih berada di perpustakaan saat Ghina datang membawa roti. Hanya satu kesamaan yang ada pada dua Tuan muda itu, tampan!.
Merasa di permalukan, Ghina segera pergi dari tempat itu setelah memberikan roti pesanan Jung. Kaki kecilnya melangkah begitu cepat, bahkan saat Jung hendak memberikan upah, Ghina tak sekedar menoleh kepadanya. Membuat hati Jung menjadi resah, juga hati Joen.
Terseok-seok, Ghina melangkah ke parkiran dengan blazer di pundak yang kebesaran. Gadis itu di tertawakan para wanita, yang menyimpan iri dan dengki karena kedekatannya dengan para Tuan muda.
"Lihat tuh si boncel, heran deh PD banget ke sini pake baju SMA. Tau sih dia kenalan pak Jung sama Joen, tapi nggak harus pamer seragam sekolah murahan juga kan."
"Dia ke sini cuman nganterin makan siang mereka kali," tukas lawan bicaranya.
"Ups! aku hampir lupa. Dia kan anak babu di rumah pak Jung sama Joen," terdengarlah gelak tawa para wanita. Membuat Ghina mendengus kesal, jika saja bukan karena uang, nggak sudi juga dirinya hampir setiap hari bolak-balik ke tempat ini hanya demi melayani isi perut dua lelaki jahil itu.
Menyalakan motor bututnya, Ghina akhirnya meninggalkan tempat itu dengan hati yang mendongkol"Sabar Ghina, demi gendutin rekening!!," gumamnya menahan diri agar tak mencakar wajah para wanita dengki itu.
Di perjalanan, Ghina bertemu kembali dengan paman penjual bubur kacang ijo. Emang lagi rejekinya Ghina, akhirnya gadis itu dapat menikmati bubur kesukannya tanpa gangguan si jahil Joen dan Jung.
Sembari menikmati si bubur kacang di halte bus, Ghina memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Kembali ke rumah dan beristirahat, atau datang ke kediaman Charlotte dan membantu pekerjaan ibunya. Tapi....rasa lelahnya belum hilang dengan sempurna, mengingat hari sudah mulai sore pasti sebentar lagi Joen dan Jung akan kembali ke rumah mereka.
"Bu, boleh nggak hari ini Ghina nggak bantuin ibu kerja, Ghina cape."
"Kenapa sayang? kamu sakit?," terdengar nada khawatir bibi Mae di ujung telepon.
"Enggak sakit kok, Ghina capek aja," ujarnya lirih.
__ADS_1
Naluri seorang ibu, memang nggak bisa di bohongi. Bibi Mae lantas menanyakan perihal dua Tuan muda itu kepada Ghina.
"Bubur kacang ijo ku di ambil Tuan Joen," seperti anak kecil, Ghina mengadukan perilaku Joen kepada ibunya. Seketika senyum nan lebar mengembang di wajah bibi Mae.
"Oh, di jahilin lagi ya. Ya sudah, Ghina istirahat di rumah aja. Nanti kalo ada yang nanyain, ibu bilang kamunya lagi sakit."
"Nggak sakit ibu! Ghina nggak sakit?," seru Ghina.
"Beneran? maksud ibu bukan tubuh kamu lho, tapi hati kamu?."
"Hem... benar juga si ibu. Iya deh, bilangin aja Ghina lagi sakit. kalo perlu bilangin sama Nyonya Sook juga, biar di geplak mereka berdua itu," cerocosnya dengan nada kesal.
Terdengar tawa sang ibu yang begitu renyah di ujung telepon. Membuat Ghina akhirnya juga ikut tertawa.
Usai menghubungi sang ibu, Ghina pulang kerumah, meski kecil namun terasa hangat dan nyaman. Saat ini, dirinya sangat rindu dengan kasur lusuhnya, ingin rasanya segera meloncat dengan indah ke kasur itu. Namun, harapan hanya tinggal harapan, seorang pria tengah menunggu kedatangannya di depan rumah.
"Adam," ujarnya, jengah.
"Hem," sahut Ghina begitu malas.
"Kok nggak semangat, aku udah lama nungguin kamu," bernada protes, Adam memegang jemari Ghina. Namun dengan segera di tepis oleh sang empu jemari.
"Ghina...," kembali lembut, Adam mencoba mengambil hati Ghina kembali. Akhir-akhir ini Ghina begitu lelah menghadapi Adam, rasa cinta di hati perlahan memudar, hingga akhirnya tawar.
"Cepat katakan, apa tujuanmu datang ke sini?," tak ingin berbasa-basi, Ghina meminta Adam langsung mengutarakan kehendak hati.
"Mau ngajakin kamu kemping, sama teman-teman kita yang lain."
Menarik napas demi menetralkan emosi, ajakan Adam membuat Ghina semakin lelah dengan pria ini. Bukan rahasia lagi, bahwa Ghina selalu sibuk dengan pekerjaan sampingan nya, kalo nggak bantuin sang ibu, ya jadi orang suruhan para Nona dan Tuan muda majikannya. Sudah berulang kali ajakan seperti ini di tawarkan Adam, dan berulang kali pula Ghina menolaknya. Di otak Ghina cuman ada uang dan uang, kalo nggak menghasilkan uang Ghina nggak akan sudi mengikuti kegiatan tak berguna itu.
"Adam..."
__ADS_1
"Please!! sekali ini aja, kita pacaran udah lama. Selama ini, kita cuman pernah kencan dalam hitungan jari," Adam memamerkan tiga jarinya ke hadapan Ghina.
"Tiga kali, cuman tiga kali malam minggu kita kencan. Itu pun jam 9 malam kamunya sudah harus pulang."
"Penting banget ya, kencan?," tanya Ghina sarkas.
Adam menatap Ghina dalam-dalam"Sebenarnya hubungan kita berarti nggak sih buat kamu?."
"Berarti dong, tapi nggak harus kencan terus kan? aku selalu sibuk, Adam. Aku tuh kerja, aku orang susah yang harus bisa cari uang tambahan. Nggak kaya kamu yang banyak uang, dan serba berkecukupan," tandasnya dengan luapan emosi.
"Oh, jadi kamu maunya hubungan kita sekedar status doang? nggak ada kencan dan pertemuan romantis?."
"Pertemuan romantis?," kening Ghina di buat berkerut.
Pelan, Adam meraih jemari Ghina. Di beranda kecil itu Adam memberanikan diri mendekati wajah cantik Ghina. Tak terbiasa dengan hal itu, Ghina spontan mundur, melepas genggaman tangan Adam dengan paksa.
"Ghina, aku bahkan belum pernah menciummu."
Gadis itu menatap Adam tajam"Jadi itu maksud kamu pertemuan romantis?."
"Ghina, aku menyukaimu!," ujarnya penuh penekanan.
"Dengan menciumku?."
"Kita sepasang kekasih? wajar kan kalo cuman sekedar ciuman!."
Entahlah, sejauh ini Ghina nggak pernah terpikir untuk melakukan ciuman itu berdama Adam. Dari awal hubungan mereka, Ghina menegaskan hubungan mereka hanya sekedar saling suka dan saling menjaga. Jika untuk hal seperti berciuman...rasanya nggak perlu deh.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1