
Jung menghempaskan tubuh di sofa kamar. Memejamkan kedua matanya yang tak ingin larut kedalam tidur. Hela napasnya pun terdengar berat"Akh, beginikah derita cinta?," pikir Jung mengacak rambut frustasi.
Pria itu memegangi dada, merasakan sesak yang luar biasa"Oh lord! kenapa bayangan gadis itu terus mengusik hatiku!. Ayolah, berhenti merindukan si ulat bulu!," bukan hanya berbicara sendiri, Jung juga nampak menghentak-hentakan kepalanya di bahu sofa.
Sementara di kediamannya, sejatinya kedua mata Andrea pun tak jua terpejam, meski sang malam terus saja merangkak naik. Pikiran gadis itu terus berkelana, menerawang akan kebodohan di masa lalu, mencinta dengan tanpa menerima sebuah penolakan.
Sempat merasa di tinggalkan karena cinta yang tidak jua bertuan, setidaknya kehadiran Ghina, juga Nari, sedikit mengusir rasa sepi di dalam relung hati.
"Cinta, ternyata selama ini aku hidup di dalam angan yang tak kunjung menjadi nyata," gadis itu bergumam, sembari melepas pandangan ke luar jendela, kegelapan di luar sana tak ada bedanya dengan sang cinta yang tak lagi merona merah. Perasaan cinta yang di harapkan manis, berwarna merah muda seperti gulali, namun kenyataannya yang di hadapi adalah sebuah warna kelam yang menyimpan pahitnya sebuah penolakan, bahkan berkali-kali.
Membawa diri ke tempat tidur, kini wajah cantik itu terbenam pada bantal berbentuk hati, lantas dirinya memandang benda tipis yang selalu dia bawa kemana-mana.
"Aku sudah kecewa, tapi aku tak kuasa membuang fotomu," ujarnya seolah sedang berbincang bersama Jung, lelaki yang sedang tersenyum di dalam foto itu. Ah! melihat senyuman itu saja membuat sang hati kecil di dalam sana jumpalitan.
Katakan saja, dirinya telah berujar akan berhenti mengejar cinta seorang Jung, tapi...bicara saja memang terasa sangat mudah, alih-alih di lakukan. Sungguh, di balik keyakinan untuk melupakan pria idamannya itu, Andrea terus merasakan rindu yang selalu menggebu.
Dan usai memandangi foto itu, dirinya berpindah pada laman aplikasi gelembung berwarna hijau. Di sana, Andrea melihat pembaharuan status yang di lakukan Jung.
"Aku terlambat dan seluruh dunia membenciku," tulis Jung.
Sontak saja, mulut gadis itu berucap"Maaf."
Gejolak di dalam dada semakin menjadi, menderu bak ombak di tengah lautan. Andrea segera mengunci layar ponsel, sebelum dirinya hilang kendali dan langsung menelpon Jung.
Bersedekap, haruskah dia menyerah dan berbalik mengejar Jung lagi? pikiran itu tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
Namun dengan cepat cepat menggeleng"Tidak akan!," desisinya kembali membuka kunci pada layar gawai. Jemari gadis itu menarik di atas layar, mengetikan beberapa kata kemudian juga memperbaharui status nya"Hari itu telah berakhir, sejati kesempatan tidak datang dua kali," isi dari status terbaru Andrea pada aplikasi gelembung hijau.
Meletakan sang gawai di atas nakas, sembari merapatkan selimut yang telah membungkus tubuhnya. Pandangan gadis itu tersita pada jam dinding, ternyata waktu telah menunjukan pukul 12 malam.
Segera meniti jembatan menuju alam bawah sadar, perlahan Andrea pun tertidur. Tubuhnya harus segera beristirahat, besok ada jadwal kuliah pagi dan dia perlu tenaga ekstra agar, bisa bersikap kuat di hadapan Jung.
...❣❣❣❣...
Ghina mengawali hari yang dingin dengan secangkir kopi. Duduk di balkon kamar sambil menikmati suasana pagi.
__ADS_1
Ujung matanya melirik Joen, yang masih tertidur pulas di peraduan mereka. Perlahan, senyuman wanita itu menukik naik, ketika menatap wajah sang suami dari balik kaca"Apakah aku serakah? kenapa tidak bosan-bosannya memandang wajah pria ini," gumam sang hati.
Perlahan, kaki Kecilnya mendekati Joen. Meletakan kopi di meja nakas dan duduk di lantai, sambil memandangi wajah tampan itu lebih dekat.
Jika di pandang-pandang, Joen yang usil terlihat menggemaskan saat tidur seperti sekarang ini. Membuat Ghina begitu ingin mencubit batang hidungnya. Oho! bukan hanya sangat ingin, Ghina bahkan tengah memasang ancang-ancang untuk memegang hidung mancung sang suami.
"Ng!!," seketika, sepasang mata pria itu terbuka. Membuat Ghina terkejut dan langsung mengambil langkah mundur.
"Heishh!! tidak bisakah kau bangun secara perlahan?? kau hampir membuat jantungku terjatuh dari pohonnya."
"Ghina oh Ghina, aku baru tahu jika jantungmu ada pohonnya. Itu jantung manusia apa jantung pisang??," suara serak khas orang bangun tidur, menambahkan nilai menggemaskan seorang Joen di mata Ghina.
Wanita berperawakan kecil itu menggigit bibir, sepertinya dia telah salah bicara"Ah, aku sangat terkejut, sampai salah bicara."
"Hehehe, kau lucu," ujar Joen mengambil duduk, menarap Ghina sekejap kemudian menatap kopi di atas nakas"Aroma kopimu sangat mengusik indra penciuman ku sayang, karena itulah aku segera bangun."
"Kamu mau? aku akan segera membawakan kopi jika kau mau."
Joen menggeleng, membuat Ghina urung melangkah keluar kamar"Aku maunya kamu, sini!," Joen merentangkan kedua tangannya, membuka pelukan yang siap menerima tubuh mungil Ghina.
Sikap sang istri membuat Joen menyerngitkan kening, raut wajahnya berubah masam saat Ghina menutup hidungnya"Ayolah sayang, kau jangan meledekku!."
"Aku tidak meledekmu Tuan Joen, tapi sadar dirilah, kau bahkan belum mandi tapi memintaku masuk ke dalam pelukanmu," seuntai senyuman manis, menambah kecantikan alami istri kecilnya.
"Kau ini! katakan, apa kau sendiri sudah mandi? jika kau sudah mandi, bukankah seharusnya kau memakai seragam sekolah, bukan dress pendek yang terlihat kebesaran saat kau memakainya," sungguh, Ghina merasa bingung untuk tertawa atau memberengut. Ucapan Joen terasa lucu namun tidak saat dia menyinggung perihal tinggi badannya.
Melipat kedua tangan di dada"Dasar suami jahat! kau menghina istrimu sendiri."
Joen tersenyum simpul, dengan wajah yang di buat-buat iba. Ah! Ghina jadi kesal, dan ingin mencubit perut suaminya.
Joen sudah dapat menebak, dirinya segera mengambil langkah lebar, beranjak dari tempat tidur demi menyelamatkan diri.
Meski kecil, Ghina tidak menyerah begitu saja untuk memberikan pelajaran kepada suami usilnya. Dia terus mengejar Joen, dan terjadilah peristiwa kejar-kejaran di pagi yang dingin itu. Tentu di iringi gelak tawa dan renyah mereka.
"Cih!! apa Romeo dan Juliet itu lupa! ada manusia lain di muka bumi ini??," mengusap kedua matanya, Jung yang baru tidur beberapa jam merasa sangat kesal. Kegundahan sang hati memangkas waktu tidurnya tadi malam. Kedua mata nya begitu enggan untuk terpejam, dengan otak yang selalu tertuju kepada Andrea. Alhasil, ketika subuh menjelang barulah kedua mata lelah itu menyerah dalam lelap.
__ADS_1
"Ahhhammmm," terdengar menguap, tubuhnya kembali berbaring seraya mamasang headset di kedua telinga. Namun, tiba tiba pria itu mengambil duduk kembali.
"Ash!!, apa gunanya wajah tampan ku sekarang! jika menarik perhatian si ulat bulu saja aku tidak bisa?," ternyata, si gundah-gulana datang kembali, mengusir ketenangan yang baru saja dia dapatkan beberapa jam yang lalu saat tertidur.
Sungguh, derita karena cinta ini bukan main-main sakitnya. Dirinya yang bukan seorang pekerja keras, merasakan seluruh tubuhnya ngilu dan linu, seperti seorang kuli panggul yang bekera keras di tengah pasar. Meranjak dari tempat tidur, terseok-seok Jung keluar dari kamar dan perlahan menuruni anak tangga, menuju dapur.
"Omoo ??," bibi An terkaget. Nyaris saja wajan yang di pegang wanita tua itu melayang ke udara.
Bagaimana tidak, dengan rambut acak-acakan, Jung yang biasanya rapih dan kece, menampakan wajah super duper berantakan pagi ini.
"Tuan?," bibi An mencoba memastikan kesadaran Jung. Mengingat ini masih sangat pagi, matahari pun baru mengintip sedikit pada bumi.
Pria tinggi itu tersenyum masam pada bibi An, membuka kulkas dan "Glek glek glek!!," Jung menenggak air dingin.
"Wooaahh!!," Jung terkekik, seluruh tubuhnya semakin terasa dingin sebab meminum air dari dalam kulkas itu"Buset!!! dingin sekali bi!!."
"Jelas saja dingin Tuan, siapa yang menyuruh Tuan meminum air dingin pagi-pagi seperti ini?!," bibi An tertawa dengan tingkah aneh Jung.
Jung menghela napas sejenak, menatap ubin dengan pandangan kosong"Iya juga ya bi, bikinkan saya kopi ya."
"Siap Tuan !!". Dengan sigap bibi An langsung membuatkan kopi untuk Jung.
Matahari mulai menampakan wajahnya, Jung duduk berjemur di taman bunga.
"Bodoh! seandainya waktu bisa di putar," gumamnya merutuki diri sendiri. Kepalanya berdenyut, malah ini sangat mengurak otak kecilnya, memikirkan cara untuk meluluhkan hati Andrea, juga menyesali sikap dinginnya pada gadis itu di masa lalu.banget tuh otak.
Pria itu memeganginya dada"Duhai hati, kenapa kau terasa sangat hampa."
"Cinta dan rasa sakit itu hal biasa bang, bangkit dong! kejar balik Andreanya!," Nari muncul dengan segelas kopi di tangan nya.
Ekor mata Jung menatap sinis kepada Nari"Ingus kamu di lap dulu, bocah kemarin berlagak mengajari orang dewasa."
"Duileeehhh!! di kasih nasehat malah songong, huh! syukurlah Andrea meninggalkan mu! dosen edan!!," Nari menyesal membawakan kopi itu kepada Jung, sebab sang abang membalas kebaikannya dengan perkataan yang pedas.
~~♡♡Happy reading, jangan lupa like Vote Fav dan komen ya teman.
__ADS_1