Storge

Storge
Si gadis nano-nano.


__ADS_3

"Beliin seblak, cabe 15 biji."


Ghina menatap pesan yang di kirimkan Jung sembari bergidik, ngeri. Masih terbayang bagaimana menderita dirinya di suguhi hidangan merah merona itu. Jika bukan karena rupiah, Ghina tidak akan sudi menguras keringatnya demi menghabiskan makanan super duper pedas. Dan... penyesalan pun selalu datang di akhir cerita, untuk beberapa hari kedepan lidah Ghina terasa perih, hingga dirinya sulit untuk berbicara. Lantas, bagaimana sikap Jung saat mengetahui hal itu?? jelas saja pria itu merasa bersalah. Demi menebus rasa bersalahnya, Jung memborong begitu banyak es krim untuk Ghina.


Saat itu Ghina sungguh bersyukur, para Tuan muda memanglah kejam, namun mereka tak diam saja jika dirinya terlampau tersiksa. Senangkah Ghina mendapatkan segunung es krim karena ulah jahil sang anak majikan?? tentu tidak! Ghina benar-benar di buat jera dengan makanan super duper pedas. Karena hal itulah, Ghina menawat bilangan cabe dalam makanan yang di pesan Jung.


"Kaga! aku lagi pengen makan yang pedas, superrrrr pedas," daripada membalas pesan di aplikasi gelembung hijau, Jung langsung melakukan panggilan video kepada gadis itu.


"Please! pesan makanan yang normal aja Tuan. Tuan yakin bisa menghabiskan seblak dengan cabe 15 biji itu?."


"Yakin," sahut Jung cepat-cepat.


Ghina duduk sejenak di parkiran, berniat menutup panggilan dan menarik motornya keluar dari area sekolah"Gak usah, seblak level biasa aja ya."


"Ck! yang mau seblaknya kamu apa saya? hah?."


Membuang napas panjang"Begini Tuan, menilik dari kejadian yang sudah-sudah, Tuan pasti akan menyuguhkan seblak setan itu kepada saya. Nah! demi menghindari hal itu, alangkah baiknya jika Tuan tidak meminta si cabe 15 biji. Ghina jamin, pasti seblaknya kaga bakal habis."


"Kalo nggak habis kan, ada kamu."


"Nah!!," sambar Ghina"Benar kan dugaan saya, demi kesejahteraan hidup saja, please!!! Tuan pesan seblak pedas normal aja ya," gadis itu memohon penuh harap kepada Jung.


"Saya bayar kok."


"Ini bukan hanya perkaya uang Tuan, ini masalah kelangsungan hidup saya. Amit-amit jabang kebo saya jadi bisu gegara seblak cabe 15 biji, kalo hidung saya keluar asap gimana? otak saya kebakar gimana? mati muda dong saya!."


Seolah tak perduli dengan ocehan Ghina"Ck! aku lagi pengen yang pedas-pedas Ghina, kamu kok bawel sih."


"Ah, terserah. Habis ini saya harus beliin roti dari kedai Arin untuk Tuan Joen. Kalo Tuan ngotot pengen seblak setan, mending cari sendiri aja. Oke? bye!!!," Ghina menutup sepihak panggilan video Jung. Membuat pria itu berteriak kesal di seberang panggilan.


"Ash!! sombong sekali si cebol itu. Awas aja, aku bikin kesel setengah mati nanti," gerutu Jung menyandarkan diri dengan kasar di kursi, ruangannya yang adem mendadak terasa gerah.


Sementara si kecil Ghina, dengan senyuman pak satpam sedang menantinya di depan pos.


"Neng, cek rekening ya. Uang buat bayar utang sudah saya lunasi. Makasih bantuannya ya."


"Oke pak satpam, btw....sama bunganya nggak?."


Pertanyaan itu membuat pak satpam cemberut"Serius pake bunga neng?."


Ghina tersenyum lebar, membuat kedua matanya menyipit bak bulan sabit"Canda doang, uwwww kaget banget ya!!."


"Huh, dasar neng Ghina ini. Bikin jantung saya deg-degan deh."


"Hahaha, jangan-jangan pak satpam jatuh cinta nih sama saya, sampe deg-degan ketemu saya."

__ADS_1


Si satpam tertawa renyah"Hahaha, jangan gila deh neng, takut nggak ada obatnya."


Gelak tawa mereka pecah bersamaan. Kelakar receh seperti itu kerap terjadi di antara mereka.


"Sekali lagi, makasih banyak-banyak ya neng," seru pak satpam usai membantu Ghina mengengkol motor tuanya.


"Sama-sama pak, Ghina balik ya," sahutnya yang di angguki pak satpam.


Dengan riang gadis itu mulai meninggalkan area sekolah, perlahan mengendarai motor tuanya menuju kedai Arin, kedai roti terkenal milik keluar sahabat Nari. Di tempat itulah keluarga Charlotte kerap memesan roti-rotian, dan sebagai pekerja paruh waktu di kediaman Charlotte, dirinya memang sering ke tempat itu.


Kehadiran Ghina di sambut pelayan pria bernama Fay. Meski hanya seorang pelayan, nyatanya Fay adalah putra dari keluarga kaya raya yang sedang iseng ingin bekerja. Sebuah alasan yang sangat menggelikan bukan, sangat berbeda dengan Ghina yang memang bekerja demi menabung untuk biaya kuliahnya kelak.


"Duhai neng Ghina yang manis, mau ambil pesanan ya," ujar Fay tersenyum ramah pada Ghina.


"Yoi Tuan pelayan."


Fay bergegas mendekati Ghina, kemudian berbisik"Jangan panggil aku Tuan, risih tau!."


"Itu kenyataan, udah terima aja."


"Ayolah Ghina, aku sedang menikmati kehidupan sederhana ku, biarkan aku bahagia dengan status pelayan ini."


"Emang ada ya, pelayan kedai roti mondar-mandir pake mobil mahal? gak usah yang mahal deh, pelayan kedai roti yang naik mobil saban hari aja, ada nggak?."


Fay mengerucutkan bibir mendengar ocehan Ghina.


"Ck, sekali bawel tetap aja bawel. Aku ambilin pesanan kamu dulu deh. Stop mengocehnya, dan tunggu di sini aja, ntar kalo ketemu papanya Arin bakal lama kamu di sininya," secepatnya Fay masuk ke area dapur. Mengambil roti yang masih hangat dan segera mengemasnya.


Ghina tersenyum, memperhatikan Fay yang dengan sigap menyiapkan roti pesanannya.


"Eh anak orang kaya, kamu kan punya banyak uang, bisa dong buka kedai roti kaya gini. Kamu tinggal duduk cakep di belakang kasir."


"Diem!," sambar Fay.


"Hilih, heran deh. Jadi orang kok maunya hidup sederhana, nggak bersyukur banget lahir dengan sendok emas," nyinyir Ghina.


"Justru karena itu, aku bersyukur terlahir serba berkecukupan. Dan kenapa aku lebih memilih menjadi pelayan, karena aku menyukai sebuah proses. Dari menguleni tepung menjadi adonan, membakar adonan hingga menjadi roti yang harum, juga saat menghadirkannya kepada para pelanggan. Hal seperti itu membuat hatiku hangat."


"Jelas hangat dong, tiap hari kan kerjaan kamu bantuin papanya Arin bakar roti."


"Aku telponin Joen ya, biar dia tau kamu ke sininya cuman ngajakin aku ngobrol."


"Ya elaaahhh, gitu amat sih Fay," Ghina mengambil dompet kecilnya dari dalam tas"Nih! aku langsung bayar. Langsung mau minggat juga. Ugh! dasar orang kaya nyebelin!," gerutunya segera menyambar roti pesanan.


Fay terkekeh geli, gadis bawel itu sempat cemberut saat dirinya mengancam akan menelepon Joen. Namun langkahnya kembali riang saat keluar dari kedai. Dia bahkan melompati genangan air di tepi trotoar sembari tertawa.

__ADS_1


"Ckckckkc, kamu tu memang gadis nano-nano. Kadang manis, kadang asam, kadang asin," gumam Fay tertawa melihat tingkah Ghina di luar sana.


Di tengah perjalanan menuju kampus, sang gawai di dalam saku jaket yang dia kenakan kembali berdering.


"Ck! pasti Tuan Jung," desis Ghina menepikan motornya.


Dan benar saja, sang penelepon memang si Tuan muda pertama.


"Hemmmmmm," gumam Ghina, alih-alih bertanya apa keperluan Jung kembali menelponnya.


"Mau roti dari kedai Arin aja."


Oh lord!!! permintaan Jung membuat hidung Ghina kembang kempis. Dirinya sudah separuh jalan, dan si Tuan muda menginginkan roti dari kedai yang tadi dia kunjungi.


"Yang lain boleh nggak Tuan," lagi-lagi si anak koki tawar-menawar.


"Ghina, kamu kenapa sih hari ini bawel banget. Aku mau seblak kamunya nggak mau, sekarang aku mau roti kamu juga nggak mau, sekarang kamu udah nggak butuh uang ya??," cecar Jung begitu kesal. Dosen yang di kenal ramah dan lembut itu mati-matian menahan emosi. Sekarang dia sedang berada di taman kampus, demi imej baiknya, Jung menahan diri agar kata-kata mutiaranya tidak keluar mengumpat Ghina.


"Saya sudah membeli pesanan Tuan Joen, saya sudah setengah perjalanan menuju kampus. Masalah seblak, saya bukan nggak mau Tuan, hanya saja alangkah baiknya jika seblak itu nggak pedas-pedas amat. Demi kesehatan Tuan juga," kesabaran Ghina selalu di uji baik siang maupun malam. Tingkah para anak majikan sungguh membuatnya hampir gila. Mereka membiarkan Ghina tenang hanya saat sekolah dan kembali ke rumah. Terlepas dari waktu-waktu itu selalu ada kesibukan karena ulah dari mereka.


"Mau roti melon. Yang hangat ya. Aku bayar 3x lipat," kali ini Jung yang memutus panggilan. Membuat Ghina berwajah masam karena kesal.


"Agghhhhh! aku bahkan masih memakai seragam sekolah, dan kalian sudah membuatku sangat sibuk," teriaknya di tepi jalan. Tingkahnya menarik perhatian orang lalu-lalang. Namun, dari pada memikirkan hal itu, Ghina lebih memikirkan bagaimana caranya mengabulkan keinginan para pemuda merepotkan itu.


Ponsel tua nya kembali berdering, kali ini dari Joen.


"Lama amat! kedai Arin pindah ke luar negeri ya??!."


Ucapan Joen menambah tekanan pada diri Ghina.


"Tuan, rotinya sudah sama saya. Ini sudah setengah perjalanan menuju kampus. Tapi...."


"Tapi apa! cepat ke sini. Nanti rotinya keburu dingin. Kaga enak dong cebol."


Ghina semakin di buat kebingungan"Masalahnya, Tuan Jung juga mau roti kedai Arin. Boleh nggak Tuan tunggu saya sebentar lagi, saya balik ke kedai dulu. Saya janji nggak akan lama, bakal tancap gas kok Tuan."


"Kalo gitu roti punya ku nggak hangat lagi dong!."


Ghina terdiam. Otaknya sedang bekerja untuk mencari solusi dari masalahnya.


"Saya beli roti yang baru saja ya."


"Nggak mau! aku maunya roti yang pertama itu, tapi dalam keadaan hangat saat sampai ke tanganku."


"Ya Tuhaaaannn, jangan bikin aku gila dong!!!," teriak Ghina begitu geram. Sementara Joen tersenyum senang di seberang telepon.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2