
Kicau sang burung membangunkan Ghina dari tidur lelap nya. Sepasang mata indah tersentak kaget mendapati sosok Joen sedang tertidur pulas di hadapan nya"Aaa....., ini nyata," gadis bertubuh mini itu mengumpulkan kesadaran. Perlahan Ghina mengambil duduk, kemudian diam sejenak untuk mengumpulkan jiwa yang masih berada di alam bawah sadar.
Gerak-gerik Ghina membuat Joen juga terbangun"Syukurlah! ini bukan mimpi," ucap hati nya senang.
Kedua mata sipit itu mengerjap, ujung matanya melirik Ghina yang masih melamun di tepi tempat tidur.
"Sruk-sruk!," sebuah tarikan pada ujung piyama mengejut kan Gadis itu.
"Selamat pagi Nyonya Joen Charllote," sapa Joen tersenyum. Hah! sebuah mimik wajah yang sangat jarang Ghina jumpai, dirinya terbiasa mendapat tatapan meledek dari seseorang Joen. Tiba-tiba di sapa dengan sebutan istri, juga senyuman yang manis, oh Tuhan!!! apakah ini benar-benar Joen yang sering membuatnya hampir gila??
Ghina menenggelamkan diri ke dalam selimut yang di tarik nya kembali dari Joen, kemana Ghina yang lugas? yang akan langsung menyambar jika Joen berbuat usil kepadanya? apakah dengan kelembutan barusan, hati kecilnya seketika menciut??
"Ghina.....," Joen menarik selimut yang menutupi tubuh mungil istri nya.
"Kenapa sih! aku tidak menjamin keselamatan kepalamu, jika berani menyentuku!," sergah Ghina.
Joen mengangkat kedua tangannya ke udara"Hahaha, galak amat sih! aku cuman mau ngingetin, ini kan hari senin? kamu nggak sekolah? kok mau tidur lagi? apa kamu keenakan tidur bareng aku?," kerlingan nakal Joen membuat Ghina kesulitan menelan air ludah, sekali usil tetap saja usil.
Ghina segera beranjak dari tempat tidur, memeriksa keadaan seragamnya yang telah menghilang dari tempatnya"Kemana seragamku?? ash! mataharinya kenapa terang banget? ini sudah jam berapa sih?," celotehnya masih sibuk mencari keberadaan seragam sekolahnya.
Joen melirik jam weker di atas nakas"Baru juga jam 7."
Sontak kedu bola mata Ghina membulat"Hah??? jam 7??? upacara bendera pasti sudah di mulai," lirihnya dengan tubuh merosot ke lantai.
Joen tertawa, terbahak-bahak"Hahahah, kaget banget ya? ini hari minggu Ghina, lagian, seingatku tadi malam Mamah bilang sudah minta izin sama kepala sekolah, kamu hari ini libur dulu sekolahnya."
"Kamu ngerjain aku terus!! lagian Nyonya udah minta Izin? dengan alasan apa?," Ghina menoleh Joen yang juga beranjak dari tempat tidur.
Pria itu masuk ke kamar mandi, membasuh mukanya dan keluar lagi dengan handuk di pundak"Kamu kayak nggak tau Mamah aja, dia kan wanita jujur sejagat halu."
Sumpah! emosi Ghina di buat turun naik di pagi buta. Enggak anak-anak nya, enggak emaknya, keluarga ini jago sekali membuat Ghina kelabakan"Tuan, jangan bilang Nyonya mengatakan kemarin kita menikah?," cicit Ghina dengan jantung berdebar.
Jone duduk dengan santainya di sofa, bersandar dengan santainya sambil membuka akun media sosial"Iya dong, memangnya Mamah harus bilang apa lagi? kemarin kan kita memang menikah. Jadi Mamah minta izin sama kepala sekolah kamu, buat cuti sekolah selama 3 hari, hitung-hitung liburan bulan madu kita."
Kemudian Joen memperlihatkan foto yang baru saja dia upload di akun media sosailnya"Nih, foto pernikahan kita sudah tertampang di akun media sosial aku, akun kamu sudah aku tag kok," tertawa lebar, merasa bangga dengan apa yang telah dia lalukan.
"Menikah," lirih Ghina tak berdaya.
"Minta izin buat bulan madu," ucapnya lagi.
"Ya Tuhaaaannnnnnnnn!!!," terikan Ghina tidak bisa di tahan lagi.
Joen langsung berdiri, mendekati Ghina yang menggila di atas lantai"Woi...woiii, jangan gila!!."
"Haish!!," sentak Ghina tiba-tiba duduk dan mendorong tubuh Joen agar menjauh darinya. Membuat Pria itu terduduk di lantai, dan meringis kesakitan.
"Gimana nggak gila!! mana ada orang minta izin libur sekolah buat bulan madu?? Nyonya Sook ada-ada aja nih," serunya hampir menangis.
"Tenang~~~," bisik Joen perlahan mendekati Ghina.
"Diam deh! bisa-bisanya Nyonya cerita tentang pernikahan kita ke ibu kepala sekolah! katanya pernikahan kita akan di rahasiakan dulu, setidaknya sampai aku lulus sekolah!."
"Mamah cuman cerita sama ibu kepala sekolah," ujar Joen coba menenangkan.
"Ya sama aja!," seru Ghina mengusap air mata dengan punggung tangannya. Gadis itu kesal setengah mati, Nyonya Sook memang polos, tapi kenapa polosnya kebablasan kayak gini.
Joen segera memeluk Ghina, melihat Ghina menangis beneran bikin hatinya sedih juga, dia memang suka membuat Ghina kesal, tapi nggak sampe nangis juga!.
"Kemarin, banyak reporter di acara pernikahan kita, katanya acara pernikahan kecil-kecilan, tapi kok ada wartawan. Kita di foto berkali-kali, aku yakin berita pernikahan kita pasti sudah tersebar keseluruh pelosok negeri ini," keluhnya kepada Joen.
"Maaf Ghina, mungkin Mamah terlalu bahagia mendapat menantu seperti dirimu. Hingga dirinya lupa daratan saat merayakan acara pernikahan kita."
Memikirkan hal itu, emosi di hati Ghina perlahan mereda. Yah! mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi, nggak ada untungnya juga menyalahkan Nyonya Sook yang menyebarkan pernikahan dirinya dan Joen. Ghina tipe manusia yang nggak mau pusing, dirinya hanya bisa berdamai dengan keadaan, dan menjalani hidupnya dengan lebih baik lagi.
Ghina mendorong tubuh Joen, bangkit dari lantai yang dingin dan melangkah menuju kamar mandi.
"Mau ngapain?," tanya Joen mengikuti pergerakannya.
__ADS_1
"Mau mandi."
"Aku nggak di ajak?."
"Dih! ogah," ujar Ghina menutup pintu kamar mandi dan menguncinya.
"Ghina.... ikut dong!," seru Joen menggedor pintu kamar mandi.
Di dalam sana, rasa kesal yang membuat air matanya jatuh berderai telah hilang begitu saja. Dasar gadis nanoo! sekarang Ghina justru sedang menahan tawa, tingkah Joen sangat menggelikan.
...π³π³π³π³...
Di kediaman Wiliam...
Seorang Andrea masih berguling-guling di tempat tidur, menunggu kabar dari pria idaman yang membuat hatinya selalu berbunga-bunga. Sayang, dalam hubungan percintaan ini, hanya Andrea yang terus mencurahkan cinta kepada Jung, sedangkan pria itu justru melakukan hal sebaliknya kepada Andrea. Tapi tak mengapa! itu bukan hal buruk bagi Andrea, keyakinan bahwa Jung adalah jodohnya tak membuat dirinya sedih. Seperti sekarang ini, meksi di kacangin, Andrea tetap saja mengirimkan pesan-pesan cinta kepada Jung, dan sayangnya pesan itu tidak mendapat balasan.....
"Jahat! selalu saja kacangin aku! Jung lagi ngapain sih???," dengusnya menatap langit-langit kamar.
Jika pesan itu tak berbalas, berarti Jung minta di telepon secara langsung, begitulah pikiran Andrea.
" π³ Andrea Calling .
Sedangkan Jung masih terlelap dalam tidurnya.
"Trrrrrrt," sang ponsel terus bergetar.
"Oke! jadi kamu kangen ya sama aku? tunggu aku sebentar ya, Oppa!," ranpa waktu yang lama, Andrea bergegas mandi dan bersiap meluncur ke kediaman Charllote.
"Masih pagi Non," ujar Hana.
"Biarin."
"Mungkin Tuan Jung masih tidur."
Andrea melirik pelayan nya"Iya sih Han, tapi bagus dong.",
"Kok bagus sih Non."
"Aduh Non!! kok malah berhayal sih! ketinggian terbang, jatuhnya sakit lho Non," seru Hana ingin menyadarkan majikannya.
"Aku nggak berhayal kok, ini kejadian masa depan. Sudah deh! kamu buruan anterin aku ke sana," anaknya pada Hanya.
Jam menunjukan pukul 8 pagi ketika Andrea sampai di kediaman Charllote.
"Kalian langsung pulang aja ya," perintah nya pada Tono si akang kebon merangkap akang supir. Perintah yang sama juga dia berikan pada Hana dan Imah, dua saudara yang menjadi pelayan pribadi nya.
"Tapi Non...."
" Udaaahhh, kalian nggak usah khawatir! aku bisa jaga diri kok!."
Senyum manis Andrea membuat Hana dan Imah luluh" Ayok deh Ton, kita pulang duluan."
Dan pergilah para orang-orang Wiliam dari kediaman Charllote, meninggalkan Nona muda mereka di kediaman lelaki idamannya itu.
"Ehhh...ada Andrea, selamat pagi, sayang," ujar Nyonya Sook mendapati fans sejati putra sulung nya di depan rumah.
"Heheheh, pagi tante. Andrea temenin nyiram bunga nya tante."
"Ah, nggak usah. Tante cuman sedang menikmati bunga-bunga yang cantik ini. kamu ke sini pasti mau ketemu Jung kan? samperin aja ke kamarnya, dia masih tidur tuh," Nyonya Sook paham betul dengan kedatangan Andrea. Seringan buku dia mempersilahkan Andrea untuk masuk ke kediaman mereka, bahkan ke kamar putra pertamanya.
"Oh, boleh ya tan," basa-basi doang, padahal dalam hati dia seneng banget. Mana Nyonya sook senyum aja tuh, Andrea kan jadi makin leluasa, hahahha"kalo gitu Andrea masuk ya," Malu-malu kucing garong, Andrea segera permisi masuk ke ruang tamu, berjalan menaiki tangga yang tak jauh dari kamar Jung.
"Tok tok tok," jemarinya mulai mengetuk pintu kamar Jung.
"Tok tok tok," Andrea mengetuk lagi, namun belum ada sambutan dari dalam sana.
Saat itu, Tuan Charllote mendapati Andrea di depan kamar Jung"Andrea."
__ADS_1
"Eh, selamat pagi om Charllote," seketika, mode kalem dalam diri Andrea aktif kembali.
Tuan Charlotte tersenyum"Selamat pagi, kayaknya Jung masih tidur tuh. Kamu masuk aja. Kalo perlu sesuatu bilang aja sama pelayan ya."
Wahh! seperti biasa, santai sekali keluarga ini. Andrea kan jadi suka π€£π€£π€£. Dia mendapat ijin mengakses kamar Jung dengan leluasa.
"Iya om, terimakasih om," ujarnya tersenyum semanis gula batu.
"Sama-sama," Charllote segera berlalu dari hadapan Andrea.
"Hehehe, waktunya beraksi!," Andrea tersenyum girang, selangkah lagi kerinduannya kepada Jung akan tersalurkan.
...ππππ...
Ghina duduk di balkon sambil menikmati udara sejuk. Rambut nya nampak masih basah, dan dirinya di buat terkejut saat Joen mengambil alih handuk di tangannya.
"Sini, aku keringin rambutnya," ujar Joen.
"Nggak usah! aku bisa sendiri kok," Ghina masuk ke dalam kamar, duduk di meja rias dan kembali mengusap rambutnya dengan handuk.
"Aku? biasanya pake saya," tegur Joen, beberapa kali dirinya mendengar Ghina tidak lagi menggunakan panggilan sopan seperti pembantu kepada majikan.
"Suka-suka aku dong. Sebentar lagi juga aku nggak akan panggil kamu Tuan," ujarnya mulai menyisir rambut.
Joen melirik nakal kepadanya"Oh, jadi gitu. Tapi bagus juga sih! mana ada istri manggil suami Tuan, apalagi suaminya cakep kayak aku. Pasti maunya memanggilku dengan sebutan sayang."
Ghina langsung menoleh kepada Joen"Gila ya! kamu narsis banget ternyata."
Joen tertawa"Aku narsis cuman sama kamu kok."
"Aduh!! jangan gitu dong. Telingaku pengen ketawa," tukas Ghina lagi. Mimik wajahnya seperti menahan tawa, tapi juga merasa geli. Nah....mimik wajah yang kayak gimana tuh?
"SRUK!," Joen langsung memeluknya dari belakang"Kalo judes kayak gini kamu makin gemesin Ghin, aku jadi pengen jahilin kamu lagi."
"Hei, Tuan Joen! ternyata hanya status kita yang berubah, kelakuan mu tetap sama. Apa untungnya membuatku susah? beneran! aku penasaran banget," membiarkan Joen memeluknya, Ghina dan Joen saling bertatapan lewat cermin di hadapan mereka.
"Hehehe, ya...seneng aja bikin kamu kesel. Kami tuh cantik banget, tapi kalo lagi marah, wajahnya jadi makin merona, gemesnya nambah."
Ghina tertawa, alasan Joen nggak banget deh, tapi sekarang dia menjaga Ghina dengan sepenuh hati, juga kerap membuatnya terhibur, yaaaa meskipun masih jahil-jahilnya. Kalo kayak gini, Ghina bisa benar-benar jatuh cinta dong sama Joen.
Saat mereka sedang asik ngobrol, terdengar teriakan histeris Jung dari dalam kamarnya"Waaaaaaaaaaa!!!!!."
Joen dan Ghina keluar kamar,
Dengan topeng masker masih melekat di wajahnya"BERISIKKK!!!, Nari membuka kamar Jung. Namun...."Ya elah, kirain ada masalah darurat," gadis itu menutup kembali kamar Jung.
"Kenapa sih? berisik banget!," Joen yang penasaran kembali membuka kamar Jung.
Nampak si Dosen yang masih shok di atas tempat tidur. Rambut berantakan, kancing piyama terbuka lebar, dan ada Andrea duduk manis di samping nya, tersenyum lebar.
Joen membuang napas, kasar"Haisss!! lebay banget sih bang! teriak kayan anak perawan di perkosa. Kalo mau lanjut, silahkan Ndre, kalo mulutnya teriak lagi di bius aja sekalian," Joen mempersilahkan Andrea melanjutkan aksi nya.
"Joen! kamu gila ya! bantuin dong."
Joen seolah tuli, ucapan Jung tak dia hiraukan dan segera kembali ke kamarnya.
"Sayang! kenapa nggak balas pesanku tadi malam!," Andrea kembali mendekati Jung di tempat tidur.
"Stop! kamu mundur dulu!," Jung meminta Andrea menjaga jarak dengannya.
"Nggak mau!!"," dengan berani, Andrea terus menempel kepada Jung. Sumpah! kelakuan Andrea bikin buku kuduk Jung meremang, horornya ngalahin perjumpaan dengan mbak kunti..
"Aku belum mandi, aku...aku hmm..hmm...nih bau nih!!," Jung menciumi aroma tubuh nya yang....wangi sih. Dia kan kalo mau tidur pake minyak wangi.
"Bohong hidungnya panjang lho," Andrea tetap menempel kepada Jung.
Geli! sungguh geli!"ANDREAAA!," teriakan Jung membuat burung-burung berterbangan dari kediaman Charllote.
__ADS_1
"Ya Tuhan! apa putraku di perkosa....," gumam Nyonya Sook di taman. Tapi bukannya resah, wanita itu melanjutkan kembali kegiatannya di taman.
~~β‘β‘ Happy reading . Jangan lupa like Vote Fav dan komen ya teman ^,^