Storge

Storge
Mantra untuk Andrea


__ADS_3

Rasa sakit membangunkan Andrea dari tidurnya, membuat gadis itu sediki meringis"Perih," ujarnya lirih.


Dan sebuah pesan cinta yang di tulis oleh Jung, membuat harinya hangat. Sejatinya perban yang membalut kakinya menjadi pengantar pesan dari pria tampan itu"Baik-baiklah menjaga kakimu, besok aku akan ke sini lagi."


Dan seulas senyuman manis pun terbit di wajah cantik itu"Beginikah caramu mengungkapkan cinta dan perhatian, kau manis sekali Tuan Jung.",


Nona muda itu beranjak dari tempat tidur, mengambil sebuah handuk dan bersiap untuk membersihkan diri"Bibi, bisakah kau membantuku?," serunya dari dalam kamar mandi.


"Iya nona, bantuan apa?," pelayan yang selalu berjaga di luar kamar itu segera menemui sang nona muda.


"Aku ingin mandi, tapi bagaimana dengan kaki yang terbungkus perban ini?."


"Jika terkena air, apakah terasa sakit non?," tanya sang pelayan.


Berwajah masam"Tentu saja, aku harus bagaimana, bibi?."


"Pakai kursi saja nona, anda bisa duduk di atas kursi di bawah shower, kaki anda bisa di kondisikan," saran sang bibi pelayan.


"Dan aku duduk di atas kursi tanpa mengenakan baju?," dengan kedua mata berkedip, Andrea sedikit ragu dengan saran dari sang pelayan. Rasanya aneh jika dirinya duduk di atas kursi dalam keadaan bugil, apakah dia harus mandi dengan baju yang masih melekat di badan??.


"Ya.., mau bagaimana lagi, nona? jika terkena air kaki anda akan terasa sakit."


Hanya karena perban Andrea menghabiskan waktu hampir setengah jam, sungguh membuang waktu"Sudahlah, lepaskan saja perbannya. Aku akan menahan rasa perih itu sebentar," ujarnya akhirnya.


Ucapan Andrea pun di benarkan sang pelayan di dalam hati. Hanya sakit sebentar, dari pada tidak mandi hanya karena perban, bukan.


Usai melakukan ritual mandi, tertatih dengan di bantu sang pelayan, Andrea meminta di antar menuju balon kamarnya. Hangat sang mentari dengan angin bertiup perlahan, seolah memanggil gadis itu untuk sejenak menikmati indahnya alam pagi ini.


"Tolong bawakan obat dan perban ke sini, aku ingin berjemur sebentar."


"Baik nona," sang pelayan segera memenuhi permintaan itu.


Sementara di bawah sana, Jung rupanya sudah sampai di kediaman William, dia menyapa Tuan Wiliam yang akan berangkat bekerja.

__ADS_1


"Terimakasih, sudah sangat perhatian dengan Andrea, nak Jung."


Jung tesenyum malu"Ini bukan apa-apa, om," sikap malu Tuan muda ini mengundang gelak tawa Tuan Wiliam.


"Hei,..kenapa wajahmu merah begitu?," ujarnya menunjuk wajah calon menantunya.


Sontak pria itu memegangi kedua pipinya, merasakan wajahnya menghangat karena ucapan Tuan William"Owh, tidak om. Aku baik-baik saja."


Tawa seorang Tuan William kembali terdengar, merasa kasihan jika harus kembali menggoda sanh calon menantu, Tuan William pun mempersilahkan Jung untuk naik ke lantai atas, menjumpai Andrea.


Bahkan dia masih tertawa ketika pintu mobil di buka pelayan untuknya. Sementara Jung memberi salam, sebelum Tuan Wiliam meninggalkan kediamannya.


Sii dosen tampan berjalan masuk dan mengapa beberapa pelayan yang juga mengantar Tuan Wiliam berangkat bekerja. Saat perlahan Jung menaiki tangga"Sudah bangun belum?," dia bertanya pada pelayan pribadi Andrea, yang baru keluar dari kamar majikannya.


"Sudah Tuan, dan nona sedang berjemur di balkon."


"Terimakasih, bibi. Aku permisi untuk menemuinya."


Andrea nampak menikmati hangat mentari pagi yang berbaur dengan sejuknya udara di pagi itu. Rambutnya tergerai berayun manja di terpa sang angin.


"Morning, sayang," kehadiran sang kekasih membuat Andrea terkejut, tanpa suara pria itu telah berada di dekatnya.


Berusaha untuk berdiri"Hei, kau mengejutkan diriku!."


Setelah memastikan Andrea dapat berdiri dengan baik"Sudah lama berjemurnya?," Jung memeluk Andrea, menambah kehangatan di tubuh kecil Andrea.


"Sekitarrrr...," ucap Andrea tergantung. Pelukan Andrea membuatnya begitu nyaman.


"Hemm??," Jung menunggu jawaban, dia mulai bermain dengan helai rambut Andrea yang tersapu angin. Memainkan helai rambut itu di sekitaran leher sang kekasih.


Andrea berkilah"Geli!, kau membuatku geli!," dia berbalik menghadap jung, wajahnya mendongak menatap mata pria itu lekat. Kini, dua insan itu saling berpandangan, jemari yang semula memainkan helai rambut kini berpindah mengusap pipi lembut Andrea.


"Aku sedikit takut kembali ke kampus, sayang," cicit Andrea akhirnya.

__ADS_1


"Tidak perlu ke kampus, kaki mu juga belum pulih. Sekarang aku dan om William sedang menyelidiki siapa pelaku kejahatan itu, untuk sementara kau berdiam di rumah saja," saat itu Jung melihat perban Andrea nampak berbeda.


Andrea menanggapi nasehat Jung dengan anggukan.


"Perbannya sudah di ganti?."


"Iya," ujarnya mengangguk"Baru saja di ganti oleh pelayan."


"Yaaah, pesan cinta aku hilang kalau begitu."


Andrea terkekeh"Kita sudah dewasa, pesan seperti itu sudah tidak jaman lagi. Hanya bocil yang melakukan hal seperti itu."


"Akh! kau tidak romantis," keluh pria itu mengambil duduk.


Andrea gegas mengambil duduk jua, tapi pada pangkuan Jung"Ayolah, jangan merajuk. Kau bisa menulis pesan lagi, di perban ini," tunjuknya pada perban di kaki.


"Untung kau sangat manis, aku jadi tidak bisa berlama-lama marah kepadamu."


Gemas, Andrea menarik kedua pipi"Terimakasih sayang, kau selalu melakukan yang terbaik untukku."


"Karena aku mencintaimu," balas Jung, dan kembali memeluk kekasihnya.


Beberapa detik mereka terdiam, suara pelan Andrea memecah kesunyian di antara mereka"Jung, aku takut kejadian ini menyisakan trauma di hati ku."


"Tidak akan," ucap pria itu. Kemudian meletakan kedua tangannya pada kedua telinga Andrea sembari berucap"Ini adalah mantra untuk kekasihku Andrea."


"Hari ini, kau akan melupakan semua kenangan buruk yang pernah terjadi. Aku akan selalu ada untuk mu, menjagamu untuk selamanya."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^

__ADS_1


__ADS_2