Storge

Storge
Cemburu


__ADS_3

Bagaimana dengan minggu depan?," tanya gadis itu mengundang senyuman kembali di wajah tampan pujaan hati. Tangan lelaki itu membelai pucuk kepala Andrea seraya berucap"Aku tidak tau caranya menolak ajakanmu, sayang."


"Oho... benarkah? semua ajakanku?," mata gadis itu sedikit menyipit, mencipta tatapan nakal.


Dengan jemari dia meminta kekasihnya untuk mendekat. Dan dengan patuh Jung mendekat padanya"Bagaimana dengan ajakan....ehem-ehem!," bisikan itu mendayu di antara semilir angin. ck! dan itu membuat rona di wajah dosen tampan ini terlihat jelas.


"An... Andrea, jangan asal bicara!," lirih Jung. Oh iman, bertahanlah!!


Sang gadis cekikikan, dengan kedua tangan menutupi mulut. Akh! kenapa sekarang dia terlihat sangat menggemaskan! Jung seperti kucing jantan berhadapan dengan ayam panggang.


Dengan godaan yang begitu besar Jung tidak yakin bisa bertahan lebih lama. Sikap manja dan manis sang kekasih membuatnya semakin menggilai Andrea.


Tak terasa bis berhenti di halte dekat kampus. Pasangan itu turun dan sedikit berjakan kaki hingga akhirnya sampai di kampus.


"Sayang, aku masuk dulu ya."


"Hm, aku akan menunggu di perpustakaan," usapan sayang Jung membelai rambut Andrea. Mereka tak menghiraukan berapa pasang mata menatap mereka. Entah itu tatapan iri atau dengki, dunia serasa hanya milik mereka saja.


"Pak jung, aku juga mau di usap lembut seperti itu."


Si dosen hanya tertawa kecil menanggapi godaan mahasiswi yang melihat mereka.


"Aduh pak! bisa tidak ketawa bapak itu biasa saja? rasanya hidung saya akan berdarah pak," para mahasiswa ini tak sungkan mengungkapkan betapa menariknya Jung di mata mereka.


Sedangkan Jung memang tidak hati-hati dengan tingkahnya. Sudah terbiasa dengan wajah tampan itu, dia tak tahu, sedikit saja sikap manisnya membuat hati para pemujanya jumpalitan. Nyatanya Calista sampai tega melakukan hal kriminal pada sahabatnya hanya karena tak rela mereka bersama.


Ah! tentang Calista, bagaimana dengan nasib gadis itu?


Dia sudah di selesaikan Tuan Wiliam.


Beasiswanya di cabut. Atas permintaan Andrea dia tidak di penjara, cukup membuat pernyataan di kantor polisi dan berjanji tidak akan melakukan hal tercela itu lagi.


Tapi video pernyataannya tersebar luas.dan masyarakat pun membuli dirinya. Tanpa di minta, dia pergi dari kota itu. Pindah ke kota lain dan tinggal bersama sang nenek.


....


Jung mampir ke kantin sebelum menunggu Andrea ke perpustakaan.

__ADS_1


"Eh, pak Jung. Aduh baru kali ini saya melihat penampilan santai anda," bibi kantin berkomentar.


"Hari ini saya hanya jalan-jalan ke sini, bukan untuk mengajar," sahut Jung. Penampilannya memang berbeda hari ini. Dia mengenakan jeans hitam dengan atasan kaos putih berlengan pendek. Sebelum menikmati soto bibi kantin, dia melepas blazer hitamnya, membuka ponselnya dan mulai bermain game online.


Ya! dia layaknya anak muda lainnya. Seperti anak kampus lainnya. Usianya yang sudah menginjak kepala tiga, sungguh tak terlihat sama sekali dari penampilannya. Bagaimana cewek-cewek bisa berhenti menatanya? sedangkan dirinya menebar pesona bahkan tanpa dia sadari.


"apak Jung, gantengnya boleh di bagi-bagi tidak?," Niko sekarang mulai berani bercanda dengan Jung, setelah mengetahui kenyataan bahwa Jung bukanlah menyukai sejenis.


Si dosen hanya tersenyum masih memainkan ponselnya.


"Aduh bapak!, berhentilah tersenyum!!," ujar salah seorang siswa lagi.


"Jangan menggoda, bapak tidak punya uang receh," sepasang netra itu masih fokus pada ponselnya.


"Lah, bapak kira kami pengamen," seloroh Niko lagi.


Tak berapa lama para siswa itu pamit pada Jung. Setelah menyantap makanannya Jung mengirim pesan pada Andrea bahwa dia nunggu di kantin saja, kemudian kembali terhanyut dalam game online.


Sedari kantin sepi,.hingga kantin kembali ramai, Jung tak bergerak dari kursinya. 2 botol air mineral berukuran sedang sudah dia habiskan. Terakhir dia memesan es kopi pada bibi kantin.


"Tumben mau kopi pak," komentar bibi kantin.


Andrea akhirnya sampai di kantin. Pandangan gadis itu menyapu setiap sudut ruangan itu"Di mana dia?."


Makhluk tampan maksimal akhirnya di temukan Andrea, masih terus fokus bermain game online. Dan, Andrea juga melihat es kopi di hadapannya.


"Oho....katanya sayang dengan roti sobek di perut. Katanya hanya meminum air putih saja," tegur Andrea sudah berada di hadapan Jung.


Pria itu buru-buru keluar dari game online"Sekali-kali saja, sayang," dia menyeruput es kopi dan menyuruh Andrea duduk.


"Mau maka apa?."


"Tadi sayang makan apa?," gadis manis itu balik bertanya.


"Soto," ucapnya tertawa. Entah apa lucunya dengan jawaban itu, hanya saja saat bertemu kembali dengan Andrea, hatinya menghangat.


"Mau soto juga," sahut Andrea.

__ADS_1


Bagaikan pelayan pribadi, Jung memesan soto dan sebotol air mineral untuk Andrea. Dan tatapan penuh iri dengki kembali menghujani Andrea.


Bahkan Andrea sempat melihat beberapa mahasiswa yang mencibirnya.


"Haisss!," Andrea mulai melengos"Nasib jadi kekasih cowok ganteng."


"Eh?," Jung menatapnya"Apa yang kau bicarakan?."


"Lihatlah! para gadis menatapku tajam. Aku cantik! aku menarik! aku yakin aku juga seksi! dan aku pantas bersanding denganmu! kenapa mereka menatapku penuh dendam seperti itu!!?," celoteh Andrea dengan bibir menyong-menyong tak kalah manyun dengan mereka yang membicarakan dirinya.


Sontak tawa Jung pun pecah"Hahaha!! iya sayang. Kau sangat sempurna! jadi tidak perlu memperdulikan mereka. Lebih baik kau makan yang banyak ya, atau kau mau aku suapi?."


"Halah," Andrea memutar kedua bola mata, jengah"Tidak perlu, nanti banyak gadis-gadis pemuja mu yang pingsan."


Astaga! kenapa Andrea jadi kesal? kasihan Jung jadi terkena imbas mood ya yang merosot karena tatapan tajam pemuja Jung.


"Ck! kau! kenapa membuka blezermu? mau pamer otor?,"dia mulai meracau.


"Hah? aku salah apa sayang? apakah berdosa jika melepas blezer? ya sudah aku akan memakainya lagi," dia segera mengenakan kembali blazernya. Namun desas-desus netizen maha benar itu semakin menjadi.


"Ih! kau kenapa harus ganteng sih? kenapa kau berpakaian casual?," dengus Andrea lagi.


Lah...salah lagi si Jung"Terus aku harus apa sayang? kau tahu kan hari ini aku tidak ada kelas, jadi tidak ada salahnya aku berpakaian santai seperti ini."


"Ish! bisa tidak wajahmu di tutup saja?!!."


"Pakai masker? aku tidak membawa masker, sayang."


Andrea menekuk wajah, dia kesal sebab atensi mereka terpusat pada kekasihnya..


"Sudahlah sayang, lebih baik kau segera menghabiskan makananmu. Agar kita lekas pergi dari sini," duhai tangan Tuan Jung yang terhormat, kau lagi-lagi mengusap lembut pucuk kepala Andrea, dan itu membuat kobaran api semakin menyala di mata para pemujamu.


Andrea pun mengangguk-angguk, tanda setuju dengan ucapan kekasihnya.


Astaga!! Jung menahan tawa dengan kelakuan Andrea. Jadi seperti ini jika gadisnya sedang cemburu?? menggemaskan sekali!!!


To be continued...

__ADS_1


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2