Storge

Storge
Pernikahan


__ADS_3

Pagi yang cerah di kediaman William.


Andrea, nona cantik itu tengah sibuk mempersiapkan gaun yang hendak di pakai ke pesta pernikahan Joen dan Ghina. Meski di rayakan secara sederhana, Andrea adalah salah satu undangan yang akan hadir di pesta kecil itu. Hemmm...entah seperti apa pesta pernikahan yang di katakan kecil oleh Nyonya Sook, jika untuk mengurusi masalah konsumsinya saja harus mendatang beberapa koki handal dan ternama.


Kembalo kepada Andrea, gadis itu mematut diri di depan cermin, memilah satu di antara gaun-gaun cantik dan anggun yang dia miliki.


Sudah banyak gaun yang dia coba, tapi sampai saat ini belum ada satupun yang cocok baginya. Menekuk wajah cantiknya, Andrea memberi perintah kepada pelayannya"Bawakan gaun yang lain."


Pelayan pun segera membawakan gaun-gaun cantik lainnya ke hadapan Andrea"Hmmm..." jemari nya meraih gaun berwarna peach. Setelah mengenakannya, tubuh molek itu kembali di bawa berputar di depan cermin .


"Gimana?," tanya nya meminta pendapat sang pelayan


"Cantik non..."


"Dari tadi cantik melulu...!,"protes Andrea sambil mengibaskan rambut tergerainya ke belakang.


"Emang cantik sih non, enon mah mau pake baju apa selalu cantik."


Andrea melirik Han, pelayannya itu"Lebay, kamu pengen gajih naik ya?."


Hana terkekeh, ada-ada saja nona mudanya ini.


"Katamu semuanya cantik, kalo aku pake yang seksi gimana? makin cantik nggak?, kaya yang ini nih?," mata indah nya memperlihatkan sebuah gaun berwarna biru laut dengan belahan dada rendah .


"Aduh, itu bukan gaya nona," sahut Hana.


"Sekali-kali tampil seksi nggak pa-pa kali Han," ujarnya memperhatikan setiap detail gaun itu. Sekali lagi, dia mematut tubuh molek nya di depan cermin bersama gaun iti.


Hana, sang pelayan memperhatikannya dengan teliti dan mulut sang pelayan berdecih"Beneran non, nggak cocok!," untuk ukuran seorang pelayan, Hana memang berani dalam berterus terang terhadap majikannya. Tapi, justru karena itulah Andrea memilih pelayan ini menjadi salah satu pelayan pribadi nya, jujur dan apa adanya. Dia nggak menyukai orang yang hanya manis si lidah tanpa melihat kenyataan nya.


"Kenapa sih Han?? ..seksi lho."


"Tuan Jung nggak bakalan suka non. Bisa-bisa dia malah kabur ngeliat enon pake gaun itu," Hana meraih bagian dari gaun itu"Nih! masa talinya sebiji doang, kalo copot gimana? mana kecil banget tali nya."


"Yang bikin gaun ini apa nggak kelewat pelit ya? dikit banget pake bahan buat bikin gaun," sambung Hana.


"Terus, apa nggak masuk angin non? udah dadanya rendah, nggak ada tangan nya lagi," Hana berkomentar panjang kali lebar, Andrea tersenyum sambil memahami penilaian pelayannya itu. Dan....Hana ada benarnya juga sih, udara di kediaman Charllote kan sejuk banget, kalo pake baju terbuka seperti itu dirinya bisa masuk angin"Terus aku musti pake gaun yang mana dong? aku bingung!!."


"Yang nona kenakan itu udah bagus banget non, sederhana tapi elegan. Nggak pake tali sebiji kaya ginian," dasar Hana ini, udah kaya mas Ivan G aja mengomentari penampilan sang majikan.


Andrea kembali mondar mandir sambil berputar si depan cermin, gaun peach itu memang terlihat cantik sih. Nggak terlalu pendek, cukup nyaman di gunakan. Dan akhirnya pilihan Andrea pun jatuh kepada gaun itu.


...🌳🌳🌳🌳...


Di kediaman Charllote para pelayan sudah sibuk sedari pagi. Mereka mondar mandir mempersiapkan pesta pernikahan Joen dan Ghina.


Tuan Charllote pun sibuk menerima telpon dari beberapa kolega yang nggak bisa hadir di pernikahan putra nya, hahahah katanya di rayakan dengan sederhana, tapi nyatanya Tuan Charllote mengundang para kolega bisnisnya ke acara itu.


Ghina nampak tegang di kamar Joen yang sekarang sudah menjadi kamar nya. Menarik napas kemudian menghembuskan secara perlahan"Santai....,santai," bisik hatinya menenangkan diri.


Saat itu, Nari datang untuk menemani Ghina yang sedang di make up Mua ternama.


"Kulitnya halus banget, nona pasti nggak pernah pake produk yang aneh-aneh," sang Mua berkomentar ketika dia menyentuh wajah Ghina untuk pertama kali nya.


Ghina hanya tersenyum manis pada nya.


Sementara Joen, pria itu mengintip sebentar di depan pintu. Tapi si nenek lampir langsung mengusir kehadirannya"Syuu! syuuu," ujarnya kaya lagi ngusir ayam tetangga.


"Pengen liat, bentar doang!," ngotot, Joen mengambil langkah maju ke depan.


"Andwaeyoo,! Nari mendorong nya keluar dari kamar.


"Ah elah si cebong! pelit amat sih! masa aku nggak boleh calon bini sendiri!," keluhnya di depan pintu.


Nari memelotot pada Joen"Dih nggak sabaran banget! sabar dong bang! mending tungguin di kamar sebelah. Sedikit lagi kan mbak?," sambil berseru pada sang Mua .


"Iya, sebentar lagi selesai kok," sahut nya.


Tersungut-sungut, Joen akhirnya pergi dari kamar itu, menunggu di kamar sebelah seperti yang Nari perintahkan.


"Calon suami mu ganteng sekali, partner saya tadi sampe deg-degan waktu mau makein setelan sama Tuan muda itu," ujarnya pada Ghina.


"Panggil saja saya Ghina..." ujarnya, merasa aneh jika di panggil nona begitu.


"Aduh! saya nggak berani," ujar sang Mua lagi.


"Keluarga Charllote sangat terpandang di wilayah sini, saya nggak berani sembarangan memanggil nona," sambungnya.


Ghina juga tau hal itu"Oh ya? terimakasih karena sangat menghargai saya," ucap Ghina terharu.


"Sama-sama nona."

__ADS_1


Usai tersenyum pada sang MUA, Ghina pun kembali terdiam, memandangi wajah nya di depan cermin. Nggak di sangka perubahan nya begitu mengejutkan.


"Terimakasih sudah membuat ku sangat cantik hari ini," dengan lemah lembut Ghina mengucap kan terimakasih lagi pada nya.


"Suatu kebanggaan anda merasa puas dengan hasil kerja saya nona."


Sang Mua nggak menyangka menantu keluarga Charllote ini sangat sopan. Dia tau bahwa Ghina bukanlah dari kalangan orang kaya, dia hanya lah gadis biasa. Dia juga tau bahwa Ghina hanya lah anak pembantu di kediaman Charllote, tapi untuk seseorang yang sudah naik derajat menjadi keluarga orang kaya dan ternama, sikap Ghina yang rendah hati membuatnya kagum.


Kabar itu sudah bukan rahasia lagi di luaran sana, namun dia nggak menyangka tutur bahasa dan sopan santun Ghina sangat lembut meskipun menyandang status menantu konglomerat sekarang.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Acara akan segera di mulai .


Ghina sudah selesai di make up. Dia menatap para tamu undangan dari jendela kamar"Nari, banyak sekali tamu tamu nya."


Nari memegang tangan nya"Santai, tenangkan dirimu. Setiap langkah mu di sana pasti akan di abadikan setiap orang. Kamu bagaikan selebritis hari ini. Ingatlah untuk tetap tersenyum."


Belum sempat Ghina berucap. . .


"Waduh! tau gini aku juga pengen nikah nih," Jung tiba-tiba muncul dan memandangi Ghina turun naik.


Nggak bisa di pungkiri gadis yang sempat menggelitik hati nya ini memang sangat menawan hati. Riasan yang di kenakan nya pun sangat cocok dengan nya. Anggun! semua rasa kagum Jung terangkum dalam satu kata itu.


"Mempelai perempuan ini cantik sekali, gimana kalo kamu nikah sama aku aja!," goda nya melirik nakal pada Ghina.


"PLetok ," bogem mentah nenek lampir mendarat di kening Jung"Jangan ganggu dong bang! Ghina udah deg-degan banget."


Kesal, bogem mentah Nari membuat kepalanya berdenyut"Uhhh, no anak galak banget sih. Pake tabok pala orang segala," jemari Jung mengacak-acak rambut Nari yang sudah tertata rapi.


Nari di buat naik pitam, emosinya melambung tinggi setinggi gunung merapi" Edan!! rambutku jadi nerantakan!!," teriaknya menggeram. Nari membuka jemarinya, bersiap hendak mencakar-cakar wajah Jung.


Jung sangat paham dengan posisi kuda-kuda Nari, demi keamanan wajah tampannya, dia segera menjaga jarak darinya"Galak amat macan betina 😝😝," anak manusia terganteng namun jahil itu melesat kabur melarikan diri.


Ghina tertawa melihat kelakuan mereka, namun Nari di buat kesal setengah mati"Oppa!!! secepatnya aku akan balas perbuatanmu!!," pekiknya memandang nanar sosok Jung yang semakin menjauh.


"Sabar! sini aku benerin rambutnya," Ghina merapikan rambut Nari, sambil menenangkan emosinya yang di buat meletup-letup oleh Jung.


Saat itu Joen bersama Tuan Charllote memasuki kamar"Ayo Nari, ajak kakak iparmu turun."


"Cie kakak ipar!," Nari menggoda Ghina"Untuk hari ini, aku akan mengakuimu sedikit lebih tua dariku, gimana? kamu senang nggak!."


"Hemmm iya deh, asal kamu juga senang," Dengan rona merah di wajah, Ghina hanya tertunduk menahan malu.


Joen terpaku, pandangan nya tak berpaling dari Ghina. Bahkan ketika Tuan Charllote mengajaknya turun pun indra pendengaran nya seakan tumpul.


"Joen, Ayo, papah akan menggiringmu ke Altar," tapi Joen terdiam mematung.


"Joen!," Tuan Charllote menarik lengan nya, dan barulah Joen tersadar. Segera, dia pun bergegas mengikuti Tuan Charllote.


"Waw! si cebol cantik banget!," bisik hati Joen.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Di lain tempat Jung berdiri tegap memandangi pelaminan"Hoel! aku di langkahi si Joen deh, kamvret!."


Terlintas pula bayangan Ghina tadi, membuatnya kembali tersenyum"Ghina, ah! perasaanku kok naik turun begini sih. Ikhlas kok susah amat ya," kepala nya tiba-tiba mumet. Bukan karena sakit kepala, otak kecil nya sedang mensugesti hati kecil, agar dapat bersabar dan menerima kenyataan"Joen pasti akan membahagiakan Ghina. Mereka saling suka, pasti akan saling menjaga," gumam nya lirih.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Acara berlangsung dengan meriah, nggak kaya pesta kecil yang di katakan Nyonya Sook. Tamu undangan yang hadir bergantian memberikan selamat kepada Joen dan Ghina. Rata rata yang datang adalah para tamu dari keluarga Charllote. Hanya ada paman Dino, satu-satunya sanak saudara yang dimiliki Ghina.


Dan sang paman nggak bisa berlama-lama di tempat itu, ada hal lain yang mengaruskan dirinya untuk pamit undur diri sebelum acara berakhir.


"Tuan Joen, tolong lebih dekat dengan istri nya," sang Fotografer meminta mereka untuk berdekatan.


"Cekrek!."


"Cekrek!."


Tak hanya Fotografer yang mengambil gambar mereka, para wartawan pun tak melewatkan kesempatan itu untuk memuat berita terbaru tentang Keluarga Charllote. Sumpah! hati Ghina ketar-ketir banget. Kalo kaya gini, berita pernikahan pasti akan di ketahui para teman-teman sekolah, ckckck sisa-sisa waktunya di sekolah pasti akan di penuhi dengan ejekan dari teman-temannya. Dan Rena...ah!! dia pasti akan marah, sebagai sahabat Ghina nggak membagi kabar gembira ini kepadanya!.


Hari sudah menjelang sore, Ghina nampak kelelahan.


"Mau istirahat?," Joen melihat raut lelah di wajah Ghina.


"Enggak kok Tuan, saya baik-baik saja."


"Tuan??."


Ghina menoleh pada Joen"Ya! Tuan! memang seperti itu kan saya memanggil anda."

__ADS_1


"Aku sekarang suamimu! S U A M I M U !,"Joen menekankan kata suami ke pada Ghina.


"Hah!," Ghina kebingungan.


Joen tersenyum Nakal"Oke, nanti malam kita akan membahas masalah ini."


Ghina terkaget"Nanti malam??."


"Kikiki, iya nanti malam," Joen tertawa dingin.


" Kamu Jangan kabur ya! awas aja kalo kabur!," ujarnya mengancam Ghina.


"His! dia pikir aku takut! awas aja, berani macam-macam bakal aku smackdown ni orang!," gerutu hati Ghina.


....


Andrea mencari-cari keberadaan Jung, tapi sayangnya dia hanya bertemu dengan Nari"Nariiii, apa kabar??!," Andrea berlari kecil dan langsung memeluk Nari.


"^,^...ka Andreaaaa!!," Nari gembira bukan kepalang, rekan sefrekuensi nya akhirnya datang juga"Kabar baik kak, wah! long time no see , Gimana kabar bang Jung kalo di kampus?."


"Lho, kamu kan ketemu tiap hari kok tanya kabar nya sama aku," ujar Andrea merengkul pundak Nari, mereka pun berjalan beriringan.


Nari tersenyum jahat, dengan hidung yang menyerngit menatap Andre"Ih kaya nggak ngerti aja kak Andrea ini," bisik Nari di depat Andrea.


Andrea menutup mulutnya dengan telapak tangan"Hahahah, aku ngerti kok."


"Oh ya?? roman-romannya ada kabar bagus nih," kekeh Nari sangat senang sekali.


Satu ibu jari Andrea terangkat,"Mantap dong. Bumbu sedap selalu aku taburkan di mana-mana. Dan hasil nya..., kamu tebak aja sendiri," Andrea balas berbisik.


"Hohoho Nari bahagia kak," ceria sekali nenek lampir satu ini. Entah hal apa yang sedang mereka bicarakan dan membuat mereka sangat gembira.


"Ckckck, kadang aku bingung kalian beneran saudara apa bukan sih, kok doyan banget menghina satu sama lain," toel nya pada pipi Tembem Nari.


"Kikiki, saudara nggak harus selalu berteman kak, contohnya kami!."


Ternyata Nari punya peran besar dalam penyebaran gosip yang menimpa Jung. Dia bersekongkol dengan Andrea, Nari sebagai otak dari gosip gay itu, dan Andrea bertugas sebagai orang yang menyebarkan gosip murahan itu. Inilah sebenar-benarnya istilah musuh didalam selimut.


Jung nampak duduk di meja tamu sambil berbincang dengan beberapa kolega Papah nya .


"Target di temukan!," seru Andrea senang.


"Wah! cepat siksa dia kak," Nari mengangkat lengannya yang mengepak"Semangat kak Andrea!!."


"Ah! kamu memang calon adik ipar yang baik. Baiklah, dengan kekuatan bulan aku akan merayu dan menggoda abang mu," seru Andrea dengan bola mata berbinar-binar.


"Yess!! cepat laksanakan kak," seru Nari lagi.


Seperti kupu-kupu, Andrea yang cantik berlari kecil di atas halaman rumput nan hijau dan..."Plakkkk!!," Andrea menepuk pundak Jung dengan keras hingga langsung membuat Jung berbalik padanya.


"Spontan Jung menepuk keningnya"Aduhhhhh...ulat kepompong pake nongol di sini!.


"Hay Oppa," panggil Andrea tersenyum manis.


"Jung permisi yang om," dengan segera Jung membawa diri dari tempat itu. Jika Andrea sudah datang, di jamin hari-hari nya akan menjadi berantakan.


" Eh ulat kepompong, berhenti deh ngintilin aku. Please!."


"Ogah," Seru Andrea cuek.


"Aku sudah mondar-mandir kesana-kemari, kamu nggak capek ngikutin aku? mending makan kue aja deh, nanti aku temenin bentar di meja tamu."


"Nggak! nanti aku gemuk, terus bang Jung nggak suka deh sama aku."


"Dih, biar kamu kurus kerempeng juga, aku nggak bakal suka sama kamu."


"Hick! Andrea sakit hati bang! gitu amat ngomongnya," ujarnya berpura-pura merajuk.


"Bodo amat! kamu tuh ya, di kampus doang jaga jarak sama aku, kalo ketemu kaya gini langsung nempek kaya ulat bulu."


"Ya, di kampus kan orang-orang tau nya kita musuhan, padahal sebenernya kita pacaran. Kan?," gadis itu tersenyum lebar menatap Jung dengan penuh cinta.


Jung menekan kening Andrea dengan jari telunjuk"Gadis edan, kamu tuh bocah ingusan. Udah ku tolak ratusan kali masih aja ngebet bilang kita pacaran. Mending cari cowok lain aja Andrea, yang sayang dan cinta sama kamu."


Menepis jari telunjuk Jung yang membuatnya sedikit condong ke belakang"Nggak! kita tu jodoh bang! cepat atau lambat pasti jadiah. Dari pada kelamaan, mending jadian aja duluan."


Sumpah! jung nggak tau lagi harus menolak Andrea dengan cara apa. Mulai dari cara yang halus, sampai cara yang kasar sekali pun, gadis itu tetap ngotot ingin selalu dekat dengannya.


Dan hari itu, Andrea sukses membuat Jung kewalahan. Kemanapun Jung pergi dia selalu ikut, apapun yang Jung kerjakan dia juga ikut. Dia terus menempel bagaikan prangko kepada Jung.


"OH LORD!ELP ME!!!!," jerit hati Jung.

__ADS_1


β™‘β™‘Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^ .


__ADS_2