Storge

Storge
Hari kasih sayang


__ADS_3

Hari kasih sayang telah tiba.


Kaum hawa yang menggemari Jung, bergantian memberikan bunga mawar kepada dosen tersayang. Meskipun bukan rahasia lagi bahwa Jung sudah di miliki Andrea, fakta itu tidak menyurutkan niat para mahasiswi mengungkapkan kekagumannya kepada Jung.


Dengan topeng keluguan Jung membawa banyak bunga-bunga di tangan ke dalam mobil, bukan salahnya bukan jika di gemari para wanita?. Andrea yang sedari tadi banyak diam hanya memperhatikan kesibukan Jung dengan bunga-bunga itu.


"Kau, tidak memberikan bunga kepadaku?," kesombongan itu menguasai hati Jung, hingga dengan percaya diri meminta jatah bunga dari sang kekasih. Pria ini pun memainkan kedua alis, nampaknya di sedang ingin menggoda wanitanya.


"Setangkai bunga dariku, tidak akan mampu melawan bunga sebanyak ini," jawabnya. Tatapan matanya ke luar jendela mobil, dia nampak tak senang dengan keberanian gadis-gadis itu dalam mengungkapkan perasaan, kepada kekasihnya.


Seulas senyum terbit di wajah Jung, ketika aroma kecemburuan itu mulai tercium, berapa senangnya hati seorang Jung. Namun, cemberutnya wajah Andrea mengurungkan niatnya untuk terus menggoda sang kekasih.


Hemmm, apa kau ada waktu malam ini? bagaimana jika kita makan malam bersama?."


"Aku sibuk!," langsung menjawab singkat.


"Kau cemburu, sayang?," jung mendekati wajah Andrea, memperhatikan raut wajah kekasihnya yang memerah, terbakar cemburu.


Kekesalan pun akhirnya pecah, Andrea melontarkan kata-kata yang justru membuat Jung semakin senang"Kau sok keren! kau sok tampan!. Oke baiklah! semua orang tahu bahwa kau memang sangat tampan, tapi bisakah kau bersikap biasa-biasa saja di depan para gadis itu? ketika mereka mengerumuni dirimu, kau seperti seorang artis. Atau...apa kau memang ingin menjadi artis?," sorot matanya menatap Jung dalam"Kalau begitu berhentilah menjadi dosen!."


Usai memelototi Jung, Andrea membuang pandangan ke keluar jendela lagi"Ya!! kau memang seharusnya menjadi artis saja! alih-alih menjadi dosen. Kehadiranmu hanya akan membuat konsentrasi para gadis terganggu saat belajar!," sambungnya. Terlihat dadanya naik turun.


"Hanya mengajak makan malam, kenapa sampai mengomentari ketampanan ku?," ucap Jung mengurai tawa.


Terdeteksi cemburu, Andrea menyesal tidak dapat menahan emosi sesaat itu. Rasa malu membuat wajahnya menghangat, malu.


"Sayang, maaf jika aku terlalu ramah terhadap gadis lain. Aku berani bersumpah, aku tidak tertarik kepada mereka. Aku hanya menghargai pemberian mereka."


Andrea melipat kedua tangan di dada"Oh."


"Hanya oh?, jadi kau benar-benar cemburu?."


"Tidak, aku hanya kesal kau tagih setangkai bunga!. Kau sudah ku miliki! untuk apa aku memberikan setangkai bunga untuk di tukar dengan hatimu!. Toh, hatimu sudah untuk ku, bukan?," mereka kembali bersitatap. Andrea yang sedang serius, sementara Jung mempertahankan mimik wajah agar tak tertawa. Wanitanya sanggat manis ketika sedang cemburu.

__ADS_1


"Jawab! atau...hatimu bukan untukku??," kedua alis Andrea berkerut, memandangi pria tampan yang terlalu mempesona di depannya.


Alih-alih langsung menjawab, Jung menyerahkan bunga-bunga yang di berikan para gadis kepada Andrea"Bahkan saat kau tak memberikan bunga pun, kau akan mendapatkan banyak bunga ini dariku. Seperti yang kau bilang, kau sudah memiliki diriku, jadi jiwa dan ragaku seutuhnya milikmu, Andrea sayang."


"Argghh!! jangan tersenyum! jangan tersenyum Andrea!!," jerit hati gadis itu. Lagi-lagi dirinya takluk di hadapan Jung, senyumnya merekah dengan indah, membaut Jung gemas hingga menarik kedua pipinya.


"Nah, apa kau tahu, kau sangat cantik saat tersenyum."


"Ash!! sialan!," gerutu Andrea"Tante Sook makan apa sih ketika mengandung dirimu!, kau tak bisa membuat mu marah! bahkan merajuk sedikit saja!!."


"Entahlah, kau bisa bertanya padanya jika bertemu nanti," memeluk Andrea yang sedang mendekap bunga. Usai memeluknya singkat, Jung merapikan helai rambut Andrea"Jadi, apa kau bersedia makan malam bersama nanti malam?."


"Di mana?."


"Kau mau di mana?," balik bertanya.


"Kau yang mengajak ku, tapi kau tak tahu hendak kemana. Apa kau kurang minum air putih hari ini!," hardik gadis cantik itu.


"Berada di dekat mu, kerap membuatku kurang berkonsentrasi, sayang."


Sepasang kekasih itu terus mengobrol panjang seiring laju kendaraan. Dalam pikiran Andrea, Jung akan mengantarkan dirinya kembali ke kediamannya. Namun ternyata kediaman Charlotte adalah tujuan mereka.


Sesampainya disana , Jung menyuruh pelayan membawa bunga-bunga itu ke dapur. Dia berbicara sebentar dengan pelayan dan barulah mengajak Andrea naik ke atas.


Suasana kamar Jung masih sama seperti terakhir kali Andrea ke sana. Aroma hangat tercium bercampur aroma manis yang membuat nyaman perasaan. Semilir angin menerbangkan tirai-tirai berwarna putih yang menutupi jendela kamar sang pria.


Hari itu siang sudah berganti menjadi sore, matahari perlahan turun dan membuat bumi kembali teduh. Andrea menatap taman bunga Nyonya Sook dari balkon kamar Jung, taman yang asri dan sejuk juga terlihat dari sana.


Jung datang membawa nampan berisi jus apel kesukaan Andrea, tak ketinggalan beberapa potong kue macaron berwarna warni.


"Tidak biasanya kau membawakan aku makanan," ujarnya, sebab biasanya pelayan yang membawakan makanan dan minuman itu jika Andrea berkunjung.


"Mereka sedang sibuk," ujar Jung.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk dengan mulut membulat. Dirinya tersenyum setelah mencicipi jus"Manis sekali," kedua matanya menyipit, begitu menggemaskan. Begitulah Andrea jika sudah bertemu dengan jus apel, senyumannya akan merekah semanis jus apel tersebut.


Jung menyeka sisa jus di tepian bibir Andrea"Iya, jus nya memang manis, sampai tertinggal di pinggir bibirmu seperti ini."


deg!! Andrea terkejut dengan perlakuan manis itu. Wajahnya memerah lagi, dan spontan dia meletakan gelas jus, memegangi kedua pipinya. Tingkah Andrea membuat jung tertawa.


Saat itu pelayan di bawah memberi kode kepada Jung.


"Sayang, ikutlah bersamaku sebentar," ujarnya menggenggam tangan Andrea dan membawanya turun ke taman di bawah balkon.


"Mau apa kita kemari?," tanya Andrea.


"Berdiamlah disini," Jung mengambil sesuatu ke ruang tamu, dan... dia keluar dengan membawa sebuket mawar merah, menyerahkannya kepada Andrea sepaket dengan senyuman.


"Selamat hari kasih sayang, kekasihku yang cantik jelita," tak lupa ciuman hangat mendarat di kening Andrea.


"Sayang!!!," yash!! wajah itu semakin merona, hampir seperti kepiting rebus"Kau membuatku terkejut."


Tak sampai di situ, satu persatu kelopak mawar berjatuhan dari atas balkon, perlahan Andrea bermandikan bunga-bunga mawar nan harum.


"Jangan marah lagi ya, itu kelopak bunga-bunga yang aku terima di kampus tadi," kini dia memeluk Andrea yang semakin tersipu malu.


Menepuk dada bidang Jung"Hei!! kita menjadi tontonan para pelayanmu!," masih tersipu malu atas apa yang kekasihnya lakukan.


"Mr.Soe, di larang melihat ke sini!," titah Jung.


"Siap Tuan," sahut sang pelayan di atas balkon.


"Me.Zak juga," seru Jung mendapati sang pelayan tersenyum lebar melihat kemesraan mereka.


Menutupi kedua mata dengan telapak tangan"Siap Tuan."


To be continued...

__ADS_1


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2