
Hal terindah yang sekarang sedang di rasakan Jung ,adalah memiliki Andrea. Mungkin dia akan memberikan segala yang dia punya untuk gadis itu, sebab rasa suka yang terlampau sangat.
Malam itu, Jung sedang menelpon Andrea dan berbicara banyak dengannya. Duduk di balkon kamar sembari menikmati kopi, dan nampak beberapa map berisi tugas para mahasiswa yang sedang dia periksa.
"Hemm, ada beberapa pekerjaan lagi..," ujarnya, sepertinya Andrea menanyakan hal apa yang sedang dia lakukan.
"Begitu ya, ya sudah lanjutkan saja pekerjaan mu, aku ingin ke lantai bawah menjumpai Papah."
"Sebentar! sebentar sayang," ups! kata itu spontan terucap dari mulutnya, selain Andrea yang tersipu malu di seberang telepon, dirinya pun tersenyum karena ulahnya sendiri.
"Ya? ada apa lagi pak dosen??," sahut Andrea berusaha sebiasa mungkin.
"Berhentilah memanggilku pak dosen, aku merasa sangat tua jika kau memanggil seperti itu."
"Tapi kau memang sudah tua, bukan?," menahan tawa yang hampir meledak, suara gadis itu terdengar sedikit bergetar.
Bukan Jung, jika diam saja saat di goda. Pria itu lantas berujar"Oho! baiklah, aku memang sudah tua. Tapi mengapa kau mau menjadi kekasih orang tua ini?."
"Ku rasa, kau gemar menggoda setelah kita bersama," masih berbicara di telpon ketika menuruni tangga.
"Tentu saja, sebab kau wanita yang ku sukai. Aku hanya akan menggoda kepada orang yang menarik bagiku."
"Dasar pak dosen ini!, berhentilah berkata manis. Aku harus segera bertemu dengan papah."
"Hentikan dulu memanggilku pak dosen," pinta Jung begitu memaksa untuk merubah panggilan Andrea pada dirinya.
"Honey?," gadis cantik itu mulai mencari panggilan yang menarik bagi sang kekasih.
"Aku bukan beruang," tukas Jung.
"Darling??."
"Aku bukan dadar guling."
"Ayolah Tuan Jung Charlotte yang terhormat," Andrea merengek, sebab pria itu begitu enggan mengakhiri panggilan telepon.
Sungguh, Jung masih ingin mendengar suara wanita cantik itu. Dia pun segera mengakhiri panggilan saat Tuan William menghampiri Andrea.
"Senang sekali, dengan siapa kau bicara?."
Sang papah mengambil duduk di sofa ruang tamu, Andrea segera menghampiri dengan riang.
"Teman pah, papah capek ya?," jemari kecil miliknya, memijat pundak sang papah.
"Papah tidak capek, kau duduknya di sini," ujarnya menepuk sofa tunggal di samping.
"Sepertinya kau selalu bahagia akhir-akhir ini," lanjutnya menatap Andrea dengan senyuman penuh arti. Tuan Wiliam menyadari lonjakan kegembiraan dari tingkah laku sang putri tersayang.
__ADS_1
Insting orang tua, memang sangatlah tajam. Namun Andrea tetap mencoba untuk berkilah"Andrea memang selalu bahagia, iya kan pah."
Sang papah yang belum mengetahui hubungannya telah resmi berpacaran dengan Jung, langsung menerka"Pasti ada hubungannya sama Tuan muda," dan, ucapan sang papah sukses mengukir senyum di wajah Andrea.
"Betul? apa akan ada kabar baik? atau kabar baiknya sudah terjadi?," langsung saja, rentetan pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya. Melihat sang putri semakin tersipu malu, lelaki tua itu segera mengambil ponsel dari dalam saku.
"Papah mau apa?."
"Bicara dengan Tuan Charllote," tak ingin menunggu lama, mengkonfirmasi langsung kepada Tuan Charlotte rasanya adalah pilihan yang tepat.
"Papah!," lagi-lagi Andrea merengek bak anak kecil.
"Kenapa? papah hanya ingin berbincang dengan sahabat sendiri," jemarinya mencari kontak Tuan Charlotte.
Aduh si papah, sikapnya membuat Andrea tidak bisa bertahan lebih lama lagi berhadapan dengannya. Dia malu, namun juga bahagia. Gadis itu segera melarikan diri dari ruang tamu kembali ke lantai atas.
"Andrea sayang! jangan berlarian di tangga," terkekeh, Tuan William berseru pada Andrea.
...***...
Meninggalkan Andrea yang malu-malu kucing, Jung masih sibuk dengan beberapa sisa map di atas meja. Sesekali menyesap kopi agar kantuknya sedikit berkurang.
Hari ini dia kurang beristirahat, padahal jam baru menunjukan pukul 8 malam, tapi dirinya sudah menguap berkali-kali.
"Lihatlah unta yang sudah tua itu, dia sudah lelah pada jam segini," sang adik lelakinya, Joen di balkon sebelah melempar ejekan kepadanya..
Ghina hanya tertawa, dia sedang tidak berselera untuk ikut berargumen bersama dua saudara ini"Abang mau kopi lagi," tanya Ghina.
"Tidak perlu, terimakasih sudah berniat baik kepadaku. Aku harus menjaga kebugaran tubuh berharga ini, Ghina. Lihatlah otot kekar ini, aku tidak ingin merusaknya dengan terlalu banyak meminum kopi," ujarnya pede.
Telinga Joen rasanya panas, lantas dia pun tak mau mengalah"Tubuhku lebih bagus, masih muda tentunya."
"Sudah beristri pula," tambah Joen lagi.
Jung meletakan map yang telah selesai di periksanya"Mau nge gym bersama??," tawarnya pada sang adik.
"Boleh juga," dan tawaran Jung langsung di sambut oleh Joen.
"Kau ikutlah bersama kami," tukas Joen lagi, berbicara kepada Ghina.
Alih-alih bernapsu untuk melihat dua pria itu pamer roti sobek, Ghina segera menolak ajakan pak suami"Tidak perlu!! aku tidak berniat melihat kalian pamet otot."
"Ghina ku tersayang, apa kau tidak tertarik melihat ku berolah raga," entah apa bagusnya pamer otot seperti itu, Ghina membuang muka saat Joen mulai membuka baju yang dia kenakan.
"Mesum!!," Ghina menutup tubuh bagian atas Joen dengan handuk"Pergilah ke belakang sana," lanjutnya.
"Kau ini, malu-malu kucing."
__ADS_1
"Pergilah Tuan Joen," desisnya menatap nakal kepada pria itu.
...***...
Di dalam kamar Nari...
"Menurut berita yang beredar, kakak kelas tampan itu sedang menyukai seseorang," pesan dari Arin.
Setelah membaca pesan tersebut, rasa penasaran menyelimuti hati kecil Nari.
"Siapa gadis itu??," ujarnya membalas pesan dari Arin, sang sahabat.
"Entahlah, informasinya belum berkembang. Yang jelas, gadis itu murid di dari sekolah kita."
Sungguh, rasa penasaran membuat Nari terus bertanya, hingga gosip via pesan teks itu terus berkelanjutan.
Ada sedikit rasa iri di hati Nari terhadap gadis itu, seandainya cewek itu adalah dirinya. Tapi....ah! rasanya tidak mungkin sekali. Saling sapa pun tidak pernah, bagaimana bisa menyimpan rasa??.
...***...
Jam sudah menunjukkan pukul 21:25 di kediaman Andrea. Dan saat itulah Andrea mendapatkan pesan dari sang kekasih hati"Sepertinya hubungan kita telah di ketahui para orang tua."
Andrea hanya membalas dengan emoji " β€ "
"Hanya itu saja?," balas Jung.
Kemudian, Andrea membalas dengan emoji "πππ "
Sikap Andrea membuat Jung semakin di mabuk cinta"Duhai gadisku, jika aku tahu akan mencintaimu sebesar ini, aku akan mencintaimu sedari pertama kita bertemu," balas Jung lagi.
"Ayolah Jung, kau jangan terlalu kejam kepadaku. Aku sudah terlalu cinta kepadamu."
Sekarang giliran Jung yang mengirim emoji " β€ "
"Astaga, kau sangat tidak kreatif."
"Aku menyukai mu, jadi aku akan mengikuti apa yang engkau lakukan, sayang."
Andrea"πππ"
Begitulah mereka yang sedang di mabuk cinta, waktu seolah berlalu dengan cepat saat mereka saling menggoda.
Setelah mengakhiri perbincangan via Wa Jung pun merebahkan diri di tempat tidur. Pria itu mengingat bagaimana ketakutannya ketika di jamah paksa oleh Andrea di tempat tidur ini.
"Awas kau Andrea, tidak lama lagi aku akan membalas perlakuanmu kepadaku waktu itu!," gumamnya.
~~β‘β‘happy reading.jangan lupa like dan komen nya ^,^
__ADS_1