Storge

Storge
Andrea si ulat berbulu


__ADS_3

...** Campurlah warna di atas paletmu......


...Lukis aku dan pilih filtermu......


...Aku yang bagaimana yang engkau mau ??**...


...~Filter : Jimmin Bts ~...


...🌳🌳🌳...


Wiliam menelpon Charllote untuk meminta maaf atas kehebohan yang di sebabkan Andrea di kediaman Charllote. Tapi dengan santai Charllote nggak menjadikan itu masalah"Mereka masih muda, biarkan saja mereka menikmati masa mudanya," ucap Charllote sembari menghirup Kopi latte nya.


"Tapi kelakuan Andrea sangat keterlaluan. Aku jadi nggak enak hati sama Jung," suara Wiliam terdengar di lirih di ujung telpon.


"Santai saja, bukankah kita calon besan. Dia nggak papa kok, hahaha," canda Charllote dengan gelak tawanya.


Tawa itu juga menghinggapi William di ujung telepon"Hahaha, yakin? syukurlah jika dia baik baik saja."


Hahaha, baik baik saja? Tuan Charlolte salah besar !!. Jung menjadi takut dengan Andrea. Gadis itu begitu berani menjelajahi tubuhnya kemarin. Kalau begitu siapa yang menjadi korban pelecehan? tentu saja Jung!!.


"Huh, kalo aku yang ngelakuin itu sama Andrea, aku pasti sudah di penjara atas tuduhan pelecehan seksual," menggerutu, Jung duduk di balkon kamar, mencoba membuang segala kesal di dalam dada.


"Berani banget kamu Andrea!!," benar-benar kayak korban pemerkosaan , Jung terlihat murung meratapi nasib buruk nya.


"Kamu tuh cantik Andrea! berduit! muda!, kok ngebet banget naksir sama aku yang udah dewasa begini," keluh Jung bicara sendiri.


...❣❣❣❣...


Sementara Andrea, gadis itu sedang bersantai ria di kediaman nya.


"Hana...jalan-jalan yuk," rasa bosan mulai membuat Andrea uring-uringan, sepertinya dia butuh sesuatu yang menarik.


"Siap non! nona mau kemana?."


"Kediaman Charllote," dia tersenyum lebar. Niat licik Andrea menggelitik gadis Cantik itu untuk menemui Jung lagi.


"Aduh Non!!," Hana sang pelayan menepuk jidat"Tuan Jung pasti masih marah sama Non Andrea, lebih baik kita jangan kesana dulu."


"Biarin!, aku kangen Han," rengek Andrea.


"Nona, maaf sebelumnya yah. Cowok di kampus kan banyak, yang cakep, yang tajir, yang baik. Lebih baik Non Andrea tebar pesona di kampus aja ya," bujuk Hana penuh harap.


"Ayoklah Hana..., kalo kamu nggak mau, aku ngajak Imah aja deh. Kalo nggak ada yang mau ikut, biar aku aja yang ke sana sendir," Andrea melenguh kesal. Mereka memang pelayan Andrea namun kuasa penuh masih di pegang sang Papah.


"Kata Tuan besar, Nona jangan ke sana dulu."


"Heh! kenapa?," Andrea mencebik kesal. Ah!! si papah nggak asik deh.


"Nggak enak sama Tuan Jung Nona."


"Ck! si Oppa krenyes pasti mengadu yang macam-macam nih sama Papah," ujarnya meraih ponsel di nakas.


"Tut,, Tut !!," Nona muda menelpon Jung.


"Trrrrt," Jung terkaget dari lamunannya.


"Ya elah, ulat kepompong," ucapnya tak bersemangat.


Nggak ingin mendengar suara gadis menyeramkan itu, Jung memilih untuk mengabaikan panggilan telpon dari Andrea.


Namun...."Tring," sebuah pesan singkat masuk yang berbunyi"Kalo nggak jawab telponnya, aku langsung melesat ke rumah Oppa."


Dan sang ponsel pun kembali bergetar"Ya," hardik Jung segera.


"Heh, kamu takut ya?," cibiran Andrea terdengar meremehkan Jung.


"Aargghh!!," Jung mengacak-ngacak rambut nya"Ingat Andrea, aku bisa mengurangi nilaimu."


"Ih!! pake ngancem! nggak ngaruh pak dosen," gadis cantik itu nggak takut dengan ancaman Jung.


Sikapnya justru semakin berani terhadap Jung"Aku kangen, aku langsung ke rumah kamu ya! pengen ketemu sebentar."


"Eh bocah!!! apa semua cewek segila ini kalo kelamaan memendam cinta," sentak Jung berusaha menolak kehadiran Andrea di kediamannya lagi.


"Iya deh Tuan muda yang sudah tua!!. Tapi asal kamu tau, aku bisa lebih gila dari ini lho Tuan muda," ancaman kini berbalik kepadanya.


Benar-benar nggak habis pikir"Otak mu geser ya Ndre? nggak puas kemaren sudah menjelajahi seluruh tubuhku!," suara Jung terdengar berbisik.


"Aku sudah ternodai," tambahnya dengan wajah sedih.


Ahahahah!!! Andrea tertawa lepas.


"Ternyata kamu kekar banget ya, pak dosen," goda Andrea dengan suara di buat-buat. Membuat Jung semakin kesal terhadap Andrea.

__ADS_1


"Sudah! cukup!. Jangan berani-berani masuk ke kamarku lagi," tegasnya.


"Papahmu yang menyuruhku masuk, aku mah bisa apa?."


Seakan terpaksa, Andrea menjelaskan dari mana dia dapat keberanian memasuki kamar Jung dan bergerilya menyusuri lekuk tubuh nya.


Mendengar cerita itu, seluruh bulu kuduk Jung meremang, teringat saat Andrea menjamah tubuhnya dengan nakal"Eeiissss! sekarang kamu mau apa lagi, dengar ya Andrea! aku sudah kamu gosipin gay, kamu jamah tubuhku! seharusnya kamu sudah sangat puas. Sekarang Kamu mau apalagi?."


"Jadian," ujar Andrea satu kata saja.


"Usia kita sangat jauh Andrea, kamu masih bocah! masih sangat kecil!."


"Ayolah Jung, berhenti memandang usia kita. Kalo kamu nggak mau kita jadian, aku minggat lho."


"Cih! kamu? minggat?," Jung nggak percaya dengan ancaman seorang Andrea yang terbiasa hidup serba berkecukupan.


"Kamu meledek ku!," seru Andrea.


"Hilih!!," ejek Jung.


...❣❣❣...


Hari sudah menjelang sore ketika Joen bersiap jogging beberapa putaran di sekitaran kediamannya.


Di dapur Ghina sedang menemani Bibi An memasak.


"Neng, bibi bisa sendiri kok. Kerjaan bibi yang lain juga sudah selesai Neng."


Ghina tetap ingin menemani Bibi An di dapur"Ghina nggak ada kerjaan bi, biarin Ghina bantuin bibi ya."


"Kalo nggaka da kerjaan, mending alan-jalan aja di taman kaya Nyonyah, sambil menghirup udara segar."


Ghina tetap menolak .


"Udah dong Neng! biar bibi yang selesaikan," bibi An tetap menyuruh Ghina meninggalkan nya hingga akhirnya berhasil membuat Ghina pergi dari dapur itu.


Langkah kaki Ghina menyusuri taman dan kolam ikan. Pemandangan di sana juga sangat indah, wanita itu merogoh saku switer yang sedang dia kenakan, mencari sesuatu"Duh! ponselku sepertinya ketinggalan," gagal sudah niat untuk mengabadikan pemandangan indah di sore itu.


Di belakang sana, Joen sedang memasang kuda-kuda untuk mengejutkan Ghina, istrinya.


"Ehh!!," Ghina berseru. Bukan Joen yang mengejutkan dirinya, tapi pak dosen.


Pria itu berlarian kesana kemari dengan jaket di tangan nya.


Joen penasaran, sikap Jung menjelaskan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dia pun segera mempercepat langkahnya.


Seketika kedua bola mata Jung berbinar mendapati kedatangan Joen "Ah, Joen!! kamu bawa kunci mobil nggak?."


Ghina menoleh ke belakang"Sejak kapan dia di belakang," gumam Ghina.


"Jangan gila deh! masa joging bawa kunci mobil. Memangnya abang mau kemana?, buru-buru banget," Joen menepis tangan Jung yang memegangi lengan istrinya.


"Ulat kepompong datang lagi," Jung menjawab dengan ngos-ngosan"Sumpah! udah jadi ulat bulu beneran tu cewek! bikin aku gatal-gatal Joen!," ujarnya bergidik ngeri.


"Cih, katanya hebat menghadapi cewek. Katanya semua cewek bertekuk lutut sama pesona nya," Joen membawa Ghina menjauhi Jung.


"Ajibuseett, iya deh aku janji lain kali nggak akan songong lagi. Kali ini tolongin aku dong!!pleasee!!," mengantupkan kedua tangan, Jung memohon pada Joen.


Melihat Jung memelas kepadanya, Joen akhirnya merasa sedikit kasihan"Tunggu di depan gerbang, nggak pake lama!!," ujarnya menunjuk arah gerbang dengan mulutnya sambil berlalu menuju kediaman mereka.


"Sekalian bawain dompet sama ponselku ya!," tingkah Jung membuat Ghina tertawa.


"Segitu takutnya sama Andrea, setahu ku Andrea nggak bisa makan orang kok," celetuk Ghina sambil mengekor Joen masuk ke rumah.


"Ceweknya nyosor terus sih, dari orok sudah naksir sama abang. Mula-mulanya lucu lama-lama jadi horor tau."


Ghina mengangguk-angguk berjalan beriringan dengan suaminya.


Di ruang tamu, Andrea nampak duduk manis bersama Nyonya Sook.


"Sore Ghina," sapa Andrea. Gadis itu begitu cantik, Ghina sangat heran mengapa Jung nggak coba aja jadian sama Andrea, dia baik kok orangnya.


" Sore," sahut Ghina ikut duduk di sampingnya.


"Jadi, Andrea mau menginap di sini ??". Nyonya Sook melanjutkan perbincangan mereka.


"Iya tante, boleh nggak?," raut wajahnya nampak manis ketika berbicara dengan Nyonya Sook. Kalau begini, di mana letak menyeramkan yang di katakan Jung??


"Boleh kok, kamu mau tidur bareng Nari apa di kamar tamu?."


"Sama Nari aja deh tante," tertawa manis, sepertinya Andrea sangat senang sekali mendapatkan izin untuk menginap di kediaman itu.


Saat itu, Joen muncul dengan celana pendek selutut dan baju kaos putih.

__ADS_1


Ghina terbelalak. Joen jarang sekali mengenakan celana pendek, juga baju kaus pendek. Penampilannya sangat jauh berbeda dari hari-hari biasanya.


"Tumben!!," ujar Nyonya Sook mengomentari penampilan anak keduanya. .


Joen memperhatikan penampilannya"Ohhh. Joen kudu cepet mah. Jadi buru-buru ganti baju, soalnya ada yang lagi nungguin di depan," ujarnya.


"Yang, tungguin aku di atas ya!," ujarnya pada Ghina sambil berlari ke depan, dan tak berapa lama terdengarlah suara mobilnya meninggalkan kediaman itu.


"Mau kemana si Joen?," Nyonya Sook melirik Ghina.


"Tadi ada yang perlu pertolongan di depan mah," Ghina nggak bisa berbohong pada mertuanya.


Gadis ini belum menyadari hilangnya sang lelaki pujaan dari kediaman itu"Terus, Andrea gimana nih tante."


"Kamu langsung naik saja, mending Narinya di telepon deh. Heran deh tu anak, kakinya nggak bisa diam, nongkrooooong terus! mana kalo keluar nggak bilang-bilang," gerutu Nyonya Sook yang membaut Ghina dan Andrea tersenyum canggung.


Waktu pun berlalu, kini Ghina tengah menanti kepulangan Joen. Lumayan lama Ghina menunggu pria itu, matanya hampir terlelap ketika pintu kamar terbuka"Joen datang," seru hatinya langsung membuka kedua mata.


Abang kece merebahkan diri di tempat tidur, sambil mengomel"Huppffhhh!! ngerepotin."


Ghina mendekati Joen,"Abang pulang juga?," tanya Ghina.


"Nggak, dia menginap di hotel."


"Terus Andrea gimana? dia malah menginap di sini."


Joen segera bangun"Oh ya? ckckckc, heran deh dia ngebet banget sama bangJung, padahal tu orang rada-rada."


"Rada-rada gimana?," tanya Ghina lagi.


Joen menyilangkan dua jari telunjuknya di kening.


"Hus!!! sama sodara sendiri kok kaya gitu."


"Heheeh, galak amat sih. Aku gitu cuman sama dia kok. Kalo sama kamu enggak deh," ujarnya tercengir tertawa.


"Nggak lucu!," tukas Ghina hendak beranjak dari tempat tidur.


Joen segera menahan lengan sang istri, membuatnya tersungkur di atas tempat tidur"Joen!!!," geram Ghina.


Bukan hendak melakukan hal lain, Joen hanya menarik paha Ghina dan merebahkan diri di atasnya. kini, Ghina yang sudah memperbaiki duduk tak jadi marah.


"Kamu kenapa?."


"Aku capek! boleh ya pinjam kakinya sebentar."


"Terus apa gunanya bantal?," wajah Ghina di buat merona, hingga membuatnya spontan menarik bantal untuk menggantikan pahanya yang di jadikan Joen bantal.


"Kenapa sih!! kamu tu istri aku. Terserah aku dong mau pake paha kamu sebagai bantal."


"Hais! mulai deh," gerutu Ghina.


Joen menariknya untuk merebahkan diri di tempat tidur, dan memeluknya erat. Tubuh Ghina tiba-tiba menegang.


"Jan Joen! Jan Joen!! bukan kaya gitu cara memanggil suami yang benar."


"Ja....jadi...," Ghina tergagap.


"Kamu ma...mau di panggil apa?."


"Sayang!."


"Idiiiihhh!!! nggak mau!," Ghina berontak.


Joen langsung mengeratkan pelukannya"Buruan panggil sayang!, aku panggil kamu kan sayang."


"Aku nggak minta di panggil begitu," ujar Ghina.


"Ayo dong Ghina sayang!," rengek Joen. Sumpah, ketampanan Joen membuat Ghina nggak betah berlama-lama di tatap begitu dekat, juga di peluk begitu erat.


"Sayang," dengan ringan Ghina pun mengucapkannya.


Joen Senyum-senyum mendengarnya"Hemmmm panggil suamiku aja deh!."


Ghina tertawa"Iya, suamiku."


Joen mengelitik pinggang Ghina.


"Hey,,,.geli!."


"Aku juga geli dengar kamu memanggilku suamiku."


Mereka berdua justru semakin tertawa. Dasar Joen ini, dia yang ingin di panggil dengan sebutan seperti itu, tapi sendirinya malah merasa geli.

__ADS_1


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like Vote Fav dan komen ya teman ^,^


__ADS_2