
Penyelidikan yang di lakukan orang-orang Wiliam, dan beberapa siswa suruhan Jung membuahkan hasil dalam waktu yang singkat. Melalui Cctv kampus, mereka menemukan beberapa siswa yang terlihat mencurigakan, termasuk Fei dan Cathrin. Namun tak semudah yang di sangka, mereka menolak mentah-mentah di menjadi tersangka atas kejadian di toilet waktu itu.
"Kami hanya menyebar gosip, tidak menyerang fisik nona Andrea mu itu," Fei bersikeras menolak tuduhan Jung, melawan tatapan tajam dari pria tinggi itu.
"Terlihat keluar dari toilet tersebut, mengaku saja, Fei," Jung masih menahan diri. Andai saja suara hati ini bisa di relaksasikan, alih-alih membuang waktu berdebat dengan Fei dan Cathrin, Jung lebih memilih untuk menendang mereka berdua dari kampus ini.
"Bukti apa yang membuat kamu harus mengakui hal, yang tidak kami lakukan?!," Cathrin ikut membela diri.
Bukti?! ya! Jung tidak punya hal itu untuk menyeret dua gadis ini langsung ke dalam penjara. Ck! hanya sebatas rekaman mereka berada di area toilet tersebut, itu bukti yang sangat lemah.
Saat pikirannya sedang bekerja keras mencari cara agar Fei dan Cathrin lekas mengaku, ponselnya berdering.
"Ya om?," rupanya sang calon papa mertua menghubunginya.
"Sepertinya pelaku tersebut salah satu dari sahabat putriku, sebaiknya kau selidiki orang-orang terdekat nya dahulu," titah nya.
Salah satu sahabat Andrea yang bernama Vina ikut terseret dalam masalah ini. Dia di kenal sebagai gadis pemalu dan tak banyak bicara, dia menjadi sahabat Andrea sejak tahun pertama kuliah.
"Begitukah om? jadi...bukan para gadis yang membencinya?," ucapnya pelan menarap dua gadis yang masih menunggu kelanjutan interogasinya.
Jung terlihat mengangguk-angguk, obrolan mereka berlanjut sebentar. Hingga kemudian"Baiklah, kalian pergilaj. Tapi ingat, hal busuk akan menimbulkan bau, cepat atau lambat. Dan asal kalian tahu, aku paling benci dengan sesuatu yang berbau busuk!!," pungkasnya garang.
Untuk pertama kalinya, Fei merasa takut terhadap Jung. Sepertinya ulah mereka kali ini sangat keterlaluan.
"Kita selamat," bisik Cathrin saat akan pergi dari hadapan Jung.
"Sudahlah, cepat pergi dari sini," Fei menarik Cathrin keluar dari ruangan dosen.
__ADS_1
"Maaf pak Jung, apakah pelakunya akan benar-benar anda depak dari kampus ini?," "pak Dimas yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara.
"Tentu saja, aku tidak main-main dengan ucapanku. Hal ini tidak bisa di biarkan. Aku akan bicara dengan para dewan, lihat saja aku tidak akan memberi ampun pada pelaku itu."
"Kampus ini harus bersih dari perundangan," ucapnya lagi.
Entah mendapat keberanian dari mana, pak Dimas berucap"Bukan karena Andrea yang menjadi korban pak?."
Jung tersenyum sarkas"Apalagi korbannya calon istri ku, ke lubang semut pun akan ku kejar.
Di kediaman William. Gadis kesayangan Jung masih meliburkan diri dari segala kegiatan di kampus. Suara di muara pintu toilet saat dirinya terkunci, sungguh mengusik pikiran.
"Vina, aku rasa itu suara nya, tapi ku rasa juga bukan," gumamnya bimbang.
Sementara itu di kediaman lain, seorang gadis berkaca mata sedang berpikir keras. Bagaimana caranya mengelak jika akhirnya pak Jung sampai menginterogasi nya juga.
Dalam suara yang bergetar"Semua ini ku lakukan untuk dia, tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini."
"Selama dua tahun aku menyimpan rasa ini, membiarkan dirinya menjadi milik Andrea adalah sebuah kesalahan! aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi!," ucapnya lagi berbicara sendirian, berjalan mondar-mandir tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Namun, kecurigaan Jung pada Vina, ternyata salah. Gadis itu mempunyai alibi yang kuat, juga di sah kan oleh bibi penjaga kantin. Wanita itu berani bersaksi bahwa Vina berada di kantin saat Andrea menghilang.
Selain Vina, Andrea juga bersahabat dengan Calista. Gadis manis yang sangat murah hati. Mendengar kabar duka yang menimpa Andrea, gadis itu langsung menyambangi kediaman William, dengan membawa kue strawberry kesukaan Andrea.
Hari ini Tuan Wiliam meliburkan diri bekerja di kantor, dia ingin menemani anak gadis satu satu nya itu di rumah.
Mereka banyak menghabiskan waktu bersama hari ini. Berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas, sambil menghirup udara sejuk di pagi hari.
__ADS_1
makan siang bersama sambil menggoda Andrea tentang Jung, yang nampak sangat perhatian kepada putri tunggalnya.
Menghabiskan waktu bersama dengan bermain kartu di ruang tamu. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan bermain-main hari ini. Dan jika Calista tidak datang, mungkin mereka akan terus bermain menghibur hati lara Andrea.
Sebelum meninggalkan Andrea bersama Calista di ruang tamu, Tuan Wiliam ikut tergiur dengan kue strowbery yang di bawa Calista.
"Papa juga mau?," Andrea tahu betul dengan selera sang ayah, sama dengan seleranya.
Tersenyum kecil, wajah Tuan William saat tertawa membaut Calista ikut tertawa.
Pelayan membawakan dua gelas jus orange ke hadapan Calista dan Andrea. Setelah menikmati kue itu bersama Tuan William, sang ayah pamit undur diri sementara
mereka asik bermain kartu melanjutkan permainan yang tadi di mainkan Andrea bersama sang papa.
"Ups! ponsel papa ketinggalan. Aku mengantar ponsel ini dulu ya, kau tunggulah sebentar."
"Oke, Andrea," jawab Calista singkat menatap sang sahabat menaiki tangga, menuju lantai atas di ikuti pelayan pribadi.
Tak terasa hari semakin sore, akhirnya Calista pamit pulang. Setelah cipika-cipiki Andrea pun mengantar kepulangan sahabatnya hingga ke depan pintu.
Saat itu, kepalanya terasa pusing, dan perlahan bayang Calista menghilang dari pandangannya, juga pandangan yang lainnya.
"Hei! hei! aku kenapa?," batin Andrea. Tubuhnya terkulai lemas di ruang tamu.
"Nona! nona Andrea," pelayan pribadi yang tak pernah jauh darinya berteriak panik.
Imah berteriak memanggil majikannya"Tuan, ... Tuan Wiliaaammm!!!," kediaman William tiba-tiba riuh sore itu.
__ADS_1
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^