
Nyonya Sook akhirnya dapat bernafas lega. Jung lebih dulu siuman, meski masih nampak ling-lung. Pria berkulit pucat itu belum mampu merespon dengan baik orang-orang di sekitar.
Dokter memeriksa keadaannya dengan teliti"Tuan Jung!," panggil Dokter seraya menggoyangkan tubuhnya sang pasien.
Tak ada suara atau pun pergerakan tubuh, hanya getaran dari kedua bola mata, yang menarap dokter dalam"Tuan Jung Charlotte!!," panggil Dokter lagi.
Kedipan mata Jung, seperti angin segar di tengah risau hati mereka. Tarikan napas kelegaan terdengar jelas dari sang dokter.
Seperti tak puas setelah berhasil mengedipkan mata, Jung yang bertekad kuat untuk segera sembuh, membawa diri perlahan menatap sekitar. Hingga atensinya tersita pada tubuh tak berdaya sang kekasih di samping nya.
Wanita cantik yang terlambat di cintainya itu masih menutup kedua mata. Selang-selang yang tak Jung mengerti akan fungsinya masih melekat di tubuh wanitanya. Mata sayu pria itu menitikkan air mata. Dan perlahan wajah pucat itu memerah.
"Tuan Jung, apa anda mengenal mereka?," tanya Dokter sembari menunjuk kedua orang tuanya.
"Ya" sahutnya pelan dan terdengar parau.
Dokter kembali menarik nafas lega. Jung akhirnya sadar akan segera di tindak lanjuti.
Sebelum meninggalkan kamar pasien, dokter muda itu memeriksa keadaan Andrea"Kita harus bersabar Tuan," ucapnya kepada Tuhan Wiliam.
"Dia akan baik-baik saja kan Dok?," nampak harapan yang sangat besar di mata lelaki paruh baya itu. Dia sangat mengkhawatirkan putri tunggalnya. Dia bahkan tak pulang dari kemarin sore. Berkali-kaki Tuan Charlotte menenangkan nya yang kembali terisak menatap Andrea. Kejadian ini sungguh menjadi batu hantaman yang sangat keras, dalam hidupnya.
...........
Hari sudah semakin siang. Nari dan Ghina menginjakan kaki di kamar Jung dan Andrea.
Ya, katakanlah ini kamar mereka, tapi bukanlah kamar pengantin mereka. Ruangan berukuran cukup besar ini bagaikan medan pertempuran bagi mereka, bertarung melawan kematian.
Jung yang sudah nampak membaik meminta di dekatkan dengan Andrea, jemarinya kembali menggenggam erat tangan wanitanya yang masih terpejam.
Nari terisak di sudut ruangan, betapa malang nasib yang menimpa pasangan ini. Hati Nari terasa teriris, rasa kesalnya atas kejahilan Jung bertahun-tahun rasanya sirna saat itu juga. Sungguh, Jung sangat di sayangi oleh si bontot ini.
"William, kau makanlah dulu," Charlotte memperhatikan sang sahabat. Di saat jam makan telah usai, dia masih tak berjarak dari kursi di samping ranjang pesakitan Andrea.
"Bahkan untuk menelan makanan pun aku tidak bisa, Charlotte," terdengar lirih. Harinya menaruh iri, sebab Jung telah sadar. Sementara putrinya, masih setia dalam tidur panjang itu. Ingin rasanya dia protes pada sang maha pencipta, namun....ah sudahlah.
Tuan Charlotte mengusap punggung sahabatnya"Kau harus menjaga kesehatanmu juga William. Andrea akan sangat sedih jika akhirnya kau pun jatuh sakit"
"Mari kita makan bersama, menantuku sudah membawa makanan ke sini. Setidaknya makanlah walau sedikit saja," perlahan Tuan Charlotte menarik Tuan Wiliam berpindah ke sofa. Di hadapan mereka telah tersedia berbagai menu makanan yang di bawa oleh Nari dan Ghina.
Nari memberanikan diri melangkah mendekati Jung"Abang."
"Kenapa kalian sampai ada di dalam bis itu??"
pertanyaan Nari mewakili mereka semua yang ada di situ.
Kening Jung menyerngit, dia memegang kepalanya. Terbayang bagaimana tubuhnya terhempas mengenai kursi penumpang. Rasa ngilu di kakinya sangat terasa ketika bayangan dirinya mengejar tubuh Andrea yang terpental dan kepalanya terhempas ke tiang bis.
Raut wajah tenang itu berubah"Akkhhh!!"dia menjerit memegangi kepalanya.
Mereka semua pun panik. Joen tergesa memanggil Dokter dan bergegas Dokter beserta perawat menangani Jung kembali. Tak berapa lama dia berangsur tenang. Dia nampak kelelahan dan tertidur.
"Dokter, ada apa dengan abang ku? aku hanya mengajak nya berbicara. Aku hanya menanyakan kecelakaan yang menimpa mereka."
__ADS_1
"Nona, korban kecelakaan separah ini tentu masih sangat rentan dengan pertanyaan seperti itu. Untuk sementara, tolong jangan menanyakan hal yang bersangkutan dengan kejadian yang telah menimpanya, ya."
Nari memeluk Nyonya Sook, tangisnya pecah. Gadis itu sungguh menyesali kebodohannya menanyakan hal sensitif itu kepada Jung.
Wanita itu hanya bisa menenangkan putri bungsunya, dia pun sangat terpukul. Namun, melihat Andrea yang belum sadarkan diri, setidaknya Sook masih dapat bernapas lega, putranya telah melewati masa tersulit.
Sehari...
Dua hari....
Tiga hari....
"Dok, lakukan sesuatu untuk Andrea," Jung yang mulai membaik memohon kepada Dokter.
Gadis yang dia cintai masih terbujur tak berdaya, sungguh dia sangat merindukan senyuman gadis cerewet ini.
"Apa harus di rujuk ke luar negeri Dok??"tanya Tuan Wiliam lagi.
"Keadaan fisiknya sudah sangat membaik Tuan, beri kami waktu beberapa hari lagi. Kami sedang berusaha," ujar Dokter lirih. Dirinya merasa sangat bertanggung jawab akan keadaan Andrea.
Tuan Wiliam nampak terhenyak, utuk kesekian kalinya dia menatap nanar anak gadisnya.
"Maafkan saya om..saya gagal menjaga Andrea"suara lirih Jung menyadarkan Tuan Wiliam dari lamunan nya.
"Tidak Jung, ini sudah takdir kalian. Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun di sini," ucapan Tuan Wiliam membuat hati Jung bagai tertusuk duri.
Sekarang pun Jung belum pulih total. Dia masih harus menggunakan kursi roda. Cidera di kaki membuatnya belum bisa berjalan, bahkan sekedar untuk berdiri
.........
Pekerjaan kantor yang menumpuk sedang menunggunya, sementara dia hanya pulang sebentar untuk menghadiri pertemuan dengan klien. Sebelum jam 10 malam beliau sudah kembali ke rumah sakit, mengurus segala keperluan Andrea. Dan mau tidak mau pekerjaan itu dia bawa ke rumah sakit.
Nari dapat melihat ketulusan seorang ayah pada diri Tuan William. Tanpa mengenal lelah dia selalu sigap mengurus Andrea.
..........
Di kediaman Charlotte..
"Sayang, aku sangat iri kepada Andrea. Tuan William sangat perhatian kepadanya," ucap Ghina.
"Aku jadi teringat almarhum Ayah,"
"Mereka hanya tinggal berdua. Keluarganya di Amsterdam juga tak bisa menjenguk ke sini. Setahuku Tuan William hanya memiliki seorang ibu dan adik perempuan di sana. Ibunya juga sudah sangat tua dan lemah," jemari Joen mengusap pucuk kepala Ghina..
"kamu jangan banyak berpikir ya, ingat Joen junior,"pelan dia mengusap perut sang istri..
"Hem"jawab Ghina.
"Apa kau merindukan ayah? aku akan mengantarkan mu jika ingin mengunjungi tempat pembaringan terakhir nya."
"Setelah keadaan membaik, aku punya banyak cerita yang akan ku sampaikan pada ayah dan ibu."
Joen mengecup singkat kening sang istri"Iya, sekarang kau istirahat, jangan membuat buah hati kita lelah."
__ADS_1
Ghina merangsek masuk dalam pelukan Joen, merasakan kasih sayang yang tulus dari sang kekasih hati ini.
Malam itu Nari dan Tuan Charlotte menemani Tuan Wiliam. Mereka banyak bercerita, mengenang masa kecil Jung dan Andrea. Berharap dapat sedikit membuang rasa resah di hati Tuan Wiliam.
Jung dengan setia duduk di samping ranjang Andrea, memandangi wajah kekasihnya yang nampak sangat pucat"Sayang, bisakah kau bangun? jangan tidur terlalu lama. Aku merindukan mata indahmu," bisiknya samar.
Di pandanginya jemari-jemari lentik Andrea"Jemari cantik ini seharusnya sudah di sematkan cincin pernikahan kita, oleh karena itu cepatlah kau bangun. Orang tua kita berniat mempercepat pernikahan kita, sayang," tidak ada respon apapun dari Andrea, hati pria itu terasa berlobang, terasa sangat sakit.
Sementara Tuan Charlotte, Nari dan Tuan Wiliam terhanyut dalam kisah masa lalu. Jung pun perlahan terlelap tidur di samping Andrea.
Malam semakin larut, Nari berniat membangunkan Jung dan menyuruhnya berpindah ke tempat tidur.
"Biarkan saja," melihat Jung yang tertidur nyenyak, Tuan Charlotte tak tega jika harus membangunkannya. Apalagi Jung memang tidak mau jauh-jauh dari Andrea. Tuan Charlotte pun meletakan selimut di pundak anak sulungnya.
..........
"Wahhh!!.tidurnya nyenyak sekali," jemari lentik itu memainkan helai rambut lelaki yang tertidur pulas di hadapannya.
"Hidung nya tajam sekali, oh Tuhan tampan sekali pria ini!!."
"Juga...akh! kenapa kulitnya mulus sekali, sementara kulitku terasa kasar," gadis itu meraba pipinya, kemudian meraba kembali pipi pria tampan yang masih tidur di depannya.
Dengan nakalnya, jemari gadis itu bergerilya menjelahi wajah lelaki rupawan di hadapannya"Hihihi, kau sungguh tampan."
Sementara Nari, merasa terusik dengan suara seorang wanita di ujung sana. Di kamar itu tersedia dua ranjang berukuran sedang di peruntukan bagi keluarga pasien, begitulah fasilitas kamar VVIP di rumah sakit itu. Nari mengusap mata sembari mengambil duduk, dan..."Andrea!!..kau sudah siuman..!!," jerit Nari di subuh buta.
"Tuan William!!," Nari menghampiri Tuan Wiliam yang masih tertidur pulas di ranjang lain.
"Pa, Andrea sudah sadar pa!," dia juga membangunkan sang papa di sampingnya.
Dengan sigap mereka menghampiri Andrea yang sedang membelai rambut Jung yang terdiam beradu pandang dengan Andrea.
"Sa...sayang," panggil Jung pelan."
Mata bulat yang dia rindukan berkedip-kedip kepadanya"Ada apa? kenapa kau menatapku seperti itu? tidak biasanya kau diam saja saat ku pegang-pegang, Tuan Jung yang dingin."
Mereka semua bingung dengan ucapan Andrea.
"Dre, apa yang kau bicarakan!," Nari, cepat panggilan dokter.
"Sebentar pa, Andrea kenapa? ini si Tuan muda dingin sudah tidak takut kepadaku?? biasanya dia akan histeris saat berdekatan denganku, iya kan pa," Andrea merasa bingung, akan kehadiran Jung, yang bahkan tidur di dekatnya. Saat dia membuka kedua mata, wajah Tuan muda ini menjadi hal pertama yang dia lihat. Owh!! apakah dia sedang beruntung???
"Andrea sayang, pelan-pelan saja bicaranya," dan kini Jung membelai lembut wajah Andrea.
"Hihihi," Andrea tertawa, sementara mereka yang menyaksikan itu bertanya-tanya dalam hati.
"Naria, abang mu kerasukan hantu? dia bahkan membeli wajah ku!."
Nari semakin bingung dengan apa yang Andrea bicarakan.
"William, cepat kau panggil dokter,!!" ujar Tuan Charlotte.
To be continued...
__ADS_1
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^