Storge

Storge
Hwaiting, Jung!


__ADS_3

Di halaman rumah sakit.


Dokter Wenhan berniat mengantarkan mereka sampai ke mobil. Andrea muncul dari balik pintu utama rumah sakit, berjalan melewati halaman rumah sakit nan luas dan asri. Untuk beberapa detik, Wenhan terpaku memandang Andrea.


Senyum manis tersungging di wajah cantiknya saat melihat Andrea"Bahkan senyumnya pun sangat mirip dengan Alesa," batin Wenhan.


"Terimakasih dok, sudah merawat kami dengan baik," suara Andrea mengejutkan Wenhan.


"Itu sudah kewajiban saya nona Andrea," jawabnya langsung. Nyaris saja pria itu tergagap berbicara dengan Andrea.


"Andrea, panggil saja aku Andrea!," pinta Andrea.


"Tidak bisa, anda adalah pasiean saya."


"Hei, apakah pasien dan dokter tidak boleh berteman?," mata bulat Andrea menatap nya dengan senyum manis itu lagi.


"Sayang," panggil Jung saat itu, menarik Wenhan dari wisata masa lalu tentang gadis pujaan hati. Wenhan pun tersadar, gadis ini milik orang lain juga bukan dari kalangan biasa.


Dokter muda itu janya mengulas senyuman, alih-alih menjawab pertanyaan yang di lontarkan Andrea.


"Ya sudah, di tunggu kedatangan anda di rumah ya, dok," langsung di Angguki Wenhan, setelahnya Andrea bergegas menghampiri Jung yang sudah masuk terlebih dulu ke dalam mobil. Karena tujuan mereka adalah singgah di kediaman Andrea jelas saja mereka akan satu mobil.


Joen akan bersama Tuan Wiliam dan Hana, sedangkan Tuan Charlotte satu mobil dengan pasangan yang di bilang Joen edan ini.


Lambaian tangan Jung dan Andrea pada dokter Wenhan semakin memperkuat semangat dokter muda itu untuk menyembuhkan Andrea, demi kebahagiaan sepasang kekasih itu.


...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–...


"KYAAAAA!!! 😍😍😍"


Imah, bi Ida, dan Atun meloncat girang, pasalnya pemandangan yang mereka lihat sungguh membuat hati menjerit.


"Buuuu, aku mau suami tampan seperti diaaa," Imah mengguncang tangan bi Ida.


"Ibu juga mau suami baru seperti dia mah," dan si bu tidak kalah genitnya dari sang putri.


"Akh! sungguh tidak terbayang jika ayang Tono berubah setampan itu, aku akan memasukannya ke dalam karung dan menyuruhnya untuk diam di rumah saja," Atun tak kalah histeris dan gembira.


"Ya ampun, para wanita kalau lihat yang good looking, di tambah good rekening, kita pria jelata rasanya tidak berarti apa-apa!!."


"Ini hanya bercanda, mas," Atun tidak enak hati, dia mendekati Tono yang sedang mengangkat makanan ringan untuk anak-anak panti asuhan.


Jung dan Joen duduk bersebelahan di meja makan, di samping kiri Jung Andrea duduk manis dengan sebuah apel di tangannya.


"Sayang, ingat ya besok kau harus menelpon aku."

__ADS_1


"Iya sayang, dan aku sangat berharap kau tidak menolak teleponku," Jung mengambil pisau dan mengupaskan Apel itu untuk Andrea. Menatap gadis itu dengan pandangan teduh dan penuh cinta. Dia pun tersenyum hangat.


"Aw aw aw!! Tuan muda baik sekali. Rasanya aku rela jika harus jadi apelnya."


Udin menarik lengan bi Ida.


"Eh, anak gadismu tolong di jinakin, tidak enak kalau sampai kedengaran Tuan besa, itu calon menantu orang, jangan berhayal untuk memilikinya!!," ujarnya menekankan.


Dalam hati Ida setuju dengan ucapan Udin,"Aduh!!," bi Ida menepok jidatnya.


"Ayo bekerja! sudah cukup mengagumi milik orang lain, ingat!! pria tampan itu milik Nona muda kita."


"Sebentar ibu, adik Tuan Jung juga tampan sekali."


"Dia sudah punya istri, bukankah kamu yang menemani Nona Andrea datang ke acara pernikahannya tempo hari."


"Itu Hana, ibu!," Imah mengoreksi ingatan si Ibu.


"Benar-benar mantap Gen nya Tuan Charllote. Putra-putranya tampan rupawan," Imah masih saja berkomentar.


"Sudah Mah, ayo bekerja!!," tatapan bi Ida mulai mengintimidasi. Sekali tatap Imah langsung menciut, mereka langsung bubar dan kembali mengerjakan tugas masing-masing.


Setelah menyantap hidangan dan berbincang beberapa waktu keluarga Charlotte pun pamit pulang. Jung merasa khawatir meninggalkan Andrea, dia menahan Joen yang hendak membawanya masuk ke dalam mobil.


"Apakah besok dia akan mengingatkan ku dengan mudah?," gumamnya lirih, terlihat jelas raut kesedihan di wajah itu.


"Rasanya tidak lucu Joen, Andrea pasti akan terkejut setiap pagi saat melihatku, pria yang bukan siapa-siapa baginya."


"Lantas, harus bagaimana lagi? kau terlalu memikirkan hal itu, wajah sedihmu tidak sedap di pandang," ck! beginikah cara Joen menghibur Jung? sangat tidak patut untuk ditiru.


"Bukan seperti itu, Joen. Lihatlah aku masih cidera," Jung menatap kaki kirinya" Kata Dokter, perlu waktu lama agar kakiku pulih Joen. Perjuanganku masih sangat panjang."


Rupa-rupanya bukan hanya Tuan Charllote yang menyimak obrolan Joen dan Jung"Besok aku akan ke rumah mu," Andrea kembali menghampiri Jung," Dokter Wenhan akan ke rumah lusa, untuk memeriksa ku."


Hati para ayah merasakan perih, mereka hanya mampu saling berpandangan. Yang satu hampir cacat, yang satu hilang ingatan. Miris sekali nasib mereka berdua.


"William, apa sebaiknya mereka kita kirim ke luar negeri saja. Kita cari pengobatan yang sangat bagus untuk mereka."


"Kita lihat perkembangan di sini dulu Charlotte, ku dengar pengobatan rumah sakit Li sangat bagus. Untuk sementara kita percayakan anak kita kepada mereka dulu."


..........


Beberapa saat kemudian, Jung sudah berada di kamarnya. Dosen tampan masih saja mengkhawatirkan Andrea. Awan hitam begitu enggan meninggalkan raut wajahnya.


"Abang, Andrea akan segera sembuh. Yakinlah," Ghina mendapati Jung sedang melamun di balkon. Ghina mendekatinya dan mencoba menenangkan pikirannya.

__ADS_1


"Dia benar-benar berbeda, Ghina, jika belum mengingat hubungan kami. Kemudian dia akan berubah ceria jika pikirannya sudah tersambung dengan sama ceritaku," suara Jung terdengar bergetar, Ghina sangat mengerti akan perasaannya.


Nyonya Sook muncul dengan membawa jus dan cemilan"Jung, di makan ya nak," dia meletakan nampan di meja balkon.


Ghina dan nyonya Sook bertemu pandang. Ghina menggeleng perlahan"Fokuslah pada menyembuhan kamu dulu, Jung. Meskipun Andrea belum sembuh total, kami akan menikahkan kalian."


"Bagaimana bisa Ma, jika Andrea menolak," sahut Jung lagi. Melepas pandangan ke langit luas, berhadapan Kesabaran nya seluas langit itu.


"Kami akan menikahkan kalian saat dia mengingat dirimu."


"Mama, kejadian hari ini saja menghilangkan dari mereka ingatannya ketika esok tiba. Bagaimana dengan pernikahan? dan tiba-tiba memilik suami. Bukankah Andrea akan menjadi bingung?," nada bicara Jung sedikit meninggi. Saran dan keinginan mama, baginya sangat tidak masuk akal. Sama saja seperti memberinya harapan palsu.


"Kalian bisa menikah setiap hari bukan? sepertinya menarik jika harus menikah 7 kali dalam seminggu," canda Nyonya Sook.


"30 kali dalam sebulan, Ma," tambah Ghina lagi. Dua wanita itu mencoba bergurau bersama Jung.


"Akh, candaan kalian tidak lucu. Jung ingin beristirahat di kamar saja, Jung lelah dan ingin segera tidur," pria itu memutar kursi rodanya dan berbalik masuk ke kamar.


Candaan dan gurauan mereka tidak bisa mengusir kesedihan Jung. Sempat terlintas di pikiran Jung akan perkataan sang Mama" Mama aneh, bercandanya tidak menarik," gumamnya.


Untung saja kaki kanan nya baik-baik saja. Setidaknya dia masih bisa bergerak bebas dari kursi roda meskipun tanpa bantuan orang lain.


Nyonya Sook menyusul nya dan mencoba menghiburnya"Kau sangat mencintainya, ya?," pertanyaan itu di jawab anggukan oleh Jung.


"Lantas, kenapa kau tidak bisa menerima kekurangannya?, bukanlah cinta itu harus saling memahami."


"Ini berbeda Ma, Andrea lupa bahwa Jung sangat cinta dan sayang sama dia," terdengar jelas suara Jung bermuatan emosi.


"Hei jangan galak, Mama hanya ingin memberimu semangat. Lagipula, bukanlah dahulu kau berhasil meyakinkan dirinya, kenapa tidak kau lakukan kembali, berjuang untuk mendapatkan cintanya?."


Jung tediam mencerna ucapan sang Mama. Jika hanya berjuang seperti kemarin, hal itu bukan apa-apa baginya. Tidak terasa berat sama sekali.


"Tapi ingatannya Ma....?."


"Tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting kau kejar saja dirinya kembali."


Dorongan semangat dari Mama, membuat Jung sedikit lega. Setidaknya dirinya masih punya banyak harapan.


Nyonya Sook menaikan sudit bibir sang putra ke atas"Smileeee!!."


"Jangan menyerah, terus maju pantang mundur. Mama akan setia menunggu kedatangan menantu Mama lagi di rumah ini," dengan kocak dia mengangkat lengannya dan memasang manis kepada Jung.


"Makasih Ma," akhirnya Jung sedikit tersenyum.


Sebuah keyakinan kembali tumbuh dalam diri Jung. Menyadari dirinya tak harus terhanyut dalam kesedihan. Sebaliknya, dirinya harus semangat, demi dirinya dan juga Andrea.

__ADS_1


To be continued..


~~β™‘β™‘happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^ terimakasih atas segala dukungannya..


__ADS_2