Storge

Storge
Idola kampus


__ADS_3

Kehadiran Jung di kantin kampus membuat kegaduhan seantero kampus. Salah satu dosen sekaligus putra dari pendiri universitas Charlotte itu sangat menarik perhatian. Bagaimana tidak, terlepas dari sikap pecicilannya saat di rumah, Jung di kenal sebagai pria lembut dan hangat di tempat itu. Saking hangatnya, Jung sampai membuat para pria bergidik ngeri saat berdekatan dengannya.


Bukan rahasia lagi, Jung kerap di gosipnya sebagai penyuka sesama jenis. Gila kan!! sudah cukup lama gosip itu beredar. Namun, bukannya mengelak, Jung justru kerap menggoda siswa pria saat melewari lorong-lorong kampus. Membuat gosip itu semakin panas.


Bukan hanya itu, seolah menutup mata dari gosip yang telah beredar, para wanita yang begitu menyukai Jung selalu melempar ungkapan cinta tanpa mengenal tempat. Dan Jung, begitu ceria menanggapi ungkapan cinta itu. Seperti sekarang ini....


"Pak Jung, Alapyu sekebon," jeritan salah seorang mahasiswa wanita membuat Jung tertawa.


"Alapyu sekebon juga," sahutnya begitu santai.


Betapa hati wanita itu berbunga-bunga, juga membuat iri para wanita lain yang menyaksikan ungkapan cinta yang di sambut hangat.


Para menggemar Jung masih mengerubungi dirinya menuju konter makanan. Membuat pria itu sedikit kesulitan untuk memesan makanan.


"Dari pada berdesakkan di sini, kenapa kalian nggak ke parkiran saja," celetuknya memesan minuman pada bibi kantin.


"Ada apa di parkiran pak," tanya salah seorang dari fans sejatinya.


Jung melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya"Menurut prediksi ku, Joen pasti sudah sampai di parkiran sekarang. Dan apa kalian tahu....," melihat antusiasme yang kian memuncak saat mendengar nama Joen, Jung sedikit berbisik kepada mereka"Joen habis potong rambut."


"Kyaaaaa!!!!," cewek-cewek langsung menjerit. Seketika sekumpulan pemuja para Tuan muda itu menuju parkiran. Bayangan wajah tampan Joen yang habis potong rambut membuat mereka sangat tidak sabaran.


Di kejauhan Joen telah melihat keramaian itu, telah mahir dalam menghindari kegaduhan tak berguna itu, Joen segera mengambil langkah seribu. Memasang jumper dari jaket yang dia kenakan, Joen segera berlari menuju lorong samping. Menuju tempat yang membuatnya terbebas dari para wanita gila itu.


Perpustakaan...


Di tempat itulah Joen lebih banyak menghabiskan waktu saat di kampus. Bukan semata membaca buku-buku, bermain game pun terasa mengasikkan saat berada di sana. Demi meminimalisir kegaduhan, Joen selalu membawa headset saat sedang berada di kampus. Bahkan, demi menghindari sapaan para wanita, Joen sengaja memasang benda itu di telinganya, dengan begitu mereka yang menjumpainya akan segan untuk berbicara dengannya.


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


SMA Widuri...


Rena menyenggol siku Ghina yang sedang menelungkupkan wajah ke atas meja. Gadis itu terlihat sangat lelah, hingga suara sol sepatu pak Ibrahim tak terdengar jelas di telinganya.


"Ghina....," bisik Rena.

__ADS_1


"Berisik ih!!!," Ghina mengangkat wajah, hampir mengomeli Rena, namun fokusnya tersita pada seseorang yang sedang berdiri di samping pak Ibrahim.


"Murid baru?," ujarnya bertanya pada Rena.


"Jelas dong, masa murid lama dari kelas sebelah."


"Ck, nanya doang Ren. Galak amat, mbak bulan sedang bertamu ya?."


Rena memanyunkan bibirnya"Enggak juga sih, kesel aja, bangunin kamu tuh susah banget. Emang tidur jam brp sih tadi malam?."


"Seperti biasa.... malam-malam ku selalu terasa panjang."


Rena menatap iba kepada Ghina. Gadis kecil itu selalu tidur di atas jam 10 malam, entah itu karena bekerja di kediaman Charlotte atau sedang lembur mengerjakan PR dari teman sekolah nya. Meski bertubuh kecil, Ghina di anugerahi otak dengan kecerdasan tinggi. Demi menambah tabungan untuk biaya masuk kuliah, Ghina membuka jasa mengerjakan tugas-tugas sekolah dari rekan sekolahnya.


"Ehem.....," suara berat pak Ibrahim membungkam mulut dua siswi itu.


Pria berwajah datar itu lantas mempersilahkan si murid baru memperkenalkan diri.


Usai memperkenalkan diri, murid baru yang di ketahui bernama Metha itu di persilahkan untuk duduk. Kursi kosong yang tersisa hanya ada di bagian belakang, dalam barisan kursi Ghina dan Rena.


"Hick, itu tempat impian aku," tukas Ghina menatap arah Metha.


Ghina mencebik ocehan Rena, tapi ucapan sahabatnya itu memang benar. Selain kecil, baik hati dan...sedikit cantik, Ghina di kenal sebagai murid yang doyan tidur di jam pelajaran. Namun anehnya, nilai-nilai gadis itu terbilang bagus, di atas rata-rata teman sekelasnya.


"Putri tidur, sudah selesai belum ngobrol nya?," pak Ibrahim menatap tajam ke arah Rena dan Ghina. Sedari tadi, bisik-bisik mereka terdengar samar di telinga pak Ibrahim, guru sangar yang tidak akan memulai pelajaran jika keadaan kelas tidak dalam keadaan tenang.


Tanpa menjawab, Rena dan Ghina langsung menelan ocehan mereka.


Dalam ketenangan, para murid-muridnya mulai belajar di bawah pantauan dan tatapan tajam pak Ibrahim. Bukan hanya Ghina dan Rena, murid-murid lainnya pun tak berani mengoceh tentang hal tak penting, selain membahas mata pelajaran saat itu. Dan entah mengapa, setiap jam pelajaran yang di pegang guru sangar ini waktu seolah lambat berjalan.


Hingga, saat bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Terdengarlah helaan napas berjamaah dari mulut para siswa, masing-masing dari mereka berwajah lega kembali.


"Huffhhh!! aura pak Ibrahim horor sekali," celetuk Rena.


"Khodamnya pasti si raja singa," Ghina menimpali sambil menata kembali buku-buku pelajarannya ke kolong meja.

__ADS_1


Rena melirik Ghina"Kalo segalak pak Ibrahim khodamnya raja singa, kamu yang bawel ini kira-kira khodamnya apa ya?."


Menggigit bibir, Ghina mendelik membalas tatapan mengolok Rena"Khodam ku macan."


"Kok tau? udah pernah ngobrol sama khodam nya ya?," ledek Rena lagi.


"Heh, jangan asal ngomong ya, aku serius tentang khodam ini. Khodamku beneran macan lho, makanya aku berani dan gesit."


Rena di buat menyerngitkan kening mendengar ucapan Ghina. Lantas, dia pun bertanya tentang khodam yang ada pada dirinya.


Ghina tersenyum miring"Kucing."


"Weh...kok kucing? emang ada khodamnya kucing??."


"Ada dong, kamu contohnya, makanya, jangan ngatain aku bawel melulu. Kamu tahu kan macan sukanya makan hewan lemah, seperti kucing misalnya," Ghina membuka jemari-jemarinya dan mengarah kepada Rena. Seperti macan yang hendak menerkam mangsanya.


Rena menatap Ghina, kaku.


"Kenapa? nggak takut?," tanya Ghina menurunkan kedua tangannya.


"Nggak lucu!," tukas Rena mencibir.


"Cih! nggak asik. Ya sudah, aku lapar. Ke kantin yuk," ajak Ghina usai berkelakar tak berfaedah bersama Rena.


"Gas!!!," seru Rena merangkul pundak Ghina dan bersama melenggang keluar kelas.


Saat kedua sahabat itu tak terlihat lagi, Metha, si murid baru menunduk usai menatap mereka. Gadis itu mengeluarkan kotak bekal yang di siapkan pelayannya sebelum berangkat sekolah.


Dengan malas, Metha menikmati bekal itu sembari menyapukan pandangan pada seisi kelas.


"Aku tidak menyangka akan bersekolah di tempat ini," gumamnya membuang napas panjang.


To be continued....


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—

__ADS_1



...Jung Charlotte ...


__ADS_2