
Wangi aroma kopi semerbak tercium ke seluruh penjuru kamar Joen dan Ghina. Seperti biasa, setelah kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan, istri kesayangan Joen memulai harinya dengan menghirup secangkir kopi susu sambil menikmati udara pagi di balkon kamar.
Pagi ini dia berniat menemani bibi An menyediakan sarapan di dapur. Namun niatnya itu selalu di tolak mentah mentah oleh bibi An.
"Neng Ghina bukan pembantu lagi di rumah ini, biar bibi saja yang mengerjakan pekerjaan memasaknya," selalu begitu ucapan bibi An jika Ghina ingin terjun ke dapur.
Ghina sudah sangat bosan menjalani rutinitas monoton setiap hari. Terkadang dia menemani Nyonya Sook merangkai bunga atau menyiram bunga, namun dia ingin rutinitas yang dapat menyibukannya dalam waktu beberapa lama. Intinya, Ghina ingin bekerja. Dan keinginan itu jelas tak di setujui oleh Joen, begitu juga dengan mertuanya.
Ghina menghampiri Joen yang masih terlelap dalam tidur. Perlahan jemari kecilnya membelai wajah Joen,.menyisir rambut pria itu dan menyusuri tulang hidung suaminya.
"Ng!," pria kesayangannya nampak terusik.
Ghina mendekatkan secangkir kopi pada Joen"Iya tau sayang, sudah pagi ya," dengan malas suaminya berusaha membuka kedua mata, terlihat jelas dia masih nampak sangat mengantuk.
"Apa aku boleh jalan-jalan hari ini?," bicara pelan.
"Bersama siapa?."
Ghina memutar bola mata kekiri dan kekanan, sedang berpikir"Entahlah, aku belum tau hendak jalan-jalan dengan siapa."
"Kau bosan di rumah? keseharian menjadi mahasiswa sangat menyenangkan sayang," ujar Joen, berbicara sedikit hati-hati.
Ghina seolah tuli, ucapan Joen tak di indahkan. Baiklah, Joen mengurungkan niat untuk membujuk istri kecil nya"Kau tahu bukan aku sudah resmi bekerja."
"Ya, aku sangat tahu hal itu," sahutnya"Aku ingin menghabiskan waktu bersama Andrea, tapi aku yakin dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama bang Jung, alih-alih diriku."
Betapa kesepiannya Ghina, membuatnya Joen bangun dan"Nanti siang aku bisa menjemput mu," dia membetulkan poni Ghina yang sedikit berantakan. Dan jika Ghina tak ingin melanjutkan pendidikan, apakah Ghina akan bersedia menjalankan program kehamilan?.
Bangun tidur mendengar suara tangis bayi...
__ADS_1
Pulang bekerja di sambut dengan kelucuan seorang bayi, Joen malah tersenyum sendiri membayangkan
"Kalau kau merasa bosan, sedangkan kau tidak ingin melanjutkan pendidikan, apa kau akan mengabulan sesuatu?."
"Mengabulkan sesuatu?."
"Keinginan yang ku tulis di lampion, apakah kau akan mewujudkan nya?."
Ghina menahan tawa, dia merasakan Joen sedikit menyandarkan kepala di pundaknya.
"Apa kau sangat ingin memiliki anak?," mengelus elus kepala suaminya.
Joen merasa malu sendiri, menjadi salah tingkah hingga bergulingan di atas tempat tidur"Ghina ku sayang, kau telah membuatku banyak berubah."
"Berubah jadi supermen?? batman??spidermen..??."
"Kau harus bertanggung jawab, bagaimana jika aku meleleh karena godaanmu!."
"Aku akan memasukanmu ke dalam kulkas," Joen mengulum senyum. Ghina sungguh gemas menyaksikan wajah malu-malu sang suami. Dia lantas menggelitik pinggang pria itu hingga membuatnya menjerit.
Pasangan itu mulai ribut lagi pagi ini, terus saja bercanda dan tertawa. Keberadaan Jung dan Nari terlupakan"His, susah kalau serumah dengan pasangan edan," benar saja! Jung merasa terganggu hingga mengumpat.
Bagaimana tidak, keributan itu memaksanya terbangun. Padahal hari ini dia tidak ada jadwal ke kampus. Impiannya untuk bangun kesiangan musnah sudah.
Lantas bagaimana keadaan Nari??...
"Demi apa??! pagi-pagi sudah ribut! manusia-manusia tidak pengertian sekali. Waktu tidurku jadi terbuang 20 menit," tersungut-sungut Nari menarik handuk dan memasuki kamar mandi. Kalau sudah terbangun dia tak akan bisa tidur lagi.
Tampang mereka di meja makan pun membuat perut terasa kenyang.
__ADS_1
"Apa kalian lomba cemberut??," Nyonya Sook menatap Jung dan Nari bergantian.
Jung nampak masih sangat berantakan dengan rambutnya acak acakan.
Sementara Nari terus memonyongkan mulutnya, dan sesekali melengos menatap Joen.
"Seharusnya kalian mengucapkan terima kasih kepada kami, secara tidak langsung kami membangunkan kalian supaya tidak terlambat beraktivitas," tanpa dosa Joen terlihat cuek menyantap sarapannya.
Ghina memilih diam, bukan karena tersinggung dengan kedua iparnya. Mereka bertiga punya cara masing-masing dalam mengekspresikan rasa saling menyayangi antar saudara.
"Nari mau abang antar?," Joen mencoba membujuk Nari.
"Ini masih sangat pagi, sekolah masih sepi," sahut Nari masih cemeberut.
"Berikan aku roti," Jung menyela pembicaraan Joen dan Nari. Dia meminta roti kepada Joen.
"Tuk!," dengan santainya Joen mengambilkan roti untuk Jung, dengan cara yang tidak sopan.
"Ayo dong Nariaaaa, abang antar ke sekolah," dia masih membujuk Nari.
Mendengus, Nari akhirnya bersedia"Oke deh kalau di paksa. Tapan kapan-kapan traktir aku makan di kedai Arin ya."
"Siap nona muda!!," sahut Joen. Dengan begitu masalah dengan Nari pun selesai.
Terus masalah dengan Jung bagaimana?
"Sudahlah, dia sudah tua! tidak perlu di bujuk!!", pikir Joen.
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
__ADS_1