Storge

Storge
Insecure


__ADS_3

"Cup!, selamat pagi sayang," Ghina di bangunkan dengan ciuman selamat pagi. Dengan malas dia membuka kedua mata, oh sungguh,kantuk itu masih menyelimutinya.


Dengan sangat terpaksa dia bangun dari tidur dan melirik jam di dinding kamar, jam menunjukkan pukul 05:12.


"Sayang, ini subuh! bukan pagi," sungutnya kembali menarik selimut di tangan Joen.


Tanpa di sangka, Joen menggendong tubuh kecil Ghina ke kamar mandi dan mendudukannya di closet.


"Bangun! apa kau ingin reka adegan di tempat ini?," dia mengingatkan kejadian malam pertama mereka, eh salah! malam kedua mereka, atau...ah! malam apa pun itu terserah saja.


"Apa yang kau inginkan? ini masih subuh sayang, kau ingin aku melakukan apa? sekolah? oh ayolah Joen, ini hari minggu!!," mencoba mengusir rasa kantuk yang masih betah bertengger di pelupuk mata, Ghina memilih membasuh wajah saja, alih-alih mandi.


Seperti biasa, Joen mengacak-acak rambut Ghina kedmudian memegangi kedua pipi istrinya yang basah"kita akan jalan-jalan hari ini," cubitan Joen terasa menyengat hati Ghina.


"Oh ya?? kalau begitu ayo kita mandi!," dia menarik baju suaminya, menariknya ke bawah shower.


Joen mengelak" Aku sudah mandi, sayang."


Seperti seekor kucing, Ghina mencoba mencium aroma tubuh Joen"Awh, dia wangi sekali," bisik hatinya.


"Ok, baiklah," dia melepaskan pegangannya pada baju Joen" Kau keluar dulu ya Tuan muda, nanti aku buatkan kopi."


Joen si budah cinta, menurut begitu saja. Dia menunggu Ghina mandi sembari duduk santai di balkon.


"Wooyyy!!!bangun wooyyyy!!," dasar Joen ini, merasa bosan dia iseng meneriaki Jung di kamar sebelah.


Sementara Jung memilih diam tak bersuara.


"Andrea nungguin di bawah woyy!!."


Saat itu rerdengar suara pintu balkon terbuka. Jung nampak dengan rambut berantakan, celingukan menyapukan pandangan ke halaman rumah. Bahkan mobil sang kekasih pun tidak ada di bawah sana.


"😁" Joen tersenyum lebar.


"πŸ˜‘" sialan!! Jung baru sadar bahwa telah di usili oleh sang adik durjana.


"Curut!," ujarnya menatap Joen sambil menggosok kedua matanya.


"Mau kemana kamu, pagi-pagi sudah nangkring di situ," dia menyandarkan diri di pagar balkon.


"Nangkring itu memanjat pohon, dosen kok bahasanya berantakan."


"Kau ini, di temani ngobrol malah protes. Lebih baik aku lanjut tidur, matahari saja masih sembunyi," pria itu melenggang meninggalkan Joen di balkon kamar sebelah. Sebelum menutup pintu dia menatap Joen sinis.


"Bweekk πŸ˜‹πŸ˜‹!!," Joen mengejeknya.


"Orang gila," gumam Jung. Hati oh hati, kenapa kau jadi berdebar? apa karena Joen menipunya dengan membawa bawa Andrea?


...***...


Ghina sudah berpakaian santai ketika keluar kamar dan menyiapkan kopi untuk Joen.


"Bibi, selepas ini Ghina mau ikut masak," ucapnya pada bibi An.


"Jangan neng, katakan saja neng Ghina mau makan apa, biar bibi yang masakin."


"Ghina bantuin bibi," ujarnya. Dia berlalu membawa segelas kopi untuk Joen.


.........


Kopi hangat sudah tersedia di meja. Ghina duduk di kursi gantung rotan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

__ADS_1


"Sini," Joen menggerakan telunjuk memanggil Ghina.


"Kopinya di minum dulu, sayang."


"Nanti saja kopinya, keringkan dulu rambutmu menggunakan hairdryer" Joen segera menggosokkan handuk pada rambut setengah basah sang istri.


"wanita kecil itu menyerahkan handuk kepada Joen"Mau mau di masakin apa? kau bilang kita akan jalan-jalan bukan? apa kita akan piknik?," Ghina merasakan kepalanya di obok-obok Joen dengan handuk, bukan di usap dengan lembut.


"Tidak perlu, Street food di dekat kantor sudah di buka kemarin, kalau ke sana kita tidak akan kelaparan."


Dengan santainya Joen terus mengeringkan rambut Ghina, memutar-mutar handuk di atas kepala istrinya.


Ghina masih terdiam merasakan suatu hal aneh di atas kepala.


Joen merasa aneh, kenapa Ghina diam saja. Karena penasaran, pria itu jongkok di hadapan Ghina, dan...."Buakakaka," tawanya seketika pecah.


Sementara Ghina memasang wajah datar, rambutnya nyaris kering namun menjadi kribo. Karena Joen menggosok handuk terlalu kuat di kepalanya.


Jung kembali terbangun dari tidurnya, melangkah kembali ke balkon dan berteiak"keterlaluan!! berisik sekalian kaliaaaaaaaaa___kwkwkwkkwkw tanpa menyelesaikan kata-kata, Jung langsung tertawa meliha kondisi rambut Ghina.


Ghina menarik cuping telinga Joen"Cepat rapikan kembali!!!," rengeknya kesal di jadikan bahan tertawaan.


"Kau memang gila, kau apakan rambut istri mu Joen??," Jung masih mentertawakan penampilan Ghina.


"Hick...hick...dia memang jahil bang!!," biar bagaimana pun, Ghina masih terbilang sangat muda. Umurnya hanya setahun lebih muda dari Nari, jadi tak heran jika sesekali tingkahnya seperti anak kecil.


"Lekas perbaikan rambutnya Joen!!," Jung melihat wajah Ghina nampak merah, entah dia menahan amarah atau menahan malu.


"Cup cup cup!!, aku sudah bilang pakai hairdryer, kau malah memberiku handuk," Joen merangkul istrinya dan membawanya masuk ke kamar.


Melihat hal itu Jung hanya bisa menggeleng- geleng kepala. Kala itu matahari mulai bersinar di ufuk timur"Haaah!! sudah pagi. Karena dua bocah itu waktu tidurku jadi terganggu. Awas saja, jika aku sudah menikah dengan Andrea, aku akan membuat hari-hari kalian selalu terusik."


...***...


Dia adalah seorang pemuda kelas 3 sekolah menengah atas. Terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang sangat berisik. Sejenak dia menatap langit kamar"Hupffhh hh..saatnya bersiap ke sekolah," tukasnya.


Tidak butuh waktu lama untuknya mandi dan bersiap, sekarang dia sudah di meja makan bersama mamah dan adik laki-lakinya yang hanya berbeda beberapa menit, ya!!..mereka kembar.


Mereka adalah Aron dan Alex, mereka dari keluarga Abraham. Saat berusia 6 tahun mereka di tinggal sang papah untuk selama lamanya. Dia meninggal dalam perjalan bisnis, pesawat yang membawanya mengalami kerusakan dan terjatuh.


Beruntung sang mamah bukanlah wanita yang lemah, dengan kuat dan berani dia bangkit dari keterpurukannya. Demi kedua anaknya,dia melanjutkan bisnis yang di dirikan mendiang suaminya. Wanita tangguh itu adalah Daniza Abraham.


"Bagaimana keadaan kamu Lex," mengingat beberapa waktu yang lalu dia mengalami tabrakan dan menyebabkan geger otak ringan.


"Im ok mam," sahut Alex.


"Bagaimana jika Aron pindah sekolah saja mah, pindah ke sekolah Alex untuk menjaganya."


"Tidak perlu, kita sudah kelas tiga," ketus Alex, auranya berbeda dengan Aron yang ramah dan perhatian.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Fyuhh!!," Ghina meniup bibirnya, gila pedas sekali!.Saat ini Ghina menyantap tahu jeletot dengan level pedas maksimal.


"Aku menyerah! aku tidak sanggup!!," keringat Joen bercucuran. Padahal cuaca saat itu tidak begitu panas. Dia hanya 2 kali menyuap tahu itu namun lidahnya sudah tak sanggup menerima lagi.


"Pak!!! es teh 2"..."eh..3 pak!," wajah putih Joen berubah merah padam.


"Hilih, baru level rendak," cibir Ghina.


"Hentikan sayang, nanti lambung sayang sakit," dia menarik mangkok kecil berisi tahu jeletot di tangan Ghina.

__ADS_1


"Jangan!! ini masih ku makan. Tidak baik membuang makanan, Joen!!," seru Ghina terdengar begitu sayang dengan makanan di tangannya.


Oh lord! Joen sungguh menyerah. Segelas es teh habis dalam 3 hisapan.


"Hmmm...apa lagi yaa?," Ghina memandang ke hamparan pedagang yang berjualan di pinggir jalan.


"Jangan yang pedes lagi!," Joen mengisap es teh keduanya.


Ghina tertawa. Ternyata Joen lemah dengan makanan pedas.


"Aha!! aku mau yang itu!!," Ghina menunjuk gerobak makaroni.


Segera Jjoen melirik stan tersebut"Makaroni P E D A S!!"


Oh tidakkk!!!!


Joen menarik lengan baju Ghina agar berlalu dari tempat itu.


Namun yang di tarik, tidak ingin beranjak dari tempat itu.


"Makanan yang manis banyak, jangan memilih yang pedas lagi."


"Tuan Joen!."


Ghina menoleh pada arah suara. Ternyata seorang wanita cantik memanggil suaminya.


"Idih, siapa itu??," bisik hatinya.


"Mrs.Lisa," Joen menyapa wanita cantik itu.


"Apa kabar?," ujar Lisa mengulurkan tangan.


Tanpa ragu, Joen menyambut ajakan berjabat tangan wanita yang di panggilnya Mrs.Lisa itu"Kabar baik, bagaimana dengan anda?".


"Eish!! senyum apaan itu??," suara hati Ghina terdengar berbeda. Di pandangi Ghina wanita di hadapan suaminya.


Dia lebih tinggi dari Ghina.


Berkulit pucat seperti Jung, dengan rambut berwarna merah maroon, sepertinya dia berdarah bule.


"Nyonya Ghina," suara itu terdengar pelan.


"Nyonya Ghina!!" nampak sedikit terkejut, Ghina tersadar dari lamunannya.


"Ini rekan kerjaku, sayang.."Joen mengenalkan wanita yang memanggil-manggil namanya, juga menunggu Ghina menyambut jabatan tangannya.


"Salam kenal,.saya Ghina," ujarnya menyambut tangan terulur Lisa.


"Anda manis sekali," ujarnya memandangi Ghina"Saya Lisa, seperti yang di katakan Tuan Joen barusan, saya rekan kerjanya. Senang berkenalan dengan anda Nyonya Ghina."


"Lebih tepatnya Ghina Joen Charllote," Joen mengoreksi perkataan Lisa.


"Ahaaa~~ iya benar," sahutnya lagi.


Ghina memperhatikan penampilan Lisa lagi. Wanita itu nampak modis. Dan ada sedikit rasa insecure muncur dari dalam diri Ghina. Lisa hanyalah salah satu dari rekan kerja perempuan Joen, dan masih banyak rekan kerja wanita lainnya di kantor.


Owh!! Ghina jadi berpikir yang tidak-tidak!!


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2