
Resah dan gelisah, dua rasa yang gemar memporak porandakan sang hati begitu erat memeluk diri Alex. Kabar rencana pertemuan Naria dan Aron sungguh membuat segelintir keceriaan itu semakin sirna.
Bagaimana jika Aron langsung menyatakan cinta?
Bagaimana jika Nari menerima cintanya?
Apakah mereka akan segera menjadi sepasang kekasi?
Sesungguhnya terlalu lama berpikir pun dapat membuang waktu. Bukan berarti harus segera bertindak, sejatinya segala hal itu memang perlu sebuah pemikiran yang matang, namun, makanan yang terlalu matang akan menjadi gosong, bukan?. Dan sekarang Alex tengah merasakan asap mengepul dari dalam dadanya, sebab sang hati telah mulai gosong terbakar api cemburu.
Jika sang hati di dalam sana sedang mengeluarkan aroma terbakar, lain halnya dengan Aron. Aroma lelaki ini sangat nyaman, dengan penampilan yang keren, tentu saja Aron sangat bisa di katakan bertambah tampan saat ini.
Pak Budi, tukang kebun yang terkadang menjadi supir di keluarga Abraham, berseru"Tuan Aron, anda rapi dan wangi sekali. Apakah anda ada janji temu dengan seseorang yang spesial? penampilan anda sungguh berbeda dari biasanya."
Sudut bibir Aron terangkat naik"Oh ya? apakah sangat kentara bahwa saya berdanda, Pak Budi?."
"Hem," pria paruh baya itu meletakan jemari di bawah dagu, dengan pandangan menyapu tubuh sang anak majikan"Sedikit terlihat Tuan. Tapi secara keseluruhan anda sangat tampan, dan orang tampan sangat lumrah jika berdandan. Asal tidak memakai make up saja," canda Pak Budi, yang di iringin gelak tawa Aron.
"Jadi, anda benar akan menemui seseorang yang spesial, Tuan?," tanya nya lagi usai rawa mereka mereda.
"Ya," sahut Aron dengan wajah berseri.
"Akhirnya, saya mengantar anda untuk berkencan, tidak semata mengantarkan anda ke sekolah atau ke lapangan basket saja," ucapan itu kembali membuat Aron tertawa.
"Dia pasti orang sangat cantik."
"Juga manis," sambar Aron.
Pak Budi meledek Aron, salah satu Tuan muda yang bisa di ajak bercanda. Lain halnya dengan Alex, yang mungkin tidak memiliki selera humor sama sekali.
__ADS_1
Memandang saudaranya yang sedang bergembira, Alex di muara pintu sedang memutar otak, bagaimana cara untuk menggagalkan pertemuan Aron dan Nari. Hingga, dirinya yang jarang berkomunikasi dengan Nari via pesan singkat, hari ini mengirimkan pesan terlebih dahulu pada gadis itu. Secara tiba-tiba mendekatkan diri padanya.
"Naria, apa kau sedang senggang? aku ingin mengajak kau melihat aku berlatih basket," pesan di kirim kepada Nari saat itu juga.
Dan di belahan bumi yang lain, pesan itu bagai sebuah keajaiban bagi Nari. Dirinya sampai berpikir, apakah Alex salah kirim pesan? tapi namanya sangat jelas tertera dalam pesan itu!. Akh! hatinya ingin menjerit, tiba-tiba menjadi salah tingkah. Bagaimana ini! dirinya sudah ada janji temu dengan Aron.
Cukup lama pesan itu tergantung, sedangkan Alex sedang menunggu dengan perasaan gundah gulana.
Meski menaruh hati terhadap Alex, Nari bukan tipe perempuan yang suka mengingkari janji. Dia tetap menemui Aron, dan di dalam perjalanan menuju kedai dia mengirimkan pesan balasan kepada Alex"Maaf Alex, aku sudah ada janji dengan Aron. Kami akan menikmati roti di kedai Arin."
Nari yang merasa bersalah, dan sedikit terpaksa mengirimkan pesan balasan seperti itu, berbanding terbalik dengan Alex yang sedang tersenyum penuh arti sekarang. Jemarinya pun dengan lincah menari di atas layar sang gawai"Wah! roti Arin sangat nikmat. Rotinya sangat empuk dengan krim yang lembur. Akh! aku jadi ingin menikmati juga."
Begitulah cara Alex mengungkapkan kecintaannya terhadap roti dari kedai Arin. Dan Nari yang polos jika berhadapan dengan lelaki selain Jung dan Joen, mengajak Alex untuk ikut bersama mereka, menikmati roti itu di kedai Arin.
Berapa senangnya hati Alex, ajakan Nari bagai sebotol air dingin di tengah gurun pasir. Dan rasa senang itu semakin menjadi ketika Nari berucap"Setelah menikmati roti di kedai Arin, kau masih bisa berlatih basket. Aku akan menemanimu."
Keceriaan Alex membaut Aron menyerngitkan kening"Aron! tunggu. Pak Budi, jangan jalan dulu ya, Alex akan berganti baju dengan cepat."
"Aku siap!!," seru Alex, dengan wajah setebal tembok ikut masuk ke dalam mobil.
"Nebeng ya!," senyuman itu begitu tampan, sayangnya sangat jarang di perlihatkan oleh Alex.
"Hendak kemana kau? tiba-tiba berganti pakaian juga."
Alex hanya semakin tersenyum.
Tak mendapat jawaban, Aron melengos"Antar Aron dulu ya Pak, waktunya sudah mepet."
"Hei, kita searah. Kau tidak akan terlambat," tukas Alex menyugar rambut, sedikit merapikan surai yang tak sempat di tata rapi.
__ADS_1
"Lapangan basket dan kedai Arin, itu tempat yang berbeda," Aron menyapukan pandangan pada seluruh tubuh Alex"Kau akan berlatih basket dengan pakaian seperti ini? dan, di mana bola basket mu?."
Kini, senyuman itu semakin lebar, hingga barisan giginya terlihat nyata"Tujuan kita sama."
Sebelah alis Aron terangkat naik"Kau...kau juga akan ke kedai Arin?."
"Tentu, Nari mengajak ku ke sana. Kau tahu bukan, seorang lelaki tidak sepantasnya menolak ajakan seorang wanita."
"Alex!!! kau bilang tidak menyukainya!!," geram Aron memeloti Alex.
.........
Calista menghilang. Kedua orang tuanya mengatakan gadis itu keluar dari rumah usai kembali dari kediaman Andrea. Tanpa pesan atau pun meminta ijin, dia pergi begitu saja.
Penyelidikan terus berjalan, dari info yang terus di gali di ketahuilah bahwa seseorang melihat Calista keluar dari toilet tempat Andrea terkunci.
"Iya, Calista yang menyarankan aku ke toilet itu," batin Andrea.
Namun suara yang dia dengar saat itu sepertinya bukan suara Calista"Itu berarti dia tidak bekerja sendirian, ada orang lain yang membantunya," ucap Jung.
Saat Jung bersiap mengeluarkan Calista dari kampus, demi masa depan sahabatnya Andrea memohon agar Jung mengurungkan niatnya.
"Dia sudah menghukum dirinya sendiri, dia sudah menghilang. Biarkanlah masalah ini berlalu," sebisa mungkin dia akan mencegah Jung mengeluarkan Calista. Meski tak tahu pasti ada motif kejahatan yang telah di lakukan Calista kepadanya, bagi Andrea dia adalah sahabat terbaik, sebelum insiden itu terjadi.
"Bagaimana jika dia kembali melakukan kejahatan kepadamu? kau begitu mudah memaafkan dirinya, Andrea. Aku sungguh tidak rela!!."
Meraih jemari Jung, mengusap nya dengan lembut"Ayolah, biarkan hal ini berlalu. Aku tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan. Dan aku yakin, dia tidak akan berani melakukan hal buruk lagi padaku, sebab ada kau yang selalu menjagaku."
Terdengar, Jung menghela napas. Mencoba meredakan amarah demi cintanya kepada Andrea"Baiklah. Ingat! semua ini ku lakukan demi dirimu. Namun, Calista tetap harus bertanggung jawab, pihak kepolisian akan terus melanjutkan kasus ini."
__ADS_1
To be continued..
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^