
Setelah kembali dari makan siang, Ghina menceritakan perubahan Joen akhir-akhir ini pada Nyonya Sook.
"Apa kau sudah datang bulan?," Nyonya Sook bertanya langsung pada intinya.
Ghina mengangguk"Tentu, bulan kemarin Ghina datang bulan, mah. Malah, lebih lancar dari biasanya. Rasanya semua darah kotor keluar lebih deras dari biasanya."
"Yang mama tanyakan bukan bulan kemarin, tapi bulan ini!."
Ghina memutar bola matanya, nampak jelas bahwa wanita itu sedang berpikir keras"Oh, tidak mah. Ghina rasa itu datang bulan di bulan sebelumnya."
Sebelah alis Nyonya Sook terangkat naik, juga dengan dua bola mata berlarian seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun sejurus kemudian raut wajah wanita itu berubah biasa lagi"Jadi kau masih datang bulan dengan rutin?."
"Tentu saja mama, aku masih normal seperti biasanya," tanpa beban, jawaban Ghina menjadikan sikap berbeda Joen terabaikan.
*
*
*
*
Jung sedang duduk di taman kampus menikmati waktu istirahatnya. Semilir angin juga gemerisik dedaunan, bagai irama dan belaian lembut yang mengundang rasa kantuk. Tubuh yang lelah itu pun akhirnya terbuai ke alam mimpi.
"Sendiri saja pak? mau di temani?," suara lembut seorang wanita, mengurungkan niat Jung untuk memejamkan kedua mata, sekedar beristirahat sejenak. Wanita itu salah seorang mahasiswa yang mulai berani menggoda secara terang-terangan, setelah desas desus gay itu terpatahkan. Yah, siapa tahu Jung berniat membuka cabang cinta kepadanya, bukan?. Ckckck, sebuah pemikiran yang menggelikan, dan lucunya bukan hanya gadis ini yang berpikir seperti itu, tapi banyak.
Senyuman pria itu seketika terbit, mengusir wajah lelah yang hampir tertidur tadi"Sebentar lagi pawangku akan datang, apa kau punya cukup nyawa ingin bertahan menemaniku di sini?."
Dan beruntungnya meski begitu menyukai Jung, wanita ini masih terbilang waras, mendengar nama Andrea dia bergegas mengambil langkah seribu"Hahaha, ampun pak Jung, saya masih ingin hidup dengan tenang."
Jung pun tertawa, dia mengiringi kepergian gadis itu dengan lambaian tangan penuh kehangatan.
Usai wanita itu benar-benar pergi, Jung mengambil sang gawai dari dalam saku kemejanya"Sayang, kau lama sekali! aku hampir tertidur di taman menunggumu," sebuah pesan pun dia kirimkan kepada sang kekasih hati.
"Aku sedang makan sayang, bersabarlah sebentar lagi," begitu balasan dari pesan yang Jung kirimkan.
"Bagaimana jika aku menyusulmu saja."
"Tidak perlu, kau hanya harus menunggu dengan patuh di sana, jangan menebar pesona di sini, berbahaya!."
Lagi-lagi senyum terbit di wajah Jung, bahkan pesan yang di kirim sang kekasih membuatnya terkekeh geli"Hoaaamm, duhai angin, kau sungguh membuatku mengantuk."
"Permisi, selamat siang pak,"seorang mahasiswa tahun pertama menghampirinya.
"Ya, selamat siang," sahut Jung. Owh, dia nampak sangat bersinar di tengah hari itu.
Rambut lebat dan terlihat sehat itu di sugar ke belakang, dengan tangan kekarnya. Ck! tak sadarkah kau Jung, sikapmu ini semakin membuat para wanita terpesona.
"Ya Tuhan, tampan sekali!."
__ADS_1
"Hem! sangat tampan!," ujar mereka memuji ketampanan seorang Jung setengah berbisik.
"Anu, kami ingin menelaah pelajaran di meja ini, meja yang lain sudah penuh. Bolehkah kami ikut bergabung di sini?.",
"Oh, saya pikir masalah apa," menepuk kursi kayu yang sedang dia duduki"Ayo sini, tempat ini terlalu besar untuk saya sendiri," perlakuan yang sangat hangat, sikap itu pun membuat hati dia gadis ini semakin menghangat.
"sini..meja ini terlalu besar buat saya sendiri."ujar jung.
"Terimakasih pak Jung," ujar mereka serempak. Jung semakin tertawa, sikap dua gadis ini lucu, terlihat seperti dua ekor kucing yang sedang di tawari seekor ikan bakar dengan ukuran besar.
Sementara Andrea, rupanya gadis itu telah berada di sana beberapa waktu yang lalu, memperhatikan tingkah wanita lain di hadapan kekasihnya. Dia tidak gusar, itu adalah reaksi normal dari kebanyakan wanita jika berhadapan dengan kekasihnya, dan Andrea sudah terbiasa akan hal itu.
"Oho! jadi kau menebar pesona di sini," bisikan Andrea yang begitu dengan di telinga, membuat Jung terkejut, sebab Andrea muncul tiba-tiba.
"Owh!! sayang!! kau membuat jantungku berdebar!."
"Oh ya! bagaimana dengan jantung mereka?," bisik Andrea lagi.
Jung hanya tertawa mendengar ocehan pelan sang kekasih.
Sepasangan kekasih itu undur diri dari hadapan dua gadis tadi, menyisakan rasa kagum atas kecantikan dan ketampanan mereka.
"Bisa tidak kau bersikap biasa saja?."
Jung menghentikan langkah"Maksudnya?."
"Berhentilah menebar pesona!."
Tepian bibir Andrea mencebik"Hais! setelah sombong sekali kau Tuan muda."
"Hahah, apa kau cemburu? ayolah sayang, pesona ini tidak bisa aku kendalikan. Apalagi bagi orang lain! apakah aku harus menutupi wajah ku setiap keluar dari rumah?."
''Kau terlalu percaya diri Tuan!."
"Hem, roti ini enak. Ayo kita ke kantin lagi, aku menginginkan roti ini lagi."
"Hei! kenapa tidak langsung ke kantin saja tadi? alih-alih menungguku di taman dan membuat gadis lain tersenyum malu-malu."
Sungguh menggelikan, ucapan Andrea membuat tawa seorang Jung pecah"Hahahah, kau cemburu! kau jelas sangat cemburu."
Memberengut, begitulah wajah Andrea saat ini. Beginilah resiko memiliki kekasih berwajah sangat tampan, juga memilki sikap yang menyenangkan, meski tidak berniat menebar pesona, dengan berbicara dengannya saja sudah membuat hati senang.
Menyadari sang kekasih sedang merajuk, Jung melingkar lengan di pundak Andrea"Makanya, lekaslah dewasa, agar kita segera menikah dan aku akan seutuhnya menjadi milikmu."
"Kau pikir menjadi dewasa itu mudah? juga instan?," terdengar helaan napas nan panjang"Apa aku berhenti kuliah saja? dan segera menikah denganmu."
Mencubit ujung hidung Andrea pelan"Buang jauh-jauh pikiran aneh itu. Aku tidak akan kemana-mana, aku akan menunggumu hingga lulus kuliah, sayang."
"Benarkah?."
__ADS_1
Sebuah anggukan Jung berikan, sebagai jawaban atas pertanyaan itu.
"Awas saja, jika kau berani macam-macam, aku akan tidak akan diam saja!," memeloti Jung, namun wajah Andrea lebih menggemaskan saat seperti itu, Jung malah tertawa lagi dan memeluknya sangat erat.
"Andrea...., kau wanita yang paling aku sayangi, setelah mama."
"Bagaimana dengan Nari? bukankah setelah tante Sook kau harus menyayangi dia."
"Hemmm," mulut pria itu nampak maju, memikirkan si bontot yang terlahir dengan kesabaran setipis kertas"Masih ada Joen, yang akan menyayanginya setelah mama."
"Joen punya Ghina, kau yakin dia akan lebih sayang kepada Nari dari pada istrinya sendiri?."
"Ck! lupakan saja nenek lampir itu! dia punya banyak mangsa yang akan di paksa untuk menyayangi dirinya. Dia punya ilmu sihir yang tak tertandingi! ku dengar akhir-akhir ini ada dua pria kembar yang memperebutkan dirinya," ujar Jung menggenggam jemari Andrea, kembali berjalan bergandengan tangan usai berpelukan sejenak.
"Jelas saja, Nari gadis yang sangat cantik," tutur Andrea mensejajarkan langkah mereka.
Memutar bola mata, jenga"Cantik jika di lihat dari lubang sedotan."
"Sayang! dia adikmu!!," seru Andrea gemas, Jung selalu saja mengolok Nari, baik itu belakang apalagi di hadapan adiknya itu.
"Sayang! bisakah kau berhenti membahas nenek lampir itu? ini waktu kita bersama, seharusnya kita membahas yang manis-manis, bukan membahas penyihir galak seperti dia."
Andrea tak tahan lagi, dia terkekeh melihat keunikan Jung mengungkapkan kasih dan sayang terhadap Nari.
Di kantor, Joen merasa penciumannya benar benar sensitif sedari tadi pagi. Bahkan Tuan Charlotte ikut kerepotan karenanya. Joen tidak sudi masuk ke ruangan rapat, hanya karena pengharum ruangan di sana mengganggu indra penciuman nya
"Cepat suruh Joen kemari, rapat akan segera di mulai," perintah Tuhan Charlotte.
"Maaf Tuan, pak Joen tidak bisa ke sini. Katanya sedang tidak enak badan," ujar seorang karyawan.
"Kenapa dia cerewet sekali hari ini? terlalu banyak alasan!, lekas! bawa dia kesini, jika perlu kau seret saja dia ke sini!," ujarnya mulai kehabisan kesabaran.
Panggilan untuk Joen kembali datang, dan Tuan muda itu tetap tak ingin bergabung bersama sang papa dan pemimpin yang lain. Dengan sangat terpaksa, Tuan Charlotte turun tangan, dia sendiri yang memaksa Joen untuk menghadiri rapat tersebut.
"Tidak!!," pekik Joen"Sumpah pa! Joen tidak mau ke ruangan itu!," begitu keras kepala, sikapnya seperti Nari saat ini.
"Ini masalah pekerjaan, jangan main-main kamu?," sentak Tuan Charlotte gusar.
Joen menangkupkan kedua tangan di dada"Sumpah pa! Joen mual mencium aroma di ruangan itu. Joen rasanya ingin muntah."
"Mual?."
"Iya pa, dan hal itu membuat risau hati Joen."
"Kau... tidak baik-baik saja Joen. Apa kau sakit?."
"Entahlah pa, aku hanya sering merasa mual jika mencium aroma berlebihan. Dan kepalaku rasanya berat sekali jika hal itu terjadi."
Kening pria tua itu di buat berkerut, sikap Joen sungguh membuatnya bingung"Baiklah, kita akan membahas masalah ini di rumah!," ujarnya meninggalkan Joen di ruangannya.
__ADS_1
To be continued...
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^