Storge

Storge
Kau yang sangat menarik


__ADS_3

Nona muda itu terkejut, dengan cara Alex memandangnya. Sorot matanya saat memandang Nari sangat jauh berbeda dari biasanya. Namun setelah di telisik lebih mendalam, mengapa wajah Alex sedikit berbeda? seperti ada perubahan pada setiap garis wajahnya.


"Maaf, apa kau memanggilku?," ujarnya membuat lamunan gadis berpipi gembul itu pecah.


"Tentu saja," ujarnya tersentak"Tapi Alex, kau kenapa?," lagi-lagi Nari menemukan hal berbeda pada diri Alex kali ini. Dia memang pendek, tapi kepalanya seperti lebih mendongak menatap Alex"Kenapa kau mendadak bertambah tinggi? secepat inikah pertumbuhan seorang pemain basket? aku jadi tertarik untuk bermain juga, untuk menambah tinggi badanku."


Orang yang di panggilnya Nari dengan sebutan Alex itu tersenyum, menyadari sebuah kesalahan di sini"kau salah orang, aku bukan Alex," ujarnya masih dengan senyuman. Oh! juga senyuman itu, Alex si manusia kutub mendadah suka tersenyum? sepertinya dia memang bukanlah Alex.


"Begitukah?," meski mulai yakin, Nari masih ingin lebih memastikan.


Pria itu mengangguk"Iya, maaf jika aku telah membuang waktumu."


Nari mengibaskan kedua tangan setara dada"Tidak!! seharusnya aku yang meminta maaf. Aku begitu penasaran hingga mengekor langkahmu. Maaf aku untuk itu."


Pria penuh tawa itu hanya mengangguk, sembari menatap Nari lekat-lekat. Kala itu Nari mengenakan dress berwarna hitam, dengan sedikit hiasan di bagian bawah roknya. Rambut sebahunya di biarkan bergerai. Semilir angin sedikit membuat rambutnya tersapu ke wajah bulat, memiliki sepasang manik nan cantik.


"Anggun sekali," gumamnya pelan. Pria itu langsung memiliki ketertarikan pada pandangan pertama"Jika aku bukan orang yang kamu kenal, maka bolehkan sekarang kita menjadi orang yang saling mengenal?."


Gadis cantik itu tersenyum dengan lebar. Matanya menyipit bak bulat sabit saat tersenyum, oh Naria memanglah gadis yang sangat cantik..


"Aku Naria, kau boleh memanggilku Nari," ujarnya memperkenalkan diri dengan sangat ramah.


"Maaf ya, sebelumnya aku menduga kau adalah Alex, kakak kelasku. Kalian sangat-sangat mirip."


"Hem," sahut pria itu"Aku tahu Alex yang engkau maksud.",


"Benarkah?," Nari berjalan menyamakan langkahnya dengan cowok itu.


"Perkenalkan, aku Aron Abraham," dia menghentikan langkah dan menyodorkan tangan kepada Nari.


"Aron Abraham," gumam Nari,"Alex Abraham??," gadis itu menoleh ke arah Aron"Kalian kembar?.


Aron mengangguk.


Nari terperangah, tangannya spontan menutupi mulut yang menganga"Akh!! pantas saja! aku sangat bingung dengan perubahan pada wajah Alex, mengapa menjadi tirus."


Aron tergelak"Ya! aku memang sedikit berisi dari pada dirinya."


Senyuman manis Nari sungguh membuat Aron terpesona. Bahkan ketika melirik sekilas, hingga tatapan mereka bertemu, hati kecil Aron bergetar.


Aron berbicara panjang lebar bersama Nari. Dan dari situ Nari banyak mengetahui tentang Alex juga lelaki bernama Aron ini.


"Tidak ku sangka, kita sudah banyak berbincang meski baru saja kenal," ujar gadis itusembari menyelipkan rambut ke daun telinganya.

__ADS_1


"Berarti kita cocok," Aron melanjutkan langkahnya"Ngomong-ngomong mau sampai mana kau mengikutiku?."


Nona muda itu terhanyut dalam pertemuan pertamanya dengan Aron"Ya Tuhan!! aku sampai lupa diri!! aku kembali ke kedai ya!," dia bahkan telah meninggalkan Ghina di kedai Arin!!.Nari berhenti berjalan, secepatnya dia berbalik dari hadapan pria itu.


"Hati-hati," Aron sedikit berseru dengan tangan melambai-lambai kepada Nari, yang di balas gadis itu dengan lambaian tangan pula.


"Sangat cantik, dan menggemaskan," tak henti-hentinya Aron memuji paras cantik sang nona muda.


Di kediaman keluarga Abraham.


"Mama, tadi aku bertemu dengan seorang gadis cantik," dia bercerita pada Daniza, perihal Nari. Matanya mengerling pada Alex yang dengan cuek menyantap makan malam nya.


"Oh ya? apa kau sudah mengerti dengan wanita? kau menyukainya? mau mama lamar dari sekarang?," Daniza menanggapi dengan sebuah candaan. Dan tentu saja gurauan itu membuat Aron tertawa.


"Hahah, mama bercandanya kelewatan. Tapi aku memang tertarik kepadanya mah, dia cantik dan manis sekali. Namanya Naria."


Setelah nama itu di sebut, Alex menatap Aron"Naria dari keluarga Charllote?."


Senyum tipis terukir di wajah Aron"Heem," sahutnya mengangguk"Naria Charlotte, gadis cantik yang satu sekolah dengan mu. Dia adik kelasmu, bukan?."


Alex nampak menekuk wajahnya"Kau mengenalnya di mana?."


"Di toko roti. Kebetulan dia yang lebih dahulu menyapaku."


"Meskipun anak seorang konglomerat, dia ramah. Mama bisa kan memindahkan aku ke sekolah Alex! aku ingin selalu bertemu dengannya, mama," sepertinya dia sangat tertarik terhadap Nari. Mungkin pesona seorang Jung menurun kepada Nari, hingga Aron langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Sebentar lagi kelulusan, untuk apa sampai pindah sekolah demi mendekati gadis itu. Jika kalian memang berjodoh, kalian pasti akan selalu di pertemukan. Tapi Aron, bukankah kau selalu bilang bahwa dirimu masih kecil, sekarang kau sedang mengincar anak gadis orang," goda Daniza. Dia tergolong orang tua yang seperti teman bagi anak-anaknya. Wanita itu menerapkan kebiasaan untuk selalu berterus terang dalam segala hal. Namun selalu tegas dalam menindak kesalahan yang di lakukan sepasang anak kembarnya.


Meskipun baru bertemu sekali, Nari meninggalkan kesan mendalam di hati Aron. Selain cantik, perangainya yang sopan dan santun membuat Aron selalu mengenang pertemuan mereka.


"Kau seperti orang gila,'' Alex melihat Aron senyum-senyum sendiri, ketika merebahkan diri di kamar.


"Lex, langit-langit kamar kita terlihat menarik, saat aku memikirkan Naria," ujarnya.


Alex mendelik"Kau seperti tersihir, besok aku akan menanyakan kepada Nari, apakah dia telah menyihirmu. Sebab kau terlalu terlena akan kecantikan nya," dia membuka tas sekolah dan mulai mengulang kembali pelajaran di sekolah tadi.


"Ini bukan karena sihir, dia memang cantik. Kau curang Lex, kenapa tidak dari dahulu memperkenalkan Nari kepada ku?."


"Curang bagaimana? kau saja yang terlalu berlebihan. Bagiku Nari biasa saja, lagipula gadis seperti Nari ada banyak di sekolahku," entah kenapa ada rasa sesak menekan dada Alex.


"Oh ya? Nari biasa saja di matamu?," anggukan memberengut Alex membuat Aron girang. Karena sang saudara sudah mengatakan tidak merasa tertarik dengan Nari, maka dia bertekad untuk mendekati gadis manis itu. Tanpa dia sadari sedari tadi, Alex menahan kekesalan padanya.


..........

__ADS_1


Jung sedang memacu kendaraanya ke kediaman Andrea. Festival lampion di taman kota menarik pengunjung dari segala penjuru, tak terkecuali pasangan yang sedang manis-manisnya ini.


Lampion dalam bentuk naga menyambut kedatangan para pengunjung. Gemerlap di atas langit semakin terang benderang, berpadu dengan lampion yang berwarna-warni.


Andrea dan Jung memilih lampion berwarna merah yang akan mereka terbangkan.


"Tuliskan keinginan kamu di lampion ini, niscaya keinginanmu akan di kabulkan dewa di atas langit sana," Jung menyerahkan spidol berwarna hitam pada Andrea.


"Apa aku boleh menulis keinginan untuk segera menjadi istrimu?," Andrea mengambil spidol yang di berikan Jung dengan berlagak malu-malu.


Sikap Andrea membuat Jung tak bisa berkata-kata, pria itu hanya tertawa. Sementara beberapa pengunjung yang berdekatan dengan mereka tersenyum mendengar celoteh Andrea.


Dan Jung berusaha menutup wajah dengan tangannya."Sayang, perhatian kata-kata mu! ada banyak orang di sini."


"Aku berbicara kepada mu, sedangkan mereka kebagian keberuntungan dengan mendengarkan perkataan ku itu," tukasnya terlihat begitu yakin.


Sembari terkekeh"Lelaki tampan, jangan lama- lama menggantung perempuan. Dia bahkan sudah memberi kode keras kepadamu," seorang ibu-ibu menyikut lengan Jung.


Astaga! Jung menjadi malu karena ulah Andrea.


Mulai tidak nyaman berada di situ, Jung mengajak Andrea untuk berpindah tempat.


Festival di adakan di tepian pantai, angin dan ombak bersatu menambah suasana romantis. Di bawah ratusan lampion yang berterbangan, langkah Andrea terhenti. Kepalanya mendongak ke atas, menatap langit cerah dengan ribuan bintang yang bersinar terang.


"Waw, langitnya indah sekali. Lampionnya membuat malam ini semakin cantik."


Jung pun sedang terpana dengan pemandangan cantik di depan matanya. Rambut panjang Andrea membelai wajah Jung. Membuatnya menatap balik ke wajah Andrea yang tersapu cahaya langit berpendar.


"Tuan Jung, apa kau terlena dengan kecantikan ku?,"Jung tertangkap basah sedang memandangi wanitanya. Dia pun mengajak Andrea duduk di kursi yang di sediakan panitia festival. Kini mereka menatap laut malam di tengah cahaya yang menakjub kan"Nona Andrea, jangan mulai menggoda. Apa kau tidak takut bersamaku dalam suasana temaram ini?."


"Ini suasana romantis, apa yang harus ku takutkan."


"Andrea sayang, coba kau bayangkan apa yang akan terjadi jika aku lepas kendali? aku bisa menarikmu ke ujung pantai yang lebih gelap. Aku akan menjamahmu habis-habisan di sana!!Menjalankan lengan kecilku ini menyusuri setiap jengkal tubuhmu."


Bukan bergidik ngeri, Andrea malah balas menyerang Jung. Andrea melentik lentik kan jemarinya di sekitar tubuh Jung"Meraba seperti ini? aku akan sangat menyukai hal itu jika kau yang melakukannya!," bisiknya mulai memainkan emsoi pria di hadapannya.


"Jangan terlalu percaya diri, aku benar-benar bisa menyerangmu, sayang," Jung balas berbisik di telinga Andrea, lebih dekat dan menggigit sedikit daun telinga Andrea.


Owh!! bulu kuduk Andrea seketika meremang. Jung merasakan itu saat tangannya menyentuh lengan Andrea. Ternyata gadis yang tadi berlagak ingin menjamahnya terdiam bagaikan patung.


"Andrea sayang.... kenapa kau diam," Jung kembali berbisik, sembari memainkan helai rambut di area daun telinga Andrea.


To be continued....

__ADS_1


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2