Storge

Storge
Pegangan erat


__ADS_3

Jung dan Andrea bersenang-senang menikmati waktu bersama mereka. Turun dan naik bis mengikuti rute.


"Aku lelah dan lapar, sayang," setelah puas berkelana, tubuhnya mulai merasakan lelah dan lapar.


Jung menatap sekeliling, matanya tertuju pada kedai makanan yang terletak di samping taman hiburan yang mereka kunjungi"Apa kau mau burger?."


Wajah cantik Andrea seketika kembali bersinar. Sang gadis mengangguk lucu seperti anak kuncing, yang seolah tahu akan di berikan makanan.


"Dengan ekstra keju," ujarnya manja merangkul lengan Jung.


"Baiklah, sayang," dengan mesra Jung mencubit ujung hidung kekasihnya.


Saat itu kedai nampak lengang ketika mereka memasukinya"Kau tunggulah di situ, aku pesan makanannya dulu,"Jung menunjuk meja kosong di sudut ruangan. Tempat yang strategis menikmati makanan sambil melihat pengunjung bermain di taman hiburan.


Andrea menatap pria yang sangat manis melayaninya seharian ini. Mengabulkan setiap permintaanya, tak lelah mendengar celotehnya, owh dia memang sangat mengerti cara menghadapi Andrea yang super duper cerewet ini.


Dengan tenang dia melewati pelayan wanita yang terpesona dengan ketampanannya, membawa nampan berisi burger ekstra keju pesanan sang kekasih hati.


"Jeng jeng!! silahkan di nikmati," aroma keju langsung merebak, saat Jung meletakan makanan itu di hadapan Andrea.


"Yey, perutku bernyanyi riang gembira, sayang," lelehan keju itu membuat Andrea tergiur. Dia menggosok kedua tangannya di depan wajah, menahan diri agar tak langsung menerkam makanan tersebut, sebab masih terlihat panas.


"Jangan banyak bicara, makanlah dengan tenang. Setelah ini kita akan langsung pulang," selembar lap kecil Jung letakan di pangkuan Andrea.


"Kyaaaa!!! lekaki itu perhatikan sekali dengan kekasihnya!," pelanggan wanita di meja lain mendadak meriang, melihat cara jung memperlakukan Andrea.


"Oh Tuhan, di perlakukan dengan sangat baik. Beruntung sekali wanita itu," ujar rekan satu meja nya.


"Hei, Tuhan memang adil ya. Lihatlah kulit pria itu putih sekali, mendapatkan wanita yang juga putih bening seperti nya sungguh tidak terasa aneh. Sepertinya mereka anak orang kaya."


"Bukan hanya itu, sepertinya mereka bukan orang sembarang. Apa jangan-jangan mereka pasangan selebritis ya?."


"Mungkin saja, wajah lelakinya terlihat tidak asing."


Tentu saja tidak asing, Jung kerap mendampingi sang papa. melakukan pemotretan untuk halaman depan majalah bisnis. Wajahnya juga kerap wara-wiri di televisi, dengan berita tentang bisnis yang di geluti sang papa.


"Sayang, ku bilang makanlah dengan tenang. Kau meninggalkan saos di tepi bibir," dengan selembar tisyu, Jung menyeka saos yang menempel di bibir Andrea.


"Makanlah, dan jangan banyak bicara, itu juga yang kau katakan padaku tadi, sayang," balas Andrea...

__ADS_1


Jung tertawa karena celotehan Andrea seperti anak kecil, memutar balik perkataan"Iya, aku juga sedang makan," ujarnya mengambil kentang goreng kemudian memakannya.


"Ini, kau cobalah, kejunya enak sekali," Andrea menyuapi burger ke mulut jung.


"Makanlah!! kau tidak akan gendut hanya sekali memakan burger ini. Lagipula, kau gendut ataupun kurus, akan sama saja di mataku, selalu tampan," nakal dan manja, dia menggoda lelaki di hadapannya.


Jika sudah berkata seperti itu, mau tidak mau Jung harus membuka mulut, dengan terpaksa menyantap gigitan burger.


"One more..!!"


"Sudah," Jung coba menghindar.


"Ayolah Tuan muda! kau tidak merasa bersalah menolah pemberianku!!."


"Aku sudah menerima suapanmu, dan itu sudah cukup."


Andrea masih ingin menyuapi Jung, sembari bercanda.


Perlahan hari semakin sore, mereka bergegas menuju halte bis. Mereka duduk di halte bis seraya senggol-menyenggol. Benar-benar seperti anak kecil, bercanda dan tertawa. Hingga akhirnya sebuah bis berwarna putih perlahan berhenti di hadapan mereka.


..........


Pria itu sangat bersemangat kembali ke rumah, bayangan Ghina yang setia menunggunya pulang membuat nya semakin ingin cepat sampai ke kediaman mereka.


Di lain tempat, Nari dan nyonya Sook juga mulai menutup toko. Membersihkan sisa-sisa merangkai bunga di atas meja. Nari menyapu ruangan dan menata kembali nota-nota di meja kasir.


Perlahan persiapan mereka pulangpun selesai dan mobil pun melaju perlahan di jalanan membawa Nari dan nyonya Sook kembali pulang.


Di perjalanan, Joen mampir ke sebuah toko manisan. Dia teringat Ghina yang sangat suka dengan manisan buah selama masa hamilnya.


Sementara Tuan Charlotte berada di mobil lain, juga dalam perjalanan pulang sembari berbincang bersama Tuan William melalui panggilan telepon.


"Apa sebaiknya, kita percepat saja pernikahan mereka??"


"Mereka semakin lengket, aku khawatir Jung tidak bisa menahan diri," ujar Tuan Charlotte.


"Ide yang bagus. Lagipula, meskipun sudah menikah


Andrea masih bisa melanjutkan kuliahnya..."sahut tuan Wiliam.

__ADS_1


Teruslah percakapan mereka melebar kesana kemari, nampaknya pernikahan akan segera terjadi di kediaman Charlotte.


Nari dan nyonya Sook lebih dulu sampai di kediaman mereka. Ghina nampak sedang duduk di balkon menunggu kepulangan suaminya.


Kala itu Joen masih berada cukup jauh, dia menyetir dengan santai, sembari bersenandung..


Jalanan nampak ramai sore itu, memasuki area pertokoan jalanan semakin padat"Ck, selalu seperti ini di jam pulang kantor," keluh Joen. Dia memperlambat laju kendaraan, nampak beberapa kendaraan malah berhenti di hadapannya.


"Maaf pak, ada kecelakaan di depan. Silahkan mengambil jalur lain," ujar petugas lalu lintas.


Joen memutar kendaraanya dan mengambil jalan alternatif, perlahan melaju di jalanan dan memasuki area perumahan mewah. Tak berapa lama dia sampai di halaman kediaman Charlotte.


"Kecelakaan apa ya," gumamnya sambil keluar dari mobil..


"Ada kecelakaan ya Joen?," katanya ada kecelakaan di jalanan yang baru saja kami lewati," ujar Nyonya Sook.


"Iya ma, Joen di minta lewat jalur lain. Joen tidak sempat bertanya juga, tentang kecelakaan itu.


"Huppffhh!! untung saja kita sudah lewat ya Nar..."


"Hmm.."sahut Nari mengangguk. Saat itu mereka berkumpul di ruang keluarga, melepas penat sejenak usai pulang dari tempat bekerja masing-masing.


Joen melonggar kan dasinya dan duduk bersama. Tuan Charlotte juga baru sampai.


"Ramai sekali di jalanan sebelum masuk area perumahan sini, katanya ada kecelakaan," ujarnya ikut melepas penat.


..........


Sementara itu di TKP


Ambulance berteriak membawa korban ke rumah sakit. Mengantarkan korban yang sedang bertarung melawan kematian.


Di lokasi masih ada dua korban dengan luka parah di bagian kepala, setelah melalui masa evakuasi yang cukup rumit akhirnya para korban yang terperangkap di dalam bis dapat di keluarkan.


Seorang korban lelaki memegang erat tangan pasangannya dengan kaki yang terjepit di bawah kursi penumpang. Setelah di periksa, identitas wanita yang di pegangnya erat itu dapat di temukan. Sebuah kartu identitas mahasiswa universitas Charllote tergeletak di pangkuannya, atas nama Andrea Ananda Wiliam.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2