Storge

Storge
Penyembuhan


__ADS_3

Penuh semangat Andrea bersiap kembali ke rumah, namun perawatan akan tetap berlanjut. Nanti dokter Wenhan akan rutin ke kediaman William untuk memeriksanya.


Dokter Wenhan memiliki visual yang tak kalah menarik dari Jung, seorang pria berdarah cina indonesai. Salah satu dokter muda tebaik di rumah sakit"Young"yang di pimpin ayahnya MR.Li .


"Sayang, ku harap kau tak pernah lelah bercerita padaku, tentang kisah kita hari ini esok dan seterusnya," ujar Andrea sambil mengemasi barang-barangnya.


"Tentu saja, dan aku sangat berharap kau tak kan menolak teleponku esok pagi."


"Tentu tidak, aku berjanji akan menunggu telepon mu besok," kini tangannya bergelayut manja di pundak Jung. Berkata seringan bulu, Andrea tak tahu telah banyak pagi di awali Jung dengan penolakan darinya, sebelum ingatan itu kembali.


"Kau juga akan pulang, kan?," tanya Andrea lagi.


"Iya sayang," Jung menatap kedua kaki dengan tatapan sendu.


Sebenarnya Jung sudah boleh pulang beberapa hari yang lalu, namun keadaan Andrea membuatnya tak ingin meninggalkan rumah sakit lebih dulu dari Andrea. Apalagi dengan cidera di kepala Andrea , dia takut jarak yang memisahkan merek akan membuat Andrea benar-benar melupakannya.

__ADS_1


"Andrea, bagaimana jika aku tak bisa berjalan lagi," pertanyaan itu begitu menyakiti hati Andrea. Sontak mencengkeram pundak Jung, memandang sepasang kaki yang belum mampu menopang tubuh tegap kekasihnya.


"Kau pasti bisa berjalan. Aku pun akan segera pulih kembali," ucapnya tegas. Seolah tak ingin ucapan itu di sanggah oleh Jung. Biarlah dugaan dan sangkaan yang baik saja singgah di benak mereka, dan buang jauh-jauh prasangka buruk itu.


Berbeda dengan Andrea yang nampak bersemangat, Jung masih risau akan keadaan dirinya. Sepasang kakinya masih lemah, masih tak mampu untuk menopang tubuhnya berdiri.


"Sejujurnya, ada ketakutan lain yang sangat mengusik hatiku," ucap pria ini kembali.


Mengusap lembut pucuk kepala Jung, kini Andrea berjongkok masih lekat menatap kekasihnya"Katakan, hal apa yang mengganggu hatiku, sayang?."


Lekas-lekas Andrea mengusap kedua pipinya, agar urung air mata itu luruh"Yang bermasalah hanya di sini," ujar Andrea memegang kepalanya. Kemudian gadis itu menuntuk letak sang hati"Di sini, segumpal darah di dalam sini tak kan pernah bisa melupakan dirimu, sebab kau sudah mendarah daging di dalam hati ini, sayang."


Seketika sudut bibir Jung menukik naik membuat senyum manis di wajahnya.


"Oleh karena itu jangan pernah lelah mengingatkan aku tentang kasih sayang kita, aku mohon" Andrea menangkupkan kedua tangannya, memohon kepada Jung.

__ADS_1


"Tidak akan sayang, aku tak kan lelah bercerita tentang hari indah kita, aku tak kan lelah meyakinkan dirimu akan cinta kita," Jung sedikit menunduk, menatap gadisnya lebih dekat hingga kening mereka bersentuhan.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu, bahkan meski kau harus kehilangan separuh kenangan kita selamanya, aku akan terus menempel kepadamu dan mengukir kenangan indah kita di dalam ingatanmu yang baru."


"Aduuuhhhh!! kalian sedang sakir, kenapa masih saja bermesraan!," Joen bergumam. Entah mimpi apa pria ini semalam hingga dia menjadi saksi kemesraan Jung dan Andrea.


"Akh!! kamar ini sangat berdebu! mataku sampai kemasukan debu!," jeritnya seraya masuk ke ruang inap Jung dan Andrea.


"Ck! kenapa biji terong ini datang!," Jung melengus kesal, padahal sedikit lagi bibir ranum itu dia cicipi.


To be continued..


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2