Storge

Storge
Jerat cinta


__ADS_3

Begitu banyak pakaian berserakan, hampir di setiap sudut kamar Andrea. Dia punya janji temu kali ini, dia akan berkencan dengan sang pujaan hati.


*


*


*


Malam sebelumnya di kediaman Charlotte.


Jung meminta bibi An menyiapkan jus apel untuk Andrea. Wanita cantiknya itu sedang dalam perjalan menuju kediaman Charlotte.


Setelah bicara dengan bibi An, Tuan muda Jung melangkah ke ruang keluarga. Di sana Tuan dan Nyonya Charlotte sedang menonton drama komedi yang terus membuat mereka terbahak tertawa.


"Kalian membuat ku iri! kenapa mesra sekali!!," dengan segelas air putih Jung menyambar cemilan milik Nyonya Sook.


Tuan dan Nyonya Charlotte hanya menoleh sebentar ke arah Jung, mereka kembali tenggelam dalam lucunya drama yang mereka tonton.


"Kacang!! kacang!," teriak Jung sambil berlalu ke pintu depan. Dia kesal tidak dihiraukan oleh kedua orang tuanya.


"Merajuk tuh," langkah Jung sudah sampai di teras rumah ketika Tuan Charlotte melirik ke belakang.


"Perasaan kau saja," Nyonya Sook tidak peduli, menyambar camilannya di atas meja. Beberapa menit ke depan gelak tawa terus menghiasi ruang keluarga itu.


Jung berjalan mondar-mandir di teras, menunggu kedatangan gadis pujaan. Tidak berapa lama, mobil yang mengantar Andrea muncul di hadapan Jung. Penuh perhatian pria dewasa itu membukakan pintu mobil dan menyambut kedatangan kekasih hati, dan perlahan mobil itu berlalu dari hadapan mereka.


"Kenapa lama sekali!!," tangan Jung melingkar manja di pinggang Andrea. Dia merengek seperti anak kecil"Aku lelah menunggu, aku sudah sangat rindu padamu."


Andrea melirik jam yang melingkar di tangan"Lama? hanya 30 menit dari waktu kau menelpon ku, sayang."


Jung mengelus puncak kepala Andrea, mengelusnya lembut dan mencium kening nya lembut"Bagiku itu sangat lama." Aish! keadaan seolah berbalik, dahulu Andrea begitu gencar mengejarnya namun dia tak peduli dan bersikap dingin. Sekarang setelah jatuh dalam pelukan gadis itu, dia menjadi budak cinta.


Baru 2 hari tidak bertemu, dan rindu itu sudah sangat menyiksa. Di akhir minggu jadwal kuliah gadis tersayang itu kosong, dan karena itulah mereka tidak bertemu di kampus. Lagipula, Andrea memang sedang menahan diri, dia ingin melihat bagaimana sikap Jung jika tidak bertemu dalam beberapa hari.


Langit malam nan cerah bertabur bintang, semilir angin malam terasa menusuk tulang.


"Mari kita ke atas jika kau ingin melihat bintang," wangi khas seorang Jung menyeruak dari tubuhnya, keimanan seorang Andrea tengah di uji saat ini. Andai mereka sudah sah, pria ini pasti telah di terkamnya sedari tadi.

__ADS_1


"Sayang, kau berani mengajak aku masuk ke ke kamarmu?," dua mata nan cantik dengan bulu mata lentik, berkedip-kedip manja pada Jung.


"Jadi kau ingin bergabung bersama papa dan mama? yang sedang menonton acara kocak, sampai tertawa terbahak seperti itu?," genggaman tangan Jung menuntun Andrea masuk ke kediamannya.


"Tentu tidak, aku yakin bersamamu pasti lebih menarik," tatap manja Andrea.


Jung mengulas senyuman"Aku mengajakmu melihat bintang, bukan sedang melawak."


"Beberapa waktu ke depan kau pasti akan melawak, dan membuatku terbahak," sahut Andrea lagi, tangannya bergelayut manja di lengan Jung.


Tersipu malu, Jung memegangi belakang lehernya yang jenjang"Apa aku salah mengajaknya ke kamar? apa dia akan bertindak berlebihan lagi? menjamah tubuhku misalnya??," batin Jung beranggapan akan jadi korban Andrea malam ini.


Pasangan mesra di ruang keluarga masih khusyuk dengan kegiatan mereka. Andrea pun di persilahkan naik ke kamar Jung, dengan catatan tidak boleh melanggar batas.


"Aku sudah dewasa, kenapa masih di beri peringatan!," ujar Jung menarik lengan Andrea naik ke atas.


"Justru karena sudah dewasa, setan yang menggoda kalian pasti lebih sakti," rupanya nyonya Sook mendengar ucapan si sulung, Jung.


"Wuidih, tanjam sekali pendengaran mama, seperti kucing."


Nyonya Sook melirik Jung, kemudian beralih pada Andrea"Kasih pelajaran sama dia, jangan di beri ampun!!," kata-kata itu terdengar seperti perintah.


"Tidak perlu di anggap serius, tante mu asal bicara saja. Naiklah ke atas, nikmati waktu bersama kalian," tukas Tuan Charlotte.


Bibi An sudah siap dengan camilan dan jus apel nya.


"Kau naiklah dulu," kaki Jung melangkah menuruni anak tangga dan mengambil nampan di tangan bibi An, dia terlihat sangat perhatian malam ini.


Sesampainya di kamar Jung sebuah teropong bintang berdiri tegap di ujung balkon.


"Wow!! ku kira hanya melihat bintang dengan mata telanjang, sayang," rasa penasaran membuat Andrea mendekati barang itu, dia mencoba mengintip dari lobang kecil di ujung teleskop.


"Bagaimana cara menggunakan nya, sayang?," tanya nya pada Jung.


Nampan di letakan di atas karpet yang dia gelar di lantai balkon. 2 buah sofa duduk empuk juga tersedia di atas lesehan itu.


"Sebentar, aku belum sempat mengatur lensanya," setelah meletakan nampan, Jung mengambil alih teleskop. Saat itu bayangan wajah Jung sempat membuat Andrea terpana.

__ADS_1


Slide samping Jung memang paling tampan, sedikit rambut yang menutupi mata tajam itu mengundang belaian lembut jemari Andrea.


"Deg!!"


Irama jantung sang pria mulai berdetak tak normal. Wangi manis dan lembut Andrea yang tersapu angin, menarik keinginan menyentuh wajah cantik wanitanya.


"Berani membelaiku?," lengannya berhenti mengatur lensa dan beralih ke belakang leher Andrea.


"Bisakah kau tidak pulang malam ini?" bisikan Jung meniup helai rambut yang terselip di telinga Andrea.


Mata bulat gadis itu bertemu pandang dengan mata sang pria, sungguh kedua mata tajam itu begitu mempesona untuk Andrea.


"Jangan mulai menggoda, sayang," bibir Andrea menahan hasrat. Akan sangat berbahaya jika mereka tidak bisa mengontrol diri malam ini. Lagipula, pasangan berisik di kamar sebelah tidak ada gelagat akan mucul, biasanya mereka juga menikmati suasana malam di balkon.


"Sedikit saja, boleh kah??"Jung menggigit bibir bawah menahan keinginan mencumbu kekasih di hadapannya.


"Hm!" wajah Andrea mendongak lebih mendekati Jung. Kakinya berjinjit berusaha menambah sedikit tinggi badannya.


"Eisshh!! di saat seperti ini aku sangat kesal dengan tubuh pendek ini!!," gerutu hati nya.


Jung menundukan kepalanya dan membuat Andrea terkejut, dengan ciuman hangat di bibir manis Andrea. Nafasnya terasa hangat....


Dua hari tidak bersua, Jung merasa lebih bersemangat menghadapi gadis cantik yang terus menghantui pikirannya.


Andrea balas mencium hangat Jung.


Dan perlahan pagutan mereka semakin memanas, ada rasa gemas yang mengundang mereka untuk melangkah lebih jauh.


Tangan Jung yang awalnya hanya memegang pinggang langsing Andrea, pelan-pelan merayap masuk menyentuh kulit perut gadis itu.


"Hah!!" mata Andrea terbelalak. Gigitan kecil mulai dia rasakan di bibirnya, beginikah ketika Jung tidak bisa menahan kerinduannya???


Seperti inikah Jung saat kalah bertarung dengan nafsu nya??


Ciuman panas yang di lancarkan Jung mulai turun ke pundak Andrea. Jemarinya mencengkeram lengan Jung dengan kuat,


mereka semakin terbawa suasana.

__ADS_1


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


__ADS_2