Storge

Storge
Lampion


__ADS_3

Di tengah kerumunan pengunjung, nampak pula pasangan Ghina dan Joen. Bergandeng tangan mereka menyurusi jalanan yang di penuhi menjual makanan khas pantai. Bagai surga dunia untuk Ghina, kali ini dia kembali menikmati makanan pedas kesukaannya. Meski terlihat menggiurkan, Namun Joen tak berniat mencicipi makanan yang sedang di santap sang istri.


Makan dengan lahapnya sampai tak menghiraukan keadaan sekeliling, berkali-kali Joen menyeka tepian bibir sang istri yang belepotan"Istriku, kau sudah dewasa, mengapa makan saja begitu berantakan!."


"Aku masih anak SMA, sayang."


"Anak SMA bukan berarti harus makan dengan berantakan seperti ini. Pelan-pelan saja, aku tidak akan meminta makanan mu," baru sekejap, Joen kembali menyeka tepian bibir Ghina.


"Baiklah Tuan Joen, terimakasih sudah menjaga penampilan ku," senyum di wajah Ghina membuat Joen ikut tersenyum. Ghina memang seperti anak kecil malam ini, berjalan kesana dan kemari menyinggahi stan makanan pedas dengan semangat yang membara.


"Sudah sayang, nanti pencernaan mu terganggu."


"Ini yang terakhir sayang," kembali dengan seporsi makanan, Ghina menyantap sate kerang super pedas. Pria itu yakin pasti sate kerang itu sangat pedas, sebab melihat warna bumbunya saja sudah membuat Joen bergidik ngeri.


Setelah menghabiskan hidangan terakhir itu, acara makan banyak Ghina di tutup dengan sebotol minuman bersoda, sungguh kolaborasi yang tidak sehat. Joen hendak protes, namun Ghina segera menyela"Ini yang terakhir, sayang," ujarnya, sebab dia tahu Joen menghitung sudah ada 3 botol minuman bersoda yang dia habiskan malam ini. Beruntung minuman itu tidak mengandung alkohol, bisa-bisa Joen akan kewalahan menggendong istrinya saat pulang nanti.


Wisata kuliner malam Ghina berakhir, dan Joen mengajaknya menerbangkan lampion. Awalnya Ghina belum tahu harus di apakan lampion cantik berwarna merah itu, dan setelah Joen menjelaskan senyum pun terbit di wajahnya. Nampak serius, Ghina menuliskan sebuah harapan pada sisi lampion, dan Joen menuliskan harapan pada sisi yang lain.


Tidak muluk-muluk, Ghina hanya menukiskan"Semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai kami."


Ketika dia hendak melihat apa yang di tulis Joen, dengan cepat sang suami menutupi lampion dengan kedua tangannya"Hei Tuan suami, apa yang kau tulis?."


"Rahasia."


"Katakan padaku, aku tidak akan membocorkan rahasiamu itu."

__ADS_1


"Rahasia tidak lagi menjadi rahasia ketika kau membaginya dengan orang lain."


Bibir Ghina maju, sungguh pandai berkilah lelaki di hadapannya ini.


Wajah cemeberut Ghina tak membuat pria itu berniat membuka kedua telapak tangan, Joen tetap tak ingin memperlihatkan permohonannya"Tulisan tanganku seperti cakar ayam. Sangat buruk."


Kedua alis Ghina beradu naik turun"Hidung mu akan memanjang jika berbohong."


"Istriku tersayang, suamimu ini bukanlah Pinokio," tetap tak membuka kedua telapak tangannya.


Rasa penasaran membuat Ghina sangat ingin melihat permohonan yang Joen tulis"Aku akan berbalik badan. Selesaikan tulisanmu agar lampion kita segera di terbangkan," ujar Ghina, mencari celah dalam teguhnya sang suami menutupi apa yang dia tuliskan.


Dengan cepat Joen menyelesaikan tulisan pada lampion"Sudah siapa untuk di terbangkan," Joen menyalakan api yang akan membawa lampion itu naik ke atas langit.


keduanya melepas lampion pertama mereka. Ghina berjinjit demi melihat lampion yang membawa harapan mereka, masih ingin melihat apa yang tuliskan Joen.


Permohonan di baris terakhir membuat Ghina menarik nafas dalam dalam. Sementara Joen nampak membuang muka, dia menatap ke arah pantai.


"Sayang!," Ghina menarik kemeja Joen.


"ng!," sahutnya. Saat itu dia menahan malu. Tapi dia benar benar menginginkan kehadiran Joen junior secepatnya.


Wanita kesayangan bergelayut di lengan nya, dengan terus memandang Joen yang menyembunyikan rasa malu. Wanita itu tak bersuara namun senyumnya seakan mentertawakan wajah semu suaminya.


"Ghina sudahlah, jangan menatap ku seperti itu," akhirnya menatap pandangan Ghina.

__ADS_1


"Katakan, kau ingin berapa Joen junior?," masih dengan senyuman Ghina mengajukan pertanyaan pada Joen.


Joen menarik istrinya ke hadapan dan memeluknya dari belakang,"Banyak! tapi nanti saja, saat kau sudah cukup usia."


Ghina balas menatap Joen, garis rahangnya yang tegas terlihat samar di bawah lampu lampion yang temaram. Menilik jalan hidup Ghina yang terjal telah mengantarkannya masuk ke dalam keluarga Charlotte. Di balik kepergian kedua orang tuanya Tuhan menghadirkan sosok Joen, suami penyayang yang terkadang berlaku jahil padanya.


"Ayah, ibu, baik-baiklah di sana. Berbahagialah di sana, seperti aku yang selalu di selimuti dengan kebahagiaan," manik matanya menatap langit dan berbisik kepada mendiang kedua orang tuanya.


Tiba-tiba tingkah Joen memecah lamunan Ghina"Wangimu manis sekali," Joen mengagetkan Ghina, pundaknya kini menopang wajah suaminya.


"Joen! seluruh dunia bisa melihat kita," perlahan Ghina melepaskan pelukan Joen.


"Dunia ini milik kita," jemarinya menunjuk orang- orang yang berlalu-lalang di hadapan mereka"Mereka semua, hanya mengontrak sayang."


Ghina terkekeh mendengar celoteh Joen. Jika mengingat Joen yang dahulu, sikapnya sangat jauh berbeda dengan Joen yang sekarang. Dahulu dia tidak akan sudi berbaur dalam khalayak ramai seperti sekarang ini, sebab Tuhan muda keluarga Charlotte sangat tidak menyukai keramaian. Dunianya hanya seputaran rumah dan kampus. Kehadiran Ghina bagaikan jembatan dunia baginya, membuka seluruh pandangannya akan dunia yang sangat luas.


...........


Kembang api puncak festival telah menyala. Euphoria kemeriahan begitu terasa bagi pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta.


Andrea meletakan kepalanya di pundak Jung. Meriah cahaya kembang api seakan memandikan mereka dengan bermacam warna-warni nan ceria.


Di lain tempat Joen bersandar di jembatan, menggengam tangan kecil Ghina yang begitu terpesona akan kemeriahan malam itu.


''Ghina ku sayang, ingatlah malam ini baik baik. Aku akan mengajakmu ke sini lagi tahun depan," bisik Joen pada sang kekasih hati.

__ADS_1


To be continued..


~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2