Storge

Storge
Toko bunga


__ADS_3

Pembukaan toko bunga keluarga Charlotte berlangsung sangat meriah. Teman-teman sosialita Nyonya Sook ikut memeriahkan acara.


Bermacam jenis bunga tersedia di toko bunga itu. Untuk permulaan mereka akan fokus menjual bunga saja, jika bisnis berjalan lancar, maka mereka akan menambah produk lain untuk di jual di toko bunga tersebut.


"Selamat ya mah, atas pembukaan toko bunganya," Jung dan Andrea memberi selamat kepada Nyonya Sook.


"Mamah melakukan hal itu untuk Ghina, bisnis ini milik Ghina, bukan milik mamah."


"Tidak mah, Ghina tidak pantas menerima semua ini. Toko bunga ini tetap milik mamah, dan Ghina hanya rekan kerja mamah saja. Sungguh, niat untuk melanjutkan pendidikan sudah tidak ada lagi dalam pikiran, Ghina."


Menatap sang menantu yang tertunduk sedih, merasa tidak nyaman jika keputusan nya mengganggu ketenangan orang lain. Nyonya Sook justru merangkul pundak Ghina"Sayang, jangan ungkit masalah itu lagi. Jika kau memang tidak ingin melanjutkan sekolah, baiklah. Dan jika kau tidak ingin menjadi pemilik sah toko bunga ini pun tak mengapa, tapi kau tidak akan menolak bukan jika menjadi asisten mamah di sini?."


Ghina mengangkat wajah dan tersenyum"Terimakasih mamah," hati wanita itu terasa menghangat. Di saat dirinya mengambil keputusan yang mencengangkan, Nyonya Sook tidak memaksakan dirinya untuk melanjutkan pendidikan.


"Sudah, cepat ganti wajah sedih itu dengan keceriaan. Ini awal yang baik untuk kita semua, dengan begini kau tidak akan kesepian lagi di rumah, bukan. Sebab akan menjalani keseharian di tempat penuh bunga ini," celoteh Andrea sembari mengedarkan pandangan.


Membenarkan ucapan Andrea, Nyonya Sook membelai pucuk kepala sang calon menantu"Sering-seringlah singgah ke sini ya, sayang. Tempat ini selalu terbuka untukmu."


Mengapit lengan Ghina"Tentu saja tante, di saat senggang aku akan menempel pada wanita kecil ini. Ayo cepat tersenyum," mengatakan Ghina kecil, seperti dirinya lebih tinggi dari Ghina saja.


"Iya, iya gadis pendek," sahut Ghina tersenyum sangat lebar.


Membalas ucapan Ghina dengan tawa pula, Andrea kembali berucap"Jadi, acara merangkai bunganya akan di laksanakan di sini tante?,"


Andrea cukup memahami kebiasaan sehari sehari Nyonya Sook. Sang calon mertua yang hari-harinya selalu berurusan dengan bunga.


Menyiram bunga..


Merangkai bunga..


Membuat kue bunga.


Melakukan segala kegiatan yang sangat feminim, dan di saat Ghina belum berani menerima toko bunga ini dengan seutuhnya, Nyonya Sook jadi teringat dengan si bontot, gadis bunglon yang bisa tomboy, juga bisa feminim. Andai saja Nari bisa menjadi feminim saja, hari sang mamah pasti akan bahagia sekali.


"Ya, tentu saja Andrea. Acara ngeteh sore pun mungkin akan lebih banyak di laksanakan di sini. Ingat! sesekali temani tante nge teh di sini, ya."

__ADS_1


"Tentu saja, tan," sahut Andrea pula.


Teringat kepada Nari, gadis itu terlampau bahagia atas di bukanya toko bunga ini. Sebab letaknya yang tepat di depan kedai roti Arin"Terimakasih mamah, dengan begini Nari bisa memakan roti dari kedai Arin setiap hari," serunya bersemangat.


Arin yang berada di samping Nari terkekeh"Betul, dan seriap hari kita kan bermain di sini, atau di kedaiku."


"Kalian sudah besar! sudah di penghujung masa SMA. memangnya hal apa yang akan kalian mainkan? boneka? aku tidak yakin boneka itu akan selamat di tangan Nari," Jung yang sempat permisi ke belakang kini hadir kembali, menyapa Nari dengan cubitan di hidungnya.


"Abang!!," sentak Nari tak terima.


"Jung!," tegur Nyonya Sook. Yah, begitulah mereka, tiada hari tanpa keributan.


Acara pembukaan sudah berlangsung beberapa lama. Mereka membagikan setangkai bunga mawar ke pada siapa saja yang lewat di toko itu, tak terkecuali kepada ayah dan ibu Arin di kedai depan.


"Tuan charlos, nampaknya kita akan sering bertemu sekarang," Tuan dan Nyonya Charlotte datang ke kedai membawa sebuket bunga mawar merah nan harum, dan memberikannya pada Tuan Charlos dan istri.


"Itu benar Tuan Charlotte, sekarang kita akan benar-benar menjadi tetangga," ayah Arin dengan senang hati menerima bunga pemberian keluarga Charlotte.


"Bunga yang sangat cantik, ini sangat pantas ku persembahkan untuk wanita tercantik ku," ujarnya lagi. Terimakasih Tuan Charlotte, Nyonya Charlotte."


"Duhai istriku, terimalah bunga mawar merah ini sebagai tanda cintaku kepadamu," tanpa rasa malu, Charlos memberikan bunga itu kepada istrinya sambil berlutut di hadapannya.


"Hahaha, ayah! hentikan," ibunya Arin memukul pelan lengan suaminya.


"Hentikan ayah!, kau membuatku malu," ujarnya tertawa.


Hahaha, Tuan dan Nyonya Charlotte juga tertawa melihat tingkah Charlos terhadap istrinya. Mereka berbincang sebentar, dan kembali lagi ke toko bunga.


Ghina nampak membawa beberapa tangkai bunga, berjalan bolak-balik di pinggir jalan.


"Aigooo, bunga itu kalah cantik dengan istriku hari ini," Joen memandangi gerak-gerik Ghina dari dalam toko.


"Caon istriku juga cantik," Jung tak mau kalah.


"Jangan terlalu berlebihan, siapa yang dahulu kabur dari rumah demi menghindari Andrea.."

__ADS_1


"Itu waktu aku blm sadar Joen, jangan di ungkit lagi!!."


"Aku baru tahu, bahwa abang sempat gila," ledekan Joen membuat Jung memicingkan kedua mata menatap sang adik.


"Bahkan di hari bahagia ini pun, kau tetap menyebalkan," celoteh Jung.


Seiring berjalannya waktu, acara pembukaan toko bunga telah berakhir.


Nari melepas penat di balkon kamarnya"Wah, hanya membagikan bunga saja, lelahnya seperti ini," dia mengangkat kedua tangan, meregangkan otot-otot lengannya.


"Saat itu suara notifikasi, pertanda ada pesan yang telah masuk pada gawainya.


"Selamat sore Nona Nari," contact name is unknown...


Tidak membalas pesan itu, Nari hanya membaca dan mengabaikan. Gadis itu memilih mandi untuk membersihkan dirinya usai beraktivitas di luar rumah hari ini.


...........


Di kediaman Abraham.


Seorang Aron Abraham ketar-ketir memandang layar ponselnya"Aku tidak di hiraukan, Alex."


Ada seulas senyum di sudut bibir Alex"Makanya, jangan sok akrab," melihat Aron yang tidak di hiraukan Nari, ada rasa senang yang menyeruak di dalam hati. Siapa yang tahu, bahwa dalam diamnya, Alex telah menyukai Nari.


Aron memberanikan diri untuk lakukan panggilan telepon, namun tetap saja Nari tidak menerima panggilan yang dia lakukan. Nari sedang mandi, tentu saja dia tidak tahu akan panggilan Aron itu.


"Sudahlah, kau jangan memaksakan kehendak," tergur Alex.


"Tidak, aku semakin penasaran. Nanti jika berjumpa, aku akan langsung mengungkapkan cinta."


Mendengar hal itu membuat emosi seorang Alex meledak"Berisik," sentaknya berlalu dari hadapan Aron. Pria itu melangkah ke halaman tempatnya kerap bermain basket. Emosi itu membuat bola yang dia pegang menjadi sasaran, dengan kasar Alex melempar, membanting bola itu dengan hati bergemuruh. Ternyata marah itu membuat lelah juga, akhirnya Alex mengambil duduk di tepi halaman, meraih ponselnya dan membuka galeri. Di sana ada photo seorang gadis cantik, tengah duduk bersama sahabatnya di bangku penonton. Dialah Nari yang kerap menyita perhatiannya saat sedang bermain basket.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2