
Usai meliburkan diri sehari dari kesibukan di kantor, hari ini pria tampan beristri ini kembali menjalani aktivitas sehari-hari di kantor. Mungkin karena kemarin dirinya memuntahkan hidangan telur dengan campuran keju, maka hari ini hidangan tersebut menghilang dari meja makan. Dan, Joen merasa lega akan hal itu, sebab dia dapat makan dengan adanya gangguan. Rasanya, dengan melihat saja, rasa amis dari hidangan itu sungguh menggelitik inda penciuman.
Berangkat dari rumah dalam keadaan baik-baik saja, namun perasaan mual itu datang kembali setelah dirinya masuk ke dalam perusahaan.
"Ouch!!," Joen langsung menutupi hidunganya, aroma apa ini?? kenapa mereka terlalu banyak memakai parfum??? selain mual, kepala Joen mendadak pusing karena aroma berlebihan itu.
Rasanya tidak sopan jika protes pada mereka yang di rasa terlalu banyak memakai minyak wangi, maka Joen mempercepat langkah agar segera sampai di ruangannya.
Lagi-lagi, aroma tak sedap bagi Joen seperti udara yang tak bisa di hindari, rasanya kemana pun Joen pergi aroma itu terus saja mengganggu. Bahkan, aroma hangat dari ruangannya pun rasanya menjijikan. Padahal itu aroma yang dia pilih sendiri.
"Akh! aku rindu aroma tubuh istriku. Rasanya tidak ada aroma paling manis di dunia ini selain aroma tubuhnya," belum satu jam, Joen sudah merindukan istri kecilnya.
Meninggalkan Joen yang mendadak tidak enak badan lagi, kita beralih kepada nona muda dari keluarga Charlotte. Kehadiran Nari di gerbang sekolah, di sambut senyuman manis dari seorang Arin. Tapi...kenapa senyuman itu terlihat tidak tulus? seperti ada udang di sebalik bakwan!
"Morning Nariaaaa," senyum paling manis Arin hadirnya untuk Nari. Bukannya membalas senyuman itu, Nari menatap Arin dengan sebelah alis terangkat naik.
"Oh," netra Arin melihat tas yang tersampir di sebelah bahu Nari"Apa tas mu berat? sini aku bawakan," segera mengambil alih tas milik Nari.
"Pletok!!," jemari lentik Nari melayang tanpa permisi menghantam kening Arin.
"Awhs!!," Nariaaaa," pekik Arin memejamkan mata, dengan tangan menutupi kening.
"Keluar kau setan jablay!!! kau membuat Arin bersikap menggelikan!! keluar kau!!," dan kepala Arin di pegang erat oleh Nari, sembari meniup ubun-ubun sang sahabat.
Arin segera menepis tangan Nari"Hei!! ini kepala! bukan kelapa! kau memperlakukan kepalaku seperti bola!."
"Owh! jadi kau tidak sedang di rasuki setan jablay binti alay?."
Arin menarik napas, kemudian membuangnya kasar"Haish! kau mengira aku kerasukan??! yang benar saja."
"Kau bersikap manis, sementara aku sangat tahu itu bukan sikap mu," sahut Nari mengambil kembali tasnya dari Arin.
"Memangnya kenapa? apa itu salah? aku hanya ingin bersikap lebih baik padamu. Sini, berikan tasmu, biar hamba yang membawakan nya."
Meski bersikap sangat aneh, Nari menyerahkan tasnya lagi kepada Arin. Gadis itu meraih tangan Arin, berniat berjalan bergandengan tangan seperti biasanya. Namun, apa yang terjadi? Arin menolak melakukan hal itu.
"Nona Nari, tidak seharusnya anda berjalan sejajar dengan hamba, akan lebih baik jika anda yang berjalan lebih dahulu."
Anda? hamba? apa-apaan ini?? Nari sangat tidak suka jika ada orang yang membahas status sosialnya"Hentikan Arin!! jika kau masih ingin berteman denganku, jangan bersikap dan berbicara seperti ini!," hardik gadis itu mengambil lagi tasnya dari dekapan Arin.
__ADS_1
Sontak Arin kelabakan, gadis itu berlari kecil mengejar langkah cepat Nari yang berniat meninggalkan dirinya.
"Nona Nari!!," Arin berseru, namun Nari seolah tuli.
"Oke baiklah! aku akan menjelaskan semua ini!," suara melengking Arin mengundang perhatian murid-murid lain, tak terkecuali seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Alex yang memintaku melakukan hal ini, dia memintaku untuk selalu melayanimu, membantumu, menjagamu dengan sangat baik."
"Lantas!," Nari bertanya sambil memelintir ujung rambutnya.
"Lantas, dia akan membeli 5 roti krim plus minuman soda setiap hari, selama 1 bulan. Dia berharap aku bisa meyakinkan kamu untuk menerima cintanya."
"oooo...jadi harga persahabatan kita setara dengan 150 biji roti krim di kedai kamu??," berkacang pinggang, Nari menatap Arin tajam.
"Bukan seperti itu...," Arin coba menyangkal.
"Sudhalah! kalau begitu aku akan membeli 10 roti strowbery keju, plus minuman soda setiap hari, selama 2 bulan!!," ujarnya berbicara dengan menggerakkan tangan di hadapan Arin.
"Hah!!," Arin terkejut.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, aku akan menepati janjiku, jadi kembalilah menjadi Arin yang dahulu," Nari meninggalkan Arin lagi.
"Oh Lord!," menyaksikan hal itu Alex menepuk keningnya"Aku salah langkah, sepertinya Nari malah akan menjauhiku," desisnya.
Hari perlahan berganti siang, Joen bergegas memacu kendaraanya menemui Ghina. Dia seakan di perlakukan rindu dengan sangat curang, baru beberapa jam meninggalkan Ghina di rumah, tapi rasa rindunya amat sangat tidak tertahan.
Setelah sampai di depan Charlotte flower's, matanya di manjakan dengan sosok sang istri yang sibuk menata bunga-bunga nan cantik dan menciumi aroma wangi dari bunga-bunga.
Dia tak kalah cantik dari bunga-bunga itu, gumam hati Joen.
"Selama siang mama," dia menyapa Nyonya Sook yang sedang merangkai bunga bersama beberapa pelanggan.
"Wah, Tuan muda Joen, kau selalu saja tampan," ucap salah satu pelanggan. Joen menangapi pujian itu dengan senyuman.
Nyonya Sook lantas tersenyum"Dan kau akan semakin terpana jika melihat abang nya," ujarnya bangga, dia tahu pelanggan ini belum pernah melihat Jung secara langsung. Dua putranya kerap muncul di majalah bisnis, juga televisi pada laman bisnis saat menemani sang papa menghadiri pertemuan penting, namun tak semua orang pernah melihat langsung ketampanan dua Tuan muda itu.
"Yah, melihatnya di televisi saja sudah membuatku terpesona," ucap pelanggan itu mengakui.
"Hei, ingat sugar dady mu," tegur temannya. Lantas wanita matang itu terkekeh, dia berterima kasih sebab telah mengingatkan untuk tak tergoda dengan pesona lelaki lain.
__ADS_1
Usai mengomentari Joen, mereka beralih kepada Ghina, yang kini sedang di rangkul oleh Joen.
"Kau jauh lebih cantik dari bunga ini, sayang," ujar Joen. Dan dengan kesaktian telinga corong mushola, pelanggan-pelanggan ini mendengar ucapan Joen, meski jarang mereka tak terlalu dekat.
"Itu bukan putri anda Nyonya??," seorang dari mereka tak tahan untuk tidak menanyakan hal itu. Mereka kira, Ghina adalah putri Nyonya Sook.
"Menantu," jawab Nyonya Sook, dengan senyuman, tangannya masih sibuk menata bunga-bunga.
Seperti ninja, wanita itu gegar menghampiri Ghina dan Joen"Sebentar, berarti ini yang nikahan kemarin ya? wah aku tidak menyadari nya, padahal acara pernikahan kalian masuk berita gosip," tangannya begitu ringan mecubit lengan Joen.
"Iya," Nyonya Sook tersenyum manis, dia senang mereka memuji kecantikan Ghina, tapi kenapa malah Joen yang di dekati. Ckckck dasar ibu-ibu.
Joen merasa risih"Iya tante," sahutnya perlahan meninggalkan, berpindah ke samping Ghina. Menjadikan Ghina sebagai tameng dari wanita sok akrab.
Mendengar Joen menyebutnya tante, senyum di wajah wanita itu perlahan memudar, dia pun kembali pada Nyonya Sook dan pelanggan lainnya"Mereka sangat cocok, cantik dan tampan."
"Iya betul," ujar pelanggan lain menimpali.
Rasa lapar mulai terasa, Joen segera membawa Ghina untuk makan siang. Sepasangan suami istri itu pamit pada Nyonya Sook, juga pada pelanggan yang merangkai bunga bersamanya untuk makan siang.
Joen membawa Ghina ke sebuah restoran yang baru di buka, namun pria itu mengajak Ghina untuk berpindah restoran saja.
"Kenapa sayang?," tanya Ghina. Sikap Joen agak lain hari ini.
"Tidak ada makanan pedas di sana, aku sedang ingin memakan makanan super duper pedas."
"Hei, bukankah kau paling tidak tahan dengan makanan pedas, sayang," Joen menyelidik, ada apa dengan suaminya ini?.
"Aku hanya teringat dengan mie super pedas yang kau makan di street food dahulu, juga tahu pedas yang kau makan dahulu, akh!," Joen seperti menelan air ludah"Aku jadi ingin mencicipi nya, sayang."
heh...bingung kan ghina.
Ghina menatap Joen lekat-lekat"Joen, apa kau baik-baik saja?."
"Kenapa bertanya seperti itu?."
"Ada orang yang akan memakan makanan pedas, hanya untuk mengurangi rasa sedihnya, apa kau sedang dalam masalah?."
Joen terkekeh"Hahaha, kau mengada-ada sayang. Aku bahagia denganmu, dan selamanya akan selalu bahagia. Aku hanya benar-benar ingin menikmati makanan pedas, itu saja."
__ADS_1
To be continued..
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^