Storge

Storge
Romeo dan Juliet kediaman Charlotte


__ADS_3

Mengingat bunga-bunga nan cantik yang di letakkan Nyonya Sook di kamar Jung, membuat Ghina mengingat kedua orang tuanya yang telah pergi.


"Ibu pasti senang jika aku berkunjung dengan membawa bunga-bunga yang cantik seperti ini," gumamnya tanpa melepas pandangan dari tumbuhan yang cantik itu.


"Besok aku akan mengunjungi mereka," ujarnya lagi.


Ghina pun sudak tidak sabar untuk mengutarakan niatnya kepada Joen nanti malam, meskipun sudah menjadi Nyonya Joen Charllote, Ghina tetaplah Ghina yang dulu. Dia juga sempat memikirkan bagaimana keadaan rumah mereka, yang sudah lama dia tinggalkan.


"Tidak terasa, sudah lebih dari 1 bulan, mungkin akan lebih baik jika aku juga mampir ke sana, selepas mengunjungi makan ayah dan ibu," monolog hati gadis kecil itu.


Di saat Ghina tengah tenggelam dalam pikiran, sebuah notip dari sang gawai memecah lamunannya"Tring!!," ternyata itu pesan dari Andrea.


πŸ“©"Bagaimana kabar dosen gantengku??."


Ghina menghela napas"Oh Andrea, kau memang tidak kuasa untuk acuh terhadap pria tampan itu," ujarnya sambil membalas pesan Andrea.


πŸ“¨"Dia sudah kembali ke rumah. Dan sekarang sedang beristirahat di kamarnya. Kau kapan ke sini?," tak lupa sebuah tanya dia sematkan di ujung kata.


πŸ“©"Mungkin besok, untuk sekarang tolong titip pangeranku dulu ya πŸ₯° tidak lupa, Andrea menyematkan emoji love bertebaran di ujung pesan singkatnya.


Ghina memanyunkan bibirnya mendapat emoji alay dari Andrea.


πŸ“¨"Kau ini, kau selalu lepas kendali saat kita membahas pria mu itu! bukankah kau bilang akan lebih menahan diri."


πŸ“©"Aku sungguh tidak kuat Ghin, lagipula Jung tidak mengetahui obrolan kita ini kan. Apa kay tahu, gejolak di dalam dada aku, rasanya hatiku ingin meledak saat berdekatan dengannya."


πŸ“¨"Oh lord! kau gila! berhati-hatilah agar tidak terlalu bucin, aku khawatir otakmu akan bergeser, Andrea."


πŸ“©"Ahahaha, jika itu untuk Jung, aku rela dengan pergeseran otak itu. Ah! jangan-jangan kau iri kepadaku! saat pendekatan dengan Joen, kau tidak sempat bucin-bucinan seperti aku dan Jung," ledek Andrea lagi.


πŸ“¨"Wuuuu!! kau terlalu percaya diri, aku tidak iri kepada kalian sedikitpun, aku bahkan bisa leluasa menghabiskan malam dengan Joen sekarang, tidak seperti kau yang harus berlakon dulu untuk menaklukkan hatinya kak Jung, si pangeran tak berkuda."


πŸ“©"Ck! aku salah berniat mengejekmu, aku hampir lupa bahwa kau juga sangat menyebalkan. Tapi lihat saja, sebentar lagi aku akan menyusul mu ke pelaminan," Andrea memilih mengalah berdebat, namun tetap optimis dalam pengejaran cintanya.


πŸ“¨"Nah kalau Andrea yang seperti ini, aku jelas sangat mendukungmu! jangan pantang menyerah ya!!."


Percakapan via pesan pada aplikasi gelembung hijau mereka terhenti karena kedatangan Joen, Ghina cepat-cepat melempar ponsel ke tempat tidur ketika Joen membuka pintu kamar.


"Heit!! apa yang kau sembunyikan?," Joen sempat melihat gerak-gerik mencurigakan Ghina.


"Apa~~~," Ghina berlagak pokos. Dia memasang wajah tidak berdosa, namun dengan bola mata berlarian kesana kemari. Terlihat jelas ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan dari Joen.


"Hup! pasti ini biang keroknya," secepat kilat dia menyambar ponsel Ghina yang tergeletak di tempat tidur.


Ghina, tidak mau kalah cepat dari Joen. Secepat kilat pula dia berusaha menyambar ponselnya, dan terjadilah di antara mereka berdua insiden saling berebut ponsel, di atas tempar tidur.


"Sayang, kembalikan! ini hanya rahasia sesama wanita!," Ghina menarik lengan suaminya, yang sudah menggenggam ponsel begitu tinggi.


Joen dengan santai turun dari tempat tidur dan berdiri tegap. Lengannya tetap menjunjung tinggi ponsel sang istri.


Ghina mengekor, menuruni tempat tidur dan berkali-kali melompat, berusaha menggapai ponsel di tangan Joen.


"Huh!!," Ghina mulai merasa lelah terus meloncat di hadapan Joen , dia melipat kedua tangan di dada dengan potong bebek angsa.


Senyum tipis terukir di wajah Joen, sudah lama dia tidak melihat Ghina cemberut. Dulu dia paling suka membuat Ghina gusar, dengan alasan kerjaan pelayan yang tidak ada habisnya. Tidak jarang dia menyuruh Ghina mengulangi pekerjaan yang sudah di selesaikan pelayan. Meski dengan cemberut Ghina tetap menuruti perintah Joen, dan si Tuan muda ini akan terkekeh di sudut ruangan mentertawakan wajah kesal wanita yang kini telah berhasil dia dapatkan.

__ADS_1


Jika mengingat itu Joen sedikit malu, betapa kejamnya cara dia memperlakukan Ghina, hanya sekedar ingin lebih dekat dengannya. hanya sekedar ingin melihat wajah cemberutnya.


"Yang!! aku tidak melakukan hal yang salah, kembalikan ponselku," Ghina merengek, berharap Joen berbelas kasih menyerahkan Ponselnya.


"Kau pikir aku akan langsung percaya? tentu tidak semuda itu mbak istri! aku tidak percaya!! aku perlu memeriksa chat mu, dengan siapa kamu berhubungan belakangan ini??," pria itu sengaja membuat Ghina semakin kesal dengan berlagak mencurigainya.


"Oh, kau berhubungan kembali dengan Adam?," tanya Joen seolah marah kepada Ghina. pertanyaannya mengarah kepada Adam yang nyatanya telah benar benar menghilang dari muka bumi ini.


"Heh! Adam kepalamu! dia bahkan telah hilang di telan bumi. Kau pikir dia masih bisa berbalas pesan saat telah berada di bawah tanah?," Ghina meradang mendengar nama Adam di sebut sebut Joen lagi.


"Adam sudah mati?."


"Entahlah! tapi katakan saja dia telah mati. Sudah, jangan kau sebut lagi nama lelaki gukguk itu."


"Mulutnya sayang ku!!," seketika, Joen membekap mulut Ghina yang mengumpati Adam.


"Lagian, kenapa kau bawa-bawa manusia durja___*#&Β£#&$*#." Joen semakin mempererat, menutup mulut Ghina yang kembali mengumpat Adam .


"Oke, oke! aku percaya cowok itu bukan Adam. Katakan! siapa cowok lain itu?."


Ghina berontak melepaskan tangan Joen yang menutupi mulutnya"Lelaki mana lagi? ayolah Joen, kau sepertinya sudah mulai gila. Aku tidak ada hubungan dengan pria lain, stop mencurigaiku seperti ini," gerah di tuding macam-macam Ghina melepas ikat rambut dan menggerai rambut hitamnya. Mata sipitnya melirik Joen yang kembali menjunjung tinggi ponsel yang sempat dia lepaskan ketika membekap mulutnya.


"Ah! sudahlah! aku bersumpah demi neptunus! aku tidak ada bermain gila, yang ada kau yang sudah gila menuduhku seperti itu. Terus saja berdiri dengan ponselku seperti itu! aku lelah, aku mau tidur," meraih selimut di tempat tidur dan membenamkan diri di dalamnya.


"Baru jam berapa ini, kenapa kau sudah ingin tidur."


"Capek, lagipula malam ini kenapa gerah sekali," Ghina mengurungkan niat merajuk dalam selimutnya dan mulai melepas kemejanya.


Joen menatap Ghina.


Melihat istrinya hanya mengenakan lingerie, membuatnya meletakan ponsel itu di meja rias.


" Ac nya hidup, sayang. Kenapa kau bilang gerah," tukasnya. Tanpa di sadari kaki Joen melangkah mendekati Ghina.


Saat itu Joen masih memakai setelan suit up.


"Sebentar sayang, apa kau tidak ingin mandi? hemm, bagaimana jika aku bantu kau melepas pakaian ini?,'' dengan cekatan Ghina mulai melepas setelan yang di kenakan Joen. Meletakan setelan di atas sofa dan mengambil ponsel nya kembali.


Wanita cantik itu tersenyum lebar, dan segera mengenakan kemejanya lagi, kembali menutupi lingerie yang semula memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.


Sementara Joen, terlalu hanyut dalam sentuhan Ghina, membuatnya terlambat menyadari bahwa telah di kibuli oleh sang istri.


Masih dengan senyum lebarnya Ghina berjalan menjauhi Joen ke arah pintu balkon dan membukanya.


"Kau, mandi dulu sana! aku masih ada pekerjaan," ujarnya sambil melambaikan ponsel ke arah Joen.


Baru tersadar telah di kerjai sang istri"Ooo..jadi kau sdah bisa tarik ulur, Ghina? baiklah, tunggu aku selesai mandi ya!," Joen segera masuk ke kamar mandi dengan wajah berlagak kesal kepada Ghina.


"Sabar ya neng Ghina!!," seru Joen dari dalam kamar mandi.


"Astaga! apa aku akan lembur malam ini?," desis Ghina memegangi wajah yang terasa hangat, merasa malu memikirkan adegan panas sebagai hukuman karena telah mengerjai Joen.


Belum selesai Ghina mengetik pesan, Andrea sudah lebih dulu menelponnya.


πŸ“±"Jung sedang apa ya?, apa dia masih istirahat?," nada bicara Andrea, seperti orang yang sangat penasaran.

__ADS_1


πŸ“±"Andrea oh Andre! kau bisa sabar sedikit tidak?, Kak Jung tidak akan kemana-mana," sahut Ghina berbisik.


πŸ“±"Bukan begitu Ghina, dia terlihat online, aku jadi gemas ingin berbalas pesan dengannya."


πŸ“±"Katanya mau jual mahal, juga bukankah kamu mau mencoba trik cinta layang-layang," berbicara sambil melirik ke kamar mandi, Ghina waspada jika saja Joen melesat keluar dari dalam kamar mandi.


Tak terasa acara gosip mereka terus berjalan, di tambah Nari ikut bergabung dalam obrolan mereka. Ghina sampai tidak sadar bahwa Joen sudah selesai mandi, bahkan sudah berpakaian. Pelan-pelan Joen mengambil duduk di samping Ghina, mendekatkan telinga kepadanya untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.


πŸ“±"Ya sudah, kita lanjut besok ya," Ghina menutup panggilan.


"Kampreet!! kau berjalan atau terbang? kenapa tiba-tiba langsung ada di sini?," Nari terkaget setelah berbalik, ternyata Joen sudah duduk manis di samping Ghina.


"Omo!!" pekik Ghina hampir terjungkal.


Tanpa memperdulikan ucapan Nari dan keterkejutan Ghina Joen menarik lengan sang istri"Jangan berlagak terkejut, lekas laksanakan tanggung jawab mu!!," dia menarik Ghina masuk ke dalam kamar dengan Nari yang mengekor mereka.


"Nari rekam yah!! tidakan KDRT seperti ini harus segera di laporkan pada pihak berwajib."


"Cebong, kau bisa diam tidak? apa kau ingin aku lempar ke habibat asalmu?" ancam Joen.


"Duileh bang, sensi sekali, kau seperti gadis desa yang sedang datang bulan," cibir Nari kabur dari kamar Joen dan Ghina.


Sempat melengos karena ulah si nenek lampir, Joen kembali pada Ghina"Kau selalu saja berani membalas tindakan usil ku, sesekali kau harus mendapatkan pelajaran," tangannya mengacak acak rambut hitam Ghina.


"Kau yang lebih dulu, sudah tahu aku cebol, kau sengaja menjunjung tinggi ponsel milikku!."


"Jangan beralasan, sekarang cepat jelaskan! ada apa di dalam ponselmu itu!" pinta Joen.


"Kau terlalu curiga! ini hanya rahasia wanita sayang. Ini menyangkut masa depan bang Jung sama Andrea."


"Lantas, mengapa tadi kau sempat melepas pakaian? sengaja memperlihatkan lingerie yang sedang kau kenakan!," jemari Joen menarik narik kemeja Ghina.


"Itu...itu hanya tirk pengalihan," cengir Ghina, dia terpojok seperti tikus yang hendak di mangsa sang kucing oren.


"Oho! jadi kau menggunakan tubuhmu agar aku hilang konsentrasi, dan akhirnya kau berhasil mengambil ponsel itu kembali?."


"Hehehe, ya begitulah."


Joen lekas menarik paksa Ghina, memaksanya untuk naik ke atas tempat tidur.


"Ampun Yang'' rengeknya berharap belas kasih sang suami.


"Tidak semudah itu darling, kau sudah menarik ulur aku. Kau buat aku berdebar-debar, jadi sekarang kau harus bertanggung jawab," Joen mengejar Ghina yang melarikan diri ke balkon lagi. Mereka membuat kegaduhan dan tertawa renyah bersama.


"Oh Tuhaaannn!! sampai kapan Romeo dan Juliet itu membuat keributan!," erang Jung yang berada di kamar sebelah.


Dengan menghentakan kaki Jung keluar kamar dan menggedor kamar Romeo dan Juliet itu" BERISIK!!."


"Ini baru jam 7, kami hanya sedikit berisik." teriak Joen dari dalam.


" BRAK!!" Jung menendang pintu kamar Joen.


"Aish!!, dasar dua cecunguk itu. Kalau mereka terus seperti itu aku bisa mati dalam rasa iri dengki! si Andrea juga kemana sih," Jung benar benar di bikin bingung oleh keadaan. sementara Romeo dan Juliet masih bercanda tanpa menghiraukan jeritan dan teriakannya di luar kamar.


"Pasangan gila!!," sentaknya sebelum pasrah kembali ke kamar, meratapi kesepian karena cinta. Ckckckck

__ADS_1


~~β™‘β™‘Happy reading. jangan lupa like, vote, favorit ya 😁😁


__ADS_2