Storge

Storge
Menjadi kita


__ADS_3

Kedatangan Ghina di sambut suka cita oleh keluarga Charllot. Nyonya sook merasa sangat iba melihat keadaan gadis malang itu sekarang. Inilah yang di kata orang"Hidup segan mati tak mau."


Jemarinya mengusap pucuk kepala Ghina dengan lembut, seakan Ghina adalah darah dagingnya. Tak bisa di pungkiri dia memang menyayangi Ghina, terlebih sikap sopan santun nya yang selama ini di kagumi Nyonya Sook. Sejatinya, Ghina adalah sosok anak gadis idaman Nyonya Sook.


"Ghina, kamu sudah makan nak?," tanya Tuan Charllote. Hati kecil lelaki itu terasa nyeri, tubuh Ghina terlihat lebih kurus sejak terakhir kali Tuan Charllote bertemu dengannya. Aura keceriaan dan kebahagiaan yang biasanya mereka lihat dari sosok Ghina, kini sudah tak ada lagi.


"Sudah Tuan," sahutnya pelan. Bohong! dia berbohong. Sekarang dia sangat kelaparan, namun nggak punya sedikit pun selera untuk makan.


Tuan Charllote dan Nyonya Sook berjalan ke ruang kerja untuk berdiskusi. Mereka mencari jalan keluar yang pas untuk Ghina. Juga menyangkut ucapan Joen sebelum berangkat menjemput Ghina, hal itu sangat menggelitik pikiran kedua orang tuanya nya.


"Gimana Mah?," tanya Tuan Charllote.


"Mamah sih nggak keberatan Pah, Ghina gadis yang baik. Lagian, Mamah emang udah cocok kok sama dia," timpalnya.


"Yang penting cocok sama Joen, bukan cocok sama Mamah," tegas Tuan Charllote mengingatkan sang istri.


"Iya in aja deh Pah, Mamah lihat tatapan Joen pada Ghina barusan, penuh cinta Pah, nikahin aja, kasihan anak nya," rengek Nyonya Sook.


"Ini yang kebelet nikah Joen apa Mamah yang kebelet pengen punya mantu?."


Wanita itu tersenyum manis, dengan sepasang mata cantik membentuk bulan sabit"Joen ngebet nikah, dan Mamah kebagian bonus dapat mantu idaman."


Tuan Charllote mengusap ujung hidung Nyonya Sook, gemas"Tapi Mah, Ghina nya mau nggak sama Joen?," terbesitlah pikiran itu di otak Tuan Charllote.


"Kata Nari kan mereka emang demen-demenan kan Pah, Ghina pasti mau kok, orang anak kita cakep badai begitu," sahutnya mengedip-ngedipkan mata seperti bola lampu soak. Membuat Tuan Charlotte tertawa di buatnya.


"Cakep doang, kalo jago bikin Ghina susah, memangnya Ghina akan bahagia??," tanya sang suami.


"Kita harus memastikan perasaan Ghina telebih dahulu Mah, kalau Ghina menolak kita nggak boleh memaksakan kehendak," tegasnya lagi.


Setelah beberapa lama berdiskusi akhirnya keluarlah mereka dari ruang kerja Tuan Charllote.


Lelaki paruh baya itu duduk di samping Ghina, kemudian menarik napas dalam-dalam"Ghina, kamu mau saya jadikan anak?," ujarnya bertanya.


Ghina mengangkat pandangannya"Jadi Tuan akan mengadopsi saya?."


"Bukan Ghina," kali ini Nyonya Sook yang menjawab. Dengan erat dia  menggenggam jemari-jemari kecil Ghina.


"Kamu, akan masuk ke dalam keluarga Charllote dengan menikahi Joen," Tuan Charllote berkata sambil menatap tajam pada Joen.


Ghina menatap wajah datar Joen, yang sedang menerima tatapan tajam dari sang Papah dan tatapan penuh tanya dari dirinya .


Ghina tertunduk lagi"Apakah mereka sangat mengasihani aku? oh Tuhan, beginikah jalan hidup yang engkau siapkan untuk ku lalui," bisik hatinya.


"Haruskah aku melangkah menjadi Nyonya Joen Charllote?," Tanya hatinya lagi.


"Gimana Ghin, kamu setuju?" tanya Nyonya Sook memecah lamunannya.


"Menikah? saya masih sekolah, Nyonya."


"Pernikahan kalian bisa di rahasiakan, sampai kamu lulus sekolah. Bukankah hanya tinggal beberapa bulan lagi, sayang?," terdengar begitu berharap, sorot mata Nyonya Sook begitu teduh menatap Ghina.

__ADS_1


Menanggapi hal itu, Ghina kembali diam sembari menundukan kepala. Jemarinya saling beradu di dalam pangkuan, Ghina bimbang


"Kalau kamu menolak katakan saja, kami nggak akan memaksamu," ujar Nyonya Sook. Seperti perkataan sang suami, mereka nggak harus memaksa Ghina untuk menikahi Joen.


"Tapi....," ekor mata Ghina menangkap sosok Joen, tengah duduk di samping Tuan Charllote. Sementara Jung, pria itu mengangguk saat tatapan mereka bertemu.


Haruskah? tapi cinta itu belum ada?


"Aku serius pengen nikah sama kamu, Ghina," sumpah! ucapan Joen membuat wajah Ghina merona merah.


"Dan menjadi babu mu seumur hidupku!," bisik hati kecil Ghina di dalam sana.


Tanpa di sangka, diamnya Ghina membuat Joen kehilangan kesabaran. Pria itu begitu takut jika Ghina menolak keinginan nya, hingga...


"Bruk!," di saksikan semua orang, Joen berlutut di hadapan Ghina. Membuat Ghina terperangah, sekali saja, hal ini nggak pernah terlintas dalam pikirannya.


"Tuan! jangan kaya gini. Iya....iya deh, kita menikah," wanita itu di buat panik. Spontan mulutnya memberikan jawaban yang membuat semua orang tersenyum dan bernapas lega, tapi enggak baginya.


"Syukurlah," ucap Tuan Charllote mengusap kepala Ghina dengan lembut.


"Anu....hey!! aku salah bicara!! mulut oh mulut, kurang ajar sekali kau!!," pekik Ghina di dalam hati.


"Baiklah, sudah di putuskan, kamu akan ku ambil sebagai menantu," apa hendak di kata, nasi telah menjadi bubur, tinggal kasih kerupuk sama suwiran ayam, jadilah bubur ayam. Ghina cuman bisa mengangguk menanggapi ucapan Tuan besar itu.


Joen duduk sambil tersenyum di hadapan Ghina. Dia bahagia sekali hari ini, beban yang dia pukul selama ini akhirnya hilang, cintanya sudah nggak harus diam-diam lagi.


"Gimana, Joen?, kamu siap? tanya sang Papah menepuk pundak putranya.


"Iya Pah," jawab nya singkat padat dan jelas.


Jung pun merasa lega, kepastian hidup Ghina berakhir di rumah ini. Tapi, entah kenapa ada sedikit sesal dalam hatinya"Akh, perasaanku kok kaya gini, kaya gado-gado campur aduk mau sedih mau gembira," desisinya memegangi dadan yang terasa sesak. Sepertinya, benih cinta di hatinya harus segera di musnahkan. Sekarang, gadis yang dia lindungi sedari kecil akan segera menjadi adik iparnya. Ikhlas!! Jung harus ikhlas. Ini demi Ghina dan juga adiknya, Joen.


Nari mengantarkan Ghina ke kamar yang terletak di sebelah kamar Jung"Untuk sementara kamu di kamar sini aja ***, kalo sudah nikah baru pindah ke kamar bang Joen," lirik Nari dengan senyuman.


"***?? maksudnya cebol?," tanya Ghina menahan si nona muda yang hendak kabur.


"Hehehe," Nari tertawa canggung"***....boli curiyaaaa," malah nyanyi india nona muda sableng ini, bikin Ghina nggak jadi marah.


Tertawa sejenak, namun perlahan Ghina meremas jemari Nari"Kenapa? kamu meragukan bang Joen?."


" I__iya, saya tau Non, tapi haruskah sejauh ini?."


"Udahlah, nggak usah mikir yang macam macam. Bang Joen sendiri yang bilang akan menikahi mu sebelum berangkat menjemput mu," Nari menepuk punggung lengan Ghina, meyakinkan calon kakak iparnya itu.


"Beneran?," Ghina terkesima dengan ucapan Nari.


"Beneran! mending sekarang kamu istirahat ya. Kamu beneran di cintai kak Joen kok, aku yakin, jadi jangan berpikir dia terpaksa melakukan ini ya," Pinta Nari.


Nona muda itu  berbalik meninggalkan Ghina yang masih kebingungan dengan jalan hidupnya.


"Eh ingat! jangan panggil aku nona lagi. Kita seumuran, dan kamu bakal jadi iparku!," ujarnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan Ghina sendirian di dalam kamar itu.

__ADS_1


"Iya, Nari yang bawel."


Ucapan Ghina membuat Nari tersenyum"Nah! kalo gitu kan tandanya kamu masih Ghina yang dulu, kurang ajar sama anak majikan."


"Katanya nggak usah panggil enon lagi."


"Iya, iyaaaaa bininya bang Joen," sambar Nari tertawa nakal. Membuat Ghina tertawa...ah! itu hanya tawa sekedarnya saja. Toh hatinya masih berduka atas kepergian kedua orang tuanya.


" Ayah, Ibu, semoga pilihanku nggak salah," ujarnya berbisik menatap keluar jendela. Sungguh tak di sangka takdir pedih itu akan membuatnya berakhir di sini.


"Tok tok?," Nyonya Sook muncul dari balik pintu.


"Lho! jangan melamun," melempar senyuman hangat pada Ghina.


Gadis itu berhambur mendekati sang majikan" Nyonya, terimakasih banyak."


"Udah, udah! kamu istirahat ya," dengan lembut dia menggiring Ghina ke tempat tidur. Gadis ini harus beristirahat, tubuh dan jiwanya pasti sangat kelelahan menghadapi semua kepedihan ini sendirian.


"Saya mau mandi dulu Nyonya," ujar Ghina pelan.


"Akhh iya iya, tenangkan pikiranmu ya, sayang. Kamu juga harus terus semangat nak," mengangguk patuh, Ghina pun beranjak ke kamar mandi sementara Nyonya Sook meninggalkan nya keluar kamar .


Selepas mandi ghina merebahkan dirinya di tempar tidur. Perlahan memejamkan mata hingga akhirnya terhanyut ke alam mimpi.


"Gimana Mah?," tanya Tuan Charllote yang kini sedang duduk di ruang keluarga bersama Joen.


"Dia sedang mandi Pah, Mamah juga sudah memintanya untuk beristirahat."


"Ah, ada yang kelupaan. Bi, nyalakan diffuser di kamar Ghina," titah nya pada Bibi An.


"Baik Nyonya," bibi An bergegas ke kamar yang di tempati Ghina. Selain menyalakan Diffuser dia juga merapikan pakaian Ghina dan menatanya ke dalam lemari pakaian. Di pandanginya wajah Ghina yang sedang tertidur lelap"Malang sekali nasibmu neng, semoga kamu selalu bahagia," bisik nya pelan.


kembali ke ruang keluarga...


"Kuliah kamu juga tinggal beberapa bulan kan Joen."


Joen menjawab pertanyaan sang Papah dengan anggukan.


"Selepas itu, secepatnya kamu bekerja di kantor. Sekarang kamu punya tanggung jawab yang besar kan," tegas Tuan Charllote.


"Iya Pah," jawabnya tegas pula.


"Joen ke kamar dulu Pah, Mah," pamit dirinya di angguki oleh kedua orang tuanya.


...🐧🐧🐧...


Hari sudah menjelang malam Namun Ghina masih terlelap dalam tidurnya.


Joen berdiri di balkon kamar, merasakan udara malam menerpa wajah nya"Saya akan menjaganya Bibi Mae," lirih nya sambil menatap langit malam penuh bintang. Tulus dari dalam hati, Joen bertekat nggak akan mengecewakan Ghina. Gadis itu akan menjadi ratu dalam hidupnya.


** Hari ini aku harus tersenyum meskipun sakit .

__ADS_1


Setidaknya aku harus tersenyum di hadapanmu .**


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan kasih ulasan ya Guys 😘😘😘


__ADS_2