
Sepasang netra indah mengerjap menetralkan pancaran mentari pagi yang menusuk pandangannya. Kedua bola berputar berkeliling dan senyapu setiap sudut ruangan, ada perasaan aneh tapi entah apakah itu.
Andrea terbangun dari tidur lelapnya, sedikit meregangkan kedua tangannya ke atas.
"Ah, air minumku habis," gumamnya ketika menatap gelas kaca kosong di nakas.
Sruk!..Sruk ! Kakinya melangkah pelan menuruni tangga dan berbelok ke dapur.
"Morning Nona Andrea,' 'sapa Hana dan Imah.
"Morning, eh kau melakukan hair extension ya Han".
Hana melongok, duit dari mana dia melakukan penyambungan rambut seperti perkataan Andrea, jika ada pun akan lebih baik jika di gunakan untuk membayar angsuran motornya.
Imah yang menyadari kejanggalan itu, menyikut lengan sang kakak"Ingat kata Tuan," ujarnya berbisik.
Alis kanan Hana menukik naik, dan sejurus kemudian barulah tersadar"Ah, ya. Ingatan Nona Andrea belum pulih," segurat kesedihan nampak di wajah Hana, merasa iba dengan kemalangan yang menimpa sang Nona muda.
Alih-alih menanggapi perkataan Andrea, Hana berusaha tak membahas masalah rambutnya yang sekarang telah memanjang, sedangkan di dalam ingatan Andrea dirinya seorang gadis berambut pendek.
Di kediaman Charlotte...
"Tut..!!tut..!," Jung mulai khawatir. Pasalnya, berkali kali dia menelpon Andrea namun tak ada jawaban.
"Aish!!," dengan kesal dia memukul lututnya, pria ini mulai tertekan"Andai saja aku bisa berjalan, aku dapat langsung datang ke kediaman mu, Andrea."
Rasa kesal itu semakin jadi saat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, sebab pada hari biasanya di jam 7 pagi Andrea sudah mengingat tentang dirinya dan hubungan asmara mereka.
Kembali jemarinya menekan panggilan keluar dan menelpon Andrea"Tuttt!!Tut!!," masih tak ada jawaban.
Tak kehabisan akan, Jung berpindah ke nomor telpon kediaman William"Selamat pagi di sini kediaman keluarga William," sahut seseorang di ujung telpon.
"Bi, Nona Andrea mana??ini saya Jung," tanpa berbasa-basi Jung langsung menyampaikan maksud dan tujuannya menelpon.
"Aaa!!, Tuan Jung. Nona Andrea baru saja naik ke kamar. Sedang kesal karena tidak di berikan izin untuk berangkat ke kampus."
Jung menggigit bibir. Suasana hati sang kekasih sedang tidak baik, mungkin emosi Andrea akan semakin memuncak jika dirinya menghubungi Andrea saat ini. Namun, tak mengapa, Jung tetap kembali menekan nomor Andrea, setelah sebelumnya memutus panggilan dari nomor telepon kediaman William.
Andrea mengambil ponsel yang dia letakan di atas meja rias kemarin malam"12 panggilan tak terjawab dari Tuan muda dingin," gumam Andrea"Ck! kau gencar mendekatiku setelah aku menyerah, kau terlambat!!."
Saat masih di tangan Andrea, ponsel itu kembali berdering"Jung memanggil."
"Ya!! ada apa pak dosen??saya masih sakit, jika anda ingin mendepak saya dari kampus, terserah!," suara lantang itu mengejutkan Jung, juga kata sambutan yang tak ramah itu membuat ulu hati menyerngit.
"Hei, kau berbicara lancar sekali. Tarik napas perlahan, kemudian barulah kembali berbicara," sahut nya dengan lembut.
Andrea menyerngit"Tuan, ada apa dengan nada bicara anda? apa kau ingin tebar pesona? ayolah! aku sudah menyerah, jangan buang waktu mu untuk mendekatiku lagi," Andrea berhenti sejenak untuk menarik napas.
"Katakan, ada apa kau menelpon ku sepagi ini!," lanjutnya.
"Andrea kekasihku, bukan hanya kau yang masih sakit. Aku pun sama, jadi kita berdua sama-sama belum bisa ke kampus. Aku mengerti hal itu, apa kau tidak ingin bertanda ke kediaman ku?," begitu lembut perkataan Jung, namun Andrea tak jua melunak.
"Untuk apa aku ke sana? aku sudah lelah Jung, aku tak ingin sakit hati lagi. Hentikan upayamu dan biarkan aku hidup dengan tenang. Oke?!," panggilan di putus.
Menarik napas demi mereda rasa emosi, baru di hari pertama dan Jung sudah kesulitan untuk meyakinkan Andrea akan hubungan mereka melalui panggilan telepon. Tak kehabisan akal, kini beralih pada panggilan video.
Di tempat lain, Andrea mengeram kesal karena Jung kembali menghubungi dirinya"Ash!! apa manusia ini tidak punya pekerjaan lain? gemar sekali mengusikku," kesalnya seraya menerima panggilan video.
"Morning sayang,!!" senyum menawan Jung, membuat Andrea segera memalingkan wajah. Mengambil langkah mundur tak semudah membalikan telapak tangan, di sela usahanya melupakan pria itu, dia justru mengumbar senyuman tepat di wajahnya. Benteng pertahanan Andrea akan roboh jika tak segera membuang pandangan.
"Manis, kenapa kau membuang pandangan? ayolah, tersenyum. Kau akan semakin cantik jika tersenyum."
"Tolong ya Tuhan muda Jung Charllote. Kau jangan macam-macam, aku bukan boneka yang bisa kau buang dan kau pungut lagi sesuka hatimu!. Aku mohon berhentilah menggodaku! aku sudah cukup kesulitan untuk melupakan dirimu," lirih Andrea dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Sayang! jangan bersedih. Akh! ini karena cideraku! aku jadi tidak bisa langsung menemui dirimu,"Jung benar-benar frustasi.
"Bagaimana jika kita langsung menikah! apa kau mau? sangat sulit mengembalikan ingatanmu tentang ku jika kita berjauhan seperti ini," Jung semakin bingung dan berbiara asal.
__ADS_1
"Aku salah apa Jung? bertahun-tahun mendekati dirimu namun kau abaikan. Sekarang di saat aku sudah menyerah kau malah mengajak ku menikah. Kau kejam sekali Jung!," bulir air mata mulai luruh dari sepasang manik indah Andrea.
"Aku memang bukan gadis yang anggun dan lemah lembut, tapi aku juga punya perasaan. Hatiku juga bisa sakit jika kau permainkan seperti ini," dan sungguh, genangan air mata itu semakin menjadi.
"Demi Tuhan Andrea, kita sekarang sepasang kekasih. Kau sakit aku juga sakit, kita kecelakaan sayang, dan kita baru keluar dari rumah sakit kemarin."
"Kemarin?? hei Tuan muda, aku kemarin baru pulang dari rumahmu saat kau kabur dari diriku!!."
"Andrea,"Tuan Wiliam muncul dari balik pintu. Penyakit amnesia ini juga membuat sang papa kewalahan. Akhirnya pagi ini beliaulah yang menjelaskan dan menceritakan semuanya ke pada Andrea.
"Kepalaku sakit, pa," hanya kata-kata itu yang dapat Andrea ucapkan setelah Tuan Wiliam selesai bercerita. Dia merebahkan diri lagi di tempat tidur, perlahan airnya menetes lagi"Sampai kapan Tuhan," bisik hatinya.
Ingatannya mulai samar terkenang. Tentang Jung yang sangat menyayanginya, tentang hari-hari mereka bersama di kampus. Tentang malam-malam mereka di balkon kamar Jung, juga dengan kecelakaan itu.
"Hick hick...Pa," panggilnya lirih dalam tangis.
"Tolong andrea!!," dia menggenggam erat jemari Tuan Wiliam.
Bulir-bulir bening juga menyeruak dari kedua mata pria tua itu. Bagaimana nasib Andrea kelak, apakah dia harus menyusun memori memori nya setiap pagi? dan bagaimana dengan Jung?
Di kediaman Charllote
Lelaki itu memandang kosong ke luar jendela, ini tidak semudah yang dia bayangkan. Meyakinkan Andrea tanpa langsung bertatap muka sangatlah sulit ternyata. Dia hampir melempar ponselnya ke halaman luas ketika panggilan videonya di matikan Andrea. Dan kini benda tipis itu berdering dan menampilkan wajah cantik sang kekasih yang menelponnya kembali.
"Jung," nada suaranya pelan, nadanya tak tinggi seperti tadi"Jung, apa kau di situ?."
Dia mengerjap"Ya, aku di sini,sayang."
"Ma...maaf, hick hick," tangis Andrea pecah.
"Aku menyakiti perasaanmu!, maafkan aku Jung. Maafkan aku yang tidak bisa langsung mengingat dirimu."
"Sayang, jangan menangis. Aku lega hari ini kau masih bisa mengingatku, meski sedikit terlambat," ucapnya tersenyum dengan gurat kesedihan.
...💖💖💖💖...
Bagaimana degan Andrea??
Gadis malang itu masih harus menyusun ingatannya setiap pagi. Seluruh pelayan di kediamannya membantu mengingatkannya jika Jung tak berhasil menelponnya.
Seperti siang ini, sudah masuk jam makan siang namun dia masih dengan ingatan yang kelam dulu.
"Sudahlah, biarkan saja untuk hari ini. Tolong awasi dia ya bi," ujar Tuan Wiliam di ujung telpon. Gadis bergaun biru malam itu sedang duduk berayun di teras rumahnya.
Mobil yang tak asing baginya memasuki pekarangan dan berhenti tepat di hadapannya.
Dengan senyuman, Joen keluar dari dalam mobil. Mewakili kehadiran Jung untuk dapat mengingatkan Andrea.
"Mau apa kau ke sini?," penuh rasa curiga, Andrea menatap tajam kepada Joen.
"Yah...." Joen di buat salah tingkah"Ya elah! galak sekali," batin Joen.
"Itu...., anu....abang Jung,Andrea."
"Anu, Jung? apa yang ingin kau bicarakan!!," hardik Andrea.
Tak tau harus berbuat apa, Joen berinisiatif membawa Andrea bersamanya, ke kediaman keluarga Charllote.
"Kau tidak berniat menjenguk Ghina, dia sudah hamil besar sekarang," Joen teringat bahwa Andrea dan Ghina cukup akrab. Dengan membawa Andrea, akan memudahkan gadis itu menyusuri ingatanmu, sebab akan bertemu Jung di sana.
"Kau bercanda! kalian baru menikah, bagaimana Ghina bisa hamil besar? akh! kau dan Jung aneh sekali hari ini, apa kalian tidak punya pekerjaan??, hingga mengusik diriku," kesal Andrea.
"Dre, kau sungguh tak ingat bang Jung?."
"Jung yang mana lagi?," Andrea masih mengahut kesal.
"Jung sodaraku, Andrea," Joen mendekati Andrea dan duduk di sofa beranda.
__ADS_1
"Tentu saja aku mengingat orang itu, orang paling menyebalkan, paling merasa tampan, paling merasa keren, paling merasa menjadi rebutan semua wanita...."
Tiba-tiba dia terhenti bicara. Cahaya matahari yang memantul dari kaca mobil Joen membuatnya pusing. Seketika bayangan Jung sedang memegang lampion di hadapannya berkelebat dalam ingatan.
"Aw..!!," pekiknya menunduk.
Bayangan Jung mendobrak pintu toilet, membuat kedua matanya tak mampu terbuka.
"Dre!!," Joen panik, dia memegang lengan Andrea yang terjungkal di beranda.
"Pelayan!!!"jerit Joen.
"Pelayan!!."
Bibi Ida dan Udin berlari mendatangi sumber suara.
"Ambilkan air minum," ujar Joen sambil menggendong Andrea yang kini terkulai lemah tak berdaya. Dia merebahkan Andrea di sofa ruang tamu. Dengan perlahan bi Ida meminumkan air untuk Andrea, sementara Imah dan Hana datang memijat lengan dan betis majikannya.
"Dia tiba-tiba pingsan begini bi, apa sebelumnya pernah terjadi??," tanya Joen.
"Belakanan ini memang sering pingsan Tuan, setelah itu Nona akan menangis dan merenung."
"Hana, telpon Tuan Wiliam," ujar bi Ida lagi.
Joen menatap wajah Andrea dengan kedua mata masih terpejam,.apa dia harus menceritakan hal ini kepada Jung??, tapi itu akan menambah rasa khawatir Jung. Sekarang saja dia jadi pendiam dan murung, Joen semakin di buat bingung.
"Bagaimana dengan keadaan Tuan Jung, Tuan Joen," tanya bi Ida.
"Sudah mengalami banyak kemajuan bi, tapi belum kuat untuk berjalan."
"Semoga lekas membaik Tuan," doa bi Ida dan langsung di aminkan Joen.
Cukup lama Joen menunggui Andrea. Dia merasa tidak enak jika harus meninggalkannya dalam keadaan pingsan seperti ini,
dan tak berapa lama Tuan Wiliam datang bersama dokter Wenhan.
Dengan segera dokter Wenhan memeriksa keadaan Andrea. Ini bukan kali pertama dokter Wenhan ke kediaman Wiliam, dan setiap kali dia datang para pelayan kembali di buat mabuk kepayang dengan para lelaki di sekitar majikannya.
Dan sekarang Joen juga hadir bersama mereka, para wanita di dapur itu langsung merasa sesak nafas.
"Gila, bagaimana kau bertahan selama dua pekan di rumah sakit berkumpul dengan mereka Han," celetuk Atun.
"Di sana ada Tuan Jung, Tuan Joen, juga dokter Wenhan. Iman mu kuat sekali," ujarnya lagi.
"Sepertinya dia terlalu berusaha keras mengingat kenangannya Tuan. Ada baiknya, namun ada buruknya juga. Baiknya dia merangsang otaknya sendiri agar bisa mengingat semuanya, buruknya ya seperti sekarang ini, dia akan ambruk dan bisa berakibat fatal untuk indra Perasanya."
"Maaf om, tadi Joen berniat mengajak Andrea menemui Jung, akan tetapi dia menolak. Andrea kemudian mengoceh tentang sikap acuh dan cuek Jung padanya dahulu, saat itu lah dia pingsan om."
"Saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada om," Joen sangat menyesali perbuatannya.
"Tidak nak Joen, ini bukan kali pertamanya pingsan."
"Dokter Wen, saya berniat membawanya ke belanda," Tuan Wiliam berbalik kepada dokter Wenhan.
Dokter muda itu mengangguk mengerti, pada akhirnya Andrea memang harus melakukan pengobatan di luar negeri"Iya Tuan.Spesialis Neurologi di sana jauh lebih akurat," dokter Wen paham betul dengan keadaan pasiennya itu.
"Tapi bukan berarti kau tidak kompeten dalam bidang ini dok."
"Iya Tuan, setelah kami melakukan banyak usaha, kenyataanya memang mengharuskan dia ke sana," sahut dokter muda itu seraya tersenyum kecil.
Dan sepakatlah mereka bahwa Andrea akan melakukan pengobatan di negara asal papahya. Hal ini membuat mereka berkumpul kembali bersama nenek dan sang tante.
To be continued
~~♡♡happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^
...Dokter Wenhan...
__ADS_1