
Alarm di kamar Ghina berteriak dengan keras,, mencoba membangunkan sang empu yang sedang terlelap dalam indahnya alam mimpi. Ini sudah waktunya mandi, Tapi Ghina masih belum bergerak dari pulau kapuknya.
Setelah beberapa detik akhirnya dia kembali ke alam sadar, matanya menatap kosongg pada langit langit kamar berwarna putih tulang.
"Wahhhh telingaku konslet nih," itulah kata-kata pertama setelah bangun tidurnya, mengarah pada seseorang yang amat sangat menyebalkan baginya.
"Tuan Joen Charllote, manusia setengah devil yang judesnya nggak ketulungan, paling ngeselin, paling galak dan paling kaku kek balokan es, ternyata dia berlaku seperti itu untuk menutupi perasaan sukanya padaku?."
"Arrgghh ayolah semesta jangan bercanda kepadaku. Aku bisa setres nih..setresssss !!!," pekiknya kembali meringkuk ke dalam selimut hello kitty.
"Bu, Ghina setres??," ayah mendengar erangan Ghina, sang ayah sudah duduk manis di meja makan memandangi Istri tersayang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Ghin!!!!, kata ayah kamu setres ya?," ibu berteriak pada Ghina yang sontak membuat Ghina kaget dan menyingkap selimut yang menutupinya.
Buru-buru dia berseru"Enggak bu," malunya! ternyata keluh kesah itu terdengar oleh kedua orang tuanya.
Ghina bergegas bangun dan menatap jam yang tergantung di dinding kamar"Waaa!! harus cepat!! harus cepat!," seperti di kejar belanda yang siap menembakan senjatanya, Ghina mandi koboy alakadarnya, dan berpakaian segesit emak-emak rebutan barang diskon di Mall.
Selesai bersiap dia memeriksa diri di cermin berukuran sedang yang tersandar di samping lemari pakaiannya, yah emang berukuran sedang sih wong orang nya aja kecil mini binti bonsay.
"Hmm, ready!," Ghina kemudian turun dan bergabung sarapan bersama Ayah dan Ibu tercinta.
"Siapa yang setres!," ternyata perihal setres itu mengusik pikiran ayah .
"Heheeh PR nya sedikit rumit yah," gadis itu ngeles kek abang-abang bajay.
"Jadi rada bikin otak setres," ujarnya lagi, menjawab senormal mungkin. Lagipula, nggak mungkin juga kan dia bilang kalo Tuan muda, majikan Ibu dan ayahnya ternyata menyimpan perasaan suka kepadanya. Bukan apa-apa, ayah yang rese bisa mengatainya terkena serangan halu tingkat tinggi.
"Amit amit kamu setres Ghin," ujar Ibu sambil menggetok kepala Ghina dengan jari telunjuknya, enteng banget seperti sedang menggetok pintu gitu 😅.
Ghina yang korban dari tangan jahil ibu jelas memasang wajah datar"Harus ya bu kepala Ghina di ketok ketok kaya pintu gitu! pan sakit bu," protesnya melengos seperti banteng betina.
"Pelan doang neng, cemen nih segitu doang udah ngeluh kesakitan," cibir ibu sambil menikmati sarapan.
"Lagian, kalo sakit tuh kaya ibu nabok bemper kamu pas bolos sekolah tempo hari. Sakit kan? soalnya waktu itu ibu pake tenaga dalam naboknya," lanjutnya mengundang wajah cemberut sang putri.
"Akh, si ibu pake ngingetin tragedi tabok bemper Ghina yang berabad abad lalu deh. Itu kan waktu Ghina masih berstatus biji terong alias masih SD bu."
"Sekarang pun kalo kamu masih suka bolos gara-gara nggak bisa ngerjain PR bakal Ibu tabok juga tu bemper," ancamnya menatap Ghina dengan kedua mata melotot.
"Ibu......," rengeknya tak terima
"Hahahah," ibu tergelak,"Ya sudah, ngomongin bempernya lanjut nanti aja. Begini, nanti pas pulang sekolah kamu mampir ke kediaman Charllote ya. Bantuin Ibu kerja, pelayan yg biasa nemenin Ibu anaknya sakit."
Seketika wajah Ghina menegang"Mampyus aku!," jerit batin Ghina. Dengan begitu dia bakal ketemu Tuan muda Joen lagi dong, ck! seandainya dia bisa menolak. Tapi.... bayaran kerja sambilan di sana kan lumayan gede, sayang banget kalo di lewatkan. Lagian, Tuan muda Joen betah amat di rumah, keluar rumah juga kalo ada jadwal kuliah doang.
"Apa dia nggak punya teman atau sahabat yang bisa di ajakin nongkrong gitu??," keluh hati Ghina.
"Ayah tunggu di depan ya," suara ayah memecah lamunan Ghina. Pria paruh baya itu beranjak dari meja makan sambil membawa secangkir kopi dan korannya. Seperti biasa, ayah akan bersantai sebentar di teras rumah sambil menunggu Ghina selesai sarapan.
"Aku harus gimana kalo ketemu Tuan muda Joen nanti," bisik hati Ghina.
Ibu melihat gelagat aneh pada putri semata wayangnya itu"Ghin, ada masalah,? tanyanya.
__ADS_1
Sambil menggelengkan kepala Ghina melempar senyum pada sang Ibu"Enggak kok bu."
"Kamu kecapean ya? tadi malam di kerjain lagi sama Tuan muda Joen ya?," saking seringnya di kerjain Joen, Ibu sudah terbiasa dengan keluh kesah Ghina.
"Aduh ibu!! pala Ghina udah mumet mikirin bagaimana nanti kalo ketemu makhluk aneh itu, jadi Ghina mohon Ibu jangan sebut nama Tuan muda lagi," Ghina semakin kalut dalam hatinya .
"Atau, nanti kamu nggak usah mampir deh, Ghina istirahat aja di rumah," ibu merasa kasihan, entah tugas apa yang di berikan Joen terhadap putrinya tadi malam, Ghina sepertinya kelelahan sekali. Acara kumpul-kumpul sosialitanya sampai tengah malam begitu, di tambah tugas ekstra yang di berikan Tuan Joen, gimana Ghina nggak kecapean," pikir Ibu.
"Nggak apa-apa bu, nanti Ghina mampir kok. lagian, sendiri di rumah tu nggak asik," mana tega Ghina membiarkan ibunya bekerja sendiri. Walaupun banyak pelayan di sana, tapi mereka sudah punya tugas masing masing yang harus di kerjakan.
"Ya sudahlah,nanggap saja aku nggak dengar obrolan ngawur mereka tadi malam," oceh Ghina coba melupakan apa yang di tangkap indra pendengarannya tadi malam.
...🦆🦆🦆🦆...
Di kediaman Charllote.
Jung sedang menyiapkan buku buku puitis yang akan dia bedah siang ini di jam pelajaran. Namun, ada hal yang seolah menjadi ganjalan dalam hatinya.
"Idihhh cabe-cabean," Jung bergidik teringat kejadian tadi malam. Akhirnya Joen mengakui perasaanya terhadap Ghina. Ada bagusnya sih, dengan begitu mungkin Joen nggak akan jahil lagi padanya. Tapi...., kenapa Jung merasa sedikit kecewa ya?
"Cabe-cabe udah pada dewasa. Jangan main cabe-cabean lagi deh Jung. Fokus ngajar aja," ujarnya pada diri sendiri.
Hidup berdampingan bertahun tahun bersama Ghina menumbuhkan sedikit perasaan aneh di hatinya. Terlebih Jika Joen sudah keterlaluan menggerjai Ghina, maka Jung lah yang akan siap siaga membela Ghina dari kejahilan sang adik. Perasaan kasihan itu perlahan mengacu pada perasaan ingin lebih melindungi gadis cebol itu. Meskipun dirinya kerap melakukan hal yang sama, yaitu menjahili Ghina, ada perasaan tidak rela ketika Joen bersikap keterlaluan kepadanya.
"Semoga ini bukan cinta," gumam hati kecil Jung saat itu.
Terus, apa yang terjadi pada Joen???
Pria itu mengurung diri di kamarnya. Sudah lewat jam makan siang tapi dia masih betah berdiam diri di dalam kamar.
Hingga saat Ghina sudah pulang sekolahpun, dia masih tak keluar dari kamarnya. Nyonya Sook sangat khawatir, apa yang telah terjadi pada putranya?
"Aduhhh, Joen kenapa ya bi?," Nyonya Sook begitu resah dan gelisah. Dirinya bahkan sudah datang membujuk putranya untuk sekedar makan siang.
"Apa dia sakit ya?," ujarnya kembali menduga-duga.
"Saya udah coba membujuknya makan nyonya tapi Tuan bilang dia masih kenyang," sahut bibi Mae, ibunya Ghina.
Sejujurnya, perut Joen memang dalam keadaan kenyang. Dia menyantap buah-buahan di dalam kamarnya.
"Pasti Ghina datang lagi hari ini," pikirnya sambil menatap ke luar jendela. Sama seperti Ghina, hatinya juga gundah-gulana jika harus bertemu gadis cebol itu. Teringat betapa jahilnya di terhadap Ghina selama ini, apa tidak akan menggelikan jika mereka berjumpa setelah kejadian pengakuan rasa cinta kemarin malam??? ck! membayangkan hal itu saja membuat Joen sulit bernapas.
Dan benar saja, sepasang matanya menangkap bayangan gadis itu lagi. Ya!, itu Ghina. Gadis yang sedari kecil di sukainya, namun dia tak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Apalagi sikap Ghina yang sangat terlampau berani terhadapnya, apa kata dunia jika akhirnya dia yang galak menjadi bersikap lembut terhadap Ghina?
Ghina berjalan perlahan melewati lorong panjang menuju dapur. Dia berusaha agar kehadirannya tak di ketahui Tuan muda Joen. Tapi, sayang kehadirannya sedang di tunggu-tunggu Nyonya Sook untuk membujuk Joen keluar dari kamarnya.
I....iya nyonya," tergagap, Ghina hanya bisa mengangguk setuju ketika Nyonya meminta dia membawakan makanan untuk Joen.
Perjalanan menuju kamar Joen terasa sangat sulit baginya, padahal tinggal naik tangga dan berjalan lurus saja. Namun, telah membawanya sampai ke muara pintu kamar Joen.
"Tok-tok-tok!, Tuan," panggilnya perlahan.
Joen terkejut mendengar suara Ghina di depan kamarnya,"Ya elah mamah! malah nyodorin Ghina 😣😣."
__ADS_1
"Tok-tok Tuan, Nyonya meminta anda untuk makan Tuan," Ghina mencoba membujuk Joen untuk keluar. Pria di dalam sana masih membisu, membuat hati Ghina semakin ketar-ketir.
"Tolong buka pintunya Tuan," ujarnya sedikit menaikan nada bicara.
"Krik🕷 krik🕷 krik 🕷!," Joen masih terdiam, jemarinya mendadak berkeringat, suhu panas dan dingin datang bergantian menyerang tubuhnya.
"Tuan!," panggil Ghina lagi.
Nona Nari, gadis imut yang katanya jelmaan nenek lampir tidak bisa diam saja mendengar panggilan Ghina. Dia lantas menelpon Joen"Cemen, idih...," mulailah Nari mengolok-olok abang keduanya.
"Diam!," Joen nggak bisa banyak berkata-kata.
Sikap itu jelas mengundang sifat jahil seorang Nari"Bukain gih, kasian tuh ngetok-ngetok pintu begitu. Ntar tangannya lecet lho bang," goda Nari lagi.
"Ngapain buka pintu segala. Lagian, kamu nenek sihir nggak usah ikut campur," menutup panggilan itu sepihak.
Nari tersenyum nakal di kamar sebelah, sikap Joen sangat menggelitik mulutnya untuk berteriak dengan langang"KA JOENNNNN!!! BUKAIN PINTUNYA NAPA SIHH!!??," meski bertubuh kecil, Nari mampu berteriak dengan keras dan membahana dari dalam kamar nya. Tentu saja dengan gelak tawa yang membahana pula.
"CEMEN KAMU KAK!!," teriaknya lagi.
"KAMPREET!!!," Joen berteriak dalam hati. Rasanya pengen mati aja dah, malunya udah sampai ubun-ubun, dasar nenek lampir! senang sekali menari-nari di atas rasa malu abang sendiri.
Segera, Joen membuka pintu dan nampak Ghina berjongkok di depan pintu kamarnya.
Terlihat dia membawa makanan untuk Joen.
"Lho kenapa jongkok? berat ya?," tanya Joen mengingat lumayan lama dia baru membukakan pintu untuk Ghina.
"JELAS BERAT ATUH BANG, KAYA RINDU ABANG SAMA NENG GHINA," sumpah, ternyata si Nari mengintip dari balik daun pintu.
Wajah pria itu merah padam, ash!! tangannya gatal sekali ingin mencakar-cakar wajah si nenek lampir itu. Beruntunglah Nari, ada Ghina di sini, jadi Joen nggak bisa langsung menyerangnya.Tanpa menunggu jawaban dari Ghina dia langsung mengambil makanan itu .
"Suadah, kamu pergi sana," ujarnya lagi sambil menutup pintu.
"BRAKK!!."
Buset!, Ghina terkejut.
"Ihhh sama aja kaya biasanya," ketus Ghina langsung berbalik langkah.
"CIEEE DINGIN AMAT BANG KAYA BALOKAN ES!!," teriak Nari lagi.
Kesabaran Joen telah sampai di ambang batas"DIAAAMMM, AKU SAMPERIN YAAA!!," Balas Joen.
"CIE CIEEEE," Nari tuh biar kecil tapi nyalinya besar, dia nantangin Joen lagi .
"SINTINGG!!," teriak Joen semakin kesal pada Nari.
"Itu bedua mau jadi penyangi rock and roll ya Ghina, teriak-teriak begitu?," tanya Nyonya Sook yang begitu senang melihat nampan yang di bawa Ghina sudah kosong .
"Maaf Nyonya, Ghina nggak tau. Habis nganterin makanan Ghina langsung turun ke sini," sahut nya menahan malu. Gimana nggak malu, orang jelas-jelas dia mendengar teriakan Nari dan Joen yang bersahut sahutan dari dalam kamar. Baper sendiri kan dia, makin jelas kan kalo si Tuan muda Joen emang naksir dia selama ini.
"Tau diri Ghin!! tau diri!!," hati kecilnya menyadarkan diri, dia yang hampir terbang ke langit biru. Dia pelayan dan Joen anak majikan. Jarak langit dan bumi itu sangat jauh bukan???
__ADS_1
To be continued...
~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , vote , fav dan komen ya teman ^,^ .