Storge

Storge
Ujian Cinta


__ADS_3

Tuan Wiliam bergegas ke rumah sakit, setelah mendapat kabar kecelakaan yang menimpa putri semata wayangnya..Di perjalanan dia menghubungi Tuan Charlotte, namun panggilan itu tidak tersambung. Rupa-rupanya Tuan Charlotte juga sudah mendapat kabar tentang musibah yang menimpa anak mereka.


Joen meminta Nari menemani Ghina di rumah, meskipun Nari gelisah ingin ikut ke rumah sakit, Joen tetap memintanya bersama Ghina"Aku mohon Naria, aku akan segera menghubungi kalian setibanya di sana," dengan kedua tangan menangkup, Joen memohon kepada Nari.


"Tapi kak....," tangis Nari pecah.


"Kau juga harus menenangkan diri. Kita berdoa semoga abang dan Andrea baik-baik saja," ucap Joen lagi seraya mengusap pucuk kepala si bungsu.


Perlahan Nari mengangguk di sela isak tangisnya. Senakal dan sejahil apapun Jung kepadany, dia tetaplah abang tersayang bagi Nari. Dosen usil itu tidak ada duanya di dunia ini.


Nyonya Sosok segera berangkat bersama Tuan Charlotte, sedangkan Joen menyusul belakangan.


"Ya Tuhan, dosa apa yang telah aku perbuat sehingga kau menegurku sekeras ini," Tuan Wiliam berkata dalam tangisnya di perjalanan. Baru saja dia merencanakan pernikahan untuk mereka, namun ujian ini datang dengan tiba-tiba, dengan nyawa mereka sebagai taruhannya.


Suasana rumah sakit sangat riuh, seluruh penumpang bis naas itu menjadi korban.


Andrea sudah di tangani dokter di UGD ketika Tuan Wiliam sampai di rumah sakit. Andrea mengalami cidera parah di kepalanya, sedangkan Jung mengalami keretakan di kaki kanannya, kepala Juga terbentur keras.


"Kami di beri pesan oleh petugas di lapangan, bahwa mereka berdua jangan sampai di pisahkan. Si pria memegang erat tangan perempuan itu ketika menemukannya di dalam bis," jelas dokter pada Tuan Wiliam. Mendengar itu hati Tuan Wiliam sangat hancur"Terimakasih Jung, kau terus menjaga putriku," lirihnya tak berdaya.


Tuan Charlotte dan keluarga yang juga sudah hadir di situ ingin memastikan keadaan mereka. Secepatnya Andrea dan Jung akan menjalani operasi.


"Mereka sama-sama dalam keadaan darurat. Nona Andrea dan Tuan Jung mengalami benturan yang sangat keras di kepala, semoga Tuhan akan menunjukan keajaibannya kepada kita," ujar dokter itu lagi.


"Harus dok, putri saya harus bisa di selamatkan. Saya mohon dengan sangat dokter,!!" dengan tangis yang tak pernah berhenti, Tuan Wiliam memohon dan mengiba kepada dokter.


"Kami akan memberikan yang terbaik Tuan," sahut Dokter lagi.


"Dok, seberapa parah kaki Jung?."


"Sangat parah, namun kami akan mempertahankan kesempurnaan fisiknya," jawab dokter kepada Nyonya Sook.

__ADS_1


"Pah, apa yang harus kita lakukan," wanita itu luruh ke lantai"Aku mohon selamatkan mereka Tuhan!!," jerit dan tangis Nyonya Sook terdengar sangat pilu.


"Dia terlihat sangat bersemangat pagi ini Charlotte," Tuan Wiliam bercerita.


"Dia bilang akan bersenang senang bersama Jung dengan hal baru, aku tak mengira mereka akan menaiki bis itu," dan isak tangis Tuan Wiliam kembali pecah.


"Aku juga tak mengira William, mereka meminjam kartu milik Mr.zack agar bisa menggunakan bis naas itu. Mereka mengejar takdirnya."


"Kita berdoa saja pa, om, mereka pasti selamat," Joen optimis pada Andrea dan Jung. Dia yakin mereka bukanlah orang-orang yang lemah.


"Mereka sangat kuat, mereka pasti bisa melewati semua ini!," ujar Joen lagi. Padahal, jauh di sudut hatinya Joen rasanya ingin menangis, dia sangat khawatir akan keadaan mereka. Apalagi dengan Jung, meski menyebalkan dia tetaplah saudara terbaiknya, sungguh Joen tidak dapat membayangkan jika sepasang kekasih itu di kalahkan oleh takdir.


.........


"Ghin, kenapa abang belum memberi kabar pada kita?," kegelisahan Nari semakin memuncak. Sudah beberapa jam Joen pergi ke rumah sakit, tapi dia belum memberikan kabar pada mereka di rumah.


"Apa aku menelponya saja?."


Tentu Ghina juga sangat khawatir, tapi dia harus bisa menahan diri, dia juga harus menjaga kandungannya.


Jam 9 malam operasi Jung selesai.


"Kita akan melihat hasilnya ketika dia siuman nanti. Dan retak di kakinya sudah kami atasi, namun perlu waktu lama hingga dia bisa berjalan kembali, Tuan."


"Apa dia sudah melewati masa kritisnya?."


Dokter menatap Joen sekilas"Bisa di bilang begitu, tapi kita hanya dapat memastikannya ketika dia siuman. Sebentar lagi dia akan di pindahkan ke kamar inap".


Sedangkan Andrea, gadis itu belum selesai melawan maut, dirinya masih terbaring di meja operasi.


Tuan Charlotte masih menemani sahabatnya yang sedang gelisah menanti kabar putrinya.

__ADS_1


"Aku tidak akan sanggup bertahan jika dia tak bisa di selamatkan, Charlotte," Tuan Wiliam menyeka air mata yang terus membasahi pipinya. Dirinya hanya punya Andrea, semua keluarganya berada di Amsterdam, dia hanya berdua dengan Andrea di indonesia.


William bisa saja memilih tinggal bersama keluarganya di Amsterdam, namun mengingat tempat peristirahatan terakhir sang istri di tanah air ini, hatinya sungguh tak rela berpisah jauh dari tempat pembaringan terakhir wanita tercintanya itu. Istrinya meninggal ketika melahirkan Andrea, usia William saat itu masih dalam hitungan muda, namun tak sekalipun dia tergiur menikah lagi. Hidupnya hanya terfokus kepada Andrea dan pekerjaan. Andrea adalah jantung hatinya, jelas saja Wiliam sangat terpukul menghadapi derita yang sedang menimpa putri tersayang.


"Titt!!," lampu berubah menjadi hijau, operasi selesai. Seorang dokter muda keluar mencari walinya Andrea.


"Saya papa nya dok," tergopoh-gopoh Tuan Wiliam mendekati dokter, di bantu Charlotte yang memapahnya.


"Operasinya berjalan lancar Tuan.Tapi karena nona Andrea mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya," dokter itu terdiam.


"Tapi apa dok??," desak William.


"Kita berdoa semoga ketika siuman dia akan baik baik saja," ujarnya lagi.


"Kenapa ucapan anda seperti itu dok?."


Dokter itu menatap Tuan Wiliam"Saya akan menindak lanjuti Nona Andrea jika hal terburuk terjadi. Dan saya yang akan mengawasinya sampai dia sembuh total Tuan."


Akh! ada apa ini? apakah Andrea tidak akan sembuh dengan baik? kenapa dokter itu seolah ragu saat berbicara dengan William. Dokter pamit undur diri sebab masih ada pekerjaan yang menantinya.


Malam itu mereka meminta Jung dan Andrea di rawat dalam 1 kamar. Awalnya rumah sakit menolak, namun Tuan Charlotte dan tuan William menghubungi langsung pimpinan rumah sakit dan ternyata pimpinan rumah sakit itu adalah teman 1 kampus mereka dahulu. Pertemuan baik dan erat itu menjadikan hal yang sulit menjadi mudah, akhirnya Andrea dan Jung akan dk rawat di kamar yang sama.


"Bang Jung sudah menjalani operasi, sekarang dia sudah di ruang inap," kabar dari Joen sedikit melegakan Nari dan Ghina.


"Bagaimana dengan Andrea,?" tanya Ghina.


"Kita akan tahu setelah dia siuman."


Owh!! kecemasan mereka belum berakhir. Sepasang sejoli ini masih di naungi awan hitam.


To be continued...

__ADS_1


~~♡♡ happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


__ADS_2